Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 24


__ADS_3

Semenjak hari itu hubunganku dengan sang Letnan menjadi semakin dan semakin baik saja walaupun kami belum mengikrarkan kalau kami kembali berhubungan.


“Jadi, apa boleh sekarang aku memanggilmu Za lagi?” tanya sang Letnan, saat ini kami sedang duduk berdua di salah satu café yang ada di BIP.


Aku terdiam beberapa saat memikirkan hal ini, jujur saja aku sangat ingin kami kembali menjadi sepasang kekasih tapi aku juga sangat menikmati hubungan kami yang seperti sekarang yang seolah tidak ada beban.


“Mas Yudha tahukan tentang perasaanku?”


“Iya, kamu juga tahukan tentang perasaanku?”


Aku mengangguk, “Jadi tidak bisakah kita seperti ini saja? Maksudku kita jalani saja dulu, kita sudah saling mengetahui perasaan masing-masing, dan sepertinya semua orang juga sudah tahu tentang itu… jadi menurutku untuk saat ini cukup seperti ini saja, kedepannya kita tidak tahu apa yang akan terjadi.”


Sang Letnan terdiam mendengar penjelasanku kemudian dia tersenyum.


“Mas Yudha tidak keberatan?”


“Kenapa harus keberatan tapi bukankah dulu kamu yang bilang kalau tanggal jadian itu penting? Aku hanya ingin memberikan kepastian saja kepadamu.”


“Aku tahu, tapi sekarang sepertinya itu tidak penting lagi yang penting kita saling tahu tentang perasaan kita dan yang pasti harus saling setia, ingat itu!”


“Hahaha… iya… nanti kalau ada yang nanya kapan jadiannya kita jawab apa?”


“Bilang saja hanya Allah dan kita yang tahu.”


“Hahaha.”


Sang Letnan tertawa mendengarku mengatakan apa yang sempat dia katakan dulu.


“Mas Yudha tidak masalahkan dengan itu?”


Sang Letnan tersenyum menatapku, “Tidak.”


“Habisnya Mas Yudha sepertinya lebih menyukai ketika memanggilku Za, suka penuh kasih sayang kalau manggil Za kesannnya romantis banget, kalau pas manggil Kekey biasa saja.”


“Hahaha… Za itu seolah memberiku hak ekslusif yang hanya milikku saja, kalau Kekey kan semua orang juga manggil kamu Kekey jadi ya kesannya aku sama aja kaya yang lain.”


“Hehehe… bedalah.”


“Hahaha.”


“Tapi kalau Mas Yudha manggil aku Za, gak tahu kenapa aku juga kaya ada keharusan selalu tampil cantik dan sempurna di depan Mas Yudha, kalau Mas Yudha manggil aku Kekey, aku bahkan tak malu kalau aku belum mandi masih terlihat berantakan, coba kalau dulu mau video call aja aku sampai ganti baju dulu terus dandan.”


“Hahaha… seriusan?”


“Serius, Mas!”


“Aku menyukai kamu apa adanya jadi tidak perlu seperti itu.”


Aku tersenyum mendengarnya.


“Sekarang aku tidak masalah kamu Kekey atau Za… Za adalah perempuan yang ku cintai, tapi aku juga menyukai Kekey yang manja… Za adalah kekasihku, tapi Kekey adalah calon istriku.”


“Beneran?”


“Beneran,” ucapnya ambil tersenyum lebar menatapku yang duduk di hadapannya.


“Kalau gitu, Kekey saja sampai nanti aku memberitahu Mas Yudha kapan bisa memanggilku Za.”


“Dan saat itu tiba, aku akan langsung membuat kita benar-benar sah di depan agama dan hukum.”


“Aamiin.” Aku tersenyum dan yakin pipiku sudah memerah terbukti dari sang Letnan yang tertawa sambil mencubit pipiku, “Janji ya kalau aku bilang Mas Yudha boleh manggil aku Za, itu tandanya Mas Yudha harus menikahiku.”


“Hahaha, iya.” Sang Letnan meminum minumannya sebelum kembali berkata, “Tapi ada ruginya juga sih hubungan tanpa ikatan seperti ini,” ucap sang Letnan sambil menghela napas.


“Rugi?” aku bertanya bingung.


