Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Ekstra Part 5


__ADS_3

Yudha Pov.


The Day


Aku duduk dengan tegang berpakaian pengantin adat sunda berwarna putih lengkap dengan keris yang tersampir di pinggang. Di depanku duduk Ayah yang berdampingan dengan seorang penghulu, di samping kanan kiri duduk para saksi dari pihakku yang tanpa kuduga adalah Dedy Mizwar sang Wagub Jabar yang pernah Kekey akui sebagai Ayahku ketika menghadapi kesombongan si Tukul, yang ternyata adalah salah satu rekan Papah dan dari pihak perempuan adalah Pakde Warno, Kakak Ayah.


Hari ini adalah hari paling menegangkan dalam hidupku, dadaku berdetak kencang, tanganku entah kenapa terus saja mengeluarkan keringat dingin. Aku mencoba mengatur napas untuk menghilangkan rasa tegang yang berkecamuk, tapi tetap saja ketegangan tak juga berkurang.


Sampai akhirnya saatnya tiba ketika tanganku menjabat tangan Ayah, dengan mengucap bismillah aku mengucap sebuah kalimat sederhana tapi banyak mengandung makna.


Kalimat sederhana yang merubah haram menjadikan halal antara aku dan perempuan yang kucintai.


Kalimat sederhana yang memberiku tanggung jawab dunia akhirat atas perempuan yang kucintai dan keturunan kami nantinya.


Kalimat sederhana yang merubah statusku dari seorang anak menjadi seorang suami.


Seorang suami dari seorang perempuan luar biasa yang Allah ciptakan dari tulang rusukku.


Seorang suami dari seorang perempuan yang membisikan namaku dalam setiap sujudnya.


Seorang suami dari seorang perempuan yang mengajarkanku arti sebuah pengorbanan dan penantian.


Seorang suami dari seorang perempuan yang telah mengajarkanku akan arti cinta sejati.


Dan perempuan itu adalah Keyza Maharani, perempuan yang kutemui empat tahun lalu di antara hiruk pikuk daerah bencana.


Aku tersenyum dengan dada berdetak menggila ketika akhirnya kami dipertemukan. Dia terlihat… sangat cantik mungkin kurang untuk menggambarkannya, tapi dia benar-benar luar biasa cantik membuatku pangling.


Dia kini duduk di sampingku dan seperti biasa dia menunduk terlihat malu-malu sebelum akhirnya dia memandangku setelah kami menandatangi buku nikah, dan senyum-pun mengembang dari wajah kami karena menyadari kalau kami berdua telah berhasil melewati semua ujian yang Allah berikan, hingga akhirnya kini telah sah menjadi sepasang suami-istri.


****


Acara di gedung antariksa memang sampai jam 1 tapi kami baru sampai ke rumah di Padjadjaran sekitar pukul 2. Tak banyak waktu yang kami miliki sebelum pergi ke Dago untuk acara selanjutnya membuatku merasa kasihan kepada perempuan yang baru saja sah menjadi istriku beberapa jam yang lalu.


Wajahnya terlihat sangat lelah karena harus berdiri kurang lebih dua jam untuk menyalami tamu, tapi matanya memancarkan kebahagiaan. Dia baru saja selesai mandi dan berganti pakaian dengan pakaian santai ketika kami diberitahu kalau harus segera pergi ke Dago untuk persiapan acara nanti malam.


“Seharusnya kemarin aku batalkan saja acara di Dago.” Aku sangat menyesal setelah melihatnya kelelahan, baru saja beristirahat sebentar tapi harus kembali bersiap-siap untuk acara ngunduh mantu di Dago.


“Gak apa-apa biar capeknya sekalian, lagian Mas Yudha pasti lebih capek dari aku karena sebelumnya harus ngurusin persiapannya segala,” ucapnya sambil tersenyum dengan tubuh bersandar di jok mobil. Saat ini kami tengah dalam perjalanan menuju Dago.


“Itu mah gak seberapa dibandingin capeknya jaga hati kamu biar gak diambil cowok lain.”


“Hahaha… padahal Mas Yudha tak perlu capek-capek kalau soal itu, kan dari dulu juga hati aku cuma milik Mas Yudha.”


“Iya, setelah sebelumnya pernah jadi milik orang lain.”


“Iiih! Engga!”


“Engga salah maksudnya, hahaha.”

__ADS_1


“Anggap saja si Tukul mah cuma ngontrak jadi dia bukan pemilik hati aku yang sebenarnya, pemiliknya kan Mas Yudha.”


“Hahaha… dan sekarang sudah tenang soalnya sudah ada sertifikat bukti kepemilikannya, jadi gak akan lagi ada yang ngaku-ngaku.”


“Hahaha, iya! Gak bakalan dikontrakin lagi soalnya udah diisi sama pemiliknya.”


