PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 14, First Date (End)


__ADS_3

Sesampainya di Mall XXI yang dituju, Shaka dan Besty kemudian menuju tempat parkir sepeda motor yang berada di basement untuk memarkirkan motor yang dikendarainya itu. Selanjutnya Shaka dan Besty pergi menuju ke lobby mall yang berada di lantai satu. Pada saat memasuki lobby, banyak cowok yang memandang Besty. Mereka terkesima dengan Besty yang cantik dan fashionable.


"Cantik banget cewek itu." kata seorang cowok kepada temannya.


"Udah cantik, seksi lagi." ujar seorang cowok yang lainnya.


Besty yang mendengar kata - kata tersebut hanya bisa menunduk tersipu malu.


Setelah menyadari hal tersebut, Shaka kemudian melihat Besty dan menggenggam erat tangan Besty, seolah - olah tidak ingin melepaskan genggaman tangannya. Besty hanya tersenyum tersipu malu sambil mengikuti langkah Shaka menuju elevator yang akan membawa mereka ke lantai dua.


"Kenapa senyum - senyum sendiri?" kata Shaka


"Engga, cuma agak malu aja." kata Besty.


"Ngapain malu? belum pernah digandeng cowok ganteng?" ujar Shaka sambil tersenyum.


"Belum sihhh, tapi..."kata Besty menghentikan kata-katanya.


"Tapi kenapa?" tanya Shaka.


"Tapi kalau digandeng sama yang lebih superrr ganteng, itu baru sering." kata Besty sambil tertawa.


"Ya udah kalau gitu, aku gandeng terus aja sampai pulang, biar pernah." kata Shaka.


Besty pun tertawa mendengar kelakar Shaka.


Kemudian mereka naik elevator yang menuju ke lantai dua.


"Kamu pasti cemburu kan mendengar kata- kata dari cowok-cowok tadi?" kata Besty.


"Engga, biasa aja."ucap Shaka.


Besty kemudian tersenyum sambil berkata :


"Kamu pernah cemburu engga?" tanya Besty.


"Pernah." kata Shaka


"Kapan?" tanya Besty


"Mau tahu apa mau tahu banget?" kata Shaka


"Engga, biasa aja." kata Besty sambil cemberut.


"Ya udah, nanti kalau mau tahu bilang ya." goda Shaka.

__ADS_1


"Engga akan bilang." kata Besty sambil memalingkan pandangannya dari Shaka.


Shaka hanya bisa tertawa sendiri melihat tingkah Besty. Ia kemudian mengusap rambut Besty sambil terus menaiki elevator yang terus berjalan untuk membawa mereka menuju ke lantai dua.


Sesampainya di lantai dua, Shaka dan Besty kemudian menuju area XXI yang berada di pojok sebelah kanan Mall.


"Tunggu sebentar ya, kamu duduk di sini. " kata Shaka setelah mereka memasuki lobby XXI.


"Aku beli tiket dulu." ucap Shaka sambil pergi menuju ke arah loket tiket.


Sembari menunggu antrian, Shaka sesekali melihat ke arah Besty. Dia melihat Besty yang juga melihat ke arah Shaka sambil tersenyum.


Setelah tiba gilirannya, Shaka maju ke depan dan memesan film serta tempat duduk yang diinginkannya. Pada saat Shaka menyodorkan uang untuk membayar tiket tersebut, tiba-tiba ada tangan yang juga menyodorkan uang pecahan seratus ribu ke arah kasir. Sontak Shaka kaget dan melihat Besty sudah berada di sampingnya.


"Pakai uang ini aja." kata Besty kepada kasirnya.


Melihat hal tersebut, Shaka tidak tinggal diam. Shaka kemudian memegang tangan kanan Besty dengan tangan kirinya dan kemudian menggandengnya erat di samping badannya. Sementara tangan kanan Shaka tetap menyodorkan uang sebesar dua pecahan lima puluh ribu kepada kasir.


Kasir yang tadi terlihat bingung akhirnya mengambil uang dari tangan Shaka.


Kemudian Shaka berbisik lirih di telinga Besty.


"Kalau mau digandeng, bilang aja. Engga perlu bayar di kasir."


" Engga kog." kata Besty sambil tersenyum.


"Kita mau nonton apa sekarang?" kata Besty.


"I still believe." kata Shaka sambil menggandeng Besty memasuki studio teater.


Setelah menemukan tempat duduk yang dipesannya, kemudian mereka duduk.