“Iya, kalau gini terus kita gak bisa…” kata sang Letnan memonyongkan bibirnya membuatku menatapnya dengan mata membulat lalu menatap sekeliling, tapi untung saja sepertinya tak ada yang memerhatikannya.


“Kata siapa gak boleh.” Aku berkata pelan sambil meminum minumanku, dan ku yakin pipiku kini sudah sangat-sangat merah membuat sang Letnan menatapku dengan mata berbinar.


“Benar ya, boleh! Awas saja kalau nanti bilang kan belum sah jadi gak boleh.”


“Hehehe.” Aku hanya tersenyum malu mendengarnya.


Ini sudah lebih dari setahun dari terakhir kami melakukannya, dan dengan membicarakannya saja sudah membuat deg-deg-ser gak jelas, seolah-olah itu akan menjadi ciuman pertama kami lagi.


Kami kembali membicarakan masalah lain ketika seseorang tiba-tiba saja duduk di depan kami, “Pacaran mulu!” ujarnya dengan senyum lebar.


“Ckk… siapa yang pacaran, kalian tuh yang pacaran mulu,” ucapku sambil mentap Arga dan Irene yang kini duduk bergabung dengan kami.


“Hehehe… dari tadi?” tanya Arga.


“Lumayan,” jawab sang Letnan santai, “Dari mana?”

__ADS_1


“Gramedia nyari buku, kalian dari mana?”


“Dari rumah,” jawab sang Letnan masih dengan santainya membuat Arga berdecak.


“Kalian beneran pacaran?” tanya Irene sambil menatap kami yang saling pandang sambil tersenyum.


“Tuh, Key, kalau ada yang nanyanya kaya gini jawabnya gimana?” sang Letnan menatapku dengan senyum menghiasi wajahnya, tangan dilipat di atas dada sambil bersandar santai.


“Hmmm… tergantung, kalau yang nanyanya cewek kita jawab kalau kita pacaran, kalau yang nanya cowok kita jawab kita gak pacaran.”


“Curang dong.”


“Hahaha… biarin! Biar gak ada cewek yang deketin Mas Yudha.”


“Terus kamu bebas dideketin cowok-cowok? Enak saja.”


“Belum kapok dia, Nan, dideketin cowok kaya si Tukul.”


“Iiih.. amit-amit! Sudah cukup sekali itu saja deh.” Aku bergidik ketika kembali teringat si Tukul.


“Hahaha, makanya kalau dibilangin tuh nurut, sudah dibilangain dari awal kalau dia bukan cowok baik-baik malah marah-marah.”


“Iya deh iya,” jawabku mengaku kalah membuat sang Letnan mengacak-acak rambutku.


“Pulang yuk!” sang Letnan berdiri diikuti oleh kami semua.


“Kok pulang, masih sore ini,” ucap Arga sambil mengekor di belakang.


“Sudah dari tadi kita, kalian mau kemana?”


“Gak tahu, paling keliling-keliling saja,” jawab Arga membuat kami mengangguk.


Kami baru mau pamit pergi ketika seorang gadis cantik dengan tubuh mungil berbalut celana jeans, kaos dan sepatu kets khas mahasiswi memanggil Arga, di atas hidung mancungnya bertengger kacamata yang membuatnya terlihat pintar, senyum manis semakin membuatnya menarik di balik kesederhanaannya.


“A Arga!”


Arga terlihat terkejut ketika melihat perempuan itu.


“Reva.”


Seketika aku langsung menatap sang Letnan begitu juga sebaliknya ketika mendengar nama gadis yang sudah tak asing lagi bagi kami. Kami menatap Irene yang sepertinya tidak menyukai kehadiran gadis itu, dan aku bisa memakluminya.


“Lagi apa?”


“Ya udah, A, Reva duluan ya, A.”


“Iya, sok mangga (Silahkan).”


“Kalau ada proyek baru, ajak-ajak ya, A.”


“Hahaha… insyaallah tar dikabarin.”


“Asiik… nuhun (makasih) A, assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Singkat, hampir tidak ada percakapan khusus selain saling sapa di antara keduanya tapi hal itu cukup membuat suasana di antara Arga dan Irene tegang, terlihat dari raut wajah keduanya.


“Kita juga duluan, ya, Ga, Ren.” Pamit sang Letnan sambil merangkul bahuku membawaku menjauh dari mereka berdua.


“Kenapa kita pergi? Kalau mereka berantem gimana?”


