Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 7


__ADS_3

Tanpa terasa bulan puasa telah tiba, dan ini adalah bulan puasa pertama yang benar-benar bisa aku lewatkan bersama sang Letnan. Bulan puasa tahun pertama adalah saat sang Letnan di Myanmar dan hilang dari peredaran, tahun kedua kita salah paham gara-gara Bang Eddy dan Leona, tahun ketiga sang Letnan melewatkan puasa dan lebarannya di camp pelatihan, dan tahun keempat… kami putus.


Jadi sekarang adalah tahun puasa kami bersama-sama walaupun sebagai teman, hubungan kami yang kini semakin dekat seperti aku dan Arga, membuatku tak melewatkan kebersamaan kami begitu saja. Setiap dia libur dan bisa pulang aku akan merengek memintanya jalan-jalan, seperti sekarang.


“Macet, Key, pasti yang lain juga pada mau buka puasa di luar belum lagi yang pada beli baju lebaran… euh! Kebayang penuhnya.”


“Jalan-jalan saja, ngabuburit kita keliling-keliling beli takjil trus kita makannya di rumah, yaaa???”


“Mau beli apa sih?”


“Apa saja yang penting kita jalan… ayo!!” Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya yang sedang tiduran di sofa, tapi malah membuatnya semakin erat memeluk bantal sofa sambil merem. Tak kehabisan akal akhirnya aku mengelitikinya yang langsung berteriak minta ampun sambil tertawa.


Dan akhirnya kami berkeliling menaiki motor ikut menyumbang kemacetan di kota Bandung pada sabtu sore hanya demi membeli takjil, yang sebenarnya bisa di beli dengan berjalan kaki karena sepanjang Jl. Sukajadi berderet penjual musiman yang menjajakan berbagai macam takjil.


Dan keesokan harinya aku kembali merengek untuk mengantarkanku membeli baju lebaran yang sebenarnya tak harus ada. Tapi entah kenapa puasa tahun ini membuatku terkesan manja padanya, setiap dia libur aku akan mencari alasan hanya untuk ngabuburit berdua dengannya seolah aku ingin membayar bulan puasa tahun-tahun sebelumnya yang ku lewati seorang diri.


Apalagi sekarang hubungan kami yang hanya sebatas teman membuatku terasa sangat nyaman bersamanya, seolah dia menggantikan Arga yang jarang pulang ke Bandung dan walaupun pulang dia lebih banyak melewatkannya bersama Irene… ckkk pacaran mulu!


Hubunganku dengan Rey, masih seperti kemarin-kemarin tapi dia semakin posesif membuatku merasa sesak karena larangan-larangannya yang tak masuk akal. Aku bisanya menceritakan itu kepada sang Letnan yang akan mendengarkanku dengan sangat baik. Perlu diketahui sampai sekarang sang Letnan dan Arga memanggil Rey dengan sebutan Tukul, dan aku hanya pasrah saja karena percuma protes juga tak ada yang mendengarkanku.


Saat ini kami sedang duduk di teras belakang dengan semangkuk es buah buatan ibu. Sang Letnan masih terlihat tampan dengan baju kokonya sepulang terawih sedangkan aku sudah berganti pakaian dengan baju tidur longgar dengan gambar tazmania devil.


“Gimana si Tukul masih cemburuan?”


Aku hanya membuang napas berat sambil mengangguk.


“Kan dia cerita kalau dia jalan sama Yuri ke Tokyo tower, terus dia nanya kamu gak cemburukan? Aku bilang enggalah kan Yuri cuma teman soalnya aku juga punya teman cowok, terus aku cerita Arga, eh dia malah marah… dia bilang antara cewek sama cowok itu tidak ada yang namanya temanan. Kan aneh banget masa dia sama Yuri boleh terus aku sama Arga gak boleh.”


“Sebelumnya kamu gak pernah cerita soal aku atau Arga?”


“Engga.”


“Kenapa gak cerita?”


“Hmmm…” aku berpikir kemudian mengangkat bahu tak tahu, membuat sang Letnan menatapku kemudian mengangguk.


“Dia pengen kamu cemburu pas dengar dia jalan sama teman ceweknya itu.”


“Masa sih? Terus kalau aku gak cemburu masa harus pura-pura.”


Sang Letnan menaruh mangkuk es buahnya yang sudah kosong, kemudian berkata.


