
Shaka merenungkan kembali kata-kata Besty untuk menyuruhnya bertemu langsung dengan Sherly. Ia sebenarnya ingin mengikuti saran Besty tersebut, namun ada perasaan lain yang mendorongnya untuk tetap menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan Sherly. Mungkin lain kali, gumam Shaka dalam hati. Biarlah waktu yang akan menjawabnya, imbuhnya.
Ketika hari menjelang malam, Shaka mendengar suara ponselnya berbunyi. Ada satu pesan dari nomer handphone yang seperti dikenalnya masuk ke dalam ponselnya. Ia meraih ponsel yang terletak di atas meja samping tempat tidurnya itu dan kemudian membuka kotak pesan tersebut. Shaka terkejut saat mengetahui nama si pengirim pesan yang ada di dalamnya. Ia tidak menyangka bahwa ia akan dihubungi lagi oleh gadis yang sudah lama ia kubur dalam-dalam di jauh lubuk hatinya itu.
Tari : "Hi Shaka, gimana kabarnya? Udah lama engga ketemu? Tari."
Shaka kaget dan terdiam sesaat. Ia bingung, mau membalas pesan tersebut atau dibiarkan saja. Tapi ia juga penasaran kenapa Tari menghubungi dirinya. Gerangan apa yang mendorong Tari untuk melakukan hal itu. Akhirnya rasa penasarannyalah yang menang. Shaka kemudian memutuskan untuk membalas pesan Tari tersebut.
Shaka : "Hai Tari, kabarku baik. Gimana kabarnya? Apa ada yang bisa aku bantu?"
Tari : "Kabarku baik, Shaka. Aku hanya ingat kamu aja. Udah lama engga ketemu."
: " Cuma kangen kamu aja."
Shaka diam membaca pesan itu. Terlalu naif rasanya kata-kata Tari tersebut. Setelah memberikan harapan palsu kepada Shaka dan kemudian meninggalkannnya. Kini Tari menghubunginya kembali dan menyatakan rasa kangennya ke Shaka. Shaka kemudian tersenyum dan membalas pesan tersebut.
Shaka : "Kangen kenapa nih?"
Tari tersenyum melihat pesan Shaka, lalu ia membalasnya.
Tari : " Ya, kangen aja. Masa engga boleh kangen sama kamu. Engga tahu kenapa tapi aku selalu keingat terus sama kamu."
: " Aku selalu terbayang- bayang wajahmu di setiap mimpi-mimpiku."
Shaka tersenyum melihat isi pesan Tari. Ia sudah paham dengan gaya bahasa Tari yang selalu memberikan harapan kepada orang lain. Selalu mempermainkan hati dan membuat Ge-er (gedhe rasa) orang yang membacanya. Suatu ciri khas seorang player (playgirl), pikir Shaka. Namun untungnya Shaka sudah belajar semuanya dari Tari di masa lampau. Sehingga Shaka tidak terlalu menanggapi perkataan Tari tersebut.
Shaka : "Sorry Tari, apa sekarang maumu? Apa ada yang bisa aku bantu?"
Tari : "Engga ada, cuma ingin kembali berteman sama kamu."
: " Mungkin ini sangat naif, Shaka. Tapi aku tahu bahwa aku telah melakukan kesalahan terhadapmu dan aku mau minta maaf sama kamu dengan setulus hatiku."
__ADS_1
: "Kamu mau engga maafin aku?"
Shaka : " Lupain aja, Tari. Yang lalu biarlah berlalu."
Tari : " Tapi kamu mau kan berteman denganku?"
Shaka : "Iya, engga apa-apa."
Tari : " Makasih banyak ya, Shak."
: " Aku tahu kamu adalah cowok yang baik dan pengertian. Aku yakin sekarang bahwa pilihanku sudah benar.
Shaka : " iya, sama- sama."
Shaka kemudian meletakkan ponselnya. Ia merasa galau karena Tari kembali hadir ke kehidupannya. Ia merasa membuka luka lamanya kembali yang sudah ia tutup rapat erat-erat di dalam hatinya. Ia tidak mau mengulang kembali masa lalunya. Ia masih terbayang rasa getir dan perih atas kegagalan cinta pertamanya tersebut. Ia juga masih terbayang betapa hancur dirinya pada saat itu. Tidak ada satupun yang bisa membantunya, kecuali dirinya sendiri dan dorongan semangat dari Sherly berupa pesan untuk bisa move on yang ia kirimkan setiap malam, walaupun Shaka jarang sekali membalas pesan Sherly tersebut.
***
Tari mengungkapkan berbagai alasan untuk tetap selalu bersama dengan Shaka. Salah satunya adalah kandasnya hubungan pertunangannya dengan pria lain. Tari menceritakan bahwa sesungguhnya ia amat menyesal telah menolak Shaka demi tunangannya itu. Namun akhirnya pria yang menjadi tunangannya itu malah menjalin hubungan dengan rekan kerjanya. Meninggalkan Tari seorang diri yang jauh darinya. Kini Tari menyesal dan berharap Shaka kembali ke pelukan Tari bagaimanapun caranya.
