Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Ekstra Part 2


__ADS_3

Pertemuan keduaku dengan si Tukul membuatku semakin tak bisa memercayainya, tapi apa? Apa yang salah dengan pria itu? aku tak memiliki bukti apapun. Apa instingku kini bersifat subjektif karena aku cemburu? Entahlah tapi yang pasti aku tak memercayainya membuatku mencari informasi sebanyak mungkin tentangnya.


Tetapi aku belum menemukan apapun yang berarti sedangkan hubungan mereka ku lihat semakin dekat, akhir-akhir ini aku bahkan tak bisa bertemu dengan Keyza entah karena dia sibuk pacaran atau memang sengaja menghidariku… entahlah, tapi yang pasti aku merindukannya, sangat merindukannya.


Sabtu sore aku tengah duduk di halaman belakang rumahku ketika Ilman, rekanku di Kopassus menghubungiku dan memberi informasi tentang siapa Rey Wiryawan sebenarnya dan itu membuatku tersentak tak percaya.


“Dia memang putra Indra Wiryawan, Dubes yang saat ini bertugas di Jepang tapi bukan itu yang jadi masalah… menurut temanku yang pernah bekerja di Kedubes Belanda dengan Indra Wiryawan, Rey Wiryawan adalah seorang pembuat masalah.”


“Pembuat masalah?”


“Iya, dia terkenal memiliki temperamen yang tinggi bahkan sempat berurusan dengan pihak kepolisian Belanda karena melakukan pemukulan terhadap kekasihnya.”


“Dia apa?!” Aku terlonjak terkejut hampir tak percaya dengan apa yang ku dengar, aku tahu kalau dia memang bajingan tapi aku tak menyangka kalau dia lebih parah dari apa yang ku bayangkan.


“Iya, tapi untung saja dia memiliki Bapak yang berpengaruh dan banyak duit hingga bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan hanya di deportasi, coba kalau misalnya itu terjadi sama kita yang ada kita sudah mendekam di penjara.”


Za! Saat itu pikiranku langsung teringat dengannya, apa dia baik-baik saja? Dengan cepat aku mengucapkan terima kasih kepada temanku itu dan langsung menutup teleponnya. Aku baru akan menghubungi Keyza ketika Juang menghubungiku.


“Kekey kecelakan, dia terserempet mobil dan sekarang berada di RS. Muhammadiah.”


Tanpa menunggu penjelasan Juang lebih lanjut aku langsung berlari masuk ke dalam membuat Papah yang sedang berada di depan bertanya, “Ada apa, Yud?”


“Kekey masuk RS! Nanti Yudha kabarin Papah kalau sudah melihat keadaannya,” jawabku sambil terus berlari menuju garasi.


Seperti kesetanan aku menjalankan motorku dengan kecepatan maksimal, jantungku berpacu dengan cepat membayangkannya terbaring di ranjang RS dengan luka di tubuhnya membuatku seperti kehilangan akal.


Setibanya di RS aku langsung berlari menuju ruang UGD, dan di sanalah dia terbaring dengan selang inpus terpasang di tangan kiri sedangkan tangan kanannya terbebat perban. Dadaku naik turun dengan napas terengah-engah.


Aku tak memedulikan sekelilingku, mataku hanya terfokus menatapnya yang menatapku dengan mata berkaca-kaca yang langsung memelukku dengan tangis sejadinya membuatku sedikit bisa bernapas lega karena sepertinya dia tidak terluka terlalu parah.


Tapi emosiku mulai tersulut ketika dengan suara terbata-bata di antara tangisnya dia menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi.


“Dia… mencengkram tanganku… sakit.”

__ADS_1


Ku periksa lengannya dan seketika amarahku memuncak ketika ku melihat lengannya memar, ku tatap bajiangan itu dengan nyalang membuatnya terdiam.


“Dia memanggilku jalang…”


Cukup! Aku tak bisa menahan emosiku lagi. Tak memedulikan sekeliling ku seret baj*ngan itu keluar dari RS, ku tak pedulikan rengekannya supaya aku melepaskan cengkraman di tengkuknya, aku juga tak memedulikan beberapa orang yang menatap ke arah kami.


Aku tak peduli, bahkan kalau nanti aku harus berurusan dengan hukum, aku tak peduli! Yang penting aku bisa mematahkan tangannya yang telah berani melukai perempuan, dan menyobek mulutnya yang telah berani menghina perempuan.


Kalaupun nanti aku harus mendekam di penjara, itu urusan nanti dan aku tak peduli!


Setibanya di parkir belakang RS ku langsung hempaskan tubuhnya hingga menabrak benteng.


“Kau akan menyesalinya!” Geramnya dengan mata menatapku nyalang.


“Kau pikir aku takut sama pengecut sepertimu yang beraninya hanya sama perempuan!”


“Kau! Kau belum tahu siapa aku?” dia tersenyum mengejek, “Aku bisa dengan mudah membuatmu dikeluarkan dari kesatuan yang kau banggakan itu!”


Tanpa menunggu lagi aku langsung membanting tubuhnya hingga tengkurep di atas beton, kakiku ku injakan di punggungnya, dan tangan kanannya ku tarik ke belakang.


“AAAHHHH!!!!” Dia menjerit sekuat tenaga ketika ku tarik tangannya, aku hampir saja mematahkan tangannya ketika Juang menarikku.


