PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 32, Ulang Tahun (Part 2)


__ADS_3

Setelah mengirim pesan ke ponsel Sherly, Shaka kemudian melangkahkan kakinya ke kelas Besty. Di sana, Besty sudah menunggunya seperti biasa di depan kelas. Besty langsung beranjak dari tempat duduknya dan berdiri menghampiri Shaka. Shaka pun tersenyum melihat Besty yang datang ke arahnya.


"Yukk, pulang." Kata Shaka sambil mengedipkan matanya ke Besty.


Besty tertawa melihat tingkah Shaka dan kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka menuju ke parkiran motor dan kemudian meninggalkan sekolah mereka.


Sesampainya di rumah Besty, Shaka melepaskan helm dari kepala Besty. Ia kemudian pamit untuk pulang.


"Engga mau mampir?" Tanya Besty.


"Mungkin lain kali ya, aku masih ada urusan." Kata Shaka.


"Urusan apa sih? Boleh tahu engga?" Kata Besty.


Shaka tersenyum sambil mengusap rambut Besty.


"Masuk sana, panas banget di luar." Kata Shaka sambil tersenyum.


"Iya deh, nanti hubungi aku ya." Kata Besty manja.


"Iya, sweety." Kata Shaka sambil mengedipkan matanya.


Besty tersipu malu mendengar Shaka mengucapkan sweety. Pipinya merona merah.


Shaka yang menyadari hal itu kemudian melanjutkan kata-katanya.


"Mulai sekarang, aku akan panggil kamu, sweety." Kata Shaka.


"Sesuai dengan sifatmu." Lanjutnya.


"Ya udah, masuk sana. Panas bangett di luar. " pungkasnya.


Besty tersenyum mendengar kata-kata Shaka. Ia kemudian menganggukkan kepalanya.


"Hati-hati ya, Shak." Kata Besty sambil masuk ke dalam rumahnya.


Setelah membalas lambaian tangan Besty, Shaka kemudian berlalu dan pergi meninggalkan komplek perumahan Besty.


Sesampainya di rumah, Shaka kemudian membersihkan badannya. Tak lama kemudian ibunya mengetuk kamarnya dan mengatakan bahwa makan siang sudah ada di meja. Shaka kemudian keluar kamar dan makan siang.


"Rama kemana,Bu? Kog belum pulang?" Tanya Shaka ke ibunya yang berada di depannya.

__ADS_1


"Katanya ada les tambahan di sekolahnya. Persiapan ujian katanya." Jawab ibunya sambil menyiapkan menu makan siang hari ini.


"Apa Ibu tidak makan? Mari kita makan bersama, Bu?" Tanya Shaka.


Ibunya tersenyum mendengar kata anak sulungnya tersebut.


"Ibu sudah makan, kamu makan aja dulu. Oh ya jam berapa nanti kamu latihan?" Tanya ibunya.


"Jam 4 sore, Bu." Jawab Shaka.


"Ya sudah, nanti setelah makan, kamu langsung istirahat." Tutur ibunya.


"Terima kasih, Bu." Jawab Shaka.


Dibalik kata-katanya yang cerewet, sebenarnya ibunya sangat perhatian kepada anak-anaknya. Hanya saja, ibunya lebih cerewet dan mudah panik. Tidak seperti ayahnya yang terkesan lebih tenang dan pendiam.


Setelah makan, Shaka kembali ke kamarnya. Ia kemudian menyiapkan Dobok (seragam Taekwondo) dan Ti (sabuk) hitamnya, lalu berbaring dan istirahat. Merilekskan dirinya sebelum menghadapi gemblengan dari Pak Bram.


***


Waktu di ponsel Shaka menunjukkan jam 3.00 sore. Shaka sudah tiba di Lapangan Rampal, Malang, salah satu sarana ruang terbuka hijau yang cukup luas di kota Malang. Shaka melihat banyak orang sudah berada di area ini untuk berolahraga. Mereka ada yang jogging dengan menjajal track yang cukup jauh. Ada juga yang menggunakan beberapa fasilitas olahraga yang ada seperti basket, bola voli, tennis dan berbagai fasilitas lainnya yang tersedia di Lapangan Rampal, Malang, ini.


"Bagus, Shak." Kata Pak Bram yang mengagetkan Shaka.


"Sore, Sabeum Nim." Kata Shaka dengan kaget dan langsung menghentikan latihannya.


"Kamu harus berusaha dengan sangat keras untuk bisa mengejar ketinggalan selama ini." Ucap Pak Bram.


