
Hari sabtu sepulang kerja sang Letnan menjemputku dan langsung membawaku ke Sukajadi, katanya ditunggu Mamah dan ternyata memang Mamah meminta menemaninya mencari kado untuk putra temannya Papah yang akan menikah besok. Alhasil seharian itu aku menemani Mamah mencari kado mengelilingi beberapa tempat.
Kami baru pulang setelah magrib, aku langsung mencari sang Letnan yang ternyata ada di gazebo belakang lagi ngobrol dengan Arga.
“Hei, gak ngapel?”
Aku bertanya sambil duduk bergabung dengan mereka.
“Engga, lagi ribut.”
Aku mengangkat alis mendengar ucapan Arga.
“Ribut kenapa?”
Arga membuang napas berat sambil menatap kolam ikan koi Papah yang kini bercahayakan temaran lampu taman.
“Nah itu dia aku juga gak tahu apa yang bikin rebut.”
“Kok bisa?”
Tanyaku tak mengerti bagaimana bisa dia tidak mengetahui apa yang membuat mereka bertengkar.
“Beneran tak tahu, tiba-tiba saja dia gak ngomong apa-apa diam saja, aku di cuekin dia ngobrol sama teman-temannya, daripada dicuekin mending pulang.”
“Gak nanya kenapa ngambek?” tanya sang Letnan.
“Sudah, dia malah jawab pikir saja sendiri.”
Aku dan sang Letnan saling lirik terkejut mendengar Arga.
“Irene beneran ngomong gitu?”
“Iya.”
“Coba ingat-ingat lagi, mungkin kamu salah ngomong atau tidak sengaja bikin dia tersinggung.”
Aku mengangguk menyetujui ucapan sang Letnan, Arga terlihat berpikir beberapa saat kemudian menggeleng.
“Nih, terakhir aku WA-an sama dia masih biasa-biasa saja.”
Arga memerlihatkan ponselnya kalau selama ini mereka baik-baik saja.
“Kamu lupa ulang tahunnya gak?” tanya sang Letnan.
“Ulang tahunnya Desember, masih lama.”
“Tanggal jadian?”
“Sudah lewat, Key.”
“Tanggal ulang tahun kucingnya?”
Aku menyenggol sang Letnan karena bertanya yang tidak-tidak tapi malah membuat Arga tertawa.
“Sigana (kayanya), Nan.”
“Lagi dapet kali, Ga,” ucapku membuat Arga dan Sang Letnan menatapku.
__ADS_1
“Nah bisa jadi tuh, Ga, kalau cewek tuh kadang suka marah-marah gak jelas gitu sebulan sekali.”
“Aku engga!”
“Engga salah atau engga sadar? hahaha.”
“Hahaha.”
“Iya ya, bisa jadi sih,” ucap Arga sambil tertawa.
“Sudah biarin saja dulu, Ga, biar dia tenang dulu nanti kalau sudah tenangan baru tanya kenapa.” Arga mengangguk mengerti.
“Tapi dia baru ya marah kaya gini?” aku bertanya penasaran karena semenjak berhubungan dengan Irene ini pertama kalinya aku melihat Arga seperti ini karena mereka bertengkar, sepertinya pertengkaran kali ini cukup serius.
“Pernah juga marahan, tapi biasanya aku tahu alasannya jadi bisa langsung minta maaf kalau misalnya salah.”
“Ya sudah, nanti malam coba WA atau telpon kalau gak diangkat atau gak balas WA-nya besok datang saja ke rumahnya biar jelas, jangan dibiarkan berlarut-larut nanti malah jadi tambah ruwet masalahnya.”
Arga mengangguk mengerti kemudian dia kembali terdiam dan aku bercerita tentang kegiatanku dengan Mamah hari ini, seperti biasa sang Letnan akan mendengarkan dan menanggapi ceritaku tapi kemudian dia menatap Arga dengan sorot mata menyelidik.
“Jadi apa yang bikin dia marah? Apa ada cewek lain?”
