
Yudha Pov
Hubunganku dengan Kekey semakin lama semakin baik apalagi setelah kejadian dengan si Tukul, dia seolah telah kembali seperti Za yang dulu. Yang akan cemburu setiap melihat ada perempuan yang mendekatiku, termasuk ketika aku mengenalkannya kepada teman-teman SMA dia akan mengenalkan diri sebagai “Calon istrinya, Mas Yudha.”
Senang, tentu saja karena itu artinya hubungan kami kini sudah selangkah lebih maju dan hanya tinggal menunggu waktu saja untuknya kembali lagi padaku.
Tapi semua harus mengalami sedikit kemunduran kembali ketika tanpa diduga Raihan yang notabene adalah Kakaknya Widy harus bekerjasama dalam suatu proyek dengan Kekey. Bukan hanya dia tapi aku-pun seolah kembali diingatkan kepada saat-saat tersulit dalam hubangan kami ketika bertemu dengannya.
Jadi aku sangat bisa memaklumi kalau dia kembali sedikit menutup dirinya padaku, sampai akhirnya suatu malam ketika aku datang ke rumahnya tanpa diduga dia memelukku erat. Aku terkejut mendapat sambutan seperti itu bahkan dia seolah tak ingin melepaskan pelukkannya.
“Kenapa Mas Yudha tidak memberitahuku kalau Ayah dan Ibu yang menyarankan Mas Yudha untuk meninggalkanku?”
Aku terkejut mendengarnya mengetahui tentang itu, selama ini aku selalu berusaha menutupinya agar dia tak mengetahui tentang keterlibatan kedua orangtuanya karena bagaimanapun mereka hanyalah pemberi saran dan akulah yang mengambil keputusan.
Masih ku ingat hari itu dimana kondisiku sedang kacau aku mendatangi Ayah dan Ibu untuk membicarakan masalah yang tengah ku hadapi. Mereka tentu saja terkejut dan juga bimbang sepertiku, tapi mereka adalah orangtua yang bijaksana.
“Kamu adalah seorang lelaki, Yud.” Ayah mulai berbicara setelah mendengar kisahku, “Jadilah lelaki yang bertanggung jawab.” Ayah diam beberapa saat kemudian kembali berkata, “Saat ini ada seorang perempuan yang hidupnya tergantung padamu, dia sudah tidak memiliki masa depan layaknya perempuan lain dan itu karena dia berusaha menyelamatkan nyawamu.”
Saat itu aku hanya tertunduk mendengar ucapan Ayah.
“Sebagai orangtua, Ayah bisa mengetahui bagaimana perasaan orangtua lainnya melihat putri mereka satu-satunya hancur seperti itu, jadi Ayah harap kamu bisa bertanggung jawab dengan berada di sampingnya, memberi semangat hidup untuknya… nikahi dia, Yud.”
“Ayah…” saat itu aku tak percaya dengan apa yang ku dengar dari mulut Ayah yang menyarankanku untuk lebih memilih perempuan lain daripada putrinya sendiri, “Bagaimana dengan saya dan Keyza?” tenggorokanku sudah memanas menahan tangis ketika membayangkan harus berpisah dengan perempuan yang paling kucintai.
“Hidup tanpa dirinya sama saja membuatku seperti mayat hidup yang memiliki raga, tapi tak memiliki jiwa.” Suaraku bergetar dan tubuhku lemas walau hanya dengan membayangkannya saja.
Ibu mengelus tubuhku lembut membuat tenggorokanku semakin tercekat, membayangkan bukan hanya aku akan kehilangan perempuan yang kucintai, tapi aku juga akan kehilangan sosok Ayah dan Ibu yang telah kuanggap sebagai orangtua keduaku, bukan hanya mereka tapi aku juga akan kehilangan saudara-saudara yang baru saja ku miliki.