“Kadang kita perlu mengungkapkan kalau kita cemburu asal jangan berlebihan karena itu hanya membuat pasangan kita menderita karena kecemburuan kita… jangan cuma diam-diam bakar kayu atau bikin indomie jadi kaya bubur karena diaduk-aduk mulu… aww! Hahaha…”


Aku memukul lengannya kesal… dulu ada kalanya aku bahkan cemburu kepada temanku sendiri hanya karena manawarinya makan, dulu aku pernah cemburu hanya karena mendengar semua orang menggodanya dengan perempuan lain. Tapi kini, aku tak merasakan itu ketika bersama Rey, apa mungkin karena aku sangat memercayainya? Entahlah… dan sekitar jam 10 sang Letnan-pun pamit pulang.


“Lebaran ke sini kan Yud?”


“Insyallah, Bu, tapi hari kedua kayanya.”


“Iya, nanti ibu sisain opor sama rendangnya.”


“Asyik… Kak Dimas sama Juang kapan pulang?”


“Besok katanya.”


Sang Letnan mengangguk mengerti kemudian benar-benar pamit keluar rumah, saat ini dia tengah memakai jaketnya dan aku berdiri di depannya.


“Tahu tidak lusa hari apa?” tanyaku dengan senyum tertahan.

__ADS_1


“Lebaran,” jawabnya cuek sambil menaiki motor.


“Kalau besoknya?” mataku berbinar menatapnya yang menatapku santai.


“Hari kedua lebaran,” jawabnya masih dengan santai.


“Selain hari kedua lebaran?” tanyaku penuh harap membuatnya berpikir kemudian seperti mengingat sesuatu matanya membulat menatapku yang juga menatapnya dengan mata membulat dengan senyum lebar.


“Ahh… hari senin.”


Seketika senyumku hilang mendengar jawabannya, “Tahu ah!” ucapku kesal yang membuatnya tertawa.


“Udah ah.” Seperti biasa dia mengacak-acak rambutku sebelum pulang, “Assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam.” Dan dia-pun pergi meninggalkanku yang hanya membuang napas berat, masa dia lupa sih???


****


Suara takbir bergema sepanjang malam, rasa haru dan suka cita sangat kental terasa ketika kami shalat ied di lapangan Husain Sastra Negara berbaur dengan warga sekitaran Pandjadjaran lainnya.


Rasa haru semakin terasa ketika aku dengan saudara-saudaraku secara bergiliran sungkem kepada orangtua kami. Saling meminta maaf dan memaafkan memang tak harus pas lebaran saja, tapi lebaran itu seperti moment khusus yang diciptakan ketika beberapa orang yang mungkin saja selama ini malu atau lupa bahkan mungkin enggan untuk meminta maaf, maka lebaran adalah saat yang tepat untuk melakukannya dan juga moment untuk menjalin silaturahmi yang sempat terputus.


Setelah menerima tamu dari tetangga yang datang kami sekeluarga pergi ke Kopo, rumah Nenekku yang alhamdulillh masih sehat walaupun tanpa Kakek. Disanalah keluarga besar ibu kumpul, bertemu dengan sepupu-sepupu, Om, Tante, Uwa, keponakan adalah hal yang sangat menyenangkan. Tapi yang membuatku dan beberapa sepupuku malas ketika bertemu dengan para orangtua adalah ketika ditanya, “Kapan nikah?”


Huft!!


Dan aku hanya bisa nyengir sebagai jawaban, seperti saat ini ketika kami sedang menikmati ketupat lengkap dengan opornya tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dan akhirnya melebar sampai acara penjodohan.


“Mau gak, Key, Om Rudi kenalin sama anak buah Om di kantor? Orangnya ganteng, pinter, baik lagi, karirnya juga ok.”


“Kekey sudah punya calon, Om.” Kak Dimas yang menjawab pertanyaan itu membuatku tersedak yang langsung memicu kehebohan dikalangan orangtua.


“Insyaallah, doain saja,” jawab Ibu sambil tersenyum lebar membuat semua orang berseru.


“AAMIIN.”


Dan aku hanya bisa nyengir mendengarnya, karena aku tahu ibu bilang itu supaya tidak ada lagi yang nanya-nanya. Dan itu berhasil tak ada lagi yang nanya kapan nikah sampai sore kami kembali pulang ke Padjadjaran, selain tentu saja pas pamit mereka bilang, “Nanti ajakin ke sini ya, kenalin sama kita semua Mas Letnannya.” Dan aku hanya bisa tersenyum sambil bilang, “Iya, insyaallah.”


Sesampainya di rumah aku mengecek ponsel dan ternyata sudah banyak WA masuk yang mengucapkan selamat lebaran, termasuk dari Rey, Arga, Irene dan teman-teman dari OASIS. Satu persatu aku membalas pesan-pesan itu dan lanjut chat dengan beberapa teman.


