
Keesokan harinya, Shaka bersiap untuk berangkat sekolah. Saat berpamitan, ayahnya menghentikan langkahnya dengan menanyakan sesuatu kepadanya.
"Shak, ayah dengar kamu latihan kemarin. Apa kamu mau ikut kejuaraan?" Tanya ayahnya.
Shaka tersenyum sambil mengangguk.
"Iya, yah. Shaka akan ikut." Jawabnya.
"Syukur kepada Tuhan, ayah sangat senang, Nak." Kata ayahnya.
"Ayah senang kamu ikut kejuaraan lagi, Shak." lanjut ayahnya.
Shaka tersenyum mendengar kata-kata ayahnya. Shaka tahu bahwa ayahnya sangat senang ia mengikuti kejuaraan. Bukan soal uang atau prestige yang di dapat, tapi lebih ke arah perwujudan cita-cita ayahnya yang tidak kesampaian. Shaka masih teringat jelas bagaimana ayahnya dulu bercerita bahwa kakek Shaka melarang ayahnya untuk ikut kejuaraan Taekwondo walaupun ayahnya sangat menginginkannya. Ayahnya bercerita bahwa kakeknya tidak mau terjadi kenapa-napa dengan ayahnya karena ayahnya adalah satu-satunya anak yang dimiliki oleh kakeknya. Oleh karena itu, kakeknya melarang ayahnya untuk mengikuti kegiatan yang berbau-bau kekerasan. Kakeknya hanya ingin anak tunggalnya ini menjadi anak yang biasa saja dan hidup biasa saja, jauh dari hiruk pikuk dunia persilatan. Boleh belajar Taekwondo, tapi tidak boleh ikut kejuaraan. Engga seru, kata ayahnya ke Shaka.
Shaka tersenyum saat teringat cerita ayahnya itu. Sehingga ketika Shaka memutuskan untuk mengikuti jejak ayahnya di dunia Taekwondo dan mengikuti berbagai pertandingan, ayahnya sangat senang dan bangga dengan Shaka. Ia sangat mendukung dan mensupport Shaka untuk meneruskan keinginan ayahnya yang tidak bisa terwujud di masa mudanya.
"Terus siapa pelatihmu, Shak?" Ucap ayah membuyarkan lamunan Shaka.
"Pak Bram, yah." Kata Shaka sambil tersenyum.
"Haaa, Pak Bram??? Kata ayah sambil terkejut.
"Iya, yah. Mulai sore ini, Shaka akan latihan." Jawab Shaka.
"Hebattt, anak ayah. Ayah yakin Pak Bram akan membimbingmu dengan cara yang tidak biasa." Kata ayah.
" Ayah yakin itu." Kata Ayah.
Ibu kemudian ikut menimpali obrolan pagi antara ayah dan anak tersebut.
"Apa kamu siap, Shak?" Tanya Ibu.
"Bentar lagi kamu kan ujian akhir. Kalau engga siap, engga usah saja. Daripada nanti kamu yang kewalahan sendiri." Tutur ibunya.
Shaka tersenyum mendengar kata-kata ibunya.
"Shaka mampu kog, bu. Mudah-mudahan tidak ada halangan. " Kata Shaka.
"Ya sudah kalau begitu, yang penting jaga dirimu. Jangan sampai sakit dan gagal kedua-duanya." Ujar ibunya.
__ADS_1
"Iya, bu. Terima kasih." Jawab Shaka.
"Apa ada yang bisa ayah lakukan, Shak?" Tanya ayahnya sambil mengedipkan matanya.
"Tidak ada, yah. Saya minta doa ayah dan ibu saja." Kata Shaka sambil tersenyum.
Ayahnya tersenyum mendengar jawaban anaknya itu. Ia merasa beruntung punya anak seperti Shaka yang sopan dan mandiri.
Setelah itu Shaka mencium tangan ayah dan ibunya dan lalu melangkah pergi. Seperti biasa, Shaka mengendarai motornya menuju ke rumah Besty untuk menjemputnya. Sesampainya di sana, Shaka melihat Besty sudah menunggunya di depan rumahnya. Saat melihat Shaka datang, Besty kemudian menghampiri Shaka.
"Kamu buat aku khawatir aja semalam. Kirain kenapa-kenapa." Kata Besty sambil cemberut.
"Syukur kamu kirim pesan, kalau engga, aku akan datang ke rumahmu." ucap Besty.
Shaka tersenyum sambil memakaikan helm di kepala Besty.
"Emang mau ngapain ke rumahku?" Kata Shaka.
