PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 22, Luka Lama (End)


__ADS_3

"Shak, aku sebagai temanmu tidak mau kamu dibilang pengecut." kata Bobi.


"Aku juga engga mau kamu terus dikucilkan sama teman-teman." lanjutnya.


Sherly yang sangat geram mendengar itu langsung berkata :


"Aku mau kamu ikut bertanding, Shak. Kamu harus tunjukkan siapa diri kamu sebenarnya." sungut Sherly.


"Iya, Shak. Aku mau kamu ikut." kata Bobi.


"Tapi gimana caranya ikut? Dia kan engga punya pelatih?" tanya Sherly.


"Dia kan sudah dikeluarkan dari Tim Taekwondo sekolah kita." gerutu Sherly.


Bobi diam sesaat sambil mangut-mangut.


"Nanti aku carikan referensi deh." kata Bobi.


"Engga usah, Bob. Makasih. Aku engga akan ikut bertanding." kata Shaka yang dari tadi hanya diam.


Ia kemudian meletakkan poster invitasi tersebut di atas meja.


Sherly dan Bobi langsung memandang ke arah Shaka secara bersamaan. Mereka kaget dengan jawaban Shaka tersebut.


"Biarkan orang lain menganggap aku pengecut. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin jalani hidupku yang sekarang." kata Shaka.


"Tapi, Shak..."kata Sherly.


Shaka memandang Sherly sambil tersenyum.


" Engga apa-apa, Sher." kata Shaka.


"Yang penting, kalian bersamaku aja, itu udah cukup." imbuhnya.


"Bener cukup bertiga, terus Besty gimana?" celetuk Bobi tiba-tiba.

__ADS_1


Sontak Shaka dan Sherly langsung memandang ke arah Bobi. Bobi celingak-celinguk ke arah Shaka dan Sherly sambil memamerkan wajahnya yang nampak tidak bersalah. Shaka berusaha memberikan isyarat kepada Bobi dengan cara menggeleng-gelengkan kepala. Sedangkan Sherly menatap Bobi tajam dan kemudian menundukkan wajahnya. Bobi yang bermaksud bergurau menjadi salah tingkah. Ia lupa pesan Shaka dulu waktu di kelas untuk tidak membahas Besty di depan Sherly. Akhirnya Bobi meminta maaf kepada mereka berdua.


"Maafff, cuma bercanda." kata Bobi sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.


Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba seorang gadis datang masuk ke Cafe tersebut dan menghampiri mereka. Bobi dan Sherly terkejut ketika melihat Tari berdiri di depan mereka.


"Hai, selamat sore." sapa Tari.


"Sore, Tari." kata Shaka.


Sementara Bobi dan Sherly hanya bisa diam memandangi Tari. Mereka tidak membalas sapaan Tari. Sherly diam karena ia paham benar antara hubungan Shaka dan Tari di masa lalu. Sherly tahu betul bagaimana Tari mempermainkan Shaka sehingga membuat Shaka terluka dan berubah. Sehingga ia amat benci kepada Tari dan tidak ingin menyapanya. Sedangkan Bobi diam karena ia tidak menyangka Tari datang kembali untuk sekian lamanya. Ia tidak begitu paham apa yang terjadi antara Shaka dan Tari di waktu lampau. Ia hanya mengetahui bahwa Shaka dulu jatuh hati kepada Tari. Namun Tari pergi menjauh dari kehidupan Shaka. Dia diam karena otaknya sedang mengira-ngira gerangan apa yang membuat Tari datang ke sini. Mau ngapain lagi dia ke sini ya? pikir Bobi dalam hati.


Tari yang menyadari dirinya dicuekin oleh Sherly dan Bobi langsung berdehem dan berkata :


"Ehemmm, Katanya kamu mau ngomong sesuatu, Shak?" tanya Tari yang kontan membuat Sherly dan Bobi memandang ke arah Shaka.


Shaka yang menyadari hal tersebut mencoba bersikap tenang dan kemudian berkata :


"Maaf, teman-teman. Aku tinggal ke meja sebelah sebentar."


Kemudian Shaka dan Tari duduk di meja yang berada di agak tengah ruangan. Bobi memandang wajah Sherly yang melihat Tari dengan sorot mata penuh kebencian. Ingin rasanya Sherly bangkit dari tempat duduknya untuk menarik Shaka keluar dari ruangan ini. Tapi perasaan hatinya mengatakan bahwa Shaka pasti punya alasan khusus untuk bertemu dengan Tari dengan mengajak mereka bertiga


Setelah Shaka dan Tari pergi ke meja yang dituju, mereka menarik kursi dan duduk saling berhadap-hadapan. Kemudian Shaka membuka kalimat dengan :


"Kamu mau pesan apa?"


"Apa aja boleh, yang penting sama kamu." jawab Tari.


