Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 38


__ADS_3

“Aku serius, Ga!”


“Hahaha… iya tahu kamu serius... tapi tahu gak, Key?” Arga menatapku dengan pandangan geli, “Leona juga jauh lebih cantik dan lebih seksi, selain itu dia juga artis terkenal, dan Widy? Dia juga sama, cantik, anggun, dan yang jelas tajir sampai melintir-lintir deh.”


Aku menatap Arga kesal, tapi dia memang benar mereka memang jauh lebih cantik dan juga seksi dibandingkan aku.


“Tapi kayanya selera Letnan memang aneh, daripada memilih cewek cantik dan seksi kaya mereka, dia lebih memilih kamu yang cengeng, manja, dan keras kepala.”


Mendengar itu membuatku mendelik dan berjalan meninggalkannya yang tertawa melihatku ngambek.


“Key!” Arga menghentikan langkahku kemudian memutar tubuhku supaya menghadapnya, kedua tangannya berada di pundakku, dia menatapku sambil tersenyum berusaha menenangkanku yang memang sedang kalut walaupun bisa kulihat rasa geli dari sorot matanya.


“Kamu ingat dulu kamu suka sekali baca komik jepang?”


Aku menatapnya tak mengerti dengan apa yang ada dikepalanya saat ini, apa hubungannya semua ini dengan komik jepang?


“Kamu pernah cerita kalau di dalam komik orang yang berjodoh itu seperti ada benang merah di jari mereka yang saling terhubung, jadi walaupun sejauh apa mereka pergi mereka akan kembali kepada ujung benang merah yang terikat di jari pasangan mereka… ya, intinya kaya gitu deh kalau gak salah.”


“Jadi, maksudmu dijariku dan Mas Yudha ada benang merah yang menghubungkan kami?”


“Aku tak tahu kalau soal benang merah soalnya aku tak bisa melihatnya,” Arga menatap jari-jari tanganku kemudian tersenyum menatapku, “kalau memang terlihat pasti dah kusut banget tuh benang dah nyangkut sana-sini,” aku mulai tersenyum mendengar ucapan Arga, “tapi yang pasti aku bisa melihat… ini.”


Arga mengangkat tangan kiriku hingga aku bisa melihat cincin yang melingkar di jari manisku sebagai pengikat hubunganku dengan sang Letnan.


“Dia telah mengikatmu di depan kedua keluarga, telah meminta restu dari orangtuamu secara langsung, jadi kalau misalnya sekarang dia meninggalkanmu karena perempuan lain… kali ini bukan hanya aku yang akan memukulnya, tapi semua keluargamu akan memburunya, bahkan mungkin namanya akan dicoret dari kartu keluarganya dan menjadi anak durhaka mengingat bagaimana kedua orangtuanya sangat menyayangimu.”


Aku terdiam mendengar ucapan Arga, membuatku mulai tenang hingga bisa tersenyum menatap sahabatku yang selalu bisa membuat suasana hatiku tenang.


“Iya ya, Ga.”


“Iya, jadi kamu gak perlu khawatir dia bakal ninggalin kamu lagi sekarang apalagi bentar lagi kalian akan menikah.”


“Kamu benar, Ga,” kataku sambil tersenyum, “aku juga tak akan tinggal diam kalau misalnya dia berani meninggalkanku demi perempuan lain apalagi kalau perempuan itu Nadine.”


“Nah gitu dong… hajar aja, Key, kalau dia berani macam-macam.”


“Tapi Mas Yudha lebih jago berantem daripada aku, Ga, nanti aku kalah gimana?”


“Oh iya ya, dia kan Kapten pasukan khusus… kalau gitu jangan deh nanti kamu yang kalah.”


“Jadi gimana dong?”


“Eh, tapi dia pasti gak bakalan berani ngelawan kamu, Key, jadi kamu bisa menang.”


“Iya ya, Ga, dia kan gak bakalan mukul perempuan.”


“Iya benar.”


“Ok, kalau gitu aku hajar aja!”


“Ah! Paling juga cuma ditampar sekali, dah gitu dia yang ditampar kamu yang bakalan nangis tujuh hari tujuh malam.”