Aku kaget mendengar pertanyaan sang Letnan yang membuat Arga menatapnya kemudian membuang napas berat.
“Beneran ada cewek lain?” tanyaku tak percaya.
“Aku tak tahu…” Arga terlihat bingung sendiri.
“Mau cerita? Mungkin kita bisa bantu.”
Berbeda denganku yang terkejut, sang Letnan terlihat lebih tenang dan santai membuat Arga menatapnya kemudian mulai bercerita.
Aku bisa melihat kekagumana di sorot matanya ketika menceritakan keluarga yang baru dia kenal itu.
“Tapi mereka kehabisan biaya ketika tibalah si bungsu untuk kuliah padahal di antara kakak-kakaknya dialah yang menurut mereka paling cerdas. Tak kehilangan semangat putri bungsunya ini mencari beasiswa supaya bisa kuliah dan akhirnya keterima di ITB dengan beasiswa walaupun tidak penuh tapi setidaknya itu bisa meringankan sedikit beban mereka.”
“Kenapa tak minta bantuan kakak-kakaknya buat biayain kuliahnya?” aku bertanya penasaran bukankah saudaranya sudah sukses? Kenapa mereka tidak membantu adik bungsunya itu?
“Mereka sudah berkeluarga, jadi mereka hanya bisa bantu paling untuk jajannya saja belum lagi tidak semua kakak iparnya bisa memahami kondisi keluarga mereka membuatnya harus banting tulang antara kuliah dan kerja sambilan untuk membiaya kehidupannya, sedangkan sawah orangtuanya sudah habis dijual untuk membiayai kuliah kakak-kakaknya, yang tersisa sekarang hanya beberapa petak sawah yang hanya cukup untuk makan.”
Aku terdiam ikut sedih membayangkan sepasang orangtua yang telah banyak kehilangan harta bendanya demi masa depan anak-anak mereka, tapi ketika mereka sukses sepertinya mereka lupa untuk membalas budi.
“Miris bukan? Aku-pun terkejut ketika mereka bercerita, tapi mereka tetap ikhlas menjalani semuanya… suatu hari putri bungsunya pulang karena sedang libur kuliah, namanya Reva tapi orang-orang memanggil dia Eva… dia sangat cantik seperti yang sering orangtuanya ceritakan kalau si bungsu cantik kaya artis sinetron.”
Arga tersenyum lebar dengan mata menerawang ketika menggambarkan sosok perempuan yang di temui di Sukabumi.
“Dia juga sangat cerdas, mengambil jurusan teknik sipil sepertiku membuat kami nyambung kalau ngobrol, dan kadang aku akan meminta sarannya kalau ada masalah di proyek membuatku mengangkatnya menjadi pekerja magang di proyek kemarin… awalnya hubungan kami hanya benar-benar professional kerja, tapi entah mulai kapan aku mulai sering memerhatikannya.”
Arga membuang napas berat, dia kembali menerawang membuatku merasakan apa yang dia rasakan… bimbang dengan perasaannya sendiri.
“Berulang kali aku mengingatkan kalau ada Irene yang menungguku di sini, tapi setiap hari setiap melihatnya aku semakin dibuat kagum olehnya. Dia tidak secantik Irene, tapi dia memiliki kecantikan yang terpancar dari hatinya, semua orang akan senang untuk berada di sekitarnya, dia tak pernah mengeluh sedikitpun, dia selalu tersenyum yang akan menular kepada semua orang.”
“Seperti Kekey?” tanya sang Letnan membuatku terkejut menatapnya.
“Aku?”
“Iya, kamu jugakan jelek tapi banyak orang yang suka, kan aneh.”
__ADS_1
“Iiiih!!!”
“Hahaha… engga deh, kamu cantik.” Sang Letnan mencubit pipiku yang cemberut.
“Hahaha… iya, kaya Kekey tapi dia gak cengeng, manja sama keras kepala.”
“Terus aja terus!”
“Hahahha… jadi karena itu kamu suka sama dia?”
