
Aku dikejutkan ketika Pak Rahmat, atasanku di kantor mengatakan kalau kantor kami akan bekerjasama dengan rumah design dari Yogyakarta untuk proyek resort di Tanjung Lesung - Banten. Dan kini berdiri di hadapanku Mas Raihan yang sama terkejutnya ketika melihatku. Awal-awalnya kami merasa canggung tapi kami harus tetap professional ketika menyangkut pekerjaan, tapi tetap saja aku belum bisa menatapnya langsung karena seolah diingatkan akan Widy, perempuan yang membuat mimpiku hancur berantakan.
Sepulang kerja aku langsung menghubungi sang Letnan untuk memberitahu berita besar ini, tapi reaksinya hanya…
“Oooh.”
“Oh saja? Gak kaget?”
“Biasa saja.”
“Aah.. nyesel deh pulang-pulang langsung cerita, padahal dari siang dah tak sabar ingin cerita.”
“Hahaha… seneng dong ketemu Raihan lagi.”
“Engga, biasa aja.”
“Ciee.. ketemu fans, namanya sama lagi kaya si Tukul… hati-hati ah, Key.”
“Iiih… fans apaan sih.”
“Raihan kan suka ma kamu.”
“Hah! Kok Mas Yudha tahu?”
“Sesama cowok itu bisa melihat kalau cowok lagi suka sama cewek.”
“Oooh… Mas Yudha cemburu?”
“Kenapa cemburu, kan yang suka dia bukan kamu.”
“Ckk… Mas Yudha mah gak pernah cemburu.”
“Kamu suka ma Raihan?”
“Hmm.. biasa aja.”
“Kalau kamu suka ma dia, baru aku cemburu.”
“Aku suka sama Rey tapi Mas Yudha juga biasa aja gak cemburu, malah senangkan.”
“Aku cemburu, Za, tapi aku juga tahu kalau aku tak punya hak untuk itu… sekarang kita hanya teman sedangkan dia adalah pacar kamu… dan bukankah aku sudah janji kalau aku akan menjadi penjaga hatimu? Jadi bagaimana bisa sebagai penjaga hatimu aku mengurusi perasaanku sendiri, yang harus ku urusi itu perasaanmu bukan perasaanku.”
Aku terdiam mendengar ucapannya.
“Karena itu Mas Yudha suka bertanya apa aku bahagia?”
“Iya, karena buatku yang terpenting adalah kebahagianmu.”
__ADS_1
“Mas Yudha juga harus mikirin kebahagian Mas Yudha sendiri.”
“Tenang saja, Za, aku sudah cukup berbahagia bermain dengan si cengeng.”
“Iiih!”
“Hahaha.”
“Kalau Mas Raihan ngajak Kekey ngobrol gimana?”
“Hahaha… ya ngobrol saja, masa mau kabur.”
“Tapi tiap lihat dia inget sama… mantan tunangan Mas Yudha.”
“Dia gak ada hubungannya, Key.”
“Adalah kan Kakaknya.”
“Tapi dia tidak tahu tentang... itu semua.”
“Serius tidak tahu apa pura-pura tidak tahu, kita kan tidak tahu kebenarannya.”
“Dia benaran gak tahu, Key, dia sama kagetnya seperti aku dan Kak Dimas ketika mendengarnya, Widy juga awalnya tidak tahu sampai akhirnya… ya kamu tahu sendiri.”
“Ckk… masih saja belain.”
“Dan keegoisan mereka itu yang membuat kita jadi seperti ini.”
“Iya, keegoisan mereka yang membuat cinta kita berdua hancur.”
Kami terdiam mengingat kejadian dimana cinta, harapan dan mimpi akan masa depan kami hancur hanya dalam waktu singkat karena kebohongan dan keegoisan seseorang.
“Ya sudah, kamu biasa-biasa saja sama dia… sejujurnya aku lebih bisa memercayai Raihan daripada si Tukul.”
“Kok, bisa?”
“Dia tulus menyukai kamu, Key, aku bisa melihat itu berbeda dengan si Tukul yang penuh kepura-puraan. Lagian kalau dia bukan orang baik apa kamu pikir Kak Dimas bisa berteman dengannya sampai sekarang? Jadi kamu tidak perlu khawatir, tenang saja ok? Kita bertaruh dia pasti jauh akan merasa bersalah setiap kali melihatmu.”
