PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 42, Aku Selalu Ada (Part 2)


__ADS_3

Sherly kaget saat Pak Bram mengatakan ke Shaka bahwa ia selalu melihat Shaka dari kejauhan. Ia tidak menyangka Pak Bram mengetahui perbuatannya tersebut. Ia kemudian menatap mata Shaka sambil tersenyum. Ia lalu membalikkan badannya dan berniat pergi menuju ke tempat mobilnya diparkir. Namun sebelum ia sempat melangkah, Shaka memegang tangannya sehingga ia terpaksa berhenti dan membalikkan badannya.


Shaka tersenyum ke arah Sherly dan berkata :


" Terima kasih banyak kamu selalu datang, Sher."


"Lain kali engga usah sembunyi-sembunyi."


Shaka dan Sherly kemudian tertawa bersama. Sherly tertawa karena merasa malu ia ketahuan Shaka, sementara Shaka tertawa karena ia merasa perbuatan Sherly tersebut sangat lucu.


"Kamu mau minum engga?" Tanya Shaka.


"Aku traktir deh." Ucap Shaka.


"Boleh juga, tempatnya dimana? Nanti aku ke sana deh sama Pak Gun." Jawab Sherly.


"Kamu engga mau bareng naik motor sama aku?" Tanya Shaka sambil tersenyum.


"Naik motor? Emang boleh?" Tanya Sherly balik.


Shaka tertawa mendengar pertanyaan Sherly.


"Emang kenapa engga boleh?" Kata Shaka sambil tertawa.


"Habis kamu engga pernah ngajak aku." Sahut Sherly dengan malu-malu.


Shaka kembali tertawa mendengar kata-kata Sherly tersebut.


"Boleh, Sher. Boleh Bangettt.." Ujar Shaka.


Sherly tersenyum lebar mendengar kata-kata Shaka tersebut.


"Tapi aku engga bawa helm, Shak." Ucap Sherly.


"Tenang aja, Sher. Nanti kita beli di toko sana. " Kata Shaka sambil menunjuk ke toko helm yang berada di seberang jalan.


"Oke dah kalau gitu. Aku bilang ke Pak Gunawan dulu ya." Kata Sherly.


"Ya udah, aku mandi dan ganti baju dulu ya. Nanti aku temui kamu di tempat parkir mobilmu." Kata Sherly.


"Oke, Shak." Jawab Sherly.

__ADS_1


Kemudian Sherly pergi menuju ke tempat Pak Gun memarkir mobilnya, sementara Shaka pergi menuju ke tempat ganti untuk membersihkan dirinya. Selang 15 menit kemudian, Shaka datang menghampiri Sherly dengan motornya. Ia menyapa Pak Gunawan, supir papanya Sherly, yang selalu menemani dan mengantar kemanapun Sherly pergi. Setelah itu, Sherly pergi dengan Shaka naik motornya.


Mereka kemudian pergi ke toko helm yang ada di seberang Lapangan Rampal.


"Kamu pilih helm yang kamu suka. Aku akan belikan untukmu." Ujar Shaka.


"Engga usah, Shak. Nanti aku beli sendiri." Jawab Sherly sambil memilih-milih helm yang ada di toko tersebut.


Saat Sherly sedang memilih-milih helm, Shaka kemudian menghampiri pemilik toko tersebut. Tak lama kemudian, Pak Budi, pemilik toko tersebut menyerahkan sebuah helm kepada Shaka.


"Siapa tuh, Shak? Pacar barumu?" Tanya Pak Budi.


Shaka tertawa mendengar omongan Pak Budi tersebut. Shaka kenal dengan Pak Budi sudah lama. Pak Budi merupakan teman sekolah ayah Shaka waktu SD. Selain itu, keluarga Shaka merupakan langganan tetap Pak Budi.


"Bukan Pak, ini teman saya." Ujar Shaka sambil mengambil helm warna nila metalik dari tangan Pak Budi.


"Siapa namanya, Shak? Cantik sekali, cocok sama kamu." Tanya Pak Budi.


"Namanya Sherly, Pak. Teman sekolah saya." Jawab Shaka sambil tertawa.


"Kalau engga salah, dulu kamu beli helm warna pink kan?" Tanya Pak Budi.


Shaka tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ternyata Pak Budi masih ingat ketika Shaka membelikan helm warna pink untuk Besty.


