
“Besok, saya kembali pergi tugas luar tak tahu kapan kembali, bisa hanya beberapa hari atau beberapa minggu.”
Sang Letnan tengah menghadap kedua orangtuaku ketika mau pamit pulang setelah mengantarkanku.
“Doakan saya supaya bisa kembali pulang dengan selamat.”
“Aamiin… insyaallah, Allah akan menjaga Yudha dan membawa pulang kembali dengan selamat,” ucap Ibu sambil menepuk tangan sang Letnan yang dari tadi digenggamnya sebelum akhirnya memeluknya dengan kasih sayang seorang ibu.
“Saya titip Kekey dan kedua orangtua saya selama saya tugas.”
Kini sang Letnan menggenggam tangan Ayah membuat Ayah mengangguk tegas, “Kamu tidak usah mengkhawatirkan mereka, fokus sama tugas kamu.”
“Siap!” sang Letnan memberi hormat sambil tersenyum membuat Ayah menepuk bahunya seperti biasa.
“Hati-hati.”
Sang Letnan mengangguk mengerti sebelum akhirnya benar-benar pamit pulang dan aku mengantarnya sampai depan. Saat ini kami berdiri berhadap-hadapan di depan mobilnya dengan tangan saling menggenggam.
“Mas Yudha biasanya tidak pernah pamit sama Ayah-Ibu kalau mau tugas.”
“Kata siapa? Kamunya saja yang tidak tahu.”
“Memangnya suka pamit?”
“Harus dong, sama orangtua harus pamit sekalian minta doa mereka.”
Aku tersenyum mendengarnya.
“Kerjaan kamu sama Raihan sudah selesai?”
“Sudah, hanya tinggal finishing saja.”
Sang Letnan mengangguk mengerti.
“Jangan bekerja terlalu keras, jangan lupa makan, istirahat yang cukup, kalau mau main jangan sendirian, ajak Arga, Mira, Yuni, atau siapa saja tapi ingat jangan sendirian, ok?!”
“Iya, Mas Yudha juga hati-hati… ingat! Ada aku yang menunggu di sini.”
Sang Letnan tersenyum sambil mengangguk.
“Kamu sudah dengarkan barusan kalau tugas kali ini tidak tahu kapan aku kembali.”
“Ckk… biasanya juga kaya gitu.”
“Hahaha, iya ya.”
“Iya! Tiba-tiba ngilang saja berminggu-minggu kaya kemarin.”
“Hahaha.”
Sang Letnan tertawa sambil memelukku.
“Biarkan aku memelukmu beberapa saat, anggap saja lagi nge-charge energy buat besok dan beberapa hari ke depan.”
Aku tersenyum mendengarnya sambil balik memeluknya.
“Doakan aku ya, Key.”
“Iya.”
“Kalau aku tidak ada, kamu harus bahagia.”
“Mas Yudha kan cuma pergi beberapa hari saja paling lama satu-dua bulan.”
“Iya, tapi kamu harus janji kalau kamu akan bahagia, jangan menangis… kalau kangen ambil air wudhu sholat terus doakan aku.”
“Insyaallah, kalau kangen pengen meluk gimana?”
__ADS_1
“Peluk teddy saja.”
“Hehehe, ok.”
Sang Letnan melepaskan pelukanku kemudian menatapku beberapa saat sebelum mencium kening, pipi dan menciumku dengan lembut.
“Aku titip Mamah-Papah kalau aku tidak ada, kamu harus sering-sering menemani mereka.”
“Tidak usah khawatir aku akan menemani mereka kalau libur.”
Sang Letnan tersenyum sambil mengangguk.
“Ingat kamu harus bahagia!” Ucap sang Letnan sambil mengelus rambutku membuatku tersenyum sambil mengangguk, "Aku pergi.”
“Iya, hati-hati… jangan khawatirkan aku, aku janji akan baik-baik saja.”
Sang Letnan tersenyum sambil mengangguk kemudian kembali menciumku sebelum akhirnya pergi meninggalkanku dengan kegundahanku. Jujur saja seharian ini aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan tunanganku itu yang membuatku sangat khawatir.
