Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 34


__ADS_3

“Bukan Yudha, kalau memang Yudha pasti Papah sudah diberi kabar.”


Saat ini aku tengah menghubungi Papah untuk menanyakan perihal berita tertembaknya salah satu anggota TNI di Suriah dalam aksi pembebasan sandera yang di tawan pemberontak.


“Papah yakin?”


“Iya, kamu tenang saja lagian berita itu belum tentu benar, kita belum dapat pernyataan resmi dari pemerintah jadi masih ada kemungkinan kalau itu hanya hoax saja.”


Baiklah aku akan kembali meyakini diri sendiri kalau mereka semua akan pulang ke tanah air dalam keadaan baik-baik saja tapi tetap saja seharian itu aku benar-benar tak bisa konsentrasi kerja, pikiranku melayang ketempat nun jauh di sana.


Sorenya aku menghubungi Papah kembali, dan seperti tadi Papah masih belum mendapat kabar apapun.


“Papah tadi sudah telpon kantor Yudha, mereka belum bisa memberikan klarifikasi apapun,” ucap Papah membuat tubuhku lemas.


Pemberitaan semakin simpang siur, ada yang mengatakan hanya terluka tapi ada juga yang mengatakan tak bisa diselamatkan membuatku tak berani untuk menonton berita di TV. Aku benar-benar dilanda ketakutan kalau itu benar-benar sang Letnan.


Tidak! Aku tak boleh seperti ini, aku harus percaya kalau sang Letnan baik-baik saja dan akan pulang untuk menikahiku. Ya, dia harus pulang supaya bisa menikah denganku, bukankah selama ini dia mengharapkan itu? Dia telah berjanji untuk pulang kembali ke dalam pelukanku, dan bukankah dia bilang kalau seorang pria sejati selalu menepati janjinya? Jadi dia harus pulang untuk menepati janjinya itu.


Setelah seharian dilanda kecemasan dan ketakutan yang luar biasa akhirnya aku bisa kembali bernapas lega dengan tangis penuh syukur ketika keesokan harinya Menkopolhukam memberikan pernyataan kalau tidak ada yang terluka dalam kejadian kemarin selain kondisi para korban penyanderaan yang lemah, selebihnya baik-baik saja termasuk para anggota TNI yang bertugas, jadi berita tentang adanya anggota TNI yang tertembak itu tidak benar.


Pemerintah menyatakan akan mengirim mereka kembali pulang ke tanah air sore ini setelah para korban sandera mendapatkan perawatan, hal itu membuatku kembali mengucap kata syukur tak terhingga.


Karena kejadian misi pembebasan itu nama Indonesia menjadi sorotan dunia terutama Kopassus yang selama ini menduduki peringkat 3 pasukan elit dunia di bawah SAS Inggris dan Navy SEAL Amerika, kini menduduki posisi puncak sebagai pasukan elit dunia yang paling handal.


Bukan hanya itu seluruh dunia seolah memuji hasil kerja Indonesia yang berhasil membebaskan para sandera dengan selamat, pemerintah Jepang dan Perancis juga secara resmi mengucapkan terimakasih. Senyum bangga menghiasi wajahku setiap melihat berita-berita itu mengingat sang Letnan ikut andil dalam itu semua.


Ingin rasanya aku berlari ke dalam pelukannya saat ini juga karena rasa bangga dan juga bahagia karena dia telah menepati janjinya untuk pulang dalam keadaan baik-baik saja. Tapi sepertinya hal itu harus ditunda dahulu.


“Assalamualaikum, calon istriku.”


“Aaahhh!!! Mas Yudhaa!!!” seketika aku langsung berteriak ketika mendengar suaranya membuatnya tertawa.


“Hahaha.. iya sayang, tapi jawab dulu salamnya.”


“Hehehe… wa’alaikumsalam, Mas Yudha dimana? Sudah di Bandung? Mas Yudha gak terlukakan?”


“Hahaha… ini baru saja sampai mess Cijantung makanya bisa menghubungi kamu, dan Alhamdulillah kami semua baik-baik saja, tapi… aku belum bisa pulang ke Bandung.”


Senyumku langsung hilang mendengar ucapan terakhirnya. Rombongan dari Suriah baru sampai di Halim Perdanakusuma sekitar jam 10 pagi yang disambut langsung oleh Menhankam dan beberapa perwakilan dari pemerintah lainnya yang diliput secara langsung oleh beberapa stasiun televisi, bahkan tadi sempat ku lihat di TV sosok sang Letnan berdiri paling depan bersama beberapa aggota Kopassus lainnya membuatku ingin masuk ke dalam layar untuk memeluknya.