Shaka hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata Tari. Tari masih saja seperti yang dulu, suka membual, pikir Shaka.


Shaka kemudian memesan hot chocolate untuk Tari. Sembari menanti minuman yang dipesan, Shaka mencoba mengobrol santai dengan Tari.


Tak terasa, mendung memayungi langit dan rintik hujan membasahi kota Malang. Hawa dingin menyelimuti suasana di Cafe itu. Menambah bekunya suasana hati Sherly yang dari tadi diam sambil memandangi Shaka dan Tari.


Bobi mencoba mencairkan suasana dengan mengajaknya berbincang santai. Namun Sherly hanya menjawab dengan sekedarnya sambil tetap melihat ke arah Shaka. Bobi akhirnya menyerah dengan keadaan ini dan memilih hubungan antara Shaka dan Sherly sebagai topik pembicaraannya. Topik yang membuat Sherly secara otomatis kini berbalik memandang Bobi dengan perasaan yang tajam dan siap menggelontorkan semua bara api yang ada di dalam dirinya itu.

__ADS_1


Sementara itu, setelah suasana dirasa sudah enak, Shaka mulai bicara dengan mimik yang serius.


"Tari, terima kasih kamu sudah mengungkapkan sebuah perasaanmu dan memilihku untuk menjadi bagian terpenting dalam hidupmu." kata Shaka.


"Jujur, dulu aku juga memiliki perasaan itu di dalam hatiku. Tapi tatkala kamu mempermainkan dan menolakku, aku menyadari bahwa perasaan itu adalah salah dan bukan pada tempatnya." lanjut Shaka.


Shaka berbicara dengan tegas dalam nada kata-katanya. Ia sengaja melakukannya agar Tari tidak melihat celah yang nantinya memberi peluang harapan untuk menyukai Shaka lagi.


Tari menghela nafas dengan berat. Ia memandang Shaka dengan mata yang sembab.


"Aku minta maaf, Shak. Aku janji tidak akan mempermainkanmu. Aku janji tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang dulu. Aku mencintaimu, Shak." kata Tari dengan terisak.


"Tari, maaf aku tidak bisa menjadi bagian dari hatimu. Aku sudah mempunyai seseorang yang aku cintai dengan setulus hatiku. Dan aku tidak akan pernah meninggalkannya. " kata Shaka.


"Tapi aku sangat mencintaimu, Shaka. Aku tidak ingin kehilanganmu. " kata Tari sambil menangis.


"Tari, kamu tidak mencintaiku. Tapi terobsesi denganku karena trauma masa lalumu. Kamu takut kamu akan kesepian, karena orang yang kamu cintai telah meninggalkan kamu." kata Shaka.


"Tidak, Shak. Aku butuh kamu dan aku tidak mau kehilanganmu." kata Tari.


"Sadarlah, Tari. Kamu tidak bisa memaksakan keinginanmu. Kamu tidak juga tidak bisa menuntut orang lain untuk menuruti kehendakmu. Aku tidak bisa, Tari." kata Shaka.


"Gubrakkkk...!!!


Shaka mendengar suara meja digebrak. Shaka dan Tari menoleh ke arah meja tersebut. Mereka melihat Sherly sedang memandang Bobi dengan mata yang merah karena menahan amarah. Mereka juga melihat Sherly merapikan tas yang ada di meja tersebut. Sherly kemudian berdiri dan meninggalkan Bobi sendirian di meja itu. Sherly berjalan melewati meja Shaka dan menuju ke pintu keluar. Shaka kemudian memandang Bobi yang hanya bisa diam sambil mengangkat bahunya.


Shaka kemudian berdiri dari kursinya dan mencoba mengejar Sherly. Ketika sampai di depan pintu keluar Cafe, Shaka melihat Sherly sudah masuk ke dalam taksi dan pergi meninggalkan Cafe tersebut dalam guyuran hujan.


Shaka kembali ke dalam Cafe dan kemudian mengajak Bobi keluar. Sebelum keluar dari Cafe, Shaka berhenti sebentar di meja Tari dan berkata :


" Maaf Tari, aku masih punya urusan lain. Aku minta, tolong kamu jangan hubungi aku lagi. Karena aku tidak ingin berhubungan dengan kamu lagi."


"Aku sudah menutup luka lamaku dan membuang semua kenangan tentangmu jauh-jauh dari diriku."


"Aku yakin kamu sudah dewasa untuk menerima kenyataan hidup yang terjadi. Berdamailah dengan masa lalumu dan jalanilah hidupmu dengan baik." tambahnya.

__ADS_1


Kemudian Shaka dan Bobi pergi ke cashier untuk membayar bill orderan mereka semua dan setelah itu pergi meninggalkan Tari yang sedang menangis seorang diri di Cafe tersebut.


__ADS_2