Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 9


__ADS_3

Selesai makan, sang Letnan dan Arga tidak ikut kembali bergabung dengan aku dan Rey yang kembali ke ruang tamu seolah mereka memberi kami waktu untuk berdua. Tapi aku tidak menyukainya, aku ingin ikut ngobrol dan mendengarkan mereka bermain gitar di teras belakang.


“Jadi mereka teman dekatmu selama ini?”


“Iya.”


“Waktu itu kamu nonton bersama mereka juga?”


“Iya, sama ceweknya Arga juga.”


“Terus yang nganterin kamu pulang itu, Yudha?”


“Iya, Mas Yudha.”


“Dia sebenarnya siapa sih? Kakak kamu bukan, saudara bukan, pacar juga bukan, tapi gayanya kaya orang penting saja, cuma Letnan doang juga sudah belagu apalagi jadi anak Dubes.”


“Dia memang orang penting bagi kami!”


Aku tak bisa lagi menahan emosiku ketika mendangar Rey merendahkan sang Letnan seperti itu.


“Dia bukan anak Dubes, tapi dia adalah putra tunggal dari wakil Gubernur Jawa Barat sekaligus pengusaha di sini, dan perlu diingat, tentara itu bukan pekerjaan sembarang! Mereka adalah orang-orang yang akan membela Negara ini kalau sesuatu terjadi, lagian dia bukan tentara biasa, dia adalah anggota Kopassus, pernah menjadi anggota pasukan PBB, lulusan Akmil terbaik 2012 dan telah mendapat beberapa medali penghargaan dari Negara karena jasa-jasanya, dan satu lagi, pangkatnya dia bukan Letnan tapi Kapten.”


Rey terlihat terkejut mendengar fakta yang ku beberkan tentang sang Letnan sebenarnya, dan iya aku lupa memberi tahu kalau sang Letnan bukan lagi Letnan tapi sudah menjadi Kapten, dia mendapat kenaikan pangkat setelah melakukan misi kemarin dan aku sendiri juga tidak tahu misi apa itu, tapi yang pasti pada saat itu seluruh regu yang turun di misi itu mendapat kenaikan pangkat serentak dan juga medali penghargaan dari negara.


“Tapi dia sangat sederhana, dia tak pernah membanggakan kekayaan dan jabatan orangtuanya, maupun jabatannya sendiri, karena itulah dia jadi anak dan saudara kesayangan serta kebanggaan keluarganya dan juga keluargaku. Dan tempat hotel menginapmu di Bandung yang kamu bilang bintang 5, perlu kamu tahu… Papahnya adalah salah satu pemegang saham di sana.”


Rey semakin terkejut mendengar itu, tapi aku belum merasa puas, mengingat tadi saat makan dia menyombongkan bagaimana dia telah berkeliling dunia dan dengan bangganya dia mengatakan kalau ayahnya selain seorang Dubes juga memiliki perusahaan yang nantinya akan diwariskan kepada dia dan adik-adiknya.


“Jadi sebaiknya kamu tidak menyombongkan harta orangtuamu di depannya lagi karena itu hanya akan mempermalukanmu saja.”


Untuk pertama kalinya aku mengeluarkan apa yang ada dipikiranku di depan Rey, membuatnya terdiam seolah tak percaya aku bisa seberani itu dan tak lama kemudian diapun pamit pulang. Sepeninggalan Rey aku langsung bergabung dengan Arga dan sang Letnan menceritakan semuanya, membuat mereka berdua tertawa.


“Sejak kapan aku jadi anak Dedy Mizwar (wakil Gubernur Jabar) terus kapan Papah beli saham hotel Hyatt?”


Sang Letnan tertawa sambil menggelengkan kepala mendengarkan ceritaku, begitu juga Arga.


“Bae, Nan, nu siga kitu mah (biarin, Nan, yang kaya gitu mah) emang harusnya digituin kalau gak tar tambah besar kepala.”

__ADS_1


“Iya, habisnya kesel banget! Kalau dia cuma nyombong sih terserah, tapi dia berani merendahkan Mas Yudha! Aku gak bakalan diam gitu aja!”


Sang Letnan menatapku beberapa saat kemudian tersenyum sambil mengacak-acak rambutku.


“Tenang saja, Key, Mas Letnan mu ini tak akan diam begitu saja, benarkan, Nan?”


Sang Letnan kembali tersenyum sambil bermain gitar, dan aku terdiam dengan dada berdesir ketika mendengar Arga mengatakan ‘Mas Letnan-mu’ yang mengingatkanku pada masa lalu.


“Biarkan saja dulu,” ucapnya santai dengan jari-jari tangannya memetik senar gitar, “Tapi kamu gak apa-apa, Key? Bagaimana kalau gara-gara ini dia marah sama kamu.”


Sang Letnan berhenti main gitar dan sekarang menatapku dengan khawatir, dan itu membuat perasaanku campur aduk. Disatu sisi aku bahagia kalau dia mengkhawatirkanku, tapi disisi lain aku tak ingin dia mengkhawatirkanku akan bertengkar dengan kekasihku karena membelanya.


“Dia bukan tipe orang yang bisa menahan emosinya, jadi kalau memang dia mau marah dia pasti sudah marah tadi.”


Sang Letnan terdiam beberapa saat kemudian mengangguk mengerti, “Kalau dia sampai marah, kasih tahu kami, ok?”


Aku mengangguk mengerti dan pembicaraan tentang Rey-pun berhenti sampai sana. setelah sholat magrib Arga pamit mau pergi ke rumah Irene, sedangkan aku dan sang Letnan kembali duduk di teras belakang, kembali bermain gitar.


