
“Jangan tegang, semua akan baik-baik saja… kamu sudah terlihat sempurna,” ucap Teh Wulan memberi semangat, “Nanti Teteh dan Kak Dimas yang akan membawa kamu keluar untuk bertemu calon tunanganmu, jadi jangan gugup, ok!”
Aku kembali mengangguk mengerti. Di luar masih terdengar acara sambutan-sambutan sampai akhirnya semua hening dan terdengar ketukan di pintu kamar membuatku langsung menatap kakak iparku dengan mata membulat yang hanya tersenyum sambil membantuku berdiri dan merapihkan kebaya dan kain bawahanku.
“Ayo!” Kata Kak Dimas sambil merangkul tangan kananku dan Teh Wulan memegang lengan kiriku seolah mereka takut kalau aku akan jatuh.
Kami berjalan dengan pelan dan aku terus tertunduk tak berani untuk mengangkat wajahku dengan jantung yang masih saja berdetak menggila, acaranya sendiri dilakukan di ruang keluarga dimana itulah ruangan paling besar di rumahku, aku merasa tatapan semua orang kini tertuju padaku membuatku semakin tak berani untuk mengangkat kepala sampai akhirnya aku duduk di samping kedua orangtuaku… dengan kepala masih tertunduk.
“Neng Kekey, kenapa nunduk terus? Ayo dong angkat kepalanya lihat tuh di depan ada siapa? Jangan malu-malu.” ucap Om Anton salah satu adik ipar ibu yang mewakili dari pihak perempuan membuat semua yang hadir tertawa dan aku semakin tertunduk malu.
Ibu menepuk tanganku dengan lembut membuatku menatapnya dan melihatnya tersenyum sambil mangangguk membuatku ikut tersenyum lalu dengan perlahan mulai mengangkat kepalaku dan kini bisa ku lihat duduk di hadapanku sang Letnan yang terlihat gagah rupawan dengan balutan jas resmi dan senyum menghiasi wajahnya yang semakin terlihat tampan, aku tak melihat yang lainnya mataku hanya fokus menatap wajahnya seolah itu adalah pertemuan pertama kami.
“Naah! Sekarang sudah kelihatan wajah cantiknya,” ucap Om Anton, “Sudah puas belum tatap-tatapannya?” tanya Om Anton membuat semua orang tertawa dan itu seperti menyadarkanku yang daritadi seolah tak berkedip menatap sang Letnan, membuatku kembali tertunduk sambil tersenyum malu.
“Jadi gimana nih, betul gak, Yud, keponakan saya yang ini yang ingin kamu persunting? kalau bukan, tenang saja Om masih punya banyak keponakan cantik lainnya malah ada putri Om satu kalau mau tapi baru kelas 2 SD.”
Semua orang kembali tertawa dan aku langsung menatap Omku yang memang jahil dan iseng itu yang hanya tertawa melihatku menatapnya galak, aku kini melihat sang Letnan yang masih menatapku sambil tersenyum lebar kemudian dia menjawab dengan yakin.
“Betul.”
__ADS_1
“Yakin?”
“Kalau melihat galaknya dia melihat Om barusan sih, insyaallah yakin,” ucap sang Letnan membuat semua orang tertawa dan aku menatapnya tak percaya.
“Hahaha... iya, keponakan saya yang ini memang terkenal galak, judes dan keras kepala.” Semua orang tersenyum mendengarnya, “Tapi dia juga memiliki hati yang lembut, penyayang, dan sangat setia,” Om Anton menatapku sambil tersenyum, “Juga cengeng,” lanjutnya membuat semua orang kembali tertawa.
“Masih banyak yang harus dia pelajari dalam hidup terutama dalam agama dan rumah tangga nanti, saya mewakili keluarga besar pihak perempuan terutama kedua orangtua dari Keyza berharap keluarga besar pihak pria, terutama Yudha pribadi mau membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.”