“Hahaha… kalau aku nangis, nanti kamu tinggal ajak makan di Dago atau Lembang aja pasti aku diam.”


“Wah gawat, bakal tekor bandar kalau gini ceritanya. Udah ah! Jangan mikir Letnan selingkuh kalau malah bikin tekor.”


“Hahaha.”


Sesaat kami tertawa sampai Arga kembali memanggil namaku.


“Key,” Arga kembali menatapku dengan lembut dan senyum masih menghiasi wajahnya, “Kalian sudah melewati banyak banget rintangan yang aku yakin kalau aku yang menghadapinya belum tentu bisa melalui semuanya, tapi kalian berhasil hingga sampai tahap ini… selangkah menuju pelaminan dan kalian tak akan terpisahkan lagi. Kamu harus yakin dan percaya sama dia, Key… kepercayaan itu sangat penting, belajar dari pengalamanku, Key, tidak dipercaya dan selalu dicurigai itu hanya akan membuat kita sesak dan lelah dengan sendirinya.”


Aku terdiam mendengarkan semua perkataan Arga.


“Kalau dia mau, dia bisa mendapatkan perempuan manapun dengan gampang dan meninggalkanmu dari dulu… tapi dia tidak. Dia tetap bertahan disampingmu, berusaha meyakinkan dan memperjuangkanmu kembali walaupun sekuat apa kau mendorongnya, dan sekarang disaat dia telah mendapatkanmu kembali dengan susah payah, kamu pikir dia akan meninggalkanmu begitu saja? Dia tak sebodoh dan sejahat itu dengan meninggalkanmu yang telah dia perjuangkan selama ini demi perempuan manapun.”


Aku terdiam memikirkan ucapan Arga yang lagi dan lagi ada benarnya juga.


“Tapi bisa saja itu terjadikan, Ga.”


“Memang bisa, tapi apa kamu pikir dia akan melakukannya? Belajar dari masa lalu, key, setiap keputusan yang dia ambil pasti ada alasannya, dan aku yakin sekarangpun seperti itu… mungkin saja dia tidak bisa menghubungimu karena ada tugas atau mungkin… dia sedang memersiapkan kejutan untukmu.”


“Kejutan?”


“Iya, mungkin dia ingin memberimu kejutan romantis sebelum kalian menikah.”

__ADS_1


Mendengar Arga mengatakan itu malah membuatku tertawa.


“Kenapa tertawa?”


“Pria yang kita bicarakan sekarang adalah Yudha Adipati Pratama, Ga, kamu lupa kalau dia lebih suka memberiku duren daripada bunga atau coklat, memberikan ucapan selamat ulangtahun dengan kata-kata ‘selamat ya sekarang kamu tambah tua’ daripada ucapan normal pasangan manapun dan candle light dinner versinya dia adalah makan indomie di depan api unggun.”


Arga terdiam beberapa saat kemudian tertawa.


“Hahaha... kamu benar, itulah Letnan yang ku kenal, dan yang pasti… dia bukan Tukul yang romantis! Hahaha.”


“Iiih! Kenapa jadi ke si Tukul sih!” seruku kesal sambil kembali berjalan disusul Arga yang berjalan di sampingku sambil tertawa.


“Kan dia yang suka memberikanmu bunga, dan memberikan hadiah ulang tahun tas limited edition yang hanya ada 100 di dunia ini, aww!”


Aku mencubit pinggang Arga kesal yang hanya membuatnya tertawa.


“Tapi, Mas Yudha juga romantis dengan caranya sendiri.”


Aku tersenyum dengan pipi memerah mengingat dia pernah menyebrangi Selat Sunda hanya karena aku mengatakan padanya aku rindu, dia memberikan jaketnya karena tak ingin aku kedinginan, dia bahkan memposting tentang hubungan kami di akun sosmednya yang hanya membuat semua orang iri, dan yang pasti… dia tetap di sampingku seperti kata Arga bahkan ketika aku dengan keras mendorongnya menjauh, tapi dia tetap bertahan.


