
Pak Bram bangun dari mejanya dengan membawa secarik kertas ditangannya. Ia kemudian berjalan menghampiri Shaka yang masih berdiri dan memandangi calon pelatihnya tersebut. Setelah dihadapan Shaka, Pak Bram berhenti dan berkata :
"Datanglah ke alamat ini mulai besok setiap jam 4 sore." Kata Pak Bram sambil menyodorkan secarik kertas tersebut.
"Siap, Sabeum Nim. Terima kasih." Kata Shaka sambil tersenyum bahagia.
"Saya mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan Sabeum Nim. Saya tidak akan mengecewakan anda." Kata Shaka sambil menerima secarik kertas dari Pak Bram tersebut.
Pak Bram tersenyum mendengar kata-kata Shaka.
"Buktikan dengan perbuatan, jangan dengan kata-kata." Kata Pak Bram.
"Pulanglah, persiapkan dirimu sebaik mungkin. Kita ketemu besok." Lanjut Pak Bram.
"Besok aku akan melihat seberapa besar tekad dan ketahanan mentalmu." Pungkas Pak Bram.
"Baik, Sabeum Nim." Kata Shaka.
Shaka kemudian mengucapkan terima kasih lalu pamit untuk pulang. Selama di dalam perjalanan, ia merasa sangat bahagia. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dan berjanji akan menjalani setiap latihan dari Pak Bram, yang mungkin saja menguras daya fisik dan menguji ketahanan mental yang ia miliki selama ini. Shaka yakin Pak Bram akan melatihnya dengan sekeras mungkin. Hal itu mungkin dilakukan Pak Bram untuk mengejar porsi latihan yang ketinggalan yang cukup untuk dilakukan selang dua bulan ke depan. "Aku akan buat kejutan untuk ayah dan Sherly", gumamnya dalam hati.
Saat sedang asyik melaju dengan motornya, ponsel yang ada di kantong celana depan Shaka berbunyi dan bergetar. Shaka kemudian menepikan motornya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ia melihat nama Besty tertera dalam ponselnya. Ia melepas helmnya dan kemudian mengangkat telpon dari Besty.
"Halo, cantik." Kata Shaka.
"Hai Shak, kamu ada rencana ke rumah engga?" Tanya Besty.
"Emang ada apa?" Tanya Shaka.
"Aku mau keluar sama Bik Imah. Takutnya aku engga ada pas kamu datang." Kata Besty.
Shaka tertawa mendengar kata-kata Besty.
"Kenapa tertawa? Pasti kamu ngira yang engga-engga ya?" Goda Besty.
Shaka kembali tertawa mendengar kata-kata Besty.
__ADS_1
"Jam berapa kamu pulang?" Tanya Shaka mengalihkan pembicaraannya.
"Paling sekitar jam 7 sore. Aku mau nemani Bik Imah Belanja." Kata Besty.
"Mau ditemani engga?" Tanya Shaka.
"Engga usah, kamu istirahat aja. Nanti aku kabari kalau udah nyampe di rumah ya." Ujar Besty.
"Aduhhh.. tiba-tiba sesek ya." Kata Shaka sambil batuk-batuk.
"Shak, kamu kenapa?" Shak.. !" Tanya Besty dengan nada khawatir.
"Engga tahu, nafasku tiba-tiba tinggal separuh." Kata Shaka.
"Shak, terus gimana? Kog bisa?" Tanya Besty dengan nada panik.
"Iya, soalnya separuh nafasku ada di kamu." Jawab Shaka sambil tertawa.
"Haduuuhhh, kamu itu..." Sahut Besty sambil tertawa.
Shaka tertawa kecil mendengar ucapan Besty tersebut.
"Ya udah kalau gitu, hati-hati ya." Kata Shaka.
"Nanti telpon aja bila mau jemput." Imbuhnya.
"Iya,Shak. Kamu juga. Bye-bye." Kata Besty sambil mematikan ponselnya.
Shaka kemudian menyimpan kembali ponselnya di saku celananya. Setelah memasang kembali helmnya, ia melajukan kembali kendaraannya menuju ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Ia tidak melihat ayah dan ibunya.
"Pergi ke kondangan." Kata Rama adiknya saat ditanya.
Shaka kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan badannya dan mengotak-atik ponselnya. Ia berniat menelpon Sherly, namun diurungkannya. Nanti aja, aku akan memberitahukannya, gumam Shaka dalam hati.
