
Selepas dari rumah Sherly, Shaka berhenti sebentar di pinggir jalan. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu nama yang selama ini tersimpan di dompetnya. Shaka melihat nama dan alamat yang ada di kartu nama tersebut. Selang beberapa waktu kemudian, ia menyimpan kartu nama itu kembali di saku celananya lalu ia pergi melaju bersama dengan motornya.
Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya Shaka tiba di sebuah bengkel mobil. Shaka melihat bangunan bengkel mobil itu sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Bengkel tersebut hanya beralaskan batu paving dan banyak sekali ban-ban mobil bekas yang ditumpuk rapi di depan bengkel. Bangunan bengkel tersebut juga tidak terlalu besar. Paling hanya muat 2 mobil saja untuk diparkir disitu. Shaka melihat papan nama di atas bengkel tersebut yang bertuliskan "Bengkel Bagas".
Shaka kemudian memarkirkan kendaraannya di area sebelah pojok bengkel agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain. Setelah melepaskan helm dan meletakkannya di atas kaca spion motornya, ia kemudian masuk ke dalam bengkel mobil tersebut. Bengkel tersebut sepi pengunjung dan hanya ada 1 orang montir yang sedang jongkok untuk merapikan perkakas yang berserakan di atas lantai paving.
"Selamat Siang, Pak." kata Shaka.
"Siang." kata montir tersebut sambil menoleh ke arah Shaka.
Ia menghentikan aktivitasnya dan kemudian berdiri dari tempatnya. Lalu ia berjalan menuju ke arah Shaka.
"Ada yang bisa dibantu, dik?"tanya montir tersebut.
Shaka melihat montir tersebut berdiri dihadapannya. Ia tidak terlalu tua, kelihatannya berumur sekitar 50 tahun. Namun perawakannya tinggi dan tegap. Ia mempunyai badan yang kekar dan bidang.
"Saya minta maaf, Pak. Saya Shaka, saya bermaksud bertemu dengan Pak Bramantya." kata Shaka.
"Apa Pak Bramantya ada, Pak?" tanya Shaka.
"Saya Bramantya." kata montir tersebut.
Shaka kaget mendengar ucapan montir tersebut. Shaka tidak percaya bahwa orang yang berdiri dihadapannya ini adalah seorang mantan atlet kelas internasional.
"Ada yang bisa saya bantu, dik?" tanya Pak Bram.
"Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Saya sedang mencari pelatih untuk mengikuti Kejuaraan Nasional Junior Taekwondo tahun ini. Dan teman ayah saya yang merekomendasikan Bapak." kata Shaka.
Tiba-tiba Pak Bram tertawa mendengar kata-kata Shaka.
"Ada-ada aja." kata orang itu.
"Kamu salah alamat, dik." tambahnya sambil berlalu dari hadapan Shaka.
Ia kembali ke tempatnya semula. Lalu ia merapikan kembali perkakas-perkakas yang berserakan tadi. Shaka melangkah mendekati Pak Bram yang sedang jongkok untuk mengambil obeng dan kunci inggris.
"Pak Bram, saya minta maaf. Saya mohon bantuan Bapak." kata Shaka.
Pak Bram masih terus melanjutkan aktivitasnya. Ia tidak mempedulikan perkataan Shaka. Ia masih saja terus merapikan barang-barangnya. Shaka menyadari dirinya diabaikan oleh Pak Bram. Ia kemudian ikut jongkok dan membantu Pak Bram merapikan perkakas-perkakas mobil miliknya. Pak Bram yang mengetahui Shaka membantunya lebih memilih diam dan terus melanjutkan pekerjaannya. Hingga akhirnya, saat aktivitas tersebut sudah selesai, Pak Bram berdiri yang diikuti oleh Shaka.
__ADS_1
"Terima kasih." kata Pak Bram sambil berlalu dari hadapan Shaka.
Shaka hanya bisa memandangi punggung Pak Bram. Ia lalu melangkah lebih mendekat ke arah Pak Bram. Ia menghela nafas dan kemudian berkata :
" Pak Bram..." kata Shaka.
Pak Bram menoleh ke arah Shaka. Ia menatap mata Shaka dan siap menunggu kata-kata selanjutnya dari Shaka.
