Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 21


__ADS_3

“Ya wajar kalau kamu jadi inget lagi masa lalu, Key.”


Saat ini aku tengah berbicara dengan Arga yang memang sudah kembali berkantor di Bandung karena proyek di Sukabumi telah selesai.


“Makanya, Ga, kesal banget setiap lihat Mas Raihan.”


“Kalau lihat Letnan kesal juga?”


Aku terdiam sambil menghela napas ketika mendengar pertanyaan Arga.


“Kenapa?” tanya Arga ketika melihat reaksiku seperti itu.


“Setiap melihatnya.” Aku mengambil napas panjang dan membuangnya dengan berat kemudian menatap Arga, “Aku seolah diingatkan kembali dengan pengkhianatan dia.”


“Key…”


“Aku tahu, Ga, tahu! Kalau dia tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini… Kak Dimas, Kamu, bahkan Mas Raihan-pun berkata kalau dia hanya korban! Tapi… kamu gak bakalan mengerti bagaimana perasaanku dulu ketika dia lebih memilih perempuan lain daripada aku, atau bagaimana hancurnya aku ketika melihatnya bertunangan dengan perempuan lain. Aku hancur, Ga, benar-benar hancur saat itu!”


Arga terdiam menatapku kemudian mengangguk mengerti.


“Maaf, seharusnya aku tahu.”


“Aku berusaha bersikap biasa ketika melihatnya ngobrol dengan Mas Raihan, tapi aku seolah kembali dilempar ke masa lalu ketika melihat dia memasangkan cincin di jari manis perempuan lain, atau ketika perempuan itu dengan senyum lebar merangkul lengannya… walaupun aku tahu dan sadar itu terjadi bukan atas kemauannya tapi terjadi karena kondisi yang tak mungkin dia hindari, tapi tetap saja aku tak sanggup, Ga.”


Setelah hari dimana aku melihat sang Letnan berbicara dengan Mas Raihan, aku kembali dilanda kebimbangan. Di satu sisi emosi kembali mengisi hatiku ketika diingatkan akan ‘pengkhianatan’ sang Letnan kepadaku dulu, tapi di sisi lain keegoisan juga menyeruak kepermukaan karena aku tak ingin kehilangannya kembali untuk kedua kalinya.


“Jadi sekarang bagaimana?”


“Entahlah, Ga, aku sendiri bingung.” Aku membuang napas berat sambil menggeleng menatap Arga, “Aku tak ingin kehilangannya lagi, tapi rasa amarah dan kekecewaan yang hampir saja terkubur kini kembali membuat dadaku terasa sesak.”


Arga mengangguk mengerti kini giliran dia yang menghela napas sambil bersandar di sandaran kursi.


“Aku mengerti perasaanmu… pasti sulit untuk melupakan pengkhianatan pasangan kita, seperti halnya Irene, walaupun aku tidak benar-benar berselingkuh darinya tapi dia kini tak lagi memercayaiku seperti dulu, dia akan penuh dengan rasa curiga dan akan mengungkit hal ini setiap saat, seolah itu adalah hukuman abadi yang harus ku jalani.”


Aku terdiam karena akupun sangat mengerti perasaan Irene, walaupun mungkin dia lebih beruntung karena tak harus menyaksikan Arga bertunangan dengan perempuan lain dan Arga-pun tidak benar-benar selingkuh darinya, dia hanya menganggumi perempuan lain tapi ya tetap saja itu salah satu bentuk pengkhianatan.


“Makanya aku salut dengan kalian berdua.” Arga tersenyum menatapku, “Kamu masih bisa menerima dia di sisinya walaupun hanya sebagai teman, dan dia bisa bertahan tetap di sampingmu walaupun aku tahu pasti kamu akan seperti Irene atau bahkan mungkin lebih.”


“Oh percayalah, Ga, aku lebih dari Irene… aku pernah membentaknya, memarahinya, bahkan sampai aku sendiri tak percaya kalau aku bisa melakukan itu semua.”


“Tapi dia tetap di sampingmu sampai sekarang.”


Aku mengangguk membenarkan hal itu.


“Sedangkan aku saja sudah hampir menyerah karena selalu disalahkan seperti ini.”


