PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 25, Sepenggal Kisah Lalu


__ADS_3

Selepas kepergian Hendra, Besty mengajak Shaka masuk ke dalam rumah. Shaka merasa tidak enak karena dia dalam keadaan basah kuyub. Namun Besty bersikeras untuk memaksanya masuk sehingga dengan agak terpaksa dia mengikuti Besty masuk ke dalam rumah.


"Bik, tolong ambilkan handuk dan buatkan teh hangat untuk Shaka." kata Besty.


"Iya, non." kata Bik Imah.


"Bik, saya minta maaf sudah membuat rumahnya basah dan kotor." kata Shaka.


"Iya Mas Shaka, tidak apa-apa." kata Bik Imah sambil tersenyum dan kemudian pergi ke belakang.


Besty tersenyum mendengar kata-kata Shaka. Sangat sopan terdengar. Tidak ada sedikitpun nada yang terkesan memerintah atau mendeskreditkan seorang pembantu rumah tangga selama ini. Begitu sangat berbeda dengan Hendra, pikirnya.


"Duduk dulu, Shak. Aku coba carikan sweater dan celana training untukmu." kata Besty sambil masuk ke dalam kamarnya.


Shaka hanya mengangguk dan tetap berdiri di dekat sofa ruang tamu. Ia tidak mau sofa milik Besty menjadi basah karenanya.


Tak lama berselang, Bik Imah datang dengan membawakan handuk dan segelas teh hangat untuk Shaka.


"Ayo diminum, Mas Shaka." kata Bik Imah sambil menyuguhkan teh hangatnya di atas meja dan memberikan handuknya ke Shaka.


"Ngapain berdiri, Mas Shaka? Duduk aja engga apa-apa." kata Bik Imah.


"Terima kasih banyak, Bik. Saya engga apa-apa berdiri. Saya minta maaf sudah banyak merepotkan Bibik." kata Shaka.


Bik Imah tersenyum lebar seraya berkata :


"Tidak apa-apa, Mas Shaka. Jangan sungkan sama Bibik. Ya sudah ya, Bibik tinggal ke dalam. Nanti panggil aja Bibik kalau perlu apa-apa."


"Baik, Bik. Saya mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan Bibik." jawab Shaka.


Bik Imah tersenyum lalu kembali ke belakang untuk menyelesaikan tugasnya di dapur.


Saat Shaka hendak mengambil teh hangatnya di atas meja, Besty datang dengan membawa satu set sweater dan celana training warna merah muda.


"Nih, mudah-mudahan cocok."kata Besty sambil menyodorkannya ke Shaka.


Shaka hanya bengong melihat Besty dan tidak jadi meminum teh tersebut.


"Ngapain bengong? Nih pakai, daripada masuk angin. Ganti aja di kamar mandi." kata Besty sambil tersenyum lebar.


"Nanti bajumu yang basah, bawa ke Bik Imah untuk dicleaning ya." lanjutnya.

__ADS_1


Shaka hanya tersenyum. Ia meneguk satu kali teh hangat tersebut dan kemudian meletakkan teh tersebut di atas meja. Lalu ia mengambil sweater dan celana training pink itu dari tangan Besty. Setelah itu, ia pergi ke kamar mandi luar yang berada di dekat sofabed yang ada di ruang tengah.


Tak lama berselang, Shaka datang ke ruang tamu dengan mengenakan sweater dan celana training warna pink tersebut. Besty yang sedang duduk di sofa ruang tamu menahan mulutnya sekuat mungkin. Ia mencoba menahan tawanya ketika melihat Shaka mengenakan pakaian tersebut. Shaka pun datang dengan malu-malu karena baru pertama kalinya ia mengenakan pakaian serba full pink colour kayak begini.


"Bener kan cocok, apa aku bilang." kata Besty dengan tertawa. Ia tidak kuat lagi menahan tawanya.


Shaka hanya bisa memandangi Besty sambil tersipu malu.


"Udah ketawanya, malu nih." kata Shaka sambil melihat Besty yang terus tertawa.


Akhirnya Besty menghentikan tertawanya. Ia memandang Shaka sambil senyam-senyum seraya berkata :


"Lama-lama kalau aku perhatikan, kamu ganteng juga pakai pink." kata Besty.


Shaka hanya bisa tersenyum sambil memandangi Besty.


"Kamu dapat darimana sweater dan celana training ini?" tanya Shaka.


"Papaku yang belikan tahun kemarin." jawab Besty yang masih senyam-senyum.


"Papa tahu aku suka warna pink, tapi engga ada ukuran yang pas buatku. Akhirnya papa membelikan ukuran yang besar." ucap Besty sambil masih tersenyum.


"Maaf, aku engga tahu kalau ini dari papamu." kata Shaka.


