
“Iiih! Tadi katanya gak pulang.” Aku masih merajuk dengan tangan bergelayut di lehernya yang tersenyum sambil mengelus kepalaku lembut.
“Soalnya tahu ada yang bakal kangen.”
“Hehehe.” Aku tersenyum kemudian kembali memeluknya erat.
“Iya, aku rindu.. juga khawatir dan takut,” ucapku semakin mempererat pelukanku sambil mengisi paru-paruku dengan wangi tubuhnya untuk menyakinkan diriku kalau pria yang ku cintai telah benar-benar pulang dalam keadaan selamat bukan hanya sebuah mimpi.
“Sekarang kamu tak perlu takut dan khawatir lagi… aku telah kembali, Za.” Sang Letnan membalas pelukanku membuatku tersenyum.
“Aku takut ketika aku merasa kalau hubungan kita terlalu sempurna Mas Yudha akan pergi meninggalkanku seperti dulu, dan aku takut kalau sekarang untuk selamanya.”
“Itu tidak akan terjadi.” Sang Letnan mencium kepalaku sebelum kembali melanjutkan ucapannya, “Karena kali ini kita akan membuat hubungan kita benar-benar sempurna.”
Aku kembali tersenyum di balik dadanya.
“Mas Yudha jangan berani-berani untuk meninggalkanku lagi! aku tak akan memaafkan Mas Yudha kalau Mas Yudha meninggalkanku.”
“Kalau aku harus tugas gimana? Nanti aku dipecat kalau gak pergi, terus ngasih makan kamu ma anak-anak kita gimana dong?”
“Iiih, bukan itu!” aku memukul dada Mas Yudha kesal sambil melepaskan pelukan dan menjauh, tapi tangannya langsung menarikku kembali ke dalam pelukannya.
“Dari dulu hatiku tak pernah pergi meninggalkanmu, mungkin ragaku saja yang pergi tapi hatiku tetap bersamamu,” Sang Letnan menatap mataku dengan lembut penuh kasih sayang, “karena dari dulu hanya kamulah pemilik hatiku.”
Aku tersenyum menatapnya yang juga tersenyum, dia hampir saja menciumku kalau aku tidak mendorongnya dan menghindar.
“Kalau Ayah sama Ibu lihat gimana?!” bisikku dengan mata terbelalak menatapnya tak percaya kalau dia akan berani menciumku sekarang.
“Ckk… katanya kangen sampai pengen...”
“Tapi gak di sini!” Aku membekap mulutnya takut ada yang dengar.
“Dimana dong?”
“Nanti.”
“Nanti kapan?”
“Kapan-kapan.
”
“Tuhkan curang.”
__ADS_1
“Hahaha.”
“Yudha, makan dulu, yuk!” ajak Ibu yang tiba-tiba saja muncul dari dalam mengejutkan kami berdua yang langsung melompat saling menjauh.
“Iya, Bu.”
“Ayo! Ayah udah nungguin.”
Sang Letnan mengangguk dan kamipun mengikuti ibu masuk ke dalam sambil nyengir kaya kuda.
“Tuhkan! Untung saja tadi kita gak lagi…” aku memukul lengan kiri sang Letnan dengan senyum penuh kemenangan karena tebakanku akurat, tapi senyumku langsung hilang ketika ku melihatnya meringis menahan sakit, padahal aku memukulnya pelan.
“Mas Yudha kenapa?” tanyaku dengan kecurigaan yang mulai muncul.
“Gak apa-apa,” jawabnya sambil tersenyum berusaha menenangkanku, “Ayo! Ibu sama Ayah dah nungguin.”
“Tunggu!” seruku sambil menatapnya tajam, “Aku mau lihat tangan Mas Yudha.” Aku berusaha membuka jaket yang daritadi dikenakan sang Letnan.
“Aku gak apa-apa, Za.” Sang Letnan berusaha menghindar membuatku semakin dilanda ketakutan kalau tebakanku benar.
“Kalau gak ada apa-apa, buka jaketnya sekarang!”
“Za…”
Dadaku mulai berdebar kencang, ketakutan mulai menjalar membuat tanganku mulai gemetar, mataku terus menatap lengan kirinya. Perlahan jaketnya mulai terbuka hingga akhirnya terbuka seutuhnya membuat tubuhku lemas seketika dan air mataku mulai bergulir.