Aku tersenyum menatap keluarga sang Letnan yang tersenyum menatapku penuh kasih sayang. Prosesi sambutan dari kedua belah pihak telah selesai sampailah pada acara “basa-basi” tentang maksud kedatangan pihak sang Letnan ke rumahku, dan aku terkejut ketika bukan perwakilan dari keluarga sang Letnan yang berbicara melainkan sang Letnan langsung. Dia berdiri dengan mata menatap kedua orangtuaku kemudian mulai berkata.
“Ayah... Ibu, selama ini saya sudah menganggap Ayah dan Ibu seperti orangtua sendiri, begitu juga dengan Kak Dimas, Juang dan Dirga layaknya saudara sendiri, tapi hari ini saya berdiri di sini bukan sebagai Yudha yang sudah seperti bagian dari keluarga ini. Hari ini saya menghadap Ayah dan Ibu untuk meminta izin serta restu dari Ayah dan Ibu untuk meminang Keyza, putri Ayah dan Ibu.”
Aku bergetar mendengar ucapan pembukanya, ada perasaan haru ketika mendengar suaranya yang berwibawa tapi juga terkesan lembut penuh sopan santun.
“Karena saya yakin tak akan ada yang mencintainya sebesar saya mencintainya.” Kini semua orang tertawa sambil menatapku yang tersipu malu mendengarnya.
“Jadi saya mohon izinkan saya meminang Keyza untuk saya persunting menjadi istri saya dikemudian hari, saya juga mohon restui dan ridhoi hubungan kami agar berada dalam keberkahan dan keridhoan Allah SWT.”
Hatiku kembali bergetar mendengarnya membuatku menatap kedua orangtuaku yang juga menatapku sebelum akhirnya menatap sang Letnan yang kini terlihat sedikit tegang menatap kami. Ayah berdiri dan mulai berkata,
__ADS_1
“Dari pertama kali melihatmu, kami semua percaya kalau hanya kamulah yang bisa menjaganya sebaik kami menjaganya selama ini, menyayanginya sebesar kami menyayanginya selama ini, dan hanya kamulah yang bisa meluluhkan kekeras kepalaannya dan membuatnya jatuh cinta setengah mati.”
Semua orang tersenyum mendengarnya yang membuatku kembali tertunduk malu dengan pipi memerah.
“Tapi semua keputusan ada padanya, jadi…”
Ayah kini menatapku dengan lembut, ada keharuan dan kasih sayang yang membuat tenggorokan tercekat diliputi rasa haru ketika menatap mata Ayah.
“Key, kamu dengar apa yang dikatakan Yudha?”
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Ayah.
“Kami semua terserah padamu, apa kamu menerima pinangan Yudha?”
Aku mentap Ayah, Ibu dan semua saudaraku yang menatapku sambil tersenyum, terakhir aku menatap sang Letnan dan kedua orangtuanya yang juga tersenyum lembut, sebelum akhirnya aku mengangguk dengan senyum malu membuat semua orang mengucap kata Alhamdulillah sambil tersenyum bahagia.
“Kamu sudah melihat jawabanya kan, Yud? Keyza sudah menerima pinanganmu jadi tolong jaga, lindungi, sayangi dan bimbing dia menjadi lebih baik lagi. Dia adalah putri satu-satunya di dalam keluarga ini, walau berat untuk melepasnya tapi kami kini bisa tenang karena dia memilihmu untuk menjadi suaminya kelak… kami merestui hubungan kalian, dan insyaallah restu kami adalah restu Allah SWT, ridho kami adalah ridho Allah SWT, dan Ayah harap kalian tidak menunggu lama lagi untuk menikah, supaya kami bisa punya cucu secepatnya.”
“Aamiin!!!” Semua orang berseru kencang kemudian tertawa membuat pipiku semakin memerah.
__ADS_1
Acara berlanjut dengan simbolisme pengikat di antara kami yaitu pemasangan cincin. Aku berdiri di hadapan sang Letnan yang kini menggenggam tangan kiriku kemudian memasangkan cincin di jari manisku, dan kini giliranku memasangkannya di jari manis sang Letnan. Cincin kini telah terpasang di jari manis kami berdua membuat kami saling pandang kemudian tersenyum penuh kegembiraan dengan latar tepuk tangan dari keluarga dan teman yang turut bergembira untuk kami berdua.
*****