“Ibu sangat mengenal Kekey… walaupun sangat keras kepala tapi perasaannya sangat lembut, begitu juga kamu. Kamu sudah seperti putra Ibu sendiri dan ibu tidak mau kalian berdua hidup dengan rasa bersalah seumur hidup kalian,” ucap Ibu membuatku semakin tertunduk terdiam.
Aku memerlukan waktu beberpa hari untuk mengambil keputusan, sampai akhirnya aku kembali menghadap Ayah.
“Saya sudah mengambil keputusan… maafkan Yudha, Yah, maafkan Yudha karena harus meninggalkan putri Ayah dan membuatnya terluka… sekali lagi maafkan Yudha,” aku tak bisa menahan tangisku lagi membuat Ayah memelukku untuk pertama kalinya.
“Kamu sudah mengambil keputusan yang benar, Nak.” Hari itu aku menumpahkan tangisku di dalam pelukan Ayah yang menyayangiku seperti putra kandungnya sendiri, dan malamnya aku memutuskan putrinya dengan kejam.
****
Kejadian Kekey mengetahui kalau orangtuanya merupakan salah satu alasanku mengambil keputusan di masa lalu, membuat hubungan kami semakin baik lagi seolah kesalah pahaman di antara kami telah selesai. Tapi tetap saja dia belum memperbolehkanku memanggilnya Za… ckk, dasar keras kepala! Tapi itu tidak jadi masalah untukku yang penting dia telah kembali bisa menerimaku seperti dulu.
__ADS_1
Berawal dari ucapanku kepada Mamah dengan menyebut Kekey dengan “calon mantu Mamah” membuat hubungan kami berkembang dengan pesat, tanpa di duga kedua orangtua kami meminta kami meminta untuk bertunangan terlebih dahulu.
Tentu saja hal itu tak ku sia-siakan begitu saja aku langsung menyetujuinya walaupun Kekey sempat merasa keberatan, perlu usaha dan kesabaran untuk meyakinkannya hingga setuju bertunangan denganku. Sebenarnya sangat mudah untuk meyakinkannya karena ku tahu di hatinya terdalam dia-pun menginginkan hal yang sama hanya saja ego menutupinya.
Di hari pertunangan kami, dia terlihat sangat cantik membuatku pangling untuk beberapa saat. Wajahnya tertunduk malu dengan pipi memerah, sungguh dia adalah gambaran seorang bidadari, dan bidadari itu Allah ciptakan hanya untukku.
****
Damaskus, Suriah.
Beberapa bulan setelah bertunangan aku harus meninggalkan tunanganku demi tugas yang harus ku emban. Bukan sembarang tugas, kali ini aku dipercaya sebagai komandan pasukan yang akan melakukan misi penyelamatan penyanderaan dua WNI oleh pemberontak di Suriah.
Saat ini dengan menyamar menjadi pasukan kemanusian PBB dan dikawal oleh militer Suriah kami mulai melakukan perjalan dari Damaskus menuju Ar-Raqqa yang memerlukan waktu sekitar 6 jam perjalanan darat.
Dalam perjalan yang terkesan mencekam dengan latar suara deru mesin jet tempur yang terbang rendah di atas kami dan terdengar suara tembakan dari para penembak jitu membuat kami semua terdiam dengan pikiran masing-masing.
Inilah medan perang sesungguhnya, suara tembakan dan bom di kejauhan seolah menjadi hal yang lumrah, bangunan-bangunan bersejarah yang dulu berdiri megah bahkan dinobatkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia kini tinggal puing-puingnya saja, begitu juga dengan bangunan-bangunan megah lainnya dan juga rumah warga kini telah luluh lantah.
Perang saudara berkepanjangan selama bertahun-tahun ini telah membuat Negara indah itu kini terlihat seperti neraka, tak ada yang menang dalam peperangan sesuai pepatah ‘Menang jadi arang, kalah jadi abu’ yang ada hanya kehancuran dan rasa sakit.
Aku menatap pemandangan itu dengan perasaan miris, melihat mata kosong dari tatapan anak-anak tak berdosa yang tak mengerti apapun membuat hatiku terasa diiris, dimana anak-anak seumuran mereka di belahan dunia lain kini tengah berceloteh, tertawa dan bersekolah, tapi mereka harus hidup dalam teror dan ketakutan.