Shaka bingung jadinya dengan sikap Tari tersebut. Ia sebenarnya ingin sekali membagikan beban hatinya tersebut kepada orang lain. Namun Ia juga bingung harus cerita kepada siapa. Ia tidak mungkin bercerita hal tersebut kepada keluarganya. Ia juga malas cerita ke Bobi karena ia tahu pasti ia akan ditertawakan oleh Bobi. Selain itu, Bobi pasti menyuruhnya untuk menerima cinta Tari dan menganjurkan untuk melakukan double affair. Ia juga enggan menceritakan hal tersebut ke Besty karena ia mengetahui karakter Besty. Jangan sampai ia membangunkan macan betina yang sedang tidur. Jangan sampai karakter Besty yang lembut dan ceria seperti sekarang berubah menjadi keras dan kasar seperti dulu lagi.
Shaka juga tidak mungkin menceritakannya ke Sherly. Karena Sherly sedang menjauhinya. Sherly juga enggan bertemu dengannya. Namun muncul ide iseng Shaka untuk memulihkan hubungannya dengan Sherly kembali. Ia yakin Sherly masih peduli dengannya. Ia tahu bagaimana sifat Sherly yang sebenarnya. Ia kemudian melihat jam dinding di tembok kamarnya yang menunjukkan pukul 6.00 sore. Ia lalu bangun dari tempat tidur dan berganti pakaian. Setelah berpamitan dengan orang tuanya, Shaka pergi dengan mengendarai vespa kesayangannya.
Setibanya di jalan rumah Sherly, Shaka mematikan motornya dan memarkir motornya agak jauh sedikit dari rumah Sherly. Kemudian ia berjalan mendekati rumah Sherly dan mengintip di dekat pagar rumahnya.
Ia melihat rumah Sherly tidak terlalu terang. Hanya teras depan dan ruang tamu rumahnya yang disinari lampu, sementara halaman depan yang dipakai sebagai garasi mobil masih gelap. Hanya samar-samar terlihat akibat cahaya lampu dari teras tersebut.
Shaka melihat tidak ada mobil yang terparkir di garasi rumahnya. Shaka juga tidak melihat aktivitas yang ramai dari penghuni rumah itu. Ia hanya melihat seorang gadis yang sedang duduk seorang diri di teras rumah.
Shaka tersenyum melihat Sherly yang sedang melamun di teras rumahnya itu. Ia kemudian mengeluarkan handphonenya dan melakukan miscall ke ponsel Sherly. Setelah itu ia mengirim pesan yang bernada emergency.
__ADS_1
"Sher....Tolongggg!!! Aku." begitu pesan Shaka.
Shaka kemudian mengintip dari luar pagar untuk melihat respon Sherly. Ia melihat Sherly membaca pesan tersebut dan kemudian berjalan mondar-mandir di teras rumahnya.
Setelah itu, tidak sampai 5 menit kemudian Sherly menelpon Shaka.
"Shakkkk, kamu kenapa?!!!" kata Sherly.
"Akuuuu...Akuuuu.." kata Shaka mengerjai Sherly dengan pura-pura sedih dan suara yang parau.
"Shakkkk, kamu kenapa?!! Jangan buat aku panik..!! tanya Sherly dengan penuh kekhawatiran.
"Kamu dimana sekarang???" imbuhnya.
"Akuuuu di dekat rumahmu.." kata Shaka sambil terus mengintip Sherly dari luar pagar.
Shaka kemudian melihat Sherly setengah berlari menuju ke pagar luar rumahnya. Shaka semakin menyembunyikan dirinya di tembok luar pagar rumahnya saat mengetahui Sherly sudah dekat dengan pagar depan rumahnya. Saat Sherly membuka gembok pintu pagar luar rumahnya itu dan kemudian keluar, Shaka langsung menyapanya.
"Hi Sher.." kata Shaka.
Sherly yang mendengar kata Shaka tersebut kaget setengah mati dan sedikit teriak. Shaka tertawa melihat tingkah Sherly. Kemudian Sherly memukul lengan Shaka dan memandangi sekujur tubuhnya.
"Kamu kenapa??? Apa yang terjadi???" kata Sherly dengan rasa khawatir.
"Aku engga kenapa-kenapa, Sherly." kata Shaka sambil terus tertawa.
"Kamu tuh bikin orang panik aja. Tau gitu aku engga buka pagar rumah. Khawatir tau." omel Sherly.
"Udah, aku mau masuk aja." kata Sherly yang cemberut karena dikerjain Shaka.
Sherly pun bermaksud pergi ke dalam rumah. Namun langkahnya terhenti ketika Shaka memegang tangannya sambil berkata :
__ADS_1
"Aku ingin ketemu kamu, Sher. Aku kangen sama kamu."