Aku dan Arga berjalan semakin dekat menuju bukit tapi kini dengan perasaanku yang jauh lebih baik daripada tadi. Semakin dekat menuju bukit pijaran lampu-lampu kecil yang kulihat di bawah tadi semakin membuatku terkagum.


“Kayanya lampu-lampu itu baru dipasang, terakhir aku dan Mas Yudha ke sini belum ada tuh lampu-lampu itu.”


Arga tersenyum sambil terus membawaku semakin naik dan akhirnya sampailah kami di puncak bukit. Sesaat aku terbelalak terkejut menatap hamparan tanah yang biasa diisi oleh para muda-mudi kini dipenuhi oleh orang-orang yang ku kenal. Hampir seluruh anggota OASIS berada di sini dengan senyum di wajah mereka ketika menatapku.


Tapi bukan hanya itu yang membuatku terdiam dengan jantung seolah berhenti berdetak beberapa saat sebelum akhirnya menggila, bukan pula karena pemandangannya yang luar biasa cantik, lampu-lampu kecil yang tadi kulihat di bawah kini terhampar bak bintang di malam gelap, terpasang seperti atap menaungiku yang berjalan di bawahnya.


“Iya ini baru saja dipasang, dan… dia yang memasangnya.”


Arga menunjuk ke depan dimana itulah alasan kenapa dadaku menggila seperti sekarang ketika mataku menatap pria yang selama dua minggu ini telah membuatku dilanda kegalauan kini duduk di depan mik dengan sebuah gitar di pangkuannya. Matanya menatapku dengan penuh kasih sayang, dan senyum lembut menghiasi wajah tampannya.


Jari-jarinya mulai memetik gitar, kemudian suaranya mengalun lembut melantukan lagu yang membuatku tak bisa berkata-kata lagi selain menatapnya dengan hati berdesir mendengar setiap liriknya.


Whenever I'm weary


Kapanpun aku letih


From the battles that rage in my head


You make sense of madness


Kau memahami kegilaan


When my sanity hangs by a thread


Saat kewarasanku mulai goyah


I lose my way, but still you


Aku tersesat, tapi masih saja kau


Seem to understand


Tampak mengerti


Now and forever


Kini dan selamanya


I will be your man


Aku kan jadi kekasihmu


Sometimes I just hold you


Kadang aku mendekapmu begitu saja


Too caught up in me to see


Terlalu kacau diriku hingga tak melihat melihat


I'm holding a fortune


Aku sedang mendekap keberuntungan

__ADS_1


That Heaven has given to me


Yang tlah diberikan Tuhan padaku


I'll try to show you


Kan kucoba tuk tunjukkan padamu


Each and every way I can


Dengan setiap cara yang kubisa


Now and forever


Kini dan selamanya


I will be your man


Aku kan jadi kekasihmu


Now I can rest my worries


Kini aku tak perlu lagi kuatir


And always be sure


Dan selalu yakin


That I won't be alone, anymore


Bahwa aku takkan sendiri, lagi


If I'd only known you were there


Andai kutahu kau selalu ada


All the time


Setiap saat


All this time


Selama ini


Until the day the ocean


Hingga hari saat samudera


Doesn't touch the sand


Tak menyentuh pasir


Now and forever


Kini dan selamanya


I will be your man


Aku kan jadi kekasihmu


Now and forever


Kini dan selamanya 


I will be your man


Aku kan jadi kekasihmu


(Richard Mark - Now and Forever)


*****


Haiiii... yang kemarin tebakannya benar.. SELAMAT 🎉🎉👏👏👏👏😁😁


Tinggal beberapa bab lagi menuju ending, insyaallah kita lanjut Arga Dewantara si anak gunung ya 😍😍

__ADS_1


Buat yang nungguin Caraka, maaf ya karwna sampai saat ini ceritanya belum selesai, jd drpd uploadnya seminggu sekali utau mungkin juga lebih, malah biki keburu lupa jalan ceritanya jd kita ke cerita Arga dulu aja ya 😊 dijamin ga kalah bikin baper ko kisahnya si anak gunung 😍😍😍😍


__ADS_2