
Aku bisa merasakan tubuh sang letnan menegang untuk beberapa saat sebelum akhirnya sebelah tangannya memelukku lembut.
“Kenapa? Ada yang membuatmu menangis lagi?”
Aku mengangguk dalam pelukannya.
“Siapa?”
“Mas Yudha.”
“Aku?”
Aku kembali mengangguk.
“Apa yang aku lakukan?”
Sang Letnan berusaha menjauhkan tubuhku untuk melihat wajahku tapi aku semakin memeluknya erat.
“Key, lepasin dulu pelukannya.”
Aku menggeleng malah semakin memeluknya erat.
“Gak enak kalau kelihatan sama orang lain.”
“Biarin.”
Sang Letnan tertawa mendengar jawabanku.
“Kita masuk ke dalam dulu.”
Aku mengangguk setuju.
“Ya udah lepasin dulu, gimana mau masuk ke dalam kalau masih meluk gini.”
Tak mau melepaskannya membuatku langsung naik menginjak kedua kakinya membuatnya langsung tertawa ngakak sambil memelukku.
“Ckk.. punya calon istri manja, cengeng, Al saja kalah nih… kalau Al ada pasti rebutan minta gantian,” ucapnya sambil berjalan dengan aku di atas kedua kakinya, tangannya memelukku menahanku agar tak terjatuh.
“Yakin tak mau turun di sini?”
Aku melihat saat ini kami sudah berada di depan pintu yang terbuka.
“Aku tak tanggung jawab kalau Ayah dan Ibu sampai lihat.”
Mendengar itu membuatku mau tak mau turun dan melepaskan pelukan membuatnya tertawa sambil mengacak-acak rambutku. Aku langsung duduk di teras depan dan sang Letnan ikut duduk di sampingku sambil menatapku.
“Jadi apa yang telah ku lakukan sampai membuatmu menangis?”
__ADS_1
Aku menangis karena sangat merindukanmu dan ingin memelukmu, ingin ku katakan itu seperti dulu lagi tapi.. untuk sekarang aku ingin hubungan kami seperti sekarang karena aku masih takut seandainya kami kembali berpacaran apakah aku akan seperti Irene yang akan selalu mengungkit kesalahan di masa lalu yang akhirnya membuat Arga merasa lelah dengan hubungan seperti itu, dan yang pasti aku ingin kami lebih mengenal sifat kami lebih dalam lagi.
“Kenapa Mas Yudha tidak memberitahuku kalau Ayah yang menyarankan Mas Yudha untuk meninggalkanku dan memilih Widy?”
Sang Letnan terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaanku.
“Ayah memberitahumu?”
“Iya, ibu juga.”
“Key, mereka itu hanya menyarankan tetap saja keputusan akhirnya ada padaku.” Sang Letnan sedikit tersenyum ketika menatapku, “Jadi jangan marah dan menyalahkan mereka, ok?”
Jadi karena alasan itukah sang Letnan tidak mau memberitahuku kalau kedua orangtuaku terlibat dalam keputusannya meninggalkanku? Karena dia tak mau aku marah dan menyalahkan kedua orangtuaku? Ya Allah, kenapa selama ini aku lupa kalau dia tak akan meninggalkanku tanpa alasan, aku sungguh bodoh.
“Itu sepenuhnya adalah kesalahanku dan tanggung jawabku, jadi kalau kamu mau marah… marah padaku saja jangan sampai kamu marah sama Ayah dan Ibu.”
Hatiku berdesir mendengar ucapannya…
“Seharusnya Mas Yudha memberitahuku, jadi aku tak sekecewa dan semarah ini sama Mas Yudha.”
“Dan tetap saja saat itu kita akan berpisah, Key, saat itu aku harap dengan kamu membenciku kamu akan dengan cepat melupakanku… tapi kenyataannya memang susah sih buat lupain aku.”
“Hahahaha… GR!”
“Lho benarkan?”
“Ckk… pasti gara-gara Raihan nih jadi hampir lupa.”
“Engga! Bukan karena Mas Raihan, beneran deh.” Aku berkata dengan wajah serius membuat sang Letnan tersenyum.