“Ga…”


“Aku tahu, Key, aku telah melakukan kesalahan tapi aku tak melakukan kesalahan sebesar itu, aku hanya sempat mengagumi dan merasa simpati padanya, kami bahkan tak pernah ngobrol berdua membicarakan masalah pribadi ataupun makan berdua atau apalah, aku berani bersumpah itu tidak pernah… apa membawanya ke dokter juga merupakan kesalahan?”


Arga sedikit emosi ketika menceritakan hal itu, entah apa merasa kecewa pada Irene atau pada dirinya sendiri.


“Dan sepertinya aku tak akan bertahan, Key, kalau Irene masih seperti itu.”

__ADS_1


Apa sang Letnan-pun sempat berpikir untuk menyerah seperti Arga? Aku harap tidak kalau memang iya, entah apa yang akan kurasakan saat itu.


“Kenapa kalian tidak membicarakannya? Maksudku, kamu minta dia agar tidak selalu mengungkit kesalahan-kesalahanmu lagi.”


“Sudah, tapi dia tetap seperti itu… aku harap setidaknya dia memberiku kesempatan untuk membuktikan kalau aku tak akan melakukan kesalahan yang sama, bukan malah membuatku semakin malas untuk bertemu dengannya.”


“Dengan dia menerimamu kembali, itu tandanya dia sudah ngasih kesempatan kedua, Ga.”


“Iya, tapi untuk apa? Kalau setiap saat selalu mengungkit masalah itu… misalnya aku telat jemput hanya lima menit, dia langsung curiga aku ketemu Reva dulu. Atau aku telat balas WA dia curiga aku lagi WA-an sama Reva… lama-lama kan jadi malas sendiri, key, kalau gitu terus… kamu pernah seperti itu?”


Aku menggelengkan kepala.


“Mungkin karena kini kami hanya berteman jadi kami merasa lebih bebas dengan privasi masing-masing.”


“Seandainya saja kami bisa seperti kalian.” Arga membuang napas berat sambil kembali menyandarkan tubuhnya disandaran kursi dengan tubuh sedikit melorot dengan kaki berselonjor memerlihatkan kalau dia sudah sangat lelah dengan apa yang terjadi dalam hubungannya dengan Irene.


Kami berdua memiliki masalah yang hampir sama, tapi dari sisi yang berbeda. Dan entah kenapa aku jadi bisa memahami apa yang dirasakan sang Letnan dari melihat dan mendengarkan Arga, dan mungkin dengan keputusan kami untuk berteman selama ini adalah keputusan yang benar karena tidak harus merasakan apa yang Arga dan Irene jalani sekarang.


****


“Arga sudah pulang?” tanya Ayah ketika melihatku sendirian di ruang keluarga sambil nonton TV.


“Sudah, Yah.”


Ayah duduk ikut bergabung nonton seri NCIS di salah satu TV berlangganan.


“Tadi, Ayah tidak sengaja mendengar obrolan kalian.”


Aku menatap Ayah yang kini menatapku serius.


“Iya, kantor Kekey kerjasama dengan kantornya Mas Raihan di Jogya untuk resort di Tanjung Lesung.”


Ayah mengangguk mengerti.


“Ayah, tahu siapa Mas Raihan?”


“Maksudmu selain teman Dimas dan mantan atasanmu?”


Aku terbelalak menatap Ayah tak percaya, apa mungkin Ayah juga mengetahui masalah sang Letnan?


“Iya, Ayah tahu kalau adiknya Raihan adalah mantan tunangannya Yudha.”


Aku semakin tak percaya mendengar ucapan ayah.


“Dimas menceritakan apa yang terjadi di rumah Yudha pada hari keberangkatanmu ke Jepang.”


“Jadi… selama ini Ayah tahu?”


“Kami semua tahu, Key… mungkin Ayah sama Ibu yang pertama tahu daripada kamu.”


Aku menatap Ayah bingung tak mengerti dengan apa yang dikatakannya.


“Yudha waktu itu datang ke rumah.”

__ADS_1


Aku menatap ibu yang baru datang dari dapur dengan secangkir kopi untuk ayah.