Aku tersenyum ketika mengingat pembincaraan terakhir kami, “Za! Panggil aku Za!” kalimat itu untuk beberapa saat membut jantungku menggila, sebuah kalimat sederhana yang paling ku nantikan selama ini.
“Mas Yudha harus pulang untuk menikahiku, atau aku akan menyusul Mas Yudha!”
Kalimat yang sarat akan rasa cemas dan ketakutan membuat hatiku sakit. Ketika mendapat panggilan ke Suriah dan diberi kesempatan untuk memimpin tim, selain perasaan beban tugas yang berat, kali ini aku juga merasa berat untuk meninggalkan Za dan keluargaku karena aku tahu tugas kali ini jauh lebih berat dari tugas-tugas sebelumnya.
Bukan hanya siapa lawan kami tapi juga medan yang tak kami kenali sama sekali, tapi pelatihan yang keras di Kopassus membuat kami yakin kami akan berhasil dalam misi kali ini sesuai semboyan, “Lebih baik pulang nama daripada gagal di medan tugas.”
Dan kali ini aku akan memastikan pulang dengan selamat untuk menunaikan janjiku menikahi perempuan yang menjadi separuh nyawaku.
Kendaraan kami berhenti membuatku tersadar dari lamunan tentang gadis bernama Keyza Maharani.
“Kita turun di sini,” bisik Salim seorang informan yang membantu kami.
Dengan perlahan kami mulai turun dari mobil dengan bendera PBB dan Suriah itu. Kami semua menggunakan pakaian bebas yang telah kotor oleh debu, kepala dan sebagian wajah kami tertutup surban.
Matahari sudah mulai terbenam membuatku memicingkan mata menatap sekitar, sebuah pegunungan batu gersang, tak ada apapun di sana seperti daerah antah berantah. Batu-batu besar tersebar di bebarapa bagian yang bisa melindungi kami, selain batu-batuan terdapat juga pohon-pohon yang kurus kering seolah menjadi salah satu korban dari keganasan perang saudara.
__ADS_1
“Kami akan menjemput kalian di sini besok tepat pukul 4 pagi,” ucap salah satu tentara Suriah yang mengawal kami, membuatku mengangguk mengerti.
Salim memberi kami kode untuk mengikutinya menaiki pegunungan. Dengan tubuh merunduk dan mata siaga menatap sekeliling di antara keremangan cahaya matahari yang mulai tenggelam kami memulai berjalan di antara batu-batuan, di punggung kami tergemblok ransel yang berisi peralatan yang akan kami perlukan dalam misi nanti malam.
Setelah berjalan beberapa menit Salim membawa kami memasuki sebuah gua yang tersembunyi oleh ranting-ranting kering. Udara pengap langsung menyambut kami ketika memasuki gua itu, Salim terus berjalan memasuki ke dalam gua sempit yang semakin lama semakin gelap.
Salim mengatakan kalau dia tak sengaja menemukan gua itu ketika mencoba melarikan dari Ar-Raqqa setahun lalu. Beberapa kali dia berusaha untuk mengeluarkan adiknya dari sana tapi selalu gagal karena pengawasan para pemberontak yang sangat ketat.
Aku berjalan paling depan, di belakang Salim yang menjadi petunjuk jalan, di belakangku terdapat 7 orang anggota yang ikut dalam misi kali ini. kami berjalan cukup jauh sampai akhirnya di kejauhan terdapat setitik cahaya yang menandakan kalau pintu keluar gua telah terlihat.
Salim berjongkok di mulut gua, dia menunjuk ke arah barat dan di sanalah Ar-Raqqa berada. Dengan menggunakan teropong aku mencoba mengamati situasi di kota yang telah tertutup dari dunia karena telah dikuasi pemberontak itu.