Dan seperti biasa ketika kami berdua, dia akan melantunkan melodi yang sama membuatku benar-benar penasaran dengan lagu yang suka dia mainkan ketika berdua denganku.


“Ini lagu siapa sih?” untuk kesekian kalinya aku bertanya tapi seperti biasa hanya mendapat jawaban senyuman dari sang Letnan membuatku menatapnya kesal.


“Hmmm… lagu barat, tahun 90an, penyanyinya cowok.”


“Iiiih! Kan banyak penyanyi cowok tahun 90an… lagian aku baru lahir tahun 92, jangan-jangan ini lagu sebelum aku lahir.”


“Hahahaha… kalau gak salah ini relist awal 1994.”


“Tuuhkan, aku masih 2 tahun kalau gitu.”


“Hahaha, tapi ini lagu terkenal banget jadi harusnya kamu juga tahu.”


“Tahu… tapi lupa, itu yang bikin tambah penasaran.”


“Hahaha...” sang Letnan kembali menggumamkan melodi membuatku tambah penasaran.


“Ayo dong, nyanyiin! Anggap saja hadiah ultah... ya...ya...yaaah!"

__ADS_1


“Hadiah ultah?” sang Letnan terdiam kemudian menatapku sambil tersnyum, jari-jarinya masih memetik melodi yang sama.


“Selamat ulang tahun, Key… terimakasih sudah menjadi perempuan yang luar biasa.” Dia menatapku dengan sorot mata lembut dan senyum di wajahnya, membuat jantungku mulai menggila.


“Perempuan yang bukan hanya memiliki kecantikan fisik, tapi juga hati sebening Kristal dan sebersih embun… terimakasih karena masih mau berteman denganku yang egois dan telah membuatmu terluka sedemikian rupa... terimakasih karena masih berdiri di sampingku sampai saat ini, dan terimakasih karena tetap sehat dan masih berbagi udara yang sama denganku.”


Aku benar-benar tak bisa bernapas mendengar semua ucapannya itu, masih sambil menatapku dia kemudian merubah petikan melodi yang tadi dimainkan menjadi lebih semangat dan seketika aku tertawa mendengarnya.


“Happy birthday to you… happy birthday-happy birthday, happy birthday Kekey.”


“Hahaha... kok malah lagu ulang tahun? Aku pengennya lagu yang tadi.”


“Hadiah ulang tahunnya itu saja, kalau lagu yang tadi masih PR buat kamu.”


“Engga mau, masa hadiahnya lagu happy birthday.”


“Hadiahnya nanti saja tunggu.”


“Benaran dapat hadiah? Kapan?”


“Terserah Allah mau ngasih hadiahnya kapan, yang pasti aku sudah minta hadiah terbaik dari Allah buat kamu.”


Aku tersenyum mendengarnya, seperti biasa dia selalu berhasil menyentuh hatiku. Sesungguhnya aku tahu apa hadiah yang sangat ku inginkan darinya untukku, yaitu kehadirannya di sampingku yang secara perlahan telah membuat serpihan-serpihan di hatiku kembali utuh walaupun belum sempurna.


Sesungguhnya bukan Rey yang telah mengobati hatiku, tapi kehadiran sang Letnan disampingku sebagai teman yang selalu ada disaat aku membutuhkannya, sebagai penjaga hatiku yang selalu bisa diandalkanlah yang secara tak sengaja telah mengobati hatiku. Arga pernah berkata padaku, “Orang yang bisa mengobati luka hati kita adalah orang yang telah membuatnya terluka dan kita sendiri.”


“Maksudnya?” saat itu aku tak mengerti ucapannya.


“Misalnya kaya gini, si A sakit hati sama si B, dan si A gak bisa melupakan sakit hatinya sama si B walaupun dia sudah bisa melanjutkan hidupnya dan bahagia dengan si C, sampai suatu hari si A ketemu si B, dia akan kembali ingat sakit hatinya dan bahkan mungkin bisa mengancam kebahagiannya. Beda cerita kalau si B datang dan meminta maaf dengan tulus sama si A, tanpa menyerah dia terus datang lagi-lagi dan lagi sampai akhirnya si A terbiasa dengan kehadiran si B dan akhirnya si A memaafkannya karena dia bisa melihat ketulusannya si B. Jadi walau suatu hari nanti si A tak lagi bersama si B tapi sama si C dan suatu hari ketemu si B, si A akan tersenyum melihat si B karena tidak ada lagi sakit di hatinya, bahkan mungkin mereka berdua sudah bisa menertawakan hal bodoh yang mereka lakukan di masa lalu.”


Aku tersenyum mengingat ucapan Arga dan aku kini merasakannya, awalnya berat untukku melihatnya karena seolah diingatkan akan sakit hati dan kekecewaan, tapi perlahan melihat ketulusannya kini aku sudah terbiasa dengan kehadirannya dan hatiku perlahan kembali utuh walaupun belum bisa menertawakan kesalahan masa lalu.


Malamnya Rey menghubungiku, dia meminta maaf atas kebodohannya tadi dan dia berjanji akan mencoba menerima teman-temanku seperti aku yang meneriman teman-temannya. Bukankah sudah ku katakan kalau sebenarnya dia itu baik selain bicaranya yang tinggi dan pencemburu, selebihnya tidak ada masalah dengan dia.


Sebagai permintaan maaf besok dia mengundang Arga dan sang Letnan untuk makan siang. Aku langsung menghubungi Arga dan sang Letnan untuk menyampaikan undangan itu dan untung saja mereka mau menerimanya walaupun dengan sedikit bujukan dengan mengatakan boleh mambawa Irene.


Tapi yang Arga ajak bukan hanya Irene tapi juga Karin. Alhasil kami kini seperti sedang melakukan triple date!

__ADS_1


****


__ADS_2