“Itu harus diselesaikan di antara mereka berdua, Key, kita gak boleh ikut campur,” ucap sang Letnan sambil terus berjalan menjauh dari keduanya


Saat ini kami sudah di dalam mobil menuju Sukajadi, rumah sang Letnan.


“Jadi itu yang namanya Reva,” ucapku teringat kembali gadis yang baru saja kami temui tanpa sengaja, “kata Mas Yudha gimana?’


“Gimana apanya?”


“Reva cantik gak? Sama Irene cantikan siapa?”


“Hush ah! Gak boleh banding-bandingin gitu.”


“Bukan banding-bandingin, hanya saja kalau dari pandangan laki-laki cantikan siapa.”


“Sama-sama cantik, tapi mereka memiliki aura yang berbeda.”


“Maksudnya?”


“Irene itu cantik, kalem, dewasa… sedangkan Reva, cantik, energik juga terlihat mandiri.”


“Kalau Mas Yudha lebih milih siapa? Irene atau Reva?”

__ADS_1


“Tidak kedua-duanya, aku milih kamu.”


“Iiih… serius!”


“Ini serius,” ucap Mas Yudha sambil tertawa.


“Maksudku kalau Mas Yudha jadi Arga, Mas Yudha milih siapa?”


“Tidak tahu aku kan bukan Arga.”


“Tahu ah, malesin,” ujarku sambil cemberut membuat sang Letnan tertawa.


“Hahaha… ya setiap orangkan punya tipe cewek yang berbeda.”


“Iya deh iya, kalau gitu siapa tipe ideal Mas Yudha?”


“Kamu.”


“Iiih… tuhkan.”


“Hahaha itu fakta, Key.”


“Di antara mereka berdua, Irene sama Reva siapa?”


“Tidak ada.”


“Iiiih, pilih siapa?"


“Harus ya?”


“Harus!”


“Hmmm… “


Aku menatap sang Letnan dengan serius menunggu jawabannya, setelah cukup lama dia berpikir, sudah melewati dua lampu merah bahkan kini kami sudah hampir sampai rumahnya, akhirnya dia berkata.


“Tidak ada.”


“Tahu gitu gak bakal ditungguin jawabannya.”


“Hahaha… nunggu jawabannya ya?”


“Engga!” jawabku sambil cemberut.


“Biar Arga saja yang memilih di antara mereka berdua, aku cukup Za dan kekey saja.”


Aku tersenyum mendengarnya.


“Arga kurang beruntung karena mereka berdua adalah dua orang yang berbeda, sedangkan aku lebih beruntung karena dua perempuan yang membuatku jatuh cinta adalah satu.”


“Hehehe… jadi Kekey kini sudah bisa bikin Mas Yudha jatuh cinta juga?” tanyaku sambil menatap wajahnya dengan senyum lebar, yang dijawab sang Letnan hanya dengan mengangkat bahunya santai.


“Iiih jawab!”


“Hahaha, udah ah, turun yuk! Tuh dilihatin Mamah.”


Aku menatap ke depan dan kini kami sudah sampai di rumah sang Letnan, Mamah terlihat sedang menyiram tanaman bersama Bi Aas membuatku tersenyum lalu turun untuk menyapa Ibu sang Letnan.


“Assalamualaikum, Mah.”


“Wa’alaikumsalam, Sayang.” Seperti biasa Mamah langsung memelukku dan mencium pipiku setelah aku salim.


“Darimana?”


“Main dari BIP.”


“Mah, temanin calon mantunya sebentar ya, Yudha mau ke atas dulu,” ucap Mas Yudha sambil berjalan meninggalkanku yang menganga mendengarnya.


“Calon… mantu?” Mamah menatapku dengan mata membulat dan berbinar, senyum lebar menghiasi wajahnya, membuatku tersenyum malu.


*****


Haiiii calon mantu.... 😁😁😁


Gimana udah ketebak blm lagu yang biasa disenadungin Letna ketika Za pulang dari Jepang?


Aku kasih clue : lagu barat, relist tahun 1994, di relist ulang tahun 2000, penyanyinya cowok, pokoknya legend banget ini lagu.. walaupun yg anak zaman now minimal pasti pernah dengar lagu ini 😁😁😁


Salah satu terjemahan liriknya


"Sampai samudera tak lagi menyentuh pasir..."


Nah... gampangkaaaaan.. pasti tahu 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2