Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 37


__ADS_3

Dua minggu setelah percakapan terakhirku dengan sang Letnan, dan sampai saat ini dia belum juga pulang, jangankan sosoknya, kabarpun tak ada. Hilang bak tertelan bumi. Setiap pesan WA yang ku kirim tak ada satupun yang dibalas hanya dibaca seolah itu adalah sebuah koran harian atau tabloid gosip,begitu pula dengan telepon yang tak pernah diangkatnya.


Hatiku kembali dilanda ketakutan, ini seperti dulu ketika sang Letnan tiba-tiba saja memutuskanku. Kalau seandainya ini terulang kembali, ku rasa hatiku tak akan kembali utuh dan untuk selamanya aku tak akan percaya akan artinya cinta.


“Ini sudah dua minggu, Ga, dia gak balas WA, gak telepon juga.”


“Mungkin dia sibuk, Key.”


“Bagaimana kalau misalnya seperti dulu? Dia datang dan tiba-tiba saja memutuskanku dan memilih perempuan lain untuk dinikahi.”


“Hust! Jangan bicara yang tidak-tidak, bagaimana kalau itu terjadi?!”


Aku semakin frustasi membayangkan kalau itu terjadi.


“Sekarang pikirkan saja yang baik-baik,” lanjut Arga sambil menatapku mencoba menenangkanku yang kalut, “mungkin dia langsung ada tugas, dan dia tak bisa mengabarimu karena mendesak… biasanya jugakan dia kaya gitu, ngilang tak ada kabar karena tugas.”


Aku terdiam, mungkin saja Arga benar tapi tak tahu kenapa hatiku tetap merasa tidak tenang.


“Sudah tanya orangtua Letnan? Siapa tahu mereka dapat kabar tentang keberadaannya.”


“Sudah, tapi sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu, mereka hanya bilang kalau Letnan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di Jakarta.”


“Nahkan, berarti dia memang lagi ada tugas.”


Aku membuang napas berat, hatiku benar-benar tidak tenang… ini tertalu sama seperti dulu, ketika semua berjalan dengan baik tiba-tiba dia ke Jakarta dan menghilang sebelum akhirnya memutuskanku.


“Sudah, daripada BT mikir yang tidak-tidak, mending kita jalan yuk!?”


Aku menatap Arga yang menatapku sambil memasukan ponselnya ke dalam saku celana setelah daritadi dia sibuk berkirim pesan entah dengan siapa, dan sempat membuatku sedikit kesal karena sepertinya dia lebih sibuk WA-an daripada mendengar ceritaku.


“Kemana?” aku melihat jam dinding yang telah menunjukan jam 7 malam lebih.

__ADS_1


“Sudah pokoknya ikut saja!” Arga berdiri lalu menarikku supaya mengikutinya.


Mau tak mau aku-pun ikut Arga yang kini tengah membelah jalanan kota Bandung pada minggu malam. Aku tak tahu kemana Arga membawaku mungkin ke Lembang atau dago seperti dulu ketika aku sedang sedih karena kehilangan kabar dari sang Letnan, dia akan membawaku ke daerah atas hanya untuk menemaniku makan atau mendengar ceritaku hingga perasaanku kembali membaik.


Dan seperti dulu sepanjang jalan kepalaku ku rebahkan di punggung sahabatku mencari sedikit ketenangan, aku hanya terdiam memikirkan segala kemungkinan yang membuat sang Letnan hilang tak ada kabar berita selama ini. Dan yang terburuk adalah… dia kembali dengan Nadine, mantannya dulu.


Seperti yang pernah Sang Letnan katakan kalau Nadine sepertinya masih menaruh rasa dan asa padanya, dan itu terbukti dengan adanya beberapa pesan WA yang masuk dari perempuan itu. Entah darimana dia mendapatkan no telponnya.


Sang Letnan telah bersumpah kalau dia tak memberikan no teleponnya, tapi apa aku memercayainya saat itu? Jangan harap! Aku dengan kekeras kepalaanku dan belajar dari masa lalu tak memercayainya begitu saja, aku tetap mencurigainya. Mungkin saat itu aku sudah seperti Irene bagi Arga yang selalu menaruh rasa curiga.


Tapi akhirnya sang Letnan bisa meyakinkanku… dia mengajak kami duduk bertiga. Canggung? Tentu saja, tapi rasa kesal yang bercokol dihati telah mengalahkannya. Kami janjian bertemu di salah satu café yang berada di Jl. Setia Budhi.


“Sendiri, Nad?” tanya sang Letnan santai ketika kami menemuinya yang datang seorang diri, dia seolah berdandan untuk acara kencan dan terlihat terkejut ketika melihat sang Letnan datang dengan menggandengku, “aku kira kamu sama pacar kamu,” lanjut sang Letnan sambil menarik kursi untukku duduk.


“Engga, dia sudah kembali ke Australia minggu lalu.”


“Oh.”