“Jadi... Mas Yudha?” tanyaku dengan suara gemetar ketika kulihat lengan kirinya kini terbebat kain kasa dengan bercak merah kecoklatan membuat dadaku sakit dan air mata semakin deras keluar.
“Za…”
“Jadi yang tertembak itu Mas Yudha!” seruku sambil menatapnya dengan mata yang semakin basah.
“Aku baik-baik saja, Za, ini hanya terserempet peluru saja.”
“Itu tidak baik-baik saja!” aku kembali berteriak, “Bagaimana bisa baik-baik saja… kamu terluka, Mas! Bagaimana kalau peluru itu bukan hanya mengenai lenganmu tapi… bagaimana kalau…”
Aku tak bisa meneruskan kata-kataku membayangkan bagaimana kalau peluru itu melenceng sedikit saja ke arah kanan maka bukan lengannya yang akan tertembak tapi… jantungnya! Membayangkan itu seketika membuatku terduduk lemas sambil menangis sejadinya.
“Ada apa?”
Tangisku rupanya cukup kencang hingga membuat Ayah dan Ibu berdatangan.
“Mas Yudha, Yah!” Aku menatap Ayah yang terlihat bingung melihatku yang duduk di atas teras dengan airmata berderai, “Mas Yudha yang tertembak.”
__ADS_1
Seperti aku tadi mata Ayah dan Ibu seketika terbelalak menatap sang Letnan yang kini berusaha menenangkan kedua orangtuaku.
“Saya tidak apa-apa, hanya terserempet, hanya sedikit terluka.”
“Itu masih berdarah!” teriakku sambil menunjuk kain kasa dengan bercak merah kecoklatan.
Sang Letnan berjongkok di hadapanku, tangannya mengelus kepalaku lembut kemudian menghapus airmata di pipiku.
“Ini bukan darah, Za, tapi bethadin.”
“Bohong!”
“Beneran… kamu gak percaya? Kamu mau lihat lukanya? Hanya luka kecil.”
“Ta-tapi tadi Mas Yudha kesakitan waktu aku pukul.”
“Hanya sedikit... aku sudah pulang dengan selamat, Za, kamu tak perlu khawatir lagi.”
“Tapi gimana kalau…”
Sang Letnan tersenyum sambil kembali menghapus airmataku, “Ssttt… insyaallah ketakutanmu tidak akan terjadi, aku akan lebih berhati-hati lagi… janji.”
“Benar gak apa-apa, Yud?” ibu bertanya sama khawatirnya denganku, membuat sang Letnan menatap ibu sambil tersenyum menenangkan.
“Gak apa-apa, Bu, hanya luka kecil.”
Aku melihat ayah beberapa saat menatap sang Letnan sebelum akhirnya berkata, “Itu pasti hanya luka kecil seperti dibilang Yudha, kalau memang itu luka tembak yang berbahaya pasti saat ini dia masih terbaring di RS dan dokter tak akan mengijinkannya pulang dulu.”
Mendengar itu membuatku menatap sang Letnan yang kembali tersenyum kemudian mengangguk.
“Ayah benar ini hanya luka kecil... gak usah khawatir lagi,” ucap Sang Letnan sambil mengacak-acak rambutku lembut lalu membantuku berdiri.
“Benar hanya luka kecil?” aku masih tak percaya kalau itu hanya sebuah luka kecil.
“Kalau ini parah, aku tak akan sanggup mengangkatmu tadi.” Sang Letnan tersenyum sambil mengelus kepalaku lembut.
Saat itu aku kembali tenang dan ikut makan bersama, tapi jujur saja perasaanku masih belum tenang seutuhnya. Berbagai macam pertanyaan ‘bagaimana seandainya’ terus menggema di kepalaku.
“Bagaimana seandainya dia harus kembali tugas dan pulang dengan luka yang lebih parah lagi?”
“Bagaimana seandainya lain kali tembakannya tidak meleset dan membuat peluru bersarang ditubuhnya?”
Aaarrgghhh!!! Aku tak ingin memikirkan itu, tapi tetap saja pertanyaan-pertanyaan negatif itu terus bergema membuatku gila.
__ADS_1
*****