PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 37, Selimut Hati (Part 2)


__ADS_3

Shaka kemudian bangkit dari tepi ranjang Sherly. Ia kemudian berjalan mondar-mandir di depan Sherly sambil mengusap-usap kepala bagian atasnya sendiri berulang-ulang. Sementara Sherly senyum-senyum sendiri melihat tingkah Shaka. Akhirnya ia tidak tega sendiri dan kemudian berkata :


“Aku cuma bercanda, Shak.”


“Jangan bingung gitu.” Katanya sambil melepaskan tawanya.


Shaka kaget setelah mendengar ucapan Sherly tersebut. Ia tidak menyangka Sherly mengerjainya. Ia berhenti mondar-mandir lalu tertawa setelah melihat Sherly tertawa.


“Kamu hampir jantungku copot, Sher.” Ujar Shaka kemudian.


“Habis…, kamu engga jawab pertanyaanku tadi.” Sahut Sherly sambil masih tertawa.


“Pasti kamu sudah deg-degan kan?” Goda Sherly sambil tersenyum lebar.


“Iyalah, Sher. Cowok mana yang engga deg-degan bila disuruh berduaan dengan seorang cewek.” Ucap Shaka.


Sherly tersenyum mendengar jawaban Shaka. Ia tidak menyangka bahwa Shaka merasa deg-degan juga bila disuruh berdua dengannya. Otak cerdasnya mengatakan bahwa sesungguhnya Shaka juga menganggapnya sebagai seorang wanita, yang juga mempunyai kesempatan untuk bisa menaklukkan hatinya. Karena bila Shaka hanya menganggapnya hanya sebagai seorang teman maka ia akan biasa saja dan tidak perlu sampai deg-degan begitu, pikir Sherly.


“Btw, kenapa kamu deg-degan, Shak?” pancing Sherly.


“Aku belum pernah berduaan dengan cewek dalam satu kamar sebelumnya, gimana engga deg-degan.” Sahut Shaka.


“Apalagi dengan cewek cantik seperti kamu.” Kata Shaka dengan spontan.


Mendengar ucapan dari mulut Shaka tersebut membuat pipi Sherly merona dan ia lalu tersenyum tersipu malu sambil menundukkan kepalanya. Shaka menyadari hal tersebut dan kemudian ia meminta maaf atas kata-katanya tersebut.


“Maaf, Sher. Aku tidak bermaksud untuk menggodamu.” Kata Shaka.


“Iya, engga apa-apa.” Kata Sherly sambil menundukkan wajahnya karena malu.


Shaka merasa bersalah atas ucapannya tersebut. Ia sudah tahu bahwa Sherly mencintainya dan ia tidak bisa membalasnya. Malah ia sekarang memuji Sherly seakan-akan ia memberi harapan kepada Sherly.


Akhirnya ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


“Sher, aku punya kejutan untukmu.” Kata Shaka sambil berjalan mendekat ke arah Sherly.


Sherly memandang ke arah Shaka dan kemudian bertanya.


“Kejutan apa?” Tanya Sherly dengan penasaran.


Shaka akhirnya merogoh dompet di kantong belakang celananya dan kemudian mengeluarkan sesuatu.


“Nih…” katanya sambil menyodorkan sesuatu.


Kemudian Sherly mengambil selembar kertas dari tangan Shaka dan kemudian membacanya.


“Aku sudah registrasi Kejuaraan Nasional Tingkat Junior.” Kata Shaka.


“Aku penuhi janjiku untukmu, Sher. Aku akan bertanding untukmu bulan depan.” lanjutnya sambil memandang Sherly yang juga sedang memandangnya.


“Shak…”Ucap Sherly. Ia tidak percaya Shaka menepati janjinya kepadanya.


“Terus kamu nanti gimana? Apa kamu sudah melakukan persiapan? Siapa yang melatihmu,Shak?Terus kalau kamu cidera nanti gimana” Tanya Sherly dengan penuh kekhawatiran karena ia ingat bahwa Shaka tidak mempunyai seorang pelatih dan sudah dikucilkan dari team Taekowondo di sekolahnya.


“Pelan-pelan kalau nanya, Non.” Ujar Shaka.


Sherly tersenyum lebar mendengar kata Shaka tersebut. Ia kemudian menepuk-nepuk tepi ranjangnya yang mengisyaratkan agar Shaka cerita sambil duduk di tepi ranjangnya seperti tadi.