Walaupun sudah berusaha bersikap ceria di depannya agar dia tidak khawatir tapi tetap saja hatiku merasakan ada yang berbeda. Apa ini ada hubungannya dengan tugasnya kali ini? Ya Allah, lindungi dan jagalah dia untukku, bawa dia kembali pulang dengan selamat.
Keesokan harinya aku sedang bekerja seperti biasa ketika Arga menghubungiku.
“Key, Letnan tugas luar ya?”
“Iya.”
“Kemana?”
“Gak tahu, kan selama ini juga dia gak pernah ngasih tahu tugasnya apa dan kemana.”
“Iya sih, tapi kayanya sekarang tugasnya berat ya.”
“Tidak ada tugas yang tak berat, Ga.”
“Iya, tapi biasanya Letnan gak pernah menghubungiku kalau mau tugas.”
Aku menghentikan pekerjaanku dan fokus mendengarkan Arga.
“Iya, tadi dia menghubungiku, dia nyuruh aku sering-sering nengokin orangtuanya, dia nitipin mereka dan kamu.”
“Nitipin kami?”
“Iya, dia minta agar aku menghiburmu kalau kamu nangis, dan menjaga kamu buat gantiin dia.”
Deg!
Jantungku mulai berdebar kencang, kecurigaanku semakin besar kalau tugasnya kali ini benar-benar harus berkorban nyawa. Tubuhku gemetar mulai merasa khawatir, tapi tidak! Aku tak boleh seperti ini, sang Letnan akan kembali padaku walau apapun yang terjadi.
Setelah Arga menghubungiku aku tak bisa konsentrasi bekerja, pikiranku terus melayang kepada sang Letnan sampai akhirnya aku melihat TV dimana tengah memberitakan tentang penyanderaan wartawan di Suriah membuat tubuhku langsung lemas.
Beberapa rekan kerjaku terkejut melihat kondisiku yang tiba-tiba seperti itu, mereka menanyakan keadaanku, sambil berjalan dengan tubuh lemas menuju toilet aku mengatakan kalau aku baik-baik saja. Dengan tangan gemetar hebat aku mencoba menghubungi sang Letnan.
“Ku mohon angkatlah!” aku berdoa dalam hati kalau aku belum terlambat untuk menghubunginya, perlu beberapa kali usahaku untuk menghubunginya sebelum akhirnya ku dengar suara sang Letnan di seberang sana membuatku sedikit bernapas lega.
“Mas Yudha dimana?”
“Jakarta.”
“Aku gak ganggukan?”
Sang Letnan terdiam beberapa saat membuatku mengerti kalau ini bukan saat yang tepat untuk menghubunginya.
“Sebentar saja! Aku hanya ingin berbicara sebentar saja.”
“Ada apa, Key? Apa ada yang sesuatu terjadi? Kamu baik-baik sajakan?”
“Mas, katakan padaku… apa tugas kali ini ada hubungannya dengan pemberitaan di TV akhir-akhir ini?”
__ADS_1
Aku bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan sang Letnan yang kembali terdiam sebelum akhtinya menjawab, “Iya.” Membuat tubuhku kembali lemas dan air mata mulai bergulir.
“Apapun yang terjadi, Mas Yudha harus pulang dengan selamat, harus!”
“Doain ya, Key, biar kami bisa pulang dengan selamat.”
“Mas Yudha harus janji, Mas Yudha akan pulang kembali kedalam pelukanku kalau tidak… aku akan menyusul Mas Yudha!”
“Key…”
“Za! Panggil aku Za!” Aku berteriak dengan air mata yang terus keluar membasahi wajahku, “Mas Yudha dengar itu? Sekarang Mas Yudha harus menepati janji Mas Yudha untuk menikahiku.”
Membayangkan aku tak akan melihatnya kembali membuatku serasa ingin mati, dan inilah jawaban dari pertanayaan terakhirku selama ini… aku tak akan bisa hidup tanpa dirinya!
