Penjaga Hati #2

Penjaga Hati #2
Bab 19


__ADS_3

“Daritadi?” tanyaku sambil duduk berselonjor di sebelah sang Letnan yang duduk bersila di teras belakang sambil main gitar.


“Baru,” jawabnya sambil tersenyum.


“Pada kemana kok sepi?”


“Ibu baru saja pergi nganterin pesanan makanan ke Buah Batu katanya.”


“Sama Ayah?”


“Iya, sama Bi Yati juga.”


“Kalau Dirga?”


“Main game sama Aldi di kamar.”


Aku mengangguk mengerti.


“Arga ngehubungin gak?” sang Letnan bertanya tanpa menghentikan petikan gitarnya.


“Ngehubungin.”


“Terus gimana? Sudah baikan?”


“Sudah, benar Irene cuma pengen Arga jujur saja, dia tidak bertanya karena berharap Arga bakal cerita tahunya gak cerita-cerita jadi saja marah.”


“Syukur deh.”


“Kalau Mas Yudha di posisi Arga, Mas Yudha bakal jujur gak?”


“Hmm... gak tahu juga, pasti bingung sih di satu sisi takut cewek kita marah kalau dengar kejujujuran kita, tapi di sisi lain itu malah kita merasa bersalah.”


“Berarti mending jujur dong setidaknya kita gak bakalan merasa bersalah, soal pasangan kita marah apa tidak itu semua resiko.”


“Iya sih, tapi kalau kamu jadi Irene, kamu bakal diam atau nanya langsung.”


“Ada kalanya aku ingin mengetes kejujuran pasangan kita apa dia akan jujur atau tidak, tapi kadang tak tahan juga pengennya langsung nanya.” Sang Letnan tersenyum karena dia mengetahui sifatku yang tak pernah bisa menyembunyikan perasaan.


Mendengarkan petikan gitar sang Letnan ditambah hembusan angin membuatku kembali mengantuk dan menyandarkan kepalaku di bahunya... aah, nyaman dan damai!


“Nyanyi,” pintaku sambil memejamkan mata, tapi seketika tertawa ketika mendengar dia mulai bernyanyi.


“Kekey bobo, ooh Kekey bobo.”


“Iiih… yang bener nyanyinya.”


“Ini bener.”


“Jangan nyanyi itu!”


“Nyanyi apa dong?”


“Hmm… nyanyi yang biasa Mas Yudha mainin itu.”


“Itu kan masih jadi PR kamu, belum ketebakkan?”


“Ckk… pelit.”


Aku kembali menyandarkan kepalaku di bahunya, sebenarnya aku telah mengetahui lagu apa yang sering dia mainkan. Ketika jalan dengan Rey tanpa sengaja salah satu toko tengah memutar lagu itu dan seketika aku mematung dengan dada berdetak menggila ketika menyadari lagu apa yang selama ini selalu dimainkan sang Letnan ketika kami sedang berdua.


“Hahaha… bilang Za biar dia dengerin lagu ini.”


Sang Letnan mulai menyanyikan lagu yang tak kalah membuat jantungku berdetak kencang dengan lagu yang pertama ketika mendengar liriknya. Aku sulit untuk bernapas mendengar setiap lirik yang dia nyanyikan, bahkan ketika dia sudah berhenti bernyanyi, aku masih terdiam dengan jantung yang berdetak menggila.


“Za,” sang Letnan memanggilku dengan lembut membuat dadaku sesak karena kerinduan yang tiba-tiba menyeruak.

__ADS_1


“Hmmm.” Hanya itu yang bisa keluar dari bibirku.


“Kamu dengar tadi?”


“Iya.”


“Kita akan melewati ini semua, Za, aku yakin.”


Aku mengangguk dan ku yakin dia bisa merasakannya karena aku masih bersandar di bahunya.


“Tapi, kalau Mas Yudha merasa lelah menungguku… beritahu aku, aku akan melepaskanmu dan mendukungmu seperti selama ini Mas Yudha selalu mendukungku,” ucapku dengan tenggorokan tercekat.


“Bagaimana mungkin aku lelah menunggumu, sedangkan dulu kamu selalu menungguku… tapi kalau kamu merasa kamu telah menemukan seseorang yang kamu cintai dan ingin menghabiskan sisa hidupmu dengannya, beritahu aku… aku akan memberitahunya kalau dia berani membuatmu menangis atau terluka maka dia akan mati di tanganku.”


Aku duduk tegak sambil tersenyum menatapnya, “Kalau seperti itu siapa yang akan mau denganku!”


“Sengaja.”


“Hahaha.”


