PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 8, Beri Sedikit Waktu


__ADS_3

Hari demi hari, tak terasa sudah sebulan lamanya, Shaka mengantar jemput Besty ke sekolah. Ia bangun lebih awal untuk menyiapkan semuanya. Mulai membersihkan motornya terlebih dahulu sampai menyiapkan dirinya agar tampil lebih rapi dan wangi. Ia tidak mau terkesan kotor dan jorok di depan Besty. Ia berusaha sebisa mungkin membuat Besty merasa nyaman saat berada di dekatnya.


Banyak perubahan dalam diri Shaka semenjak ia dekat dengan Besty yang membuat ayah dan ibunya kaget. Mereka tidak menyangka bahwa Shaka sekarang sudah banyak berubah. Shaka sekarang tampil lebih maskulin dan rapi. Selain itu, sekarang ia lebih memilih menaiki motornya daripada naik angkot seperti dulu. Dan yang lebih mengherankan lagi, Shaka sekarang lebih banyak tersenyum dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan beraktivitas di luar kamar. Berbicara dan bercanda hangat dengan keluarganya, terutama dengan Rama, adiknya.


Di mata orang tuanya, Shaka sekarang terkesan jauh lebih terbuka dan dewasa daripada sebelumnya. Namun ayah dan ibunya sepakat untuk tidak menanyakannya ke Shaka. Hal itu mereka lakukan agar Shaka tidak merasa malu dan canggung di depan ayah dan ibunya seperti dulu. Ayah dan ibunya hanya bisa tersenyum melihat perubahan Shaka. Bersyukur karena Shaka sekarang jauh lebih baik dan bersemangat daripada yang dulu.


Para siswa di sekolah Shaka pun perlahan - lahan mengetahui bahwa Shaka mengantar jemput Besty setiap hari. Rasa kaget dan penasaran menyelimuti pikiran mereka semua, tak terkecuali Sherly dan Bobi. Bobi hanya terbelalak dan bengong mendengar kabar itu. Memberondongnya berbagai pertanyaan tentang bagaimana cara menaklukkan "singa betina " itu. Selain itu, Bobi juga meminta Shaka untuk mengajari trik bagaimana Shaka bisa merubah gadis itu selama ini? Membuatnya semakin cantik dan menebarkan senyumnya yang indah setiap hari. Jauh dari kesan garang dan liar seperti dulu.


Sedangkan Sherly tak henti - hentinya mendatangi dan menghubungi Shaka. Menghujaninya dengan sejuta pertanyaan atas rasa tak percayanya itu. Bagaimana Shaka bisa tidak memberitahunya tentang hal tersebut? Bagimana Shaka bisa berteman bahkan akrab dengan gadis yang terpilih sebagai " the wild and beast girl" di sekolah mereka? Bahkan bagaimana Shaka bisa - bisanya meluangkan waktu untuk Besty, sedangkan tidak untuk Sherly? Semua pertanyaan dari Bobi dan Sherly tersebut terus menyerangnya setiap saat.


Hingga akhirnya Shaka angkat suara dan menjelaskan apa yang terjadi. Dia hanya bermaksud melindungi Besty dari Joni dan teman - temannya yang berniat menyakiti Besty. Tidak ada niat lain selain itu. Kemudian Shaka meminta kepada Bobi dan Sherly untuk tidak memberitahu siapapun, termasuk Besty. Shaka takut terjadi apa - apa dengan Besty, yang hanya dijawab dengan Bobi dan Sherly dengan anggukan kepala yang malas.


Semakin lama, Shaka dan Besty pun tidak canggung lagi untuk pergi berdua. Mereka sudah terbiasa datang dan pulang sekolah secara bersama - sama. Mereka pun juga tak segan untuk pergi ke kantin bersama. Membuat iri siswa laki - laki yang lainnya dan membuat bengong teman - teman mereka.

__ADS_1


Semakin hari, mereka semakin akrab dan saling mendekat satu sama lain. Saling bersenda gurau dan tertawa bersama. Hingga perlahan - lahan menutupi luka yang ada dalam diri mereka.


Shaka dan Besty pun terlihat nyaman satu sama lain. Shaka tak segan untuk sering tersenyum dan menatap Besty dengan tatapan yang dalam, menusuk jauh ke dalam matanya. Membuat bulu kuduk Besty merinding tidak karuan. Membuat hati dan perasaan Besty bergoyang tak menentu arah.


