
Seperti yang telah ku janjikan, aku akan selalu tersenyum dan bahagia walaupun hatiku penuh dengan kecemasan. Dan seperti yang pernah dia bilang kalau aku merindukannya aku akan mengambil air wudhu, sholat dan berdoa untuk kesalamatan, hanya itu yang bisa ku lakukan karena ku tahu hanya Allah yang bisa membawanya kembali.
Beberapa hari ini ku lalui dengan perasaan campur aduk, bibirku tetap menyunggingkan senyum seperti biasanya kadang malah tawa terbahak, tapi kerinduan, kecamasan dan ketakukan menggerogoti dadaku hingga ke dasar, membuat pikiranku seolah lumpuh pada titik tertentu untuk beberapa saat.
Tak ada yang tahu tentang apa sebenarnya misinya kali ini karena ku tahu itu sangat rahasia membuatku menutup mulutku rapat-rapat termasuk dari keluargaku dan keluarga sang Letnan.
“Nanti kamu akan terbiasa, awalnya juga Ibu kaya kamu waktu Ayah tugas awal-awal tapi seiring waktu akan terbiasa, jangan sampai putus doa saja.”
Aku menghela napas mendengar ucapan ibu.
“Ah, Kakak mah biasanya juga cuek kalau Mas Yudha tugas sekarang mah lagi lebay saja, Bu.”
Tanpa banyak bicara aku langsung menimpuk Dirga menggunakan bantal sofa.
Berbeda dengan keluargaku yang tak mengetahui sedikitpun tugas sang Letnan, keluarga sang Letnan sepertinya telah memiliki firasat kemana putra tunggal mereka tugas kali ini terlihat dari Mamah yang terlihat cemas walaupun beliau berusaha bersikap biasa di depanku yang datang menengok mereka pada hari libur.
“Yudha, pasti pulang dengan selamatkan, Key, seperti biasanya?”
Aku tersenyum menatap Mamah, untuk pertama kalinya aku melihat ibu sang Letnan terlihat begitu khawatir begitu juga dengan Papah yang terlihat serius menatap layar TV mencari berita terbaru tentang penyanderaan di Suriah.
“Harus!” seruku sambil menggenggam tangan Mamah dan tersenyum memberi semangat, “Mas Yudha harus pulang dengan selamat karena Mas Yudha sudah janji kalau pulang tugas nanti dia akan menikahiku.”
Mamah dan Papah langsung menatapku dengan mata terbelalak dan mulut menganga tak percaya.
__ADS_1
“A-apa?”
“Kalian…”
“Akan menikah?”
Aku tertawa melihat reaksi terkejut mereka sebelum akhirnya mengangguk yakin.
“Makanya Mas Yudha harus pulang, kalau tidak aku tak akan pernah menikah.”
Mamah langsung menjerit bahagia memelukku, “Oh, sayang, Mamah senang mendengarnya.”
“Papah juga ikut senang, Sayang.” Papah gantian memelukku.
“Aku belum memberitahu Ibu sama Ayah,” ucapku sambil meringis mengingat aku memang belum memberitahu keluargaku mengenai rencana kami.
“Mamah, bisa jaga rahasia dulu sehari? Aku akan memberitahu keluargaku hari ini.”
“Baiklah, Mamah akan jaga rahasia tapi cuma sehari! Mamah tak sabar untuk menghubungi Ibumu dan membicarakan pernikahan kalian.”
“Konsepnya mau apa? Indoor? Outdoor? Kita harus cari tempat dari sekarang sebelum penuh.”
“Kalau itu tunggu Mas Yudha pulang saja dulu, Pah, kita kan tidak tahu Mas Yudha pulang kapan jadi kita belum nentuin tanggal.”
__ADS_1
“Ah iya, kamu benar.”
“Sebaiknya Papah mulai ngelist siapa-siapa saja yang akan diundang jangan sampai ada yang kelewat.”
“Benar! Papah akan bikin list sekarang!” Papah langsung pergi untuk mengambil buku dan bolpoin.
“Mamah harus mulai nyari model kebaya buat nanti,” ucap Mamah dengan semangat yang mendapat anggukan dariku.
Aku menghela napas lega melihat kedua orangtua Mas Yudha yang kini telah kembali ceria, mataku kini menatap layar kaca berharap kalau ada berita yang memberitahukan kalau para sandera telah selamat begitu juga dengan para pasukan yang dikirim kesana.
Tapi tak ada satupun yang memberitakan tentang berita terkini dari Suriah, semua masih berita yang sama tentang diplomasi dan demo beberapa aktivis yang menuntut pemerintah untuk bersikap tegas mengenai penyanderaan WNI di Suriah.
Dua minggu berlalu dan tenggang waktu yang diberikan untuk uang tebusan para sandera semakin menipis, Jepang sudah menolak untuk memberikan uang tersebut, Perancis-pun demikian, Indonesia juga memberikan pernyataan yang sama membuat keadaan di dalam negri mulai kacau.
Demo para mahasiswa dan beberapa ormas hampir di seluruh wilayah Indonesia tak bisa dihindarkan lagi, sosial media dipenuhi oleh celotehan orang-orang yang tiba-tiba menjadi pintar dalam agama dan politik yang membuat kedaan semakin kacau dengan hanya saling menyalahkan tanpa memberi solusi.
Sedangkan di tempat nun jauh di sana tanpa sepengetahuan semua orang beberapa putra terbaik bangsa tengah berjuang bertarung nyawa untuk menyelamatkan saudara setanah air. Dan aku hanya bisa menangis dalam sujudku memohon lindungan Allah SWT untuk mereka yang tengah berjuang.
Sampai akhirnya sisa tenggang waktu sehari sebelum para pemberontak mengeksekusi para sandera ketika tanah air bahkan dunia digemparkan oleh pemberitaan tentang para anggota pasukan elit TNI yang berhasil membebaskan para sandera yang telah ditawan di Suriah selama sebulan lebih, bukan hanya sandera WNI tapi mereka juga berhasil menyelamatkan sandera Negara lainnya dengan selamat.
Berita itu membuat tubuhku seketika lemas dan langsung menangis dengan penuh syukur karena berita juga menyebutkan kalau tak ada korban jiwa dari pihak TNI dan para sandera dalam proses pembebasan itu. Untung saja saat itu aku menonton berita di rumah hingga aku bisa menumpahkan emosi yang terpendam selama ini dengan menangis sejadinya membuat keluargaku mengerti kenapa aku sangat khawatir selama ini.
Tapi pagi harinya aku harus kembali dihadapkan dengan berita tentang salah satu anggota Koppasus yang namanya belum diketahui mengalami luka tembak dalam gencatan senjata dengan pihak pemberontak dan kini tengah dalam perawatan di Rumah Sakit Damaskus, Suriah.
__ADS_1
*****