Shaka diam sesaat kemudian ia memandang Besty :


"Aku minta maaf soal yang tadi. Aku engga tahu kalau kamu sedang ada tamu." kata Shaka.


"Aku juga engga tahu kalau dia adalah Hendra." lanjutnya.


"Aku menelponmu karena aku engga mau kalian berkelahi. Aku takut kamu dihajarnya." kata Besty


"Ternyata kamu yang mengalahkan dia." lanjutnya.


Shaka tersenyum mendengar kata-kata Besty.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi lain kali, telpon aku kalau ada dia." ujar Shaka.


"Kamu engga perlu khawatir. Aku punya banyak keahlian, salah satunya adalah menjaga diri." imbuhnya.


"Dan gombalin aku." sahut Besty yang diiringi oleh tawa mereka berdua.

__ADS_1


"Btw, apa benar yang diceritakan oleh Hendra?" tanya Besty penuh selidik.


"Bagaimana menurutmu?" Shaka bertanya balik ke Besty.


"Apa kamu percaya hal itu?" lanjutnya.


"Aku percaya dan yakin kamu bukan seorang pengecut." kata Besty.


"Apa yang membuatmu percaya dan yakin?" tanya Shaka.


"Karena itu alasan pertama yang membuatku menyukaimu." kata Besty.


"Apa alasan yang lainnya?" tanya Shaka sambil tersenyum.


"Ada dehhhhh.."kata Besty.


"Aku akan mengatakannya jika kamu cerita dulu tentang masa lalumu." kata Besty.


Shaka diam sambil memandang Besty kemudian ia menghela nafas.


"Aku memang mengundurkan diri dari Kejuaraan antarsekolah, tapi aku bukan seorang pengecut." kata Shaka.


Shaka kemudian menceritakan semuanya kepada Besty. Ia menceritakan bagaimana ia mulai meniti karir di dunia Taekwondo. Ia juga menceritakan bagaimana ia begitu bersemangat untuk berlatih dan mengikuti pertandingan dari pertama kali sampai dengan Kejuaraan Nasional Taekwondo tahun lalu. Ia juga menjelaskan bagaimana ia berusaha menahan luka di hatinya dan harus berjuang untuk beradaptasi dengan pola dan kondisi kehidupan di luar lingkaran pemikirannya. Ia menceritakan dengan begitu gamblang dan dengan kata-kata yang sederhana untuk bisa di mengerti.


Besty hanya diam sambil mendengarkan cerita Shaka. Ia tidak menyangka bahwa sesungguhnya Shaka merupakan orang yang sederhana dan penuh semangat. Namun semua pengalaman pahitnya membuatnya telah mengikis sedikit demi sedikit identitas dirinya yang sebenarnya.


Shaka menutup ceritanya dengan kenangan saat ia mengalahkan Hendra di Kejuaraan Nasional Junior Tahun kemarin. Ia menceritakan secara detail bagimana ia mengalahkan Hendra tanpa memberi peluang bagi Hendra sedikitpun untuk mencetak point. Dan tendangan memutar Shaka ke kepala Hendra mengakhiri kejuaraan final tersebut dengan kemenangan telak untuk Shaka.


"Itu cerita yang sebenarnya,Besty. Jadi menurutku, kamu engga perlu merasa bersalah atas Hendra." kata Shaka.


"Ia kalah bukan karena kamu, tapi karena kemampuan dan persiapannya yang belum matang." lanjutnya.


Besty kemudian teringat masa-masa sebelum pertandingan Kejuaraan Nasional tersebut. Hendra bukannya sibuk berlatih, tapi malah sibuk menemani Besty yang sedang ada kegiatan photoshoot di Jakarta. Besty kemudian menyadari hal itu dan bisa membuat rangkaian puzzle sedikit demi sedikit yang selama ini membuat risau di hatinya.


"Sekali lagi percayalah padaku, Besty. Kamu tidak terlibat sedikitpun atas kekalahannya. Akupun juga tidak turut andil atas hancurnya hubungan kalian." kata Shaka.


"Hidup itu adalah sebuah pilihan. Dan hidup itu terlalu singkat untuk dilewatkan dengan pilihan yang salah." lanjutnya.


Besty sangat terpesona dengan kata-kata Shaka. Semua kata-kata Shaka sangat bermakna dan menyentuh kalbunya. Ia bersyukur Shaka berada disisinya. Selalu menghiburnya dengan kata-katanya yang dewasa dan menenangkan hati.


Besty kemudian menggeser duduknya. Kini ia berada tepat disamping Shaka. Kemudian ia meletakkan kepalanya di bahu Shaka seraya berkata :

__ADS_1


"Aku percaya padamu, Shak. Lebih dari yang kamu tahu."


__ADS_2