"Pak, saya minta maaf bila saya mengganggu Bapak. " kata Shaka.
"Saya ingin ikut kejuaraan bukan demi meraih gengsi atau pujian."
"Saya ingin mengembalikan harga diri saya yang sudah lama hancur, Pak."
"Saya juga ingin mengembalikan kepercayaan orang-orang yang mencintai saya, Pak."
Pak Bram hanya diam. Kemudian dia berkata :
"Kamu cari saja pelatih yang mumpuni."
"Saya hanya seorang montir."
Shaka diam sesaat. Ia menundukkan kepalanya. Setelah itu dia berkata kepada Pak Bram.
"Saya mohon dengan sangat, tolong bantu saya dan orang tua saya."
"Setidaknya Bapak bisa mewujudkan impian Bapak dulu melalui saya."
"Saya mohon, Sabeum Nim (Kepala Pelatih)" kata Shaka sambil bersimpuh di hadapan Pak Bram.
Pak Bram menghela nafas dengan berat. Ia mencoba mencerna dan merenungi setiap kata-kata dari Shaka. Hatinya tersentuh dengan kata-kata dan niat baik Shaka. Ia kemudian teringat oleh impian masa lalunya yang kandas di tengah jalan. Betapa hancur dan pedih hatinya di kala itu. Ia akhirnya menutup dan mengubur impiannya itu dalam-dalam. Ia lalu teringat janjinya untuk mewujudkan impiannya itu bagaimanapun caranya, baik melalui dirinya sendiri atau lewat orang lain suatu hari nanti.
"Bangunlah.." kata Pak Bram.
"Saya tidak akan bangun sebelum bapak melatih saya." kata Shaka
Pak Bram menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena kekerasan kepala Shaka. Ia diam sesaat. Ia melihat sekilas Shaka mirip dengan dia di masa lalu. Memiliki keteguhan hati dan kebulatan tekad untuk mendapatkan sesuatu.
"Kapan Kejurnas Junior itu dilangsungkan?" tanya Pak Bram.
__ADS_1
"Sekitar dua bulan lagi, Sabeum Nim." kata Shaka sambil masih bersimpuh.
"Gila..!! Kamu mau bunuh diri dengan hanya waktu dua bulan itu?" Kata Pak Bram.
"Saya butuh Sabeum Nim untuk melatih dan membimbing saya." kata Shaka.
"Saya akan bayar berapapun biayanya, Sabeum Nim."imbuhnya.
"Kamu dapat uang darimana?" tanya Pak Bram.
"Dari orang tuamu?" lanjutnya.
"Tidak Sabeum Nim, saya punya tabungan dari hasil Kejuaraan Nasional Junior tahun lalu." jawab Shaka.
"Saya membiayai sendiri uang sekolah dan kegiatan saya." imbuhnya.
"Kamu juara berapa?" tanya Pak Bram.
"Kebetulan saya juara 1, Sabeum Nim." ujar Shaka.
"Kamu pikir itu suatu kebetulan?" tanya Pak Bram sambil mengernyitkan dahinya.
"Tidak Sabeum Nim, itu hasil latihan keras saya." jawab Shaka tegas.
"Bagusss...., Baguusss..!" kata Pak Bram.
"Saya tidak percaya kebetulan. Saya hanya percaya akan latihan.., latihan.... dan latihan." kata Pak Bram.
"Yee, Sabeum Nim (Iya, Kepala Pelatih)." Kata Shaka.
Pak Bram diam sesaat, ia kemudian menatap Shaka yang masih bersimpuh di depannya.
"Bangunlah.., bawa Dobok-mu (seragam Taekwondo) mulai besok."
"Aku tunggu kamu mulai besok jam 4 sore."
"Aku tidak perlu uangmu."
" Tapi sekali aku melihat kamu menyerah atau mengeluh dengan semua latihan yang aku berikan, pulanglah dan jangan pernah kembali lagi ke sini." kata Pak Bram dengan tegas.
__ADS_1
"Yee, Sabeum Nim. Terima kasih." kata Shaka yang kemudian berdiri.
Pak Bram berjalan ke arah meja kerjanya. Ia kemudian duduk dan mencari sebuah bolpoin. Setelah itu ia menulis sesuatu di atas secarik kertas yang ada di depannya.