
“Aku hampir saja telat! Untung saja aku datang tepat sebelum Kapten mematahkan tangannya.”
“Seharusnya, Mas Juang biarin dulu Letnan matahin tangannya, setelah itu baru pisah.”
Aku mendengar suara Mas Juang, Arga dan Dirga sedang membicarakan masalah tadi, aku membuka mataku menatap sekeliling dan menyadari kalau masih di RS. Hasil pemeriksaan menunjukan kalau tidak ada yang bahaya, hanya saja karena aku masih syok dokter menyarankan aku di rawat semalam untuk melihat perkembangan lebih lanjutnya.
“Aku juga sama ingin menghajar dan mematahkan tangannya, tapi aku juga tak ingin sesuatu terjadi pada Kapten… aku sudah tak menyukainyadari awal!” Seru Mas Juang dan aku bisa mendengar suaranya sarat akan emosi.
“Mas Juang mah gak sukanya dari pertama ketemu, Dirga mah, Mas, dari pertama Kak Kekey cerita dia punya pacar sudah gak sukanya juga.”
“Belum ketemu orangnya dong?”
“Iya, hehe.”
Aku berusaha duduk di atas tempat tidur tapi langsung meringis ketika merasakan nyeri di tangan kanan, punggung dan beberapa bagian lainnya.
“Gak apa-apa, Key?”
Arga dengan cepat membantuku duduk.
“Gak apa-apa cuma tangan sama punggung yang agak nyut-nyutan nih”
“Tanganmu sedikit retak terus keseleo juga makanya jangan banyak digerakin dulu, kalau punggungkan itu membentur mobil jadi agak memar.”
Aku mengangguk mendengar ucapan Mas Juang yang kini berdiri di samping Arga, “Mas Yudha mana?” aku bertanya setelah melihat sang Letnan tak ada di sana.
“Lagi ke bawah sebentar,” jawab Arga membuatku mengangguk.
Aku menatap saudara-saudaraku juga Arga yang mengelilingi tempat tidur.
“Apa yang sebenarnya terjadi tadi? Apa Mas Yudha beneran berantem?”
Jujur saja aku penasaran dengan apa yang terjadi antara sang Letnan dan Rey karena sekembalinya ke ruang UGD sang Letnan terlihat tenang seperti biasanya dan tak menceritakan apapun tentang kejadian dengan Rey.
“Tidak bisa dikatakan berantem sih, itu kaya pemegang sabuk hitam lawan anak TK.”
“Tapi Mas Yudha tidak terlukakan?”
“Kapten bahkan tak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk membuatnya menangis minta ampun.”
“Tukul nangis?” aku bertanya tak percaya.
“Tukul?” tanya Dirga, dan aku tak perlu menjelaskannya karena Arga akan dengan senang hati menjelaskannya membuat semua orang tertawa.
“Gimana gak nangis, bisa kamu bayangkan kamu tengkurep di atas beton, punggung kamu diinjak dengan tangan dipelintir ke belakang hampir saja copot kalau saja aku tak cepat-cepat menarik Kapten… sekarang aku tahu kenapa dia bisa terpilih menjadi pasukan khusus, dia melakukan itu hanya dalam waktu seper sekian detik saja.”
__ADS_1
Mas Juang menggelengkan kepala seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat tadi.
“Saat aku sampai di belakang RS, mereka masih berbicara walaupun ku lihat Kapten sudah murka dan si Tukul sudah pucat, tapi tuh orang masih saja sombong dia bilang Bapaknya gak bakalan tinggal diam dan akan menuntut Kapten kalau sampai dia terluka, mendengar itu Kapten langsung menjatuhkannya tanpa banyak bicara, membuat si Tukul berteriak minta ampun sambil menangis.”
Mas Juang tertawa, aku bisa melihat rasa bangga di dalam sorot matanya begitu juga dengan yang lainnya, tapi berbeda denganku yang merasa ketakutan ketika menyadari sesuatu.
“Bagaimana kalau dia benar-benar menuntut Mas Yudha? Bapaknya itu bukan orang sembarangan pasti punya cukup pengaruh di sini.”
Semua orang menatapku yang terlihat khawatir, tapi kemudian mereka tersenyum.
“Tidak usah khawatir, kita sudah mengurusnya dan itu tidak akan terjadi,” jawab Mas Juang yang mendapat anggukan dari Arga.
“Beneran?”
“Iya, pokoknya sudah tenang saja.” Mas Juang berkata sambil tersenyum menenangkan membuatku memutuskan untuk memercayai mereka.
“Sudah, kamu tenang aja gak usah mikir masalah ini biar kita-kita yang urus, kamu istirahat saja,” ucap Arga membuatku menatapnya kemudian mengangguk mengerti.
Tak lama kemudian sang Letnan datang dengan membawa tas berisi makanan buat semuanya juga baju ganti buat dia, katanya malam ini dia yang akan menemaniku! Ok, jantung berhentilah berdetak menggila, kau harus istirahat!
Tapi sampai larut malam kami tak diberi kesempatan berdua, karena sampai aku tertidurpun mereka masih saja ngobrol di dalam kamar inapku. Sampai akhirnya aku terbangun hampir subuh dan suasana sudah sepi. Aku melihat sang Letnan tertidur dengan posisi terlentang di atas sofa dengan tangan dilipat di atas dada, dia terlihat sangat damai dalam tidurnya.
Pria itu yang mengenalkanku akan rasanya dicintai dan mencintai dengan sangat dalam, dia juga yang mengenalkanku akan rasa rindu dan penantian yang terasa menyesakan membakar dada, dan dia juga yang mengenalkanku akan sakitnya dikhianati dan putus cinta.
