Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 39


__ADS_3

Dadaku tercekat, tenggorokanku memanas, mataku mulai berkaca-kaca mendengar setiap lirik yang dia nyanyikan dengan lembut dengan mata menatapku penuh cinta. Aku diam mematung seolah terhipnotis oleh suara dan petikan gitarnya, begitu pula semua orang yang hadir seolah tengah menikmati permainan solo sang Letnan yang ditujukan untukku.


Aku menggigit bibirku kuat-kuat menahan airmata haru yang sepertinya tak bisa kutahan lebih lama lagi, mendengarnya menyanyikan lagu yang selama ini hanya dia senandungkan berupa gumaman dengan penuh perasaan telah membuat hatiku terasa hangat dan dipenuhi cinta.


Sang Letnan memberiku tanda dengan kepalanya memintaku untuk maju, awalnya aku ragu sampai Arga mendorongku lembut membuatku dengan malu berjalan mendekat diiringi nyanyiannya. Seandainya aku tahu akan seperti ini, aku akan memakai gaun terbaikku saat ini bukan celana jeans, kaos oblong dan jaket tebal. Tapi sepertinya dia tak peduli dengan apa yang kukenakan terbukti dengan dia tetap menatap mataku dipenuhi rasa sayang dengan mulut melantunkan nada cinta.


Sang Letnan berdiri ketika ku sampai di hadapannya, dengan masih menatapku dan senyum yang menghiasi wajah tampannya dia melanjutkan nyanyiannya sampai selesai dengan sempurna, suasana hening menyelimuti kami seolah semua orang tengah menunggu apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.


Sang Letnan menaruh gitar di atas kursi yang tadi dia duduki, tangannya kini terulur membuatku menyambut uluran itu dengan wajah tersipu malu dan tangan sedikit gemetar. Sesaat aku menatap tangan kami yang saling menggenggam sebelum mata kami saling menatap dengan senyum di wajah masing-masing.


“Aku tak pernah melamarmu secara pribadi dengan benar.”


Sang Letnan mulai berbicara membuat dadaku berdebar mulai menyadari acara apa ini.


“Maka izinkan aku bertanya sekali lagi kepadamu sekarang, di sini… di tempat yang menjadi saksi untuk pertama kalinya kita mengucap kata cinta, di depan teman dan sahabat yang menjadi saksi perjalanan cinta kita berdua.”


Aku semakin dibuat terkejut ketika sang Letnan tiba-tiba berlutut di hadapanku dengan tanganya masih menggengam tanganku.


“Keyza Maharani, maukah kau menikah denganku untuk kemudian hidup bersamaku sepanjang umurmu? Berbagi suka-duka denganku, saling mengisi dan mencintai hingga tubuh ini renta dan jiwa ini pergi meninggalkan raga untuk kemudian bersatu kembali di surganya Allah?”


Hatiku berdesir mendengar lamarannya, dan akhirnya dengan tenggorokan tercekat dan mata berkaca-kaca tapi senyum lebar menghiasi wajahku aku mengangguk sambil berkata.


“Iya, aku mau.” Yang langsung dapat tepuk tangan dan sautan riuh dari teman-teman yang hadir.


Sang letnan kini berdiri dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, bukan cincin seperti layaknya orang melamar tapi sebuah kalung emas dengan dua buah liontin berbentuk hati yang dikelilingi berlian-berlian kecil. Di liontin pertama berukirkan namaku “Keyza”, dan di liontin ke dua terukir kata “Pemilik Hatinya Yudha” membuatku tertawa dengan tenggorokan memanas menahan tangis bahagia.


Senyum lebar menghiasi wajahnya sebelum akhirnya dia memasangkan kalung itu di leherku, lalu memberiku kecupan di kening yang kembali membuat teman-teman yang datang bersorak riuh. Dia kemudian mengeluarkan kalung identitas tentaranya yang tersembunyi di balik pakaiannya, dan kini aku bisa melihat liontin yang sama dengan milikku tergantung di sana hanya saja berwarna putih dan polos tanpa berlian yang mengelilinginya.


Aku membaca tulisan yang terukir di liontinnya dan kembali tertawa, “Penjaga Hatinya Keyza” itulah yang tertulis di liontinnya


“Kamu selalu menginginkan kalung identitasku, jadi aku sengaja pesan ini untukmu.”