"Aku tidak akan mengajarimu menjadi atlet, tapi aku akan mengajarimu sebagai petarung." Ucap Pak Bram tegas.


"Aku akan menggembleng fisik, daya tahan, mental dan kecepatanmu. Setidaknya kamu lebih dari kata siap untuk kejuaraan nasional ini." Lanjut Pak Bram.


"Sekarang aku tanya, apa targetmu?" Tanya Pak Bram.


"Jadi juara di Kejurnas (Kejuaraan Nasional), Sabeum Nim." Jawab Shaka.


Pak Bram tertawa mendengar jawaban Shaka. Shaka merasa heran kenapa Pak Bram tertawa. Apa ada yang salah dengan ucapannya tadi. Akhirnya ia memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Apa saya salah, Sabeum Nim?" Tanya Shaka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Engga." Kata Pak Bram menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Tapi kalau aku jadi kamu, kejuaraan nasional ini hanya awal pembuka saja. Tapi Kejuaraan Dunia adalah target sesungguhnya." Kata Pak Bram.


Shaka kaget mendengar kata-kata Pak Bram.


"Jangan jadi seperti orang kebanyakan yang berorientasi pada target sesaat, tapi pikirkan pada orientasi yang lebih jauh." Kata Pak Bram.


"Baik, Sabeum Nim." Kata Shaka sambil menganggukkan kepalanya. Ia tidak menyangka Pak Bram tidak hanya melatihnya untuk kejuaraan nasional yang akan datang, tapi juga untuk menghadapi kejuaraan dunia dua tahun lagi.


" Sekarang, saya akan melatih fisik dan akan saya sesipi dengan beberapa teknik khusus sebagai senjatamu." Kata Pak Bram.


"Saya tahu kamu sudah lari tadi, tapi kamu lari lagi kelilingi lapangan ini sebanyak 30 menit." Ucap Pak Bram.


"Pakai dobokmu dan keluar dari semua batasan yang ada di dirimu." Kata Pak Bram.


Shaka menganggukkan kepalanya. Setelah memakai doboknya, Shaka kemudian melaksanakan instruksi Pak Bram. Ia berlari mengelilingi lapangan selama 30 menit. Ia bertekad apapun yang terjadi ia tidak akan mengeluh. Ia akan mengeluarkan segenap kemampuannya sampai ia tidak kuat melaksanakannya.


Sore itu, Pak Bram melatih endurance dan power yang dimiliki Shaka. Peluh keringatnya keluar deras dari badan Shaka, bercucuran membasahi doboknya Shaka. Nafasnya tersengal-sengal menahan beratnya langkah kakinya untuk melaksanakan semua latihan itu. Badannya serasa melayang akibat kerasnya latihan sore ini.


Hingga akhirnya, Pak Bram menyelesaikan latihannya ini.


"Cukup latihan sore ini, Shak." Kata Pak Bram sambil melihat Shaka yang bernafas dengan tersengal-sengal. Dadanya naik-turun menghimpun udara yang ada disekitarnya. Matanya memerah menahan lelah dan kerasnya latihan sore ini.


"Saya minta mulai besok, kamu latih horyeo chagi (tendangan belakang dengan kaitan kaki) sebanyak 50 kali di pagi hari dan Twieo Chagi (tendangan ganda sambil lompat) sebanyak 50 kali di malam hari, variasikan antara Up Chagi (tendangan Depan) dan Dolyeo Chagi (tendangan samping)" Kata Pak Bram.


"Itu adalah menu wajibmu setiap hari." Kata Pak Bram.


"Apa kamu sanggup melakukannya, Shak?" Tanya Pak Bram.


"Siap, Sabeum Nim." Jawab Shaka sambil mengatur nafasnya yang mau lepas satu per satu.


Pak Bram tersenyum melihat semangat Shaka.


"Sekarang pulanglah, kita ketemu besok lagi." Kata Pak Bram.


"Oh ya, satu hal lagi. Saya kasih kamu libur di hari minggu saja. Tapi saya kasih kamu PR (Pekerjaan Rumah) dengan melatih kaki kamu dengan menggunakan karet. Lakukan sebanyak 100 kali." Lanjutnya.


"Siap, Sabeum Nim." Kata Shaka dengan suara yang sangat lelah.


"Ingat, tujuanmu bukan kejuaraan nasional, tapi kejuaraan dunia." Kata Pak Bram.


"Baik, Sabeum Nim." Jawab Shaka sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2