"Nih film tentang apaan?" tanya Besty.


"Aku belum pernah nonton, tapi yang aku baca sekilas, film ini mengisahkan bahwa akan ada sebuah harapan bagi orang yang mempercainya."jawab Shaka.


"Kayaknya bagus." kata Besty.


"Ehhh, Shak. Tapi aku belum beli apa-apa tadi. Kamu mau popcorn dan soda engga?" lanjutnya.


"Engga, nanti saja." kata Shaka.


"Aku mau ngajak kamu ke sesuatu tempat. Yang pastinya tempatnya asyik." kata Shaka.


"iya deh. Aku ikut aja." kata Besty semangat.

__ADS_1


"Tapi kalau terlalu malam, besok aja aku ajak ke sana. Engga enak sama Bik Imah. Takut engga dikasih bekal lagi." kata Shaka sambil mengedipkan matanya.


"ihhh, dasar." kata Besty sambil tersenyum.


Akhirnya mereka menonton film tersebut sambil bergandengan tangan. Alur cerita yang sedih membuat mata Besty berkaca-kaca dan akhirnya menitikkan air matanya. Shaka hanya bisa tersenyum geli melihat Besty menangis. Ia tambah yakin bahwa sebenarnya ia merupakan gadis yang perasa dan lemah lembut. Mungkin karena trauma yang dialaminya tersebut menjadikan Besty sebagai gadis yang keras hati, pikir Shaka. Shaka kemudian melepaskan genggaman tangannya. Ia menegakkan sandaran tangannya dan kemudian merangkul bahunya serta mengusap kepalanya. Besty melihat ke arah Shaka yang sedang tersenyum kepadanya dan kemudian ia meletakkan kepalanya di bahu Shaka. Shaka terus memeluk dan mengusap rambut Besty sampai film tersebut berakhir.


Shaka kemudian menggandenng Besty keluar dari studio teater. Shaka melihat handphonenya yang menunjukkan pukul 9.30 malam.


"Udah jam 9.30 malam, yukk kita pulang." kata Shaka.


"Lain kali aku akan ajak kamu ke tempat itu." lanjutnya.


Mendengar kata Shaka tersebut, Besty terdiam sejenak. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Malam, Bik." kata Besty.


"Bibik tidur aja dulu. Aku bentar lagi pulang."


"Paling sejam lagi pulang,Bik."


"Iya, Bik. Aku udah bawa kunci rumah kog. Makasih ya, Bik." lanjut Besty.


Besty kemudian menutup telponnya dan kemudian ia melihat Shaka seraya berkata :


Taa..rahhh, masalah sudah selesai. yukk kita pergi." kata Besty ceria.


Shaka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Besty. Akhirnya dengan terus menggandeng tangan Besty, ia pergi ke menuju tempat parkir motor dan setelah itu pergi meninggalkan mall tersebut.


"Kita mau kemana, Shak?" kata Besty ketika motor Shaka keluar pergi meninggalkan Mall tersebut.


"Surprise." kata Shaka singkat sambil tersenyum.


"Awas kalau engga asyik ya." kata Besty sambil memeluk tubuh Shaka dari belakang dengan erat.


Sepanjang perjalanan, Besty memeluk dan menyadarkan kepalanya di punggung Shaka. Ia merasa nyaman dan tenang berada di punggung Shaka. Ia juga merasa senang dan bahagia bisa keluar untuk ngedate dengan Shaka. Melupakan sejenak luka yang ada di hatinya dan meredam rasa sakit yang pernah dialami dalam masa lalunya. Ia kemudian terdiam sesaat untuk berpikir dan setelah itu ia berkata :


"Aku ingin mengatakan sesuatu, Shak." kata Besty.


"Apa, cantik?" kata Shaka.


" Nanti setelah kita sampai di tempat itu." kata Besty.


"Baiklah." kata Shaka.


****

__ADS_1


Sementara itu, di tempat yang lain, Sherly duduk di ranjangnya dan memandang ponsel yang berada di depannya. Ia tampak kelihatan ragu-ragu untuk mengambil ponselnya tersebut. Ingin sekali rasanya ia menelpon Shaka dan menanyakan tentang kebenaran atas kabar yang diterimanya itu. Ia ingin sekali mendengar jawaban dari mulut Shaka sendiri atas kabar tersebut. Namun ia hanya diam membisu dan bingung tidak tahu harus berbuat apa. Hanya rasa kosong dan perih yang menemaninya malam itu.


__ADS_2