
“Bagaimana acara lamarannya? Sukses gak?”
Aku menatap Ibu dengan mata membulat dan mulut menganga ketika malam itu sepulangnya dari Lembang kedua orangtuaku dan Dirga masih terjaga seolah menunggu kepulanganku.
“Ibu tahu?”
“Tahulah kan Yudha bilang.”
“Mas Yudha bilang kalau malam ini dia akan melamarku?” tanyaku tak percaya.
“Iya.”
“Kapan?”
“Kapan ya, Yah?” Ibu terlihat berpikir sambil menatap Ayah yang juga sama terlihat berpikir.
“Itu, Yah, minggu kemarin waktu kita survey lokasi buat resepsi.” Dirga menjawab pertanyaan yang membuatku semakin menganga tak percaya.
“Ah iya betul! Waktu kita survey resort.”
“Survey lokasi… resepsi? Minggu kemarin?!” aku semakin dibuat menganga kalau minggu kemarin disaat aku galau karena kehilangan kontak dengannya, keluargaku malah bertemu dengan pria yang menjadi alasan kegalauan putri mereka. Hadeuh… sebenarnya mereka keluargaku atau keluarga Mas Yudha sih?!
Tapi semua kekesalanku menguap ketika kuketahui kalau semua pesta pernikahan ini sesuai impianku. Aku pernah bercerita sambil bercanda kepada sang Letnan tentang konsep pernikahan impianku, saat itu kami masih hanya sebatas teman.
“Kalau aku menikah nanti aku ingin di outdoor dengan pemandangan alam yang indah.”
“Kalau hujan bagaimana? Kasihan kamunya dong kehujanan, dah dandan dari subuh, rambut disanggul cantik, eh malah kehujanan nanti make up-nya luntur terus rambutnya lepek.. hahaha jadi kaya Sodako.”
“Iiih nyebelin! Jangan ngedoain hujan dong.”
“Hahaha.. alamkan gak ada yang bisa diprediksi, Key.”
Aku terdiam, “Iya juga ya… ya udah d indoor aja, aah tapi aku ingin outdoor juga.” Saat itu aku bingung dengan pilihan konsep pernikahanku sendiri.
“Itu mah gampang bisa diatur, pikirinnya nanti saja. Sekarang yang harus kamu pikirin adalah nyari cowok yang akan nemenin kamu duduk di pelaminan, masa nikahan gak ada pengantin cowoknya.”
“Hahaha… iya ya, belum ada pengantin cowoknya.”
Dan sekarang aku telah mempunyai calon pengantin yang akan menemaniku duduk di palaminan pada acara resepsi nanti malam dengan konsep semi outdoor, jadi aku tak akan lagi takut kalau tiba-tiba hujan akan membuatku berubah menjadi Sodako dan juga masih bisa menikmati pemandangan alam yang asri.
Ditambah lagi prosesi pedang pora yang selama ini selalu membuatku terkagum kini aku sendiri akan menjalaninya, sang Letnan telah mengaturnya sedemikian rupa hingga aku tak bisa menolak atau marah ketika tak dilibatkan dalam persiapan pernikahanku sendiri.
__ADS_1
Tapi kejutan bukan hanya datang dari sang Letnan tapi juga dari kelurgaku sendiri khususnya kedua orangtuaku. Mereka mengadakan acara resepsi tersendiri terpisah dari acara semi indoor yang telah direncanakan oleh sang Letnan.
“Yudha mau semua biaya pernikahan dari dia,” kata Ayah dengan suara lirih, “tapi kamu itu putri Ayah satu-satunya, sudah kewajiban Ayah sebagai orangtua untuk membiayai pernikahanmu walaupun hanya sebuah pesta sederhana, jadi kita akan mengadakan resepsi untuk saudara dan kerabat kita setelah ijab qobul dan malamnya kita akan resepsi di Dago, anggap saja resepsi malamnya itu acara ngunduh mantu.”
Aku menganga mendengar rencana yang telah ayah susun.
“Jadi acaranya di hari yang sama?”
“Iya.”
“Jadi malam sabtu kita pengajian, sabtu kita acara siraman, malam minggunya midodareni, hari minggunya Ijab qobul jam 9, resepsi jam 11 sampai jam 1, terus lanjut ngunduh mantu jam 7 malam?”
Aku menyusun kembali acara yang telah di susun kedua orangtuaku takut aku salah dengar, kalau pada hari yang sama aku akan melakukan 2 acara resepsi pernikahan?! Tapi ternyata pendengaranku benar terbukti dengan ibu yang mengangguk dengan senyum lebar.
“Iya, benar biar sekalian capeknya ... ah ya, kalian harus nikah kantor dulu. Yudha sudah mengurus semua persyaratan, jadi kamu hanya tinggal ikutin saja Yudha sama Ayah, mengatur pernikahn kantor."
Aku hanya bisa menganga mendengar ucapan ibu kesayanganku itu.
“Hahaha,” Mas Juang yang saat itu duduk di sebalahku tertawa kemudian berbisik, “Malam pertama bakal gagal total yang ada pada ngorok, hahaha.”
Aku hanya bisa membuang napas berat mendengar ocehannya karena aku sendiri sudah bisa membayangkan akan selelah apa hari itu, bahkan sepertinya tidak akan memiliki tenaga hanya untuk berganti pakaian.