“Dan itu yang membuat Letnan harus menunggu dua minggu ini.”


Aku menatap Arga yang kini berdiri tak jauh dari kami.

__ADS_1


“Jadi kamu tahu?”


“Tahulah, kan dia ikut ngerencanain ini.”


Aku menganga tak percaya mendengar sang Letnan.


“Jadi kalian berdua… yang ngerencanain ini?”


“Bukan berdua, tapi mereka semua ikutan.” Sang Letnan menatap Kak Yoan, Yuni, Mira, Agus, Bang Kamal, Rendy, Kang Adit dan yang lainnya yang tersenyum lebar karena berhasil memberikan kejutan untukku.


“Yoan yang menyuruhku tak menghubungimu selama ini.”


“Hah! Kak Yoan!?!”


“Hahaha… sorry, Key, biar lebih deg-degan,” ucap Kak Yoan dengan senyum lebar di wajahnya.


“Agus dan yang lainnya ikut bantu masang lampu-lampu ini… dan makasih buat Adit yang sudah membuat tempat ini ditutup sementara untuk umum malam ini.”


“Sama-sama… itulah gunanya banyak teman dan kenalan,” ucap Kang Adit dengan senyum khasnya.


“Dan aku tugasnya dengerin curhatan kamu yang takut Letnan ninggalin kamu.”


“Iiih! Jadi daritadi kamu WA-an sama Mas Yudha?”


“Iya, nyuruh cepet-cepet soalnya kupingku dah panas dengar rengekan kamu terus.”


“Siapa yang ngerengek? Enggak kok, jangan dengerin Arga, Mas.”


“Tenang saja aku tahu kok kalau Arga… benar.”


“Iiih… nyebelin!”


“Hahaha.”


Sang Letnan merangkulku yang cemberut karena dia lebih percaya Arga daripada aku.

__ADS_1


“Tapi Arga benar, selama ini aku takut… takut kalau Mas Yudha ninggalin aku seperti dulu lagi, takut kalau tiba-tiba Mas Yudha datang kepadaku bukan untuk menikahiku tapi untuk memutuskanku.”


“Itu tidak akan terjadi!” Seru sang Letnan sambil menatap wajahku dengan penuh keyakinan.


“Bagaimana aku tidak takut, pesanku tak ada yang dibalas satupun, telepon juga tak diangkat.”


“Maaf, Key, itu salahku.” Aku menatap Kak Yoan yang menatapku dengan senyum rasa bersalah, “Setiap kamu WA dia akan menghubungiku dengan panik karena ingin membalasnya tapi aku selalu melarangnya, hehehe… jadi jangan salahkan Mas Yudha ya, Key, hehehe... sorry.”


Kak Yoan tersenyum miris membuatku tertawa kemudian mengangguk sebagai tanda kalau aku telah memaafkannya, aku kembali menatap sang Letnan yang sepertinya malam ini terlihat jauh lebih tampan.


“Jadi selama ini Mas Yudha ada di Bandung?”


Sang Letnan mengangguk, membuatku memukul lengannya kesal dan malah membuatnya tertawa.


“Hahaha… tapi bukan hanya karena Yoan yang melarangku menghubungimu, selama dua minggu ini aku memang sibuk… sibuk mikirin dan merindukanmu.”


“Uuuu…”


Suitan dan ejekan terdengar dari semua orang membuatku tersenyum malu dan sang Letnan hanya tertawa menanggapinya.


“Tapi bukan hanya karena itu, aku juga sibuk menyiapkan pernikahan kita… bulan depan.”


“A-apa? Pernikahan?"


“Iya, pernikahan kita..”


“Bu-bulan depan?!”


“Iya, bulan depan insyaallah kamu akan sah menjadi Ny. Yudha Adipati Pratama.”


Aku menatapnya yang tersenyum lebar dengan mata membulat tak percaya. Bahkan sampai sekarang ketika seorang perias pengantin tengah mendandaniku dari jam 6 pagi, aku masih tak memercayainya. Aku akan menikah!


Dan yang lebih tak bisa dipercaya adalah semua keluargaku sudah mengetahuinya! Ya, semua sudah mengetahuinya kecuali aku! Sang pengantin perempuan yang baru mengetahui kalau akan menikah kurang dari sebulan sebelum hari H.


*****

__ADS_1


__ADS_2