
“Ini hanya tunangan, Key, bukan pernikahan.”
“Aku tahu! Tapi ini tidak ada dalam rencana kita!” geramku sambil menatap sang Letnan tajam.
Saat ini kami sedang ada di teras belakang meributkan rencana pertunangan yang diajukan para orangtua yang kini masih berada di ruang tamu membicarakan tentang acara yang akan diadakan sabtu depan!
Iya! Kami akan bertunangan sabtu depan tanpa persetujuan dariku, setelah tadi sang Letnan menjawab siap dan para orangtua langsung menentukan kalau kami akan bertunangan seminggu lagi tanpa bertanya apa aku bersedia atau tidak.
“Bukankah dari awal sudah ku beritahu kalau akan melakukannya kalau aku sudah siap? Dan aku sudah memberitahumu itu!”
Aku kecewa dan marah… aku memang sudah bisa menerima kembali sang Letnan tapi kebersamaan kami ini masih baru, baru beberapa minggu dan aku masih belum siap untuk ini semua. Aku memang selalu mengatakan kalau aku adalah calon istri sang Letnan kepada para perempuan yang mencoba mendekatinya, tapi itu semua hanya untuk menjauhkan mereka darinya.
“Key, ini hanya tunangan biasa dan tidak akan ada yang berubah sama sama sekali.”
“Apa Mas Yudha yakin?” aku bertanya sambil menatapnya tajam.
“Apa Mas Yudha yakin kalau nanti kedua orangtua kita tidak akan tiba-tiba sudah menentukan tanggal untuk kita berdua nikah bahkan tanpa sepengatahuan kita? Tidak, Mas, bisa saja mereka tiba-tiba memanggil kita dan mengatakan kalau kita tidak perlu bertunangan lama-lama dan sebaiknya menikah secepatnya.”
Sang Letan terdiam melihatku yang masih emosi walaupun kami berbisik-bisik karena tak ingin para orangtua mendengarnya.
“Mas Yudha tidak mengerti juga? Ini semua hanya berawal dari gurauan Mas Yudha yang mengatakan kepada Mamah kalau aku adalah calon istri Mas Yudha dan lihat sekarang! Itu hanya memerlukan beberapa minggu saja untuk mereka memutuskan kalau kita harus bertunangan.”
Aku mengambil napas dalam-dalam kemudian membuangnya dengan kasar sambil kembali menatap sang Letnan, “Dan kita tidak tahu, berapa minggu yang mereka akan berikan kepada kita sebelum akhirnya mereka memutuskan kalau ktia harus menikah.”
Sang Letnan masih terdiam mendengarku.
“Apa kamu tak ingin menikah denganku?” tanyanya membuatku menatapnya tak percaya dengan pertanyaan itu.
“Bukan itu maksudku! Aku mau, aku mau menikah denganmu tapi tidak sekarang dan tidak seperti ini.”
“Seperti ini bagaimana maksudmu?”
__ADS_1
“Kita seolah-olah menikah karena kemauan orangtua kita, aku tak mau! Aku mau kita menikah karena kita yang menginginkan untuk menikah bukan karena keinginan orangtua kita, aku mau kita menikah karena kita merasakan kalau kita tak bisa hidup tanpa satu sama lain bukan karena terpaksa, dan aku mau kita menikah karena kita berdua sudah merasa siap untuk berumah tangga.”
Sang Letnan mendengarkan penjelasanku yang berapi-api sambil berjalan mundar mandir di teras untuk menyalurkan emosi yang ku tahan karena tak ingin mengecewakan kedua orangtuaku yang terlihat begitu gembira membicarakan rencana pertunangan kami.
“Key.” sang Letnan menggenggam tanganku dan menuntunku untuk duduk di kursi berusaha meredakan amarah yang masih membakar diri.
“Aku paham maksudmu, dan aku akan pastikan kalau kekhawatiranmu itu tak akan terjadi… mereka tak akan memaksa kita untuk menikah sampai kamu sendiri yang meminta untuk menikah, kamu bisa memegang kata-kataku.”
Aku terdiam menatapnya yang berusaha menenangkan dan meyakinkanku.