“Tapi beneran deh, kalau dipikir-pikir dulu waktu Leona juga gitu. Aku hampir melupakan Mas Yudha, eh malah ketemu di Musi Rawas, pas Widy juga gitu… jadi gimana mau move on coba?”
“Itu tandanya Allah tak mengijinkan kamu untuk melupakanku, Key,” ucap sang Letnan dengan senyum lebar.
“Kalau memang gitu, kenapa harus ada masalah-masalah seperti ini?”
“Karena Allah ingin kita lebih menyayangi satu sama lain, dan Allah ingin kita tahu kalau kita sangat berharga buat masing-masing.” Sang Letnan tersenyum menatapku sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
“Kalau tidak ada masalah Leona mungkin aku tak akan tahu kalau kamu ternyata sangat setia, kalau tidak ada kasus Widy mungkin kita tidak akan pernah tahu bagaimana sakit dan menderitanya kita ketika harus saling kehilangan satu sama lain. Dan rasa sakit itulah yang menunjukan berapa besar dan dalam cinta kita.”
Dan aku tak akan tahu kalau selama ini akulah prioritas utama dalam hidup sang Letnan… aku tersenyum menatapnya yang juga tersenyum menatapku.
“Tapi ternyata tetap saja, kamu bisa mudah ke lain hati… ckk!”
“Iiiih… Rey jangan dihitung.”
“Ya dihitunglah, kan kalian jadian.”
__ADS_1
“Engga!”
“Gak jadian tapi peluk cium… ckk-ckk-ckk.” Sang Letnan menggelengkan kepala.
“Engga!”
“Waktu di dusun bambu?”
Aku gugup kehilangan kata-kata.
“Mas Yudha juga sama Deby!”
“Deby itu cuma nyapa gak pakai perasaan kaya Tukul.”
“Tapi tetap saja judulnya cium pipi… mana dua-duanya lagi, kalau Rey kan cuma satu!” ucapku dengan cemberut mengingat kejadian di undangan saat itu membuat sang Letnan menatapku beberapa saat.
Tanpa diduga dia menarikku ke dalam pelukannya dan mencium kedua pipiku dengan lembut dan lama disetiap pipi seolah sudah sejak lama dia ingin melakukan itu. Aku hanya bisa terdiam dengan jantung seolah turun hingga ke ujung kaki dan mulut menganga tak percaya. Dadaku kini berdegup kencang dan aku yakin pipiku kini telah memerah.
“Sekarang jangan cemburu lagi… dah dapatkan ciuman di pipinya? dua-duanya lagi,” ucap sang Letnan sambil tersenyum membuatku tertunduk malu, tapi kemudian aku menatapnya dengan mata membulat ketika mengingat sesuatu.
“Aku dan Rey tidak pernah ciuman! Beneran!” aku menatapnya serius yang menatapku terlihat menyelidik, “Waktu di dusun bambu juga itu pertama kalinya dia menciumku, aku benar-benar kaget waktu itu.”
Sang Letnan masih terdiam menatapku.
“Malam itu hampir saja dia menciumku, tapi untung saja Mas Yudha keluar.”
“Key, walaupun misalnya iya, itu tidak jadi masalah untukku.”
Aku menatap sang Letnan sedikit kecewa karena itu berarti kalau dia tidak marah atau cemburu sama sekali,, “Tidak jadi masalah?”
“Iya, tidak jadi masalah… yang perlu aku lakukan hanya menghapus jejaknya seperti tadi aku menghapus jejaknya di pipimu.”
Deg!
Menghapus jejaknya seperti tadi dia menghapus jejaknya di pipiku? Bukankah itu artinya dia akan… aaah, seharusnya tadi aku bilang saja kalau Rey pernah menciumku! Aku membuang napas berat menyesali kejujuranku.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Key?”
Aku terkejut ketika mendengar suara sang Letnan yang sedang berusaha menahan tawa.
“Tidak! Aku tidak memikirkan apa-apa.”
“Terus kenapa pipimu merah?” ucap sang Letnan sambi mencubit pipiku lembut.
“I-itu karena di sini panas banget!” aku berdiri dengan gugup, “Sudah ah, masuk yuk!” aku berkata sambil berjalan meninggalkanya yang tertawa.
*****
__ADS_1
Ada yang mau dihapus jejaknya juga sama Sang Letnan??? 😍😍😍