“Kenapa?”


“Ada beberapa laporan yang harus kuselesaikan dulu, dan ada undangan dari Istana Negara, semua wajib hadir.”


“Yaah…” mendengar itu aku sedikit kecewa karena untuk saat ini aku hanya ingin sang Letnan menjadi milikku tak ingin berbagi dengan siapapun, termasuk Presiden sekalipun!


“Jangan cemberut, aku akan menyelesaikan tugas di sini secepatnya jadi aku bisa cepat pulang untuk membayar janjiku menikahimu.”

__ADS_1


Diam-diam aku tersenyum mendengarnya.


“Jangan lama-lama… kangen.”


“Sampai pengen meluk?”


“Iya, hehe.”


“Pengen cium juga gak?”


“Hehehe… iya.”


“Tahan dulu beberapa hari lagi, jangan peluk ma cium tedy juga.”


“Kenapa?”


“Pokoknya tahan sampai aku pulang, biar bisa peluk ma ciumnya lama.”


“Iiih, Mas Yudha! Kalau mau lama mah harus sah dulu.”


“Hahahaha… ya udah, aku pulang nanti minta Ayah panggil penghulu biar langsung disahin.”


“Hahaha… Mas Yudha gak tahu apa yang sudah disiapin orangtua kita.”


“Apaan?”


“Mereka sudah siapin semuanya yang belum hanya tinggal gedung sama undangan karena belum tahu tanggalnya.”


“Iya! Hahaha…”


“Kamu yang ngasih tahu mereka kalau kita mau menikah?”


“Iya, maaf gak izin Mas Yudha dulu, soalnya waktu itu Mamah terlihat khawatir banget makanya aku ngasih tahu Mamah biar pikirannya sedikit teralihkan dari putra kesayangannya yang sedang tugas.”


“Hehe… kamu sendiri gak nangiskan selama aku tinggal tugas?”


“Engga, aku kan dah janji gak nangis.”


“Pinter.”


“Hehe…”


“Za?”


“Iya.”


“Za…”

__ADS_1


“Iya…”


“Za…”


“Hahaha… Mas Yudha kenapa? Kok manggil-manggil doang.”


“Hehehe… aku ingin memastikan kalau kamu tidak akan merubah pendirianmu lagi dengan mengijinkanku memanggilmu, Za.”


“Hehehe, insyaallah dah mantap, Mas.”


“Alhamdulillah, hehehe… aku rindu… rindu memanggilmu Za seperti dulu lagi, rindu ketika bisa bicara di telpom seperti ini denganmu, rindu berkirim pesan sampai tengah malam seperti dulu tanpa harus menahan rasa sayang dan rinduku lagi.”


Aku tersenyum mendengarnya.


“Aku juga… aku rindu digombalin Mas Yudha seperti dulu.”


“Hahaha... aku gak pernah gombal, cintaku.”


“Tuhkan!”


“Tuhkan apa?”


“Itu cintaku.”


“Itukan panggilan sayang buat kamu.”


“Baiklah Ranggaku.”


“Kok Rangga?”


“Cinta kan ma Rangga.”


“Hahaha… bentar, Za.” Mas Yudha sepertinya tengah berbicara dengan seseorang membuatku menunggu beberapa saat, ”Halo, Za, gak jadi manggil cinta deh biar dipanggil Mas Kapten lagi.”


“Hehehe… kalau mau dipanggil Mas Kapten manggilnya Za aja.”


“Ok deh Za-yang.”


“Hahaha…”


“Sudah pulang kerja?”


“Udah tadi pulang teng-go dikirain Mas Yudha mau datang tahunya...”


Aku tak melanjutkan perkataanku dan ku tahu sang Letnan tengah tersenyum di seberang sana menyadari kalau aku tengah merajuk.


“Tahunya… aku memang datang.”

__ADS_1


Seketika aku membalikan tubuhku dengan mata membulat ketika ku lihat sang Letnan berdiri di ambang pintu menuju teras belakang dengan senyum lebar membuatku berteriak dan langsung berlari ke dalam pelukannya yang langsung mengangkatku sambil tertawa.


****


__ADS_2