“Acara pertunangan ini hanya sebuah simbol kalau kita saling mengikat satu sama lain… dengan bertunangan kita sudah meresmikan hubungan kita di depan keluarga dan teman-teman, selangkah lebih maju daripada hubungan kita saat ini yang sepertinya tanpa ada kejelasan, aku tahu kita saling mengetahui perasaan kita masing-masing tapi orang lain tidak… seperti Karin atau Bima yang berusaha mendekati kita karena mengira kalau selama ini kita hanya berteman. Tapi lihat sekarang, ketika kita mengatakan kalau kita telah bertunangan mereka akan dengan sendirinya mundur tanpa kita pinta.”
Sang Letnan menggenggam tanganku dengan kedua tanagannya, matanya lembut menatapku.
“Aku tak mau kehilanganmu lagi dan seolah tak berdaya ketika melihat lelaki mendekatimu… aku mau lelaki lain tak ada lagi yang berani mendekatimu karena tahu kalau kamu sudah memiliki tunangan hanya dengan melihat cincin yang melingkar di jari manismu, aku mau mereka tahu kalau kamu hanya milikku yang akan ku jadikan istri suatu hari nanti, hanya itu, Key… aku hanya ingin mengikatmu supaya tidak bisa pergi meninggalkanku lagi, dan aku berjanji setelah kita bertunangan kita akan tetap seperti sekarang.”
Aku manatap sang Letnan yang menatapku lembut.
“Karena begitu mari kita bertunangan… hanya bertunangan, aku berjanji akan menikahimu kalau kamu sudah benar-benar siap.”
Aku kembali menatap matanya yang penuh pengharapan. Aku terdiam memikirkan semuanya, masih ada sedikit keraguan di dalam hatiku tapi aku juga bisa memercayai semua ucapannya, dalam sosoknya aku bisa melihat seorang pria sejati yang bertanggung jawab dan selalu memegang kata-katanya.
“Dan setelah bertunangan kita akan tetap seperti ini? Tidak akan ada larangan ini itu dan tidak ada kewajiban-kewajiban tak tertulis yang akhirnya membuat kita menjadi sesak?”
“Tidak akan ada! Aku berjanji kita akan menikmatinya seperti sekarang.”
Aku kembali terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuang napas berat yang membuat sang Letnan tersenyum lebar karena tahu itu artinya aku sudah menyerah.
“Jadi… Keyza Maharani, maukan kamu bertunangan denganku untuk nantinya aku nikahi dan menjadi istriku sampai maut memisahkan?”
Aku tersenyum mendengar lamarannya yang tiba-tiba itu walaupun akhirnya aku mengangguk sambil menjawab, “Iya, aku mau!”
__ADS_1
****
Seminggu ini aku disibukan oleh persiapan pertunangan kami, tak sempat membuat kebaya membuatku ditarik dari satu butik kebaya ke butik kebaya lainnya oleh Ibu untuk mencoba kebaya yang akan dipakai pada hari H, untuk urusan makanan ibu serahkan kepada saudara-saudaranya yang memang sudah terbiasa mengurus soal catering setelah sebelumnya mereka berembuk tentang menu apa saja yang akan disuguhkan nanti.
Hari sabtu akhirnya tiba, tenda bernuansa ungu terpasang cantik di pekarangan depan dengan kursi yang berbalut kain satin putih dan pita ungu telah berjejer dengan rapi dan di pinggir telah terpasang meja memanjang yang akan menyuguhkan makanan untuk tamu yang datang, rumah sudah rapi dengan sedikit dekoran bunga-bunga dan kursi-kursi seperti di halaman siap menyambut pihak keluarga pria.
Dan aku… aku duduk dengan tegang di dalam kamar ditemani Mira, Yuni, Kak Yoan dan Teh Vita, aku juga mengundang teman-teman OASIS lainnya yang akan datang pada saat acara nanti. Aku sengaja meminta mereka berempat datang lebih awal untuk menemani karena boleh dibilang merekalah saksi hubunganku dengan sang Letnan, selain Arga tentu saja yang hari ini akan ikut dengan rombongan dari Sukajadi.