Dia menatapku beberapa saat dengan sorot mata dan senyum lembut penuh kerinduan yang membuat darahku berdesir, sebelum akhirnya dia berdecak sambil mengalihkan pandangan kedepan.


“Kenapa jadi si cengeng lagi.”


“Hahaha.”


“Sini jadi Za lagi!”


Dia menarik kepalaku untuk kembali bersandar di bahunya membuatku tertawa, tapi aku kembali duduk tegak yang membuatnya kembali menarik kepalaku dan menahannya untuk tetap bersandar di bahunya.


“Mas Yudha pikir aku punya dua kepribadian ganda atau punya tombol switch untuk berubah jadi Za atau Kekey?!”


“Hahahaha.”


Tapi akhirnya aku tetap bersandar di bahunya, tanganku kini mendekap lengannya.


“Rasa sakit itu tak akan pernah bisa hilang, sampai kapanpun itu akan terus membekas di hatimu… mungkin kamu tidak bisa melupakannya, tapi kamu bisa mencoba untuk berdamai dengan rasa sakit itu hingga membuat hatimu tenang, dan kurasa kamu sudah mulai bisa berdamai dan berteman dengan masa lalu.”


“Aku? Benarkah?” aku menatap sang Letnan dengan sorot mata tak percaya, sang Letnan menatapku kemudian tersenyum.


“Iya, buktinya kita berteman dan dekat seperti sekarang, kalau kamu belum bisa berdamai dengan sakit hatimu, aku yakin kamu akan sangat membenciku setiap kali melihatku karena mengingatkanmu kepada masalalumu yang menyakitkan.”


Aku terdiam mendengar penjelasan sang Letnan, itu mungkin saja benar… awal ketika aku pulang dari Jepang, setiap melihatnya aku akan teringat masa lalu bahkan sempat menumpahkan amarahku, tapi sekarang aku tak pernah lagi mengingat masalalu yang menyakitkan itu, tapi tetap saja aku belum bisa memercayainya seperti dulu. Bukankah dalam sebuah hubungan sebuah kepercayaan itu penting?


****


Oh, iya… kalian ingin tahu lagu apa yang dinyanyikan Mas Letnan tadi? Ini dia lagunya, jangan baper ya pas baca liriknya…


If you're not the one, then why does my soul feel glad today?


Jika kau bukan seseorang itu, kenapa jiwaku merasa gembira hari ini?


If you're not the one, then why does my hand fit yours this way?


Jika kau bukan seseorang itu, kenapa tanganku begitu pas dengan tanganmu?


If you are not mine, then why does your heart return my call?


Jika kau bukan milikku, kenapa hatimu menjawab panggilanku?


If you you are not mine, would I have the strength to stand at all?


Jika kau bukan milikku, apakah aku akan memiliki kekuatan untuk bertahan?


I never know what the future brings

__ADS_1


Aku tak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan


But I know you're here with me now


Namun kutahu kau di sini bersamaku saat ini


We'll make it through and I hope


Kita 'kan melewati ini dan kuharap


You are the one I share my life with


Kaulah seseorang yang akan berbagi hidup denganku


I don't wanna run away but I can't take it, I don't understand


Aku tak ingin lari tapi aku tak kuat menahannya, aku tak mengerti


If I'm not made for you, then why does my heart tell me that I am?


Jika aku tidak ditakdirkan untukmu, lalu kenapa hatiku mengatakan bahwa akulah takdirmu


Is there any way that I can stay in your arms?


Adakah cara agar aku bisa terus kau dekap?


If I don't need you, then why am I crying on my bed?


Jika aku tak membutuhkanmu, kenapa aku menangis di tempat tidur?


If I don't need you, then why does your name resound in my head?


Jika aku tak membutuhkanmu, kenapa namamu bergema di kepalaku?


If you're not for me, then why does this distance name my life?


Jika kau bukan untukku, kenapa jarak ini meruntuhkan hidupku?


If you're not for me, then why do I dream of you as my wife?


Jika kau bukan untukku, kenapa aku memimpikanmu menjadi istriku?


I don't know why you're so far away


Aku tak tahu kenapa kau begitu jauh


But I know that this much is true


Namun kutahu semua ini benar


We'll make it through and I hope


Kita 'kan melewati ini dan kuharap


You are the one I share my life with


Kaulah seseorang yang akan berbagi hidup denganku


And I wish that you could be the one I die with


Dan kuharap kau bisa jadi seseorang yang menemaniku hingga mati


And I pray that you're the one I build my home with


Dan ku berdoa kaulah seseorang yang akan membangun rumah bersamaku

__ADS_1


^^^(If you’re not the one – Daniel Bedingfield)


^^^


__ADS_2