Dan tebakan Sang Letnan itu benar, aku pikir hanya aku saja yang tak bisa menatap matanya langsung ternyata diapun demikian tapi dengan alasan yang berbeda. Aku dengan kemarahanku sedangkan dia dengan rasa bersalahnya.
Sampai akhirnya kami diposisi tidak bisa menghindar satu sama lain, aku dan beberapa rekanku yang ditugaskan di proyek kali ini harus berada di bawah kepemimpinan Mas Raihan sebagai ketua Tim, membuat kami sering bertemu untuk berdiskusi atau rapat. Seperti saat ini kami baru saja selesai rapat dan Mas Raihan sengaja menahanku di ruang rapat berdua dengannya.
“Maaf, aku tidak tahu hubunganmu yang sebenarnya dengan Yudha.”
“Gak apa-apa, Mas, itu sudah berakhir.”
“Kalian… tidak kembali bersama-sama?”
__ADS_1
Untuk pertama kalinya aku menatap matanya langsung dan bisa ku lihat sorot mata bersalah disana.
“Apa Mas Raihan pikir saya akan kembali padanya setelah pengkhianatannya dengan… adik, Mas Raihan?”
Dia terdiam menatapku beberapa saat kemudian tertunduk, tangannya memainkan bolpoin yang dari tadi dia pegang.
“Saat ini kami memang berteman tapi tak lebih … hati kami berdua sudah sama-sama hancur karena kejadian itu, walapun saya berusaha menatanya kembali tapi terasa sulit dan saya tidak tahu apa akan kembali seperti semula atau tidak... pengkhianatan itu buat perempuan adalah hal yang paling kejam, walaupun mungkin bisa memaafkan tapi percayalah kami tak akan melupakannya.”
Dia kembali manatapku dengan sorot mata bersalah yang sama.
“Maafkan kami, ini salah kami… Yudha tidak bersalah, dia... hanya korban.”
“Ya, dia memang hanya korban dari keegoisan keluarga Mas Raihan, tapi tetap saja… dia mengkhianatiku, permisi.”
Aku berdiri kemudian berjalan menuju pintu ketika aku mendengar dia kembali berkata,
“Sekali lagi atas nama keluargaku, aku minta maaf.”
Aku terdiam tak berkata apapun hanya pergi begiu saja meninggalkannya seorang diri. Jahat? Aku tahu, tapi percayalah memaafkan dan minta maaf itu sama sulitnya.
Sorenya ketika keluar dari kantor aku dikejutkan dengan Sang Letnan yang sedang ngobrol dengan Mas Raihan, sang Letnan yang menyadari kehadiranku kini menatapku sambil tersenyum tangannya langsung terulur untuk mengelus kepalaku seperti biasa, seolah itu adalah ritual baru kami setiap kali bertemu.
“Pulang dulu ya, nanti kita ngobrol lagi.”
“Hati-hati.”
“Akrab banget,” ucapku ketika kami sudah mulai membelah jalanan Braga yang padat sore itu.
“Kan kenal, masa kenal gak nyapa.”
“Bilang saja pengen ngobrol sama mantan kakak ipar.”
“Hahaha, mantan calon kakak ipar.”
Dia menekankan kata calon membuatku berdecak, kemudian memeluk pinggangnya, menyandarkan kepalaku di punggungnya. Seperti dulu aku menghirup wangi tubuhnya seolah untuk mengisi energi yang telah ku habiskan hari ini.
“Tadi aku juga bicara sama Mas Raihan.”
Sang Letnan terdiam mendengarkanku bercerita di balik punggungnya.
“Dia minta maaf, tapi aku belum bisa memaafkan mereka karena telah menghancurkan mimpi-mimpi kita, dan membuat ku… belum bisa memercayai Mas Yudha seperti dulu lagi.”
“Aku mengerti,” ucap sang Letnan, “Karena jujur saja aku juga belum bisa memaafkan mereka.”
Aku mengangguk di punggungnya karena sangat mengerti kalau sampai sekarang dia belum bisa memaafkan keluarga mantan tunangannya itu. Malam itu kami menghabiskan sisa perjalanan kami dalam diam, kehadiran Mas Raihan seolah mengingatkan kembali kejadian masa lalu yang hampir saja terkubur, juga mengingatkan kembali akan rasa sakit dan amarah yang pernah mendera hati ini.
****
__ADS_1
Siap dengan sebuah rahasia besar yg belum terungkap di Pemilik Hati? 😍