“Kamu sudah kembali, Za?”
“Iya, aku sudah kembali jadi ku mohon Mas Yudha harus pulang dengan selamat, aku tak akan bisa kalau harus kehilanganmu kembali.”
Sang Letnan terdiam sebelum akhirnya berkata.
“Aku akan kembali, Za, tunggu aku… aku akan menepati janjiku untuk menikahimu sepulang aku tugas.”
“Aku akan menunggu dan berdoa agar Allah selalu melindungi Mas Yudha dalam kondisi apapun.”
“Aamiin… sekarang giliranmu untuk menepati janjimu.”
“Aku?”
“Iya, kamu sudah berjanji untuk selalu tersenyum dan berbahagia... ada Arga yang akan selalu menjaga dan menemanimu.”
“Aku tak mau Arga atau orang lain! Aku mau Mas Yudha dan hanya Mas Yudha yang akan menjadi penjaga dan pemilik hatiku… aku tak mau yang lain!” Aku kembali berseru dengan air mata mengalir deras membayangkan kalau bukan sang Letnan yang akan menemaniku tapi pria lain, bahkan kalaupun itu Arga, aku tak mau! Dengan suara gemetar aku kembali melanjutkan perkataanku.
“Seperti lagu yang sering Mas Yudha senandungkan ketika berdua bersamaku, until the day the ocean doesn’t touch the sand, now and forever you will be my man.”(Sampai hari dimana samudera tak lagi menyentuh pasir, sekarang dan selamanya kau akan menjadi kekasihku).
Aku sedikit mengubah lirik dari lagi Now and Forevernya Ricard Mark dari I will be your man jadi you will be my man. Ya, lagu itulah yang sering sang Letnan senandungkan saat berdua denganku, lagu yang sarat akan makna tentang berapa besar dia mencintaiku untuk sekarang dan selamanya.
“Kamu sudah mengerjakan PR mu ternyata, hehe.”
“Iya, kini giliran Mas Yudha yang harus mengerjakan PR Mas Yudha.”
“PR ku? Apa?”
“Menyanyikan lagu itu di depanku langsung, jadi Mas Yudha harus kembali pulang dengan selamat untuk menikahiku dan menyanyikan lagu itu.”
“Hehehe… baiklah aku akan pulang, Za, aku akan pulang walaupun apa yang terjadi.”
Aku kini bisa sedikit tersenyum mendengar keoptimisan dalam suaranya.
“Aku akan menunggu Mas Yudha seperti dulu, kini aku yang akan kembali menunggu Mas Yudha, jadi Mas Yudha jangan biarkan aku menunggu terlalu lama.”
“Baiklah, aku akan pulang secepatnya.”
“Mas Yudha tidak usah khawatir… aku akan baik-baik saja di sini, aku akan sering menghabiskan waktu bersama Mamah sambil menunggu Mas Yudha pulang, aku akan tetap setia menunggu. Aku akan mendoakan Mas Yudha disetiap sujudku, jadi Mas Yudha harus fokus terhadap tugas yang Mas Yudha emban sekarang agar bisa kembali pulang dengan selamat, paham?”
“Siap! Laksanakan.”
Aku tersenyum mendengarnya.
“Za, maaf aku harus pergi sekarang, aku akan menghubungimu lagi kalau sudah kembali.”
Aku terdiam kemudian mengambil napas dalam-dalam, “Baiklah, hati-hati… I love you, just remember that I love you more than you know.”
“I Love you more than your love… assalamualaikum, Za.”
“Wa’alaikumsalam, Mas Kapten.”
Aku bisa mendengar suara tawa sang Letnan ketika ku memanggilnya dengan sebutan Mas Kapten sesuai dengan pangkatnya sekarang. Aku berusaha menenangkan perasaanku yang bercampur aduk, tapi aku yakin Allah akan melindungi dan akan mengirimnya kembali pulang ke dalam pelukanku. Dengan keyakinan itu aku keluar dari toilet dengan senyum di wajah.
__ADS_1
****