Shaka tersenyum dan ia lalu duduk di tepi ranjang Sherly. Ia kemudian bercerita dari awal, dari setelah pulang dari rumah Sherly tempo hari sampai menuju ke rumah Pak Bram. Ia menceritakan bagaimana awal mulanya ia bertemu dengan Pak Bram di bengkelnya. Lalu bagaimana Pak Bram melatihnya dengan sangat keras dan berapa banyak PR yang diberikan kepadanya. Semuanya itu ia ceritakan kepada Sherly. Tak jarang Sherly menyelinginya dengan godaan dan joke-joke yang membuat Shaka tertawa.


Tak terasa Shaka dan Sherly larut dalam suasana itu. Mereka bercanda dan tertawa bersama. Menikmati malam itu di rumah sakit bersama. Hingga tak terasa Shaka bisa meletakkan sedih dihatinya untuk sejenak. Mengisi malam itu dengan suasana yang bisa mencairkan beban amarah yang ada di dalam dirinya.


Hingga pada suatu saat dimana suasana sudah benar-benar cair, Sherly berhasil membujuk Shaka untuk menceritakan tentang apa yang alami. Sherly hanya diam ketika Shaka bercerita sambil memandang wajah Shaka yang berusaha tampak tegar. Ia amat kasihan dengan Shaka. Ia tidak tega melihat kesedihan yang terpancar dari mata Shaka. Walapun Shaka berusaha menutupinya. Namun Sherly masih meilhat jelas dimatanya tersebut.


Setelah Shaka selesai bercerita, Sherly lalu mendekat ke arah Shaka. Setelah itu ia memeluk Shaka sambil berbisik kepadanya.


“Saat aku sangat sedih, hangat pelukmu menyembuhkan hatiku kala itu.”

__ADS_1


“Aku tidak berharap pelukku bisa menyembuhkan lukamu, tapi setidaknya bisa menyelimuti dan menenangkan hatimu.”


Shaka hanya bisa diam sambil mendengarkan kata-kata Besty tersebut. Pelukan Sherly sangat hangat dan bisa menenangkan hatinya. Membuat hatinya terasa nyaman walau harus berada di duri-duri sedih yang melukainya.


“Jika engkau menginginkan pelangi, engkau harus menerima hujan, Shak.” Kata Sherly lagi.


“Jangan menyerah hanya karena satu bab buruk yang terjadi dalam hidupmu. Teruslah melangkah, karena kisahmu tidak berakhir di sini.” Ucap Sherly sambil terus memeluk Shaka.


Sementara Shaka hanya bisa membalas pelukan Sherly sambil menganggukan kepalanya.


“Terima kasih banyak, Sher.” Ucap Shaka sambil menghela nafasnya.


“Aku percaya kamu mampu melaluinya.” Kata Sherly.


“Karena kamu merupakan cowok yang istimewa, tidak hanya bagiku, tapi juga bagi orang lain.” Ucap Sherly.


“Sekarang pulanglah, istirahatkan raga dan hatimu” Ujar Sherly sambil melepaskan pelukannya.


Shaka hanya bisa memandang Sherly. Ia lalu tersenyum dan berkata kepada Sherly :


“Terima kasih banyak, Sherly. Kamu selalu menyelimuti hatiku di kala aku sedang sedih dan terluka selama ini.” Kata Shaka sambil mengusap rambut Sherly.


“Aku bersyukur karena Tuhan mempertemukanku denganmu.” Imbuhnya.


“Terima kasih karena kamu selalu mendukungku dan tidak pernah meninggalkanku, walapun kita tidak bisa menjalin ikatan hati saat ini.” Pungkasnya sambil menatap Sherly.


Sherly menghela nafasnya dan kemudian tersenyum. Ia lalu mengelus tangan Shaka yang ada di rambutnya.


“Shak, bagiku arti sebuah cinta adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Cinta juga merupakan suatu kebahagiaan ketika sedang bersama, walaupun tidak melakukan apa-apa”. Ucap Sherly dengan lembut.


“Aku percaya, cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat, Shak." Tambahnya.


Shaka tersenyum mendengar kata Sherly tersebut. Ia kemudian menggenggam tangan Sherly dan menatap Sherly.

__ADS_1


“Istirahatlah sekarang, Sher.” Kata Shaka kemudian sambil melepaskan tangan Sherly lalu membetulkan bantal yang ada di belakangnya.


Sherly kemudian membetulkan posisi badannya dan merebahkan dirinya di ranjang. Setelah itu, Shaka menarik selimut yang ada di kaki Sherly dan kemudian menyelimutinya.


__ADS_2