__ADS_1
Ia kemudian bangun dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia tersenyum melihat sweater pink Besty tergantung di sana. Nanti akan aku kembalikan, katanya lirih. Ia kemudian membuka lemari pakaiannya dan mencari doboknya. Matanya nanar melihat dobok (seragam Taekwondo) dan Ti (sabuk) hitamnya yang terlipat rapi didepannya. Ya, Shaka merupakan Taekwondoin Dan 1 (Black Belt). Ia merupakan pemegang sabuk hitam taekwondo yang sudah melanglang buana mengikuti pertandingan sejak kelas 5 SD, saat ia masih mengenakan sabuk hijau di pinggangnya.
Ia kemudian teringat semua kenangan saat memakai dobok kebanggaannya itu. Semua pertandingan yang telah ia lewati bersama doboknya itu. Meskipun warnanya tidak seputih dulu, tapi Shaka enggan untuk beli dobok yang baru. Baginya dobok inilah yang sangat berharga dan tidak dapat digantikan dengan dobok yang baru.
Ia kemudian mencoba memakai dobok dan mengikat Ti Hitamnya, masih pas seperti setahun yang lalu. Setelah itu ia pergi ke halaman depan rumahnya.
"Tumben kakak pakai dobok?" Tanya adiknya, Rama saat mereka bertemu di ruang tamu.
"Sudah lama Rama engga lihat kakak pakai dobok. Kakak mau ikut kejuaraan?" Tanyanya lebih lanjut.
Shaka hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut adiknya itu. Ia tidak menjawab pertanyaan adiknya itu. Ia kemudian melanjutkan langkahnya ke halaman depan rumahnya. Ia berdoa dan kemudian melakukan Streching (pemanasan).
Setelah dirasakan cukup, Shaka kemudian melakukan kyungrye (hormat) lalu melakukan latihan pendahuluan berupa kuda-kuda dan tangkisan. Kemudian Shaka melakukan latihan pukulan, sabetan dan tendangan secara berulang-ulang. Kelihatan cukup kaku karena Shaka sudah vacuum selama setahun. Namun ia terus mencoba memperbaikinya agar besok ia tidak kewalahan dan tidak mengecewakan Pak Bram. Kemudian di latihan intinya, Shaka mencoba melatih Poomse atau rangkaian jurus dalam Taekwondo.
Poomse adalah rangkaian teknik gerakan dasar serangan dan pertahanan diri, yang dilakukan melawan lawan yang imajiner, dengan mengikuti diagram tertentu.
Tak terasa waktu menjemput sore untuk datang. Langit sudah mulai agak gelap saat Shaka menghentikan latihannya. Peluh keringatnya bercucuran dengan deras, membasahi doboknya dengan air keringat yang keluar dari seluruh pori-pori Shaka. Setelah dirasa cukup, Shaka kemudian melakukan cooling down dan dilanjutkan dengan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Setelah mencuci dan menjemur seragam Taekwondonya itu, Shaka kemudian pergi ke dalam kamar. Ia mendengar suara motor ayah dan ibunya menderu memasuki halaman rumah. Sayup-sayup ia mendengar adiknya bercerita dengan penuh semangat tentang latihan kakaknya sore tadi. Shaka tersenyum mendengar hal itu. Badannya merasa pegal, namun ia merasa lega dan lebih bugar dari sebelumnya. Hingga tak terasa, ia tertidur di atas ranjangnya.
Selang dua jam kemudian, ia dikagetkan dengan dering ponselnya yang berada di atas meja. Dengan mata yang masih mengantuk, ia mengambil ponselnya dan melihat sembilan kali panggilan tak terjawab dari Besty. Ia kaget karena waktu sudah menunjukkan jam 9 malam. Ia kemudian membaca pesan dari Besty.
"Shak...., kamu ngapain?"
"Shak, kamu dimana?"
"Shak, kamu engga apa-apa??"
"Kenapa engga angkat telponku?"
"Kamu engga apa-apa, Shak?"
"Shak, jangan buat aku khawatir."
"Shaka Daniswara...!!!"
__ADS_1
Shaka kaget lalu tersenyum melihat pesan Besty. Ia kemudian menyandarkan badannya di atas dipan dan kemudian mengirim pesan kepada kekasih hatinya tersebut.