"Ya, mencari kamu lah. Aku takut kamu kenapa-napa." sahut Besty sambil bersiap untuk naik di motor Shaka.
"Aku minta maaf, cantik." Kata Shaka sambil tersenyum.
Setelah Besty naik, Shaka kemudian mengemudikan kendaraannya menuju ke sekolah.
"Kamu harus ke rumah sabtu nanti ya." Ucap Besty.
"Emang ada acara apa, cantik?" Sahut Shaka pura-pura lupa sambil tersenyum.
"Masa kamu engga tahu sih? Ooohhh ya udah, engga usah datang dan engga perlu datang." Sahut Besty dengan muka cemberut.
Shaka tertawa mendengar kata-kata Besty yang terlihat kesal.
"Iya, aku pasti datang." Kata Shaka sambil tertawa.
"Emang ada acara apa?" Tanya Besty dengan mimik yang masih cemberut.
" Bidadari ulang tahun." Kata Shaka sambil membetulkan spionnya untuk melihat wajah Besty.
Besty yang melihat Shaka sedang melihatnya dari kaca spion kemudian menutup wajahnya dengan bersembunyi di punggung Shaka.
__ADS_1
Shaka tersenyum melihat tingkah Besty.
"Enak banget jadi kamu." Kata Shaka.
"Enak kenapa?" Tanya Besty dengan heran.
"Kalau mau lihat bidadari, tinggal ngaca aja." Ucap Shaka sambil melihat Besty di kaca spionnya.
Shaka melihat Besty tersenyum malu-malu mendengar rayuan Shaka.
"Udah, pagi-pagi jangan gombal. Engga baik untuk kesehatan." Kata Besty sambil tertawa.
Shaka pun tertawa mendengar ucapan Besty tersebut.
Sesampainya di sekolah, Shaka memarkirkan motornya dan kemudian melepaskan helm dari kepala Besty.
"Sampai ketemu pas pulang ya." Kata Besty meninggalkan Shaka sambil melambaikan tangannya ke arah Shaka.
Shaka pun membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan juga ke arah Besty. Lalu ia pergi melangkah menuju ke kelasnya. Saat bertemu dengan Bobi, Shaka kemudian datang menghampirinya. Ia menanyakan tentang kejadian kemarin di rumah Sherly. Sebenarnya Bobi enggan menceritakannnya. Namun Shaka berhasil membujuknya hingga mau menceritakan kejadian tersebut. Sepanjang hari itu di sekolah, Shaka dan Bobi banyak berbicara tentang Sherly. Shaka kemudian banyak memberikan saran dan masukan tentang apa yang harus Bobi lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan Sherly. Bobi banyak diam sambil mendengarkan kata-kata Shaka. Ia menghela nafas dan menyadari kesalahannya. Hingga tak terasa Bel pulang sekolah berbunyi dan memaksa mereka untuk pulang.
"Kamu jadi engga ikut kejuaraan, Shak?" Tanya Bobi saat Shaka mau meninggalkan bangkunya.
"Aku pikir-pikir dulu, Bob." Kata Shaka sambil tersenyum. Ia ingin memberikan kejutan kepada Bobi nantinya.
"Kamu ikut engga?" Tanya Shaka.
"Iya aku ikut, Shak. Aku harap kita bisa bertemu di kejuaraan nanti." Kata Bobi sambil menghela nafasnya.
"Tapi btw, kalau kamu berubah pikiran, kamu tahu kan cara registrasinya? Cukup kamu hubungi CP (Contact Person) yang ada di poster invitasi ini." Kata Bobi sambil menyodorkan posternya ke Shaka.
Shaka tersenyum dan kemudian mengambil poster yang ada di tangan Bobi.
"Ok, nanti aku pikirkan. Terima kasih, Bob." Jawab Shaka sambil melangkah keluar dari kelasnya.
Shaka kemudian menuju ke kelas Besty. Ia sengaja melewati kelas Sherly untuk bertemu dengan Sherly. Namun sayang, ia tidak menemukannya. Ia kemudian masuk ke kelasnya dan bertemu dengan teman sebangkunya.
"Ia tidak masuk hari ini, Shak. Sakit." Kata Nina, teman sebangku Sherly.
Shaka kemudian melangkah keluar dari kelas Sherly. Ia mengeluarkan ponselnya yang berada di kantong samping celananya. Ia kemudian mencoba menghubungi ponsel Sherly, namun nomer Sherly tidak aktif. Ia berkali-kali menghubungi Sherly, namun tetap saja, ponselnya tidak aktif.
__ADS_1