Ternyata tidak ada yang berbeda dengan kota-kota yang lain yang ku lihat di dalam perjalanan tadi hanya saja yang membedakannya adalah terdapat orang-orang dengan senjata lengkap yang tersebar di seluruh pojok kota.
Di dalam gua kami bersiap untuk melakukan penyerangan, kami kembali membahas strategi yang telah disiapkan sampai akhirnya ketika kegelapan malam sudah menyelimuti kota tanpa suara kami-pun keluar dari gua dan mulai memasuki kota dalam kesunyian malam.
Inilah saatnya! Setelah kurang dari dua minggu kami mengatur startegi yang pas dan berusaha mengenal medan, akhirnya malam inilah saatnya.
Tak ada masalah berarti ketika kami memasuki kota, beberapa penjaga berhasil kami lumpuhkan dengan mudah. Gelapnya malam menyembunyikan kedatangan kami dalam senyap, setelah kembali melumpuhkan para pemberontak dengan senapan kedap suara dan sebagian hanya menggunakan tangan kosong kami berhasil masuk dan membebaskan para sandera.
Seharusnya misi kami selesai sampai sana, tapi kami memiliki misi tambahan yaitu membawa adik Salim keluar dari Ar Raqqa sesuai perjanjian ketika pria Suriah itu memberi kami informasi lebih dari cukup mengenai ibu kota, kota para pemberontak.
Aku menugaskan 6 orang untuk mengawal para sandera kembali ke dalam gua, sedangkan aku dan Beno kembali berjalan semakin memasuki perkotaan untuk membawa adiknya Salim. Di sinilah masalah terjadi, ternyata adiknya Salim sepertinya sudah bergabung dalam pemberontakan sehingga ketika kami mengatakan kalau Kakaknya yang mengirim kami untuk membawanya, dia berteriak membuat mereka menyadari kalau telah ada penyusup di kota mereka.
Pertempuran tak terhindarkan lagi, kami berdua berusaha mundur tapi musuh seolah ada dari segala arah, kami benar-benar terkepung. Tentu saja kami berdua tak tinggal diam, kami melawan semampu kami dan berhasill melumpuhkan beberapa musuh dengan senapan andalan TNI, tapi musuh terlalu banyak dan persedian amunisi kami semakin menipis.
Kami berusaha mundur mencari tempat berlindung yang lebih aman, saat itulah aku melihat seseorang membidik Beno dan tanpa pikir panjang aku langsung menerjang rekanku, tiba-tiba aku merasakan lengan kiriku memanas dan darah mulai mengalir.
“Kapten! Kau tertembak!”
“Tidak apa-apa!” seruku sambil kembali duduk dengan senjata siap membidik, “Yang lain pasti mendengar suara tembakan, mereka akan membantu kita.” Aku berkata sambil beberapa kali melakukan tembakan, saat ini kami berlindung di belakang puing-puing bangunan.
Dan prediksiku benar, rekan-rekanku yang lain memberikan bantuan dengan melakukan tembakan-tembakan dari atas di antara gelapnya malam membuat para pemberontak berlarian mencari perlindungan.
Kesempatan itu tak disia-siakan aku dan Beno yang langsung berlari ke arah gunung tempat gua berada dengan tembakan seolah mengikuti kami. Lengan kiriku semakin terasa panas aku merasakan peluru bersarang di sana, rasa sakit yang teramat sangat mulai terasa menusuk tapi itu hanya membuatku semakin menggila, ku berondong para pemberontak yang mengejar kami.
Dibunuh atau membunuh! Hanya itu pilihan yang tersedia saat itu dan aku memilih untuk hidup. Aku harus hidup untuk kembali pulang ke dalam pelukan perempuan yang saat ini pasti sangat mencemaskanku, perempuan yang saat ini mugkin tengah menangis dalam doanya demi keselamatanku.
Dan aku yakin dia pasti menangis tanpa henti kalau tahu aku tertembak, dan karena alasan itulah aku menyembunyikan fakta kalau aku benar-benar tertembak darinya.
__ADS_1
****