“Tenang, Key, kamu sudah cantik banget… Mas Yudha pasti pangling lihatnya nanti,” ucap Kak Yoan yang mendapat anggukan setuju dari yang lainnya membuatku tersenyum walaupun dadaku masih berdebar hebat dan tanganku dingin karena tegang.
“Aku tak percaya akhirnya kalian tunangan juga, setelah banyak banget rintangannya.”
Aku kembali tersenyum mendengar ucapan Mira yang kini bercerita awal aku dan sang Letnan bertemu, melemparkanku pada kenangan-kenangan masa lalu dan itu cukup membuatku sedikit tenang sampai akhirnya Teh Wulan memberitahu kalau keluarga sang Letnan telah tiba membuatku kembali tegang.
Mira dan yang lainnya keluar kamar meninggalkanku berdua dengan kakak iparku yang kini tersenyum lebar menatapku.
“Tegang ya?”
Aku mengangguk sambil meremas tanganku yang terasa dingin, untuk kesekian kalinya aku menatap pantulan diriku di kaca. Hari ini aku memakai kebaya berwarna ungu muda dengan leher sabrina dengan rambut yang disanggul sederhana berhiaskan bunga semakin memerlihatkan leher jenjangku, wajahku dihias natural oleh salon rekanan catering ibu.
Ok! Semua sudah sempurna selain tentu saja dadaku yang masih belum bisa diajak kerjasama karena tetap berdebar kencang.
Di luar sudah terdengar suara MC yang membuka acara yang artinya hanya tinggal menunggu hitungan menit untukku keluar dari sini dan bertemu sang Letnan… apa dia setegang aku? Cck… minimal dia sudah pengalaman karena ini bukan kali pertama dia bertunangan.
****
Haiii.... baca komen dari teman" membuat saya tersenyum bahagia, ada yg paham dengan perasaan kekey, ada yg gemas karena kekeras kepalaannya, dan buanyak yg halu dengan Letnan 😁😁 terimakasih banyak semuanya atas support selama ini 😍😘😘😘
Banyak yang kesal kenapa sih Kekey masih sok jual mahal!!! Ok, saya jelaskan kenapa Kekey seperti itu... yg pertama, dia pernah SANGAT memimpikan untuk menjadi seorang Ny. Yudha Adipati Pratama, segala mimpi tersusun rapi sebelum akhirnya hancur berkeping-keping tanpa tau apa salah dan dosanya (hmm.. kenapa jd kaya lagu dangdut 🤔) semua mimpi yg dia rajut terhempas begitu saja karena perempuan lain, walaupun pada akhirnya dia mengetaui kebenarannya, tapi tetap saja dia SUDAH dengan teramat sangat terluka (ingatkah kalian yg sudah ikut menangis bersamanya?? 😅😅). Yang kedua, ketika dia mencoba mencari sosok pria lain, dia bertemu dengan Tukul walaupun tidak sedalam perasaannya terhadap Letnan, tapi tetap saja dia kembali terluka bahkan mengalami kekerasaan baik fisik maupun verbal. Kegagalan Kekey dlm hubungan baik yg pertama dengan Letnan maupun dengan Tukul, tetap saja dua-duanya meninggalkan trauma, yg membuat Kekey selalu ragu dlm menjalin hubungan. Sebetulnya dia hanya perlu menjawab satu pertanyaan dari Juang... apa dia bisa hidup tanpa Letnan? dan jawaban dari pertanyaan itulah yg saat ini sedang dicari Kekey.
Alasan yg ketiga kenapa Kekey ga cepat" nikah sama Letnan adalah karena kalau mereka nikah, cerita ini tamat, dan saya blm siap ketika kembali diteror "kok tamat? Ekstra partnya dong yg banyak" 🙈🙈🙈😂😂😂 Dan siapa yang nebak kalau bakal ada perempuan ketiga???? heeeeeiiiiiii... kalian yg menebak itu belum mengenal saya dan letnan 🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Ok, begitu saja klarifikasi dari Keyza, Letnan dan saya 😅😅😅 sekali lagi terimakasih atas dukungannya selama ini, love n hug for all of you 😍😍😍😘😘😘