Tapi kini dia berada di sampingku sebagai teman yang bisa diandalkan dan juga penjaga hatiku seperti yang dia janjikan bahkan ketika aku telah membuatnya terluka sekalipun. Aku tak tahu perasaannya saat ini, apa masih ada rasa cinta tersisa untukku atau hanya menganggapku benar-benar teman seperti halnya Arga, atau adik seperti kedua Kakakku?
****
“Aaa…!”
Aku membuka mulutku dan langsung mengunyah makanan RS yang entah kenapa terasa sangat enak saat ini, dan tebak siapa yang sedang menyuapiku makan sekarang? Iya sang Letnan! Tapi ini bukan kemauanku sendiri, dia yang memaksa karena kan tangan kananku retak terus keseleo juga, jadi kebayangkan sakitnya seperti apa? Jadi karena itulah sang Letnan langsung mengambil alih piring dan sendok ketika melihat aku kesulitan makan.
“Mas Yudha nanti sarapan juga ya.”
“Iya gampang… aaa!”
“Dulu pas nungguin Widy, Mas Yudha suapin dia juga?”
“Tangannyakan gak luka, jadi dia bisa makan sendiri.”
Diam-diam aku tersenyum, kemudian ingat sesuatu.
“Waktu Arga nungguin aku sakit juga, dia gak nyuapin aku kok!” aku berkata dengan serius, tak ingin dia salah paham. Dan kenapa aku takut dia salah paham? Aaahh... seharusnya aku diam saja!
“Ya iyalah, masa thypus minta disuapin,” ucap sang Letnan sambil tersenyum lalu kembali menyuapiku sampai habis.
__ADS_1
“Key.”
“Hmmm.”
“Si Tukul sering kaya gini?”
“Tidak, aku baru tahu kalau ternyata dia seperti ini, aku tahu dia pencemburu tapi biasanya hanya marah biasa terus minta maaf, tapi sekarang aku tak tahu kenapa bisa sampai seperti ini.”
Sang Letnan mengangguk mengerti.
“Apa dia sering cemburu karena hal-hal sepele?”
“Hmm...” aku berpikir mencoba mengingat-ingat kemudian mengangguk.
“Iya benar! Pernah waktu kita jalan ada cowok yang tak sengaja ngelihatin aku, terus dia marah-marah gak jelas gitu tapi dia marahnya sama cowok itu sampai berantem lho, Mas.”
Aku bisa melihat sang Letnan terdiam terlihat berpikir sebelum akhirnya dia kembali menatapku dengan serius.
“Tapi dia tak pernah mukul kamu-kan?”
“Enggalah, kalau dia berani mukul mah sudah aku laporin polisi.”
Sang Letnan mengangguk.
“Paling ya marah-marahnya kaya gitu, dia pernah nyuruh aku gak pakai baju yang terbuka padahal Mas Yudha tahu sendiri mana pernah aku pergi keluar pakai baju terbuka, apalagi di Jepang dingin banget yang ada aku jaketan terus.”
Sang Letnan kembali mengangguk mengerti.
“Aku sudah pastikan dia tak akan menghubungimu lagi, tapi kalau dia nekat menghubungimu, kasih tahu kami, ok?”
Aku mengangguk mengerti.
“Lagian aku juga tak mau ketemu dia lagi, harusnya aku dengar kata-kata Mas Yudha dari awal kalau dia bukan cowok baik-baik bukannya malah jadi marah sama Mas Yudha.” Aku tertunduk malu dengan sikapku selama ini yang terlalu keras kepala dan tak mendengarkan ucapannya.
“Ya, namanya juga lagi jatuh cinta jadi wajar saja kalau gak mau dengarin.”
Sang Letnan berkata dengan senyum di wajahnya sambil menaruh piring yang sudah kosong dan sekarang menyodorkanku segelas air putih.
“Tapi untung saja aslinya dia ketahuan sekarang dan di sini, bukan di Jepang ataupun nanti setelah hubungan kalian terlalu jauh. Aku tak bisa bayangkan kalau dia seperti ini saat kamu tidak ada di dekat kami, Key, atau kalau kamu sudah menjadi istrinya… aku bisa gila walau hanya membayangkannya saja.”
Aku menatap sang Letnan yang terlihat marah hanya dengan membayangkan hal itu, membuatku menggenggam tangannya dengan tangan kiriku.
“Jangan bayangkan itu, karena itu tidak akan terjadi! Aku tak akan nikah dengannya dan tak akan lagi pergi jauh dari sisi Mas Yudha… bukankah Mas Yudha sudah janji untuk menjadi penjaga hatiku? Maka tepati janji itu, sampai Mas Yudha bisa menemukan pria yang Mas Yudha percayai untuk menjagaku maka Mas Yudha harus tetap di sampingku walau apapun yang terjadi, walau aku terlalu keras kepala tapi Mas Yudha jangan sampai menyerah denganku, paham?!”
Sang Letnan tersenyum lalu menggenggam tanganku dengan kedua tangannya sambil berkata dengan mantap, “Paham.”
__ADS_1
Aku tersenyum tenang karena tahu dia akan tetap disampingku… sesungguhnya aku memang memerlukannya tetap di sampingku bukan sebagai penjaga hatiku, tapi aku memerlukannya di sampingku lebih untuk meyakinkah diriku sendiri, meyakinkan hatiku tentang perasaanku sesungguhnya.
****