“Aku tak tahu suka sama dia dalam artian seperti apa? Apa cuma kagum saja melihatnya atau… benar-benar suka? Aku benar-benar tak tahu.”
Kami semua terdiam dan aku bisa melihat Arga begitu tersiksa dengan perasaannya sekarang.
“Dan Irene tahu tentang dia?” aku bertanya memecah keheningan.
“Sepertinya… semingguan yang lalu aku menghubungi Reva untuk mengajaknya kembali bekerja magang di proyek baru kami, tapi ketika dia mengangkat telpon aku tahu kalau ada yang salah membuatku langsung datang ke kost-annya, dan ternyata dia sedang sakit cukup parah membuatku tanpa pikir panjang langsung membawanya ke RS untung saja dia hanya demam biasa jadi tak perlu rawat inap, saat itulah aku bertemu dengan teman Irene, aku pikir mungkin dia menceritakan itu kepadanya.”
“Kenapa tidak jelaskan saja kalau kalian tidak ada hubungan apa-apa,” ucap sang Letnan membuat Arga menatapnya.
“Aku belum tahu kalau dia memang marah karena hal ini atau bukan.”
“Sebaiknya kamu terbuka sama Irene, Ga, mungkin dia menunggu kamu berkata jujur selama seminggu ini tapi ternyata kamu tak cerita dan itu membuatnya terluka… kalau memang benar teman Irene memberitahunya melihatmu dengan perempuan lain, aku yakin saat ini dia benar-benar terluka dan sedih.”
“Dia benar, Ga, mending kamu jujur sama Irene dan menurutku kamu hanya merasa kagum dan simpati saja sama Reva dan orangtuanya tidak lebih dari itu, dan ingat Irene juga sangat luar biasa, Ga, dia bersamamu ketika kamu masih mahasiswa bandel yang hobinya naik gunung sampai sekarang dia setia walaupun kamu hanya pulang seminggu sekali atau dua minggu sekali tapi dia tak pernah mengeluh dia tetap mendukungmu, yang dia perlukan sekarang adalah kejujuran darimu, hanya itu.”
Arga terdiam beberapa saat kemudian mengangguk, dia melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 9.
“Kemalaman gak ya kalau sekarang ke rumahnya?”
“Coba saja dulu, tar kalau sudah di depan rumahnya telpon minta bicara sebentar saja buat jelasin.”
Arga mengangguk mengerti lalu bersiap pergi.
“Kamu juga siap-siap!” ucap sang Letnan sambil berdiri.
“Siap-siap ngapain?” tanyaku sambil mengekor dibelakangnya masuk kedalam.
“Pulang, memang gak mau pulang.”
“Pulang sekarang? Gak main dulu?”
“Mau main kemana sudah malam gini?”
“Keliling-keliling saja naik motor... nyari angin? Ya... ya... yaaaa?!”
“Ckk… dasar manja! Pakai jaketnya!”
“Yaaa???”
“Iyaaa… cengeng.”
Dengan senyum lebar bahagia aku memakai jaketku, kemudian pamit sama orangtua sang Letnan dan akhirnya keliling-keliling naik motor menikmati kota Bandung di malam hari dan baru sampai rumah jam 10.30, sang Letnan hanya menyapa kedua orangtuaku kemudian langsung pulang setelah janji besok akan datang lagi.
Dan besoknya dia datang ketika aku baru bangun tidur siang sekitar jam 2, tidak seperti dulu sekarang aku cuek di depannya walaupun belum mandi atau bangun tidur dengan rambut berantakan. Hubungan kami yang sekarang benar-benar telah membuatku merasa nyaman, seolah tak ada beban… tapi aku juga tahu kalau aku tak boleh terus berada di zona nyaman ini, aku harus mengambil keputusan tentang status kami yang sebenarnya… tapi mungkin nanti kalau semua pertanyaanku sudah terjawab semuanya.
*****
__ADS_1
Teh manis panas + goreng singkong buat menemani minggu pagi sambil nonton Doraemon 😁