“Lepaskan aku!” Aku berontak berusaha lepas dari Juang yang menarikku menjauh “Aku akan patahkan tangannya!”


“Mas! Kalau sampai Mas Yudha dipenjara siapa yang akan menjaga Kekey?”


Pertanyaan itu membuatku sedikit tersadar, tapi masih belum meredakan emosiku.


“Tangannya! Tangannya berani menyakiti perempuan yang aku cintai, adikmu!” seruku dengan napas masih terengah karena amarah, mataku nyalang menatap Juang yang terkejut mendengar ucapanku.


“Dia apa?”


“Dia yang menyebabkan Kekey terbaring di UGD.”

__ADS_1


Ku lihat emosi Juang mulai tersulut sepertiku tadi dan tanpa banyak bicara Juang langsung memukulnya sambil berseru, “Aku yang akan menghajarnya!”


Pukulan Juang membuat si Tukul sedikit limbung, tapi dasar kurang ajar! Seolah tak mengenal kondisi yang tak memihaknya dia masih bisa mengancam kami.


“Kalian akan menerima akibatnya, ingat itu!”


Mendengar dia mengancam seperti itu membuatku kembali maju dan dengan tangan kanan ku cengkram lehernya hingga tubuhnya tersudut di tembok benteng RS dengan mata terbelalak terkejut juga takut.


“Kau pikir kau bisa bebas seperti di Belanda?” geramku membuatnya semakin terbelalak, “Kali ini kau berurusan dengan orang yang salah! Aku tak peduli kau anak Dubes atau Presiden sekalipun, kau berani menyentuh orang-orang yang ku sayangi… aku yang akan menghukummu! Paham!”


Wajahnya semakin memucat melihatku yang masih diliputi amarah sampai akhirnya dia mengangguk mengerti dan akupun melepaskan cengkraman di lehernya.


“Sekarang kau pergi dari sini!” geramku di depan wajahnya, “Kau berani mendekati Kekey lagi, aku tak akan melepaskanmu seperti sekarang.” Aku mundur selangkah, kulihat dia mengelus-elus lehernya tapi matanya masih menunjukan rasa amarah walaupun bercampur dengan takut.


“Kalau kau berani menyentuhku, Ayahku tak akan melepaskanmu begitu saja.”


Aku terdiam kemudian tersenyum mengejek mendengarnya, “Siapa bilang aku akan melukaimu? Tanganku tak perlu berlumuran darah baj*ngan sepertimu hanya untuk melenyapkanmu. Kau tidak tahu sedahsyat apa sosial media? Percayalah aku pernah membuat seorang artis papan atas hancur hanya dengan menggunakan sosial media, jadi akan mudah untukku untuk menghancurkan seorang baj*ngan sepertimu.”


Matanya membulat tak percaya membuatku kembali tersenyum mengejek.


“Yang aku perlukan hanya membagikan catatan kejahatanmu di Belanda, hasil rekam medisnya Kekey, dan video cctv mall… aku yakin banyak orang yang melihat apa yang telah kau lakukan jadi akan banyak sekali saksi yang mendukungku, dan kalau menurutmu kurang… aku bahkan bisa menghancurkan karir Ayahmu yang hebat itu... perlu ku katakan berapa uang yang telah Ayahmu keluarkan untuk membebaskanmu dari hukuman?”


Wajahnya kembali memucat, melihatnya seperti itu membuatku kembali mundur untuk berdiri di samping Juang yang masih menatapnya dengan intimidasi.


“Kalau kau tidak mengerti, itu artinya KPK akan turun tangan.” Juang melanjutkan ucapanku membuatnya semakin memucat, “Apa kau tak tahu kalau Ayah Kapten adalah salah satu anggota KPK? Dan dia sangat menyayangi Kekey.”


Si Tukul menatapku terkejut, entah dia terkejut mengetahui Papah adalah anggota KPK atau terkejut karena bingung Papah sebenarnya Wagub atau anggota KPK? Ckk… ternyata darah memang lebih kental, Juang sangat mirip dengan Kekey kalau soal bikin orang bingung.


“Dan sebaiknya kau tidak datang lagi ke Bandung,” ucapku dengan tegas, “Kau mungkin tidak tahu, tapi Kekey memiliki teman yang sangat banyak yang akan dengan senang hati menjaganya. Aku hanya tinggal mengirim fotomu ke grup dan menceritakan apa yang telah kau lakukan padanya, dan kau… berdoalah tak bertemu salah satu dari mereka.”


“Atau tidak bertemu salah satu anak buah Kapten yang akan meleyapkanmu dengan sangaaat senyaaap,” ancam Juang membuatnya semakin pucat pasi bak mayat.


“Sekarang kau paham? Kami bisa meleyapkanmu dengan cara apapun, jadi sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi sebelum kesabaranku benar-benar hilang kalau tidak, aku benar-benar akan membuat hidupmu seperti di neraka!”

__ADS_1


Dia menatap kami sesaat dan tanpa menunggu lama dia pergi dengan tangan kiri memegang bahu kanannya, sepertinya saat itu aku berhasil minimal membuat lengannya terkilir dan setelah hari itu kami tak pernah melihatnya lagi.


*****


__ADS_2