Lebih lanjut, Shaka sering menggodanya dengan memanggilnya "cantik", yang membuat Besty tersipu malu ketika mendengarnya. Membelai rambut hitamnya ketika Shaka merasa senang dengan tingkah manja Besty. Memegang tangannya saat menyeberangi jalan. Mengusap pipi Besty saat Shaka merasa ia lucu dan imut. Menyandarkan kepala Besty di dadanya kala Besty menangis saat bercerita tentang diri dan keluarganya. Serta melindungi Besty dari serangan rayuan siswa laki - laki lain yang mengincarnya di sekolah. Semuanya itu Shaka lakukan tanpa ada rencana. Mengalir sendiri dalam diri Shaka. Keluar sendiri melalui setiap perkataan dan perbuatan Shaka.


Hingga suatu hari di hari sabtu, ketika dalam perjalanan pulang dari sekolah, Shaka langsung meraih tangan Besty yang ada di belakangnya. Mengaitkan dan melingkarkan tangannya ke perut Shaka. Melalui kaca spion, Shaka melihat Besty terkejut sekaligus kaget dengan perbuatan Shaka. Namun ia hanya bisa diam dan menundukkan kepala karena malu. Melihat hal itu, Shaka hanya tersenyum melihat ekspresi Besty. Ia kemudian memegang tangan Besty yang melingkari perutnya. Memainkan jemarinya dan mengusap lembut lengannya. Besty berusaha menarik tangannya. Namun Shaka memegangnya tambah erat dan tidak mau melepaskannya. Dengan tersenyum, Shaka mengatakan :


" Aku beruntung bisa bertemu denganmu, cantik".


Besty hanya bisa diam sambil menunduk malu. Mencoba menenangkan hatinya yang bingung tak tentu arah. Mencoba mencari tahu tentang rasa yang menyelimuti dirinya. Dan mencoba jujur tentang perasaannya yang sedang ia alami sekarang.


Sesampainya di depan rumah, Besty berdiri mendekati Shaka yang berada di samping motornya. Ia menatap mata Shaka dan kemudian berkata :

__ADS_1


" Shak, jika kamu terus seperti ini maka aku akan salah mengartikan perhatianmu." kata Besty


" Aku akan juga akan salah paham tentang perasaanku kepadamu. Jangan buat bimbang hatiku, Shak. Aku hanya seorang gadis." lanjut Besty.


" Sampai ketemu hari senin, Shak." imbuhnya sambil berpaling dari Shaka dan kemudian masuk ke dalam rumah.


Shaka hanya terdiam saat melihat Besty masuk ke dalam rumah. Setelah Besty hilang dibalik pintu rumah, Shaka kemudian menstater motornya dan pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan, Shaka mencoba merenungi kata - kata Besty tersebut. Mencoba jujur tentang perasaan yang dimilikinya terhadap Besty. Dan mencoba mencari makna Besty yang sebenarnya di dalam hatinya.


***


Di saat malam tiba, Besty terlihat gelisah di tempat tidurnya. Ia berkali - kali melihat ke layar ponselnya. Ia berharap menemukan pesan dari Shaka. Namun sayangnya, tidak ada satupun pesan dari Shaka yang masuk ke ponselnya. Ia kemudian duduk dan memainkan ponselnya. Terbesit hatinya untuk menelpon Shaka. Tapi ia mengurungkannya. Entah kenapa, Ia merasa malu dan canggung terhadap Shaka sekarang. Perasaannya berdebar dan jantungnya berdegup kencang rasanya bila ia dekat dengan Shaka. Namun, Ia merasa nyaman dan bahagia dengan Shaka serta merasa rindu bila tidak ketemu dengannya. Ia hanya bisa menghela nafas dan kemudian kembali berbaring. Memandangi ponselnya sampai ia tertidur.


***

__ADS_1


Sementara itu, di tempat yang lain, Shaka juga tidak bisa tidur. Ia kemudian mengambil ponsel yang ada di atas meja dekat tempat tidurnya. Ia mencari nama yang ada di kontak ponselnya. Ia ingin menelpon Besty dan mendengar suaranya. Ingin rasanya ia berbincang hangat dengan dirinya. Namun ia memutuskan untuk meletakkan ponselnya kembali dan keluar dari kamarnya. Ia duduk di teras belakang rumah sambil memandang bintang - bintang yang menghiasi gelapnya langit. Ia terbayang semua hari - hari yang telah ia lewati bersama dengan Besty. Teringat semua momen yang telah mereka berdua ciptakan selama ini. Serta terlukis semua rasa nyaman dan bahagia kala bersamanya.


Dengan memandangi langit malam itu, Shaka mencoba mengarungi perasaan yang ia rasakan sekarang. Shaka hanya ingin memastikan rasa apa yang hadir dalam hatinya untuk Besty saat ini. Apakah ketulusan cinta atau hanya pelampiasan akibat trauma masa lalu yang dialaminya? Namun satu hal yang pasti, Ia tidak ingin menyakiti Besty dan membuatnya menangis.


__ADS_2