“Kapan? Ketika aku sudah pergi ke Jepang?” tanyaku bingung dengan ucapan kedua orangtauku.


“Jauh sebelum hari kepergianmu ke Jepang.”


Ok, sekarang aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang baru saja ku dengar.


“Apa maksud Ibu?”


Ibu menatapku beberapa saat kemudian menatap ayah, membuatku semakin penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.


“Ketika Yudha masih tugas di Cijantung, dia pernah datang ke sini tanpa sepengetahuanmu.” Ayah mulai bercerita membuatku menatapnya serius.


“Dia menceritakan kecelakaan yang menimpanya, termasuk apa yang terjadi dengan adiknya Raihan.”


Aku hampir tak bisa bernapas ketika mendengar cerita ayah, tak percaya kalau selama ini mereka mengetahui tentang apa yang terjadi antara aku, sang Letnan dan Widy, tapi mereka tetap diam seolah tak mengetahui apa-apa.


“Jadi Ayah dan Ibu mengetahui tetang Mas Yudha yang mengkhianati Kekey?”


“Dia… tidak mengkhianatimu, Key.”


“Dia mengkhianati Kekey, bahkan Kekey melihatnya bertunangan dengan perempuan lain, itu namanya tetap saja pengkhianatan walaupun bukan atas kemauannya sendiri… dan Kekey benar-benar hancur dan terluka saat itu. Mungkin Ayah dan Ibu tidak mengetahuinya karena Kekey berusaha tetap tersenyum di depan semuanya, tapi hati Kekey benar-benar terluka.”


“Kami tahu, Key… kamu adalah putri kami jadi bagaimana bisa kami tidak mengatahui kalau putri kami sedang tidak bahagia, karena alasana itulah Ayah memberitahu Yudha tentang keberangkatanmu agar setidaknya dia bisa memberitahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, setidaknya itu yang bisa kami lakukan untuk membuat kalian kembali berteman seperti sakarang untuk menebus kesalahan kami.”


Aku mengeruskan kening, “Kesalahan? Kesalahan apa?”


Ayah dan Ibu kembali saling tatap sebelum akhirnya ayah kembali berbicara.


“Ketika Yudha datang ke sini menceritakan apa yang terjadi dengan adiknya Raihan… kamilah yang menyarankannya untuk memilih perempuan itu daripada kamu.”


Aku membelalak tak percaya, jantungku seolah dicengkram sulit untuk bernapas, tubuhku gemetar mendengarnya.


“A-apa maksud Ayah?”


“Hari itu Yudha terlihat begitu bingung karena desakan yang diterimanya dari keluarga Raihan, dia sangat mencintaimu dan tak ingin melepaskanmu tapi dia juga merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada perempuan itu.”


“Dan Ayah menyarankannya untuk lebih memilih perempuan lain daripada aku? Putri Ayah sendiri?” Aku tak percaya kalau kedua orangtuaku-pun akan memihak orang lain dari pada aku.


“Karena kami memikirkanmu, Key… sebagai orangtua yang memilki seorang putri kami sangat memahami bagaimana perasaan orangtua Raihan saat itu ketika harus melihat hidup putrinya hancur.”


“Dan hidupku juga hancur karena kehilangannya.”


“Maafkan kami, saat itu kami berpikir kalau kamu akan bisa melewatinya… kamu masih muda, cantik, pintar dan sehat, kami pikir kamu akan segera melupakan Yudha setelah bertemu dengan pria lain.”


“Karena itulah Kak Dimas berusaha menjodohkanku dengan Mas Raihan?”


Aku menatap kedua orangtuaku tak percaya ketika melihat mereka mengangguk.


“Kami benar-benar tidak tahu kalau perempuan itu adalah adik Raihan, Kakakmu sudah lama tidak bertemu Raihan jadi dia tidak mengetahui apa yang terjadi dengan keluarganya sampai akhirnya pada hari mereka bertemu di rumah Yudha.”


Aku benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa setelah mengetahui kalau keputusan sang Letnan meninggalkanku ternyata ada hubungannya dengan orangtuaku, aku hanya bisa menatap kedua orangtuaku dengan pandangan kecewa dan juga tak percaya.

__ADS_1


*****


__ADS_2