Kami duduk di depannya yang terlihat canggung dan tak nyaman, sedangkan aku? Aku hanya duduk dan bersikap setenang mungkin walaupun ku yakin seandainya bisa mataku telah mengeluarkan laser setiap menatapnya.


“Karin,” jawab Nadine membuatku terkejut, seharusnya aku tahu Karin-kan tahu no telepon sang Letnan dan dia adalah temannya Nadine, tapi aku tak percaya Karin akan memberitahu no teleponnya begitu saja.


“Karin? Karin memberitahu no teleponku padamu?”


“Iya, aku cerita kalau dulu kita… berteman.” Nadine melirikku ketika mengatakan ‘berteman’. Oh ayolah! Dia pikir aku tak tahu kalau mereka sempat pacaran? Ckkk… belum tahu dia kalau antara aku dan Sang Letnan kini tak adalagi rahasia masa lalu.


“Gak apa-apa, Nad, dia tahu kok tentang hubungan kita dulu benarkan, Sayang?” Sang Letnan tersenyum lembut padaku membuatku ikut tersenyum.


“Iya, semua orang punya masa lalu, bagiku tidak penting dengan siapa dia dimasa lalu yang penting saat ini dan masa depan dia bersamaku,” ucapku dengan senyum semanis dan setenang mungkin membuat sang Letnan tersenyum bangga padaku dan ku lihat Nadine hanya terdiam menatapku dengan pandangan tidak suka, tapi aku tak peduli karena untuk saat ini aku ingin menjadi egois, tak ingin ku mengalah seperti kepada Widy di masa lalu.


“Dia sudah bertemu dan kenal dengan mantan-mantanku dulu, dan untung saja sekarang kita bertemu jadi aku bisa mengenalkan kalian berdua. Aku tak ingin dia salah paham dengan hubungan kita saat ini yang memang tak ada apa-apa selain berteman.” Sang Letnan menatap Nadine sambil tersenyum dan seolah berbisik padanya dia berkata,

__ADS_1


“Dia sangat berharga bagiku, jadi aku tak ingin kehilangannya.”


Aku menatap sang Letnan tak percaya kalau dia akan mengatakan itu di depan Nadine yang sepertiku tak percaya dengan apa yang didengarnya, tapi sang Letnan hanya menatapku dengan penuh rasa sayang dan tersenyum santai.


“Dah sampai!” ucap Arga membuatku tersadar dari lamunanku saat pertemuan kami bertiga pada sore hari di Jl. Setia Budhi. Hari itu sang Letnan telah bisa meyakinkanku tapi bagaimana kalau setelah itu mereka masih tetap berhubungan dan akhirnya sang Letnan menyerah dengan pesona Nadine? Aku tak ingin memikirkan itu, tapi pikiran itu tetap saja bersemayam dihati dan otakku.


Motor Arga telah berhenti, aku menatap sekililing dan terkejut ketika mengetahui kemana kali ini Arga membawaku… bukit bintang, sebuah tempat yang sangat bermakna bagiku dan sang Letnan.


“Ayo!” Arga mengajakku berjalan menaiki bukit itu yang kini serasa ada yang berbeda, bukan karena dengan siapa aku di sini saat ini, tapi suasananya terasa berbeda... sepi, tidak ada orang selain kami berdua di sini.


“Tumben sepi.”


Arga menatap sekeliling lalu mengangkat bahunya tak tahu kenapa malam ini di sini terasa sepi. Kami berjalan menanjak, di kejauhan aku melihat kerlap-kerlip lampu-lampu kecil yang menerangi puncak bintang terlihat seperti taburan bintang yang menerangi malam ini.


“Tahu gak, Ga, ini tempat jadian kami dulu.”


“Di sini?”


“Iya, tapi dulu masih belum sebagus sekarang.” Aku tersenyum mengingat beberapa tahun lalu ketika untuk pertama kalinya sang Letnan mengungkapkan kata cinta.


“Dan anehnya, di Jogja juga ada yang namanya bukit bintang, dan… di sana kami putus.” Aku tersenyum miris mengingatnya, “Sebelum Mas Yudha pergi ke Suriah juga kami datang ke sini, dan sekarang kamu mengajakku ke sini disaat aku kehilangan kontak dengannya.”


Aku membuang napas berat membuat Arga menghentikan langkahnya, dia menatapku beberapa saat kemudian tersenyum.


“Ini bukan pertama kalinya kamu kehilangan kontak dengannya, jadi tak perlu khawatir… dia pasti akan kembali padamu.”


“Kalau tidak gimana, Ga? Maksudku gimana kalau kali ini dia benar-benar meninggalkanku dan lebih memilih mantannya yang dulu.”


“Mantannya?”


“Iya, Nadine… dia – dia… dia cantik, Ga, lebih cantik daripada aku, dan juga… seksi,” kataku sambil menghela napas mengakui kekalahanku. Arga menatapku beberapa saat kemudian tertawa terbahak-bahak membuatku menantapnya tak percaya.

__ADS_1


****


Siap buat besok? 😍


__ADS_2