PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 43, Aku Selalu Ada (End)


__ADS_3

Shaka hanya tersenyum dengan perkataan Sherly tersebut. Selang tak beberapa lama, sang waitress datang membawakan pesanan mereka. Setelah meletakkan semua pesanan tersebut, waitress tersebut pergi meninggalkan mereka berdua.


"Yuk diminum Sher." Ucap Shaka sambil menyerahkan hot chocolatenya kepada Sherly. Sementara ia mengambil cappucino dan kemudian meneguknya.


"Kayaknya aku ingat sesuatu kalau aku lihat kue ini." Kata Sherly menggoda Shaka sambil menunjuk kue pancung tiramizzu yang ada di depannya.


Shaka tertawa mendengar godaan Sherly tersebut. Ia teringat ketika ia membeli dua kotak kue pancung di warkop ini di kala itu. Ia membeli satu rasa chocolate dan satu rasa tiramizzu. Shaka memberikan kue pancung rasa chocolate kepada Besty, sedangkan kue pancung rasa tiramizzu diberikan kepada Sherly. Namun apesnya, saat ia membawakannya ke rumah Sherly, Shaka mengenakan sweater dan training warna pink milik Besty karena bajunya basah dan tertinggal di rumah Besty waktu itu. Sherly hanya bisa tersenyum geli dan mencoba menahan ketawanya saat ia melihat Shaka memakai pakaian serba pink. Ia tidak menyangka bahwa Shaka yang dipikiran Sherly merupakan tipe cowok yang macho, malah datang ke rumahnya dengan memakai pakaian yang pink full colour.


"Bagus kan pakai pink colour?" Ucap Shaka asal.


Sherly tertawa mendengar ucapan Shaka tersebut. Ia mencoba menahan mulutnya agar tidak terlalu tertawa sambil menganggukkan kepalanya.


"Oh ya, kamu tadi mau nanya apa?" Ucap Shaka berusaha mengalihkan topik pembicaraannya.


"Kamu sengaja lupa apa mencoba mengalihkan arah pembicaraan?" Tanya Sherly.


"Kedua-duanya, Sher." Kata Shaka sambil tersenyum dan Sherly pun ikut tersenyum lebar dengan kata-kata Shaka tersebut.


"Kenapa kamu tumben ngajak aku naik motor?"


"Seingatku baru kali ini kamu ngajak aku naik motor sejak aku kenal kamu." Tanya Sherly.


Shaka tersenyum lebar mendengar rasa penasaran Sherly tersebut.


"Engga apa-apa, Sher. Aku cuma senang aja kamu selalu support aku selama ini." Jawab Shaka.


"Kamu selalu ada buat aku, walaupun aku engga pernah minta." Lanjutnya.


Sherly tersenyum malu dengan ucapan Shaka tersebut.


"Terus ngapain kamu beliin aku helm?" Tanya Sherly lagi.


"Itu bonusnya." Sahut Shaka.


"Simpan aja helm itu, kamu bisa pakai kalau kamu membutuhkannya." Imbuhnya.


"Aku engga akan pakai lagi kecuali sama kamu." Ujar Sherly.


"Kenapa gitu?" Tanya Shaka heran.


"Kamu engga perlu nanya, kamu udah tahu jawabannya." Jawab Sherly.

__ADS_1


Shaka hanya tersenyum mendengar kata-kata Sherly. Ia ingat bahwa Sherly menyukai Shaka dan hanya Shaka yang ada di hati Sherly, tidak ada yang lain. Shaka lalu menatap ke arah Sherly yang sedang meminum hot chocolatenya. Ia sangat bersyukur Sherly selalu ada disisinya, namun ia sangat sedih karena ia belum bisa membalas cinta Sherly. Ia diam sambil menatap Sherly.


Sherly yang tahu dilihat terus oleh Shaka, lalu menatap balik ke arah Shaka. Ia merasa malu dengan tatapan Shaka tersebut, sehingga untuk menutupinya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah-olah sedang mencari seseorang.


Shaka tersenyum melihat aksi lucu Sherly tersebut.


"Kamu lucu banget, Sher. " Kata Shaka sambil meminum cappucinonya.


Sherly hanya tersenyum merespon kata Shaka tersebut.


"Lucu apa cantik?" Tanya Sherly sambil mengangkat kedua alisnya.


Shaka tertawa melihat Sherly tersebut.


"Iya, kedua-duanya." Jawab Shaka sambil tersenyum lebar.


"Btw, setelah lulus, kamu mau kemana, Shak?" Tanya Sherly.


"Aku belum ada rencana, Sher. " Jawab Shaka singkat sambil masih tersenyum.


"Kog engga tahu, emang apa keinginan hidupmu?" Tanya Sherly.


"Aku ingin mendirikan sebuah Dojang, Sher." Sahut Shaka.


"Dojang itu tempat latihan." Jawab Shaka.


"Kamu mau mendirikan tempat latihan taekwondo? Kamu mau ngelatih, Shak?" Tanya Sherly dengan rasa penasaran.


"Iya, Sher." Jawab Shaka sambil menganggukkan kepalanya.


"Btw, kamu mau kemana, Sher?" Tanya Shaka.


"Papa ingin aku berangkat ke USA. Papa ingin aku kuliah di Harvard Business School, untuk meneruskan bisnis papa." Kata Sherly.


"Tapi entahlah." Jawab Sherly.


"Kenapa gitu, Sher." Tanya Shaka dengan penasaran.


"Mama nyuruh aku engga kuliah jauh