Mereka memiliki konsep pernikahan putri mereka satu-satunya dan aku akan menuruti semua kemauan mereka sebagai bentuk baktiku sebelum menjadi seorang istri. Jujur saja kadang aku-pun ingin menolak sebagian ide mereka, tapi ketika kita bisa melihat semangat, antusias dan kebahagian dari mata kedua orangtua kita, apa kita akan mampu untuk mengatakan ‘tidak’ dan itu hanya akan membuat kekecewaan pada sorot mata mereka?
Tidak, aku tidak ingin pancaran kebahagian di mata mereka meredup hanya karena keegoisanku, selama aku bisa dan mampu aku ingin tetap memertahankan sorot mata itu di mata kedua orangtuaku.
Walaupun resepsi sederhana yang dikatakan ayah adalah dengan ‘hanya’ menyewa gedung Graha Antariksa yang memang tak jauh dari rumah, menyebar ‘hanya’ 300 undangan yang artinya sekitar 600 tamu undangan yang akan hadir di resepsi ‘sederhana’ kami nanti, belum lagi saudara-saudara dekat dari pihak ayah dan ibu, ‘hanya’ memakai sebagian acara adat Jawa dan Sunda yang akan mengiringi pernikahan baik sebelum maupun pada hari H.
Dan yang terakhir adalah ‘hanya’ akan ada tari merak yang akan ‘mapang panganten’ (menjemput pengantin). Kata ibu itu cita-cita ibu dulu yang tidak kesampaian saat nikah dulu diiringi tarian merak yang mempesona itu, jadi aku yang akan melaksanakannya sekarang mewakili ibu.
Dan aku hanya bisa tersenyum sambil diam-diam membuang napas berat mendengar mereka yang begitu antusias membicarakan acara pernikahanku yang telah tersusun rapi. Tapi di antara itu semua yang membuatku sedikit berat melaksakannya adalah acara ‘pingitan’!
Kenapa harus ada acara pingitan segalaaa…!!!
Apa belum cukup kami tak bertemu selama 2 minggu ketika dia tugas di Suriah, ditambah 2 minggu lagi pada saat dia memersiapkan acara lamaran, dan sekarang kami ‘harus’ tidak bertemu lagi selama sebulan! Aaarrgghhh, aku sangat merindukannya!!!
“Biar kangen, Key, jadikan pas ketemu lebih lope-lope lagi.”
“Sekarang juga dah kangen, Ga, dah lope-lope banget malah,” desahku dengan tubuh melorot di atas kursi teras balakang, “coba bayangin!”
“Bentar-bentar, bayangin dulu.”
__ADS_1
“Iiih, seriusan, Sendok seng!”
“Ini juga serius, kaleng kerupuk!”
“Hahaha… coba bayangin! Setelah gak ketemu dua minggu karena tugas ke Suriah, aku sama Mas Yudha cuma ketemu pas malam dia pulang terus dia langsung ke Jakarta gak ketemu lagi dua minggu, ketemu-ketemu pas acara lamaran itu cuma beberapa jam doang, dah gitu langsung di pingit sebulan!!!”
“Tapikan masih bisa teleponan atau WA-an.”
Memang setelah negosiasi yang cukup alot antara aku dan orangtuaku akhirnya mereka memberi ijin untuk telepon atau WA-an tapi tidak boleh video call, masih lumayanlah daripada tidak sama sekali.
“Iya sih, tapi itu malah bikin aku semakin ingin bertemu dengannya,” aku menghela napas mengingat bagaimana aku semakin merindukannya setiap malam ketika kami selesai berbicara di telepon atau chating sampai tengah malam.
“Kaya LDR-an ya?” Arga bertanya sambil makan keripik pisang.
“Iya, kaya LDR-an bisanya cuma telepon atau WA saja, pengen ketemu gak bisa.”
“Sabar, minggu depankan ketemu dan langsung di pelaminan ketemunya … bukankah akan lebih indah ketika rindu kalian sudah sampai ubun-ubun dan bertemu ketika kalian sudah sah secara agama dan hukum?”
Saat itu aku tersenyum setuju dengan Arga, dia memang benar itu semua akan jauh lebih indah saat hubungan kami sudah sah secara agama dan hukum, dan saat-saat itu hanya tinggal menunggu beberapa jam saja.
Beberapa jam yang akan mengubah seluruh hidupku.
Beberapa jam yang akan mengikatku dengan pria yang ku cintai sepanjang hidupku.
Beberapa jam yang akan mengubah statusku dari seorang anak menjadi seorang istri.
Seorang istri dari pria yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Seorang istri dari pria yang telah menjaga hatiku walau hatinya sendiri terluka.
Seorang istri dari pria yang rela mengorbankan kebahagiannya demi kebahagianku.
Seorang istri dari pria yang membuatku percaya kalau cinta sejati itu ada.
Buat yang sudah menemukan cinta sejati sepertiku… bersyukurlah, jaga dan cintai mereka sebesar mereka mencintai kita.
Buat yang belum menemukan cinta sejati… percayalah di suatu tempat, entah dimana Tuhan tengah memersiapakan seseorang untuk menjadi cinta sejatimu yang akan menjaga, menyayangi dan mencintaimu seumur hidup, dan mungkin tanpa kita sadari orang itu ada didekat kita selama ini.
-TAMAT-
Next... Yudha, pov ya 😍😘
__ADS_1