Keesokan harinya sekitar pukul 2 ketika aku sedang bermain dengan Al, Dirga memanggilku dan mengatakan ada tamu untukku.


“Siapa?”


“Gak tahu gak kenal… debt collector kali,” jawabnya asal.


Dengan penasaran aku berjalan ke depan, kalau itu Arga atau sang Letnan mereka biasanya main terobos masuk saja, tapi aku juga gak punya janji dengan siapapun. Aku terus berjalan sampai teras dan seketika terbelalak ketika melihat pria itu berdiri di sana dengan sebuah buket bunga mawar di tangannya dan senyum lebar.


“Happy birthday, Honey.”


“Rey!” aku tak percaya melihatnya kini berdiri di depanku.


“Kaget ya?” tanyanya sambil menyerahkan buket bunga yang ku terima dengan mata masih memandangnya tak percaya.


“Iya, kok gak bilang pulang ke Indonesia?”


“Kan kejutan, sebenarnya aku sudah pulang seminggu yang lalu tapi sengaja gak ngabarin.”


Aku tersenyum mendengarnya, lalu mengajaknya masuk ke dalam dan mengenalkannya sebagai temanku di Jepang yang tentu saja semua keluargaku telah mengetahui siapa Rey sebenarnya kemudian aku memutuskan mengajaknya duduk di ruang tamu.

__ADS_1


“Terima kasih bunganya,” ucapku sambil mencium bunga dengan perasaan gembira.


“Sama-sama… Ah! Lupa kadonya di mobil, sebentar aku ambil dulu.”


Rey berjalan dengan cepat kembali ke mobinya yang terparkir di depan rumah dan kembali dengan sebuah kotak dengan pita yang terpasang rapi di atasnya.


“Ini… buka!”


Aku membuka kotak itu dengan bahagia, dan seketika terkejut ketika melihat isinya yaitu sebuah tas dari brand ternama.


“Itu limited edition, aku susah banget mendapatkannya,” ucap Rey dengan bangga membuatku menatapnya dan hanya bisa tersenyum mendengar itu.


“Terima kasih banyak, tapi seharusnya kamu tidak perlu memberiku hadiah semahal ini.”


“Honey, kamu itu kekasihku tentu saja aku harus memberikanmu hadiah istimewa.”


Ok! Biar ku beritahu sesuatu tentang Rey, dia memang sedikit ‘tinggi’ kalau berbicara apalagi kalau menyangkut materi dan gaya hidup, tapi terlepas dari itu semua dia adalah orang yang baik juga perhatian walaupun pencemburu.


Dia sedang bercerita tentang kejadian di Jepang ketika Arga datang membuatku langsung berdiri menyambutnya.


“Kok baru datang?” tanyaku setelah kami bersalaman sambil minta maaf sekaligus dapat ucapan selamat ulang tahun darinya.


“Iya, tadi masih ada saudara yang datang gak enak kalau pergi.”


Arga menatap Rey yang masih duduk menatap kami berdua.


“Oh lupa, Ga, kenalin ini Rey.”


Arga menatap Rey dengan penuh selidik sambil menyalaminya.


“Dari tadi?”


“Lumayan,” jawab Rey membuat Arga kembali mengangguk.


“Ibu sama Ayah ada di dalamkan?”


“Ada, lagi pada ngumpul semua.”


“Ke dalam dulu ya.”


Rey mengangguk dan ketika Arga masuk ke dalam langsung terdengar kehebohan dari saudara-saudaraku juga kedua orangtuaku yang menanyakan kenapa baru datang sekarang.


“Itu yang namanya Arga?”


“Iya, kami bersahabat dari SMP, karena itulah dia sudah seperti saudara sendiri… lihatkan dia sudah dekat banget sama keluargaku.”


Rey terdiam beberapa saat seolah sedang menilai keadaan di ruang keluarga, sebelum akhirnya mengangguk. Arga kembali bergabung setelah bersalam-salaman dengan keluargaku.


“Letnan belum datang?”


“Belum, katanya hari ini tapi gak tahu tuh sampai sekarang belum datang.”


“Lagi di jalan kayanya, tadi janjian barengan sih ke sininya.”


“Letnan siapa?” tanya Rey penasaran.


“Malaikat maut,” jawab Arga santai membuat Rey kaget mendengarnya, dan aku hanya bisa meringis mendengarnya.


****

__ADS_1


Cemilan siang


__ADS_2