Sepanjang jalan menuju dgo akhirnya dia tak tidur, kami terlalu asik ngobrol dan bercanda setelah sudah cukup lama tak bertemu dan ini adalah kesempatan pertama kami berduaan setelah acara tadi.


Dago Pakar, Bandung.


Aku baru selesai berbincang dengan rekan-rekanku yang ikut dalam prosesi pedang pora ketika aku melihatnya sedang duduk di salah satu kursi sambil menatap pemandangan kota Bandung di bawah langit sore hari.


“Capek?” tanyaku sambil memijit pundaknya dari arah belakang membuatnya tersenyum bahagia sambil mengangguk menjawab pertanyaan.


Aku kemudian ikut duduk di sampingnya kemudian merangkul bahunya, “Sini tiduran bentar.” Aku berkata sambil merebahkan kepalanya di bahuku.


Saat ini kami baru saja selesai gladi bersih prosesi pedang pora dan akhirnya bisa duduk santai sejenak sebelum akhirnya dia harus kembali di make up dan berganti pakaian dengan kebaya bernuansa warna hijau serasi dengan pakaian kebesaranku yang akan ku kenakan nanti.


“Nanti kalau ada yang lihat gimana?” dia kembali duduk tegak membuatku kembali merebahkan kepalanya dibahuku.


“Gak apa-apa, semua orang juga tahu dan bisa maklum sama pengantin baru.”


Pipinya memerah ketika aku mengatakan pengantin baru.


“Aku masih tak percaya kalau akhirnya kita menikah,” ucapnya sambil memeluk pinggangku.


“Kita kayanya gak akan nikah sekarang kalau aku tidak tugas ke Suriah kemarin.”


“Hahaha.”


“Hahaha.”


“Kenapa tiba-tiba saat itu kamu akhirnya bersedia menikah?”


“Karena saat itu aku baru menyadari kalau aku tak akan bisa hidup tanpa Mas Yudha.”


Aku tersenyum mendengar kejujurannya, kemudian mencium pucuk kepalanya.


“Selama ini aku selalu bertanya pada diriku sendiri, dari berbagai pertanyaan hanya satu yang membuatku selalu ragu, yaitu apa aku bisa hidup tanpa Mas Yudha di sampingku? Hati terdalamku sudah mengetahui jawabannya, tapi aku terlalu keras kepala untuk mengakuinya.”


Aku kembali tersenyum mendengarnya mengakui kalau dia keras kepala.


“Alhamdulillah… akhirnya tahu juga kalau keras kepala.. aduh!” ucapanku itu membuatnya memukul dadaku.


“Aku gak keras kepala.”


“Iya deh gak keras kepala, hanya susah dibilangan.”


“Iiih, enggak! Aku tuh nurut banget!” serunya sambil kembali memukulku

__ADS_1


“Hahaha… iya deh iya nurut daripada badanku malah biru-biru.”


“Hahaha.” Dia tertawa sambil kembali memelukku, matanya kini terpejam tapi dia kembali berkata, “Kangen.”


“Kangen sama siapa?”


“Sama Mas Yudha-lah, masa sama orang lain.”


“Oh, hahaha… kan lagi dipeluk masa masih kangen.”


“Iya tapi kaya masih kurang gitu, kan udah lama gak ketemu jadi kangennya bangeeet.”


“Masih kurang?”


“Iya.”


“Nanti malam saja kita puas-puasin.”


“Iiih apaan sih!!!” wajahnya memerah, tapi tangannya dengan sigap mencubit pinggangku cukup keras membuatku mengaduh.


“Hahahaha… emang nanti malam mau ngapain? Kok mukanya merah gitu”


“Iiih, apaan sih!”


“Maksudku kita ngobrolnya nanti malam saja puas-puasin sekarang kamu harus mulai didandanin.”


“Hah?!” wajahnya kini terlihat bingung dan itu malah semakin membuatku ingin tertawa.


“Iya, sekarang kamu harus mulai di dandanin, tuh orangnya dah manggil.”


Dia menatap seorang perempuan berusia lanjut yang tersenyum padanya tak jauh dari tempat kami duduk.


“Kenapa gak ngasih tahu daritadi?!” Bisiknya dengan wajah masih memerah.


“Aku dah ngasih tahu, kamunya saja pikirannya kemana-mana.”


“Iiih, engga!” dia kembali memukulku sambil berdiri.


“Terus itu kenapa wajahnya kaya tomat mateng.”


“Tahu ah!” serunya sambil berjalan meninggalkanku yang tertawa melihatnya.


****


Selamat hari ibu, untuk semua emak" hebat yg ada di sini, semoga keberkahan, kesehatan dan kebahagian selalu menyertai kita semua.. aamiin 😍😍😘😘


Oh iya, Arga sudah launcing ya...


__ADS_1


"Sekuat apapun kita mengingkari dan merahasiakan perasaan kita, semua akan terkuak pada waktunya.. karena hati tak bisa dibohongi."


(Arga Dewantara)


__ADS_2