"Sudah pindah, Pak." Jawab Shaka singkat.


"Ooooo, berarti ini yang baru ya?" Tanya Pak Budi sambil tersenyum.


"Tenang aja, Bapak engga akan bilang ke ayahmu." Ujar Pak Budi sambil tertawa.


Shaka pun tertawa mendengar godaan Pak Budi.


"Bener, Pak. Ini teman sekolah saya. Ayah dan ibu saya juga kenal sama dia." Jawab Shaka sambil tertawa.


Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang, Sherly datang dengan membawa helm standar yang berwarna biru. Ia heran melihat Shaka ngobrol dan terlihat akrab dengan Pemilik Toko helm tersebut.


"Ini berapa, Pak?" Tanya Sherly.


Pak Budi tersenyum mendengar pertanyaan Sherly.


"Shaka sudah memilihkan helm mbak Sherly." Katanya sambil melihat helm yang ada di tangan Shaka. Ia kaget pemilik toko tersebut mengetahui namanya.

__ADS_1


"Jangan kaget, mbak. Shaka yang ngasih tahu." Kata Pak Budi sambil tersenyum.


Shaka kemudian menyerahkan helm warna nila metalik tersebut kepada Sherly.


"Nih, Sher. Helm untuk kamu." Kata Shaka sambil menyodorkan helm tersebut.


Sherly hanya bisa bengong sambil memandang ke arah Shaka.


"Ini untukku, Shak?" Tanya Sherly.


"Iya, nih..." Ucap Shaka sambil terus menyodorkan helmnya ke Sherly.


"Itu helm spesial, mbak. Limited edition." Kata Pak Budi.


Sherly kemudian dengan ragu-ragu meletakkan helm yang dipilihnya tersebut di atas etalase dan mengambil helm dari tangan Shaka.


"Bagusss sekali, Pak. Berapa harganya?" Kata Sherly sambil mengeluarkan dompet dari tasnya.


Pak Budi hanya tersenyum lebar dan kemudian berkata kepada Sherly.


"Sudah dibayar sama Shaka, Mbak."


Sherly kaget mendengar kata Pak Budi tersebut. Ia lalu menoleh ke arah Shaka yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Ya udah, yuk pergi." Kata Shaka yang kemudian pamitan ke Pak Budi untuk pergi, yang diikuti oleh Sherly dibelakangnya. Sementara Pak Budi hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku mereka.


Setelah Sherly menaiki motor, Shaka kemudian membawa Sherly ke sebuah warkop langganan Shaka dan Bobi. Saat ditengah perjalanan, Sherly menanyakan beberapa pertanyaaan kepada Shaka. Shaka hanya tersenyum seraya berkata :


" Nanti aku jawab pas sampai di sana ya." Jawab Shaka yang membuat Sherly cemberut.


Sesampainya di warkop yang dituju, Shaka membawa Sherly ke bagian outdoor yang berada di sisi back yard warkop tersebut. Mereka kemudian duduk di salah satu meja yang berada di pojok kanan. Sherly terkesima melihat bagian outdoor warkop ini. Sherly melihat meja kayu yang tertata rapi dan dinaungi oleh payung besar yang berwarna-warni. Lampu-lampu tradisional menyala dan tergantung di atas meja. Matanya terbang kesana-kesini di sekitar area outdoor warkop tersebut. Shaka hanya tersenyum melihat Sherly yang sangat mengagumi warkop ini. So beautiful, gumam Sherly lirih.


Kemudian Shaka memesan Hot Chocolate dan Cappucino serta kue pancung rasa tiramizzu saat waitress datang menghampiri mereka.


"Tempatnya cozy banget, Shak. Apa kamu sering ke sini?" Tanya Sherly penasaran.


"Iya, aku sering ke sini sama Bobi." Sahut Shaka.


"Terus kenapa kamu engga pernah ngajak aku kesini? Kamu selalu ngajak ke kafe tempat kita biasa nongkrong aja." Ujar Sherly.


Shaka hanya tersenyum lebar mendengar pertanyaan Sherly.

__ADS_1


" Aku cuma takut kamu engga suka, Sher. Soalnya tempatnya engga sebagus di kafe-kafe yang biasa kita nongkrong." Jawab Shaka.


"Aku paling suka dengan suasana seperti ini, Shak. Feelnya dapet banget. So natural dan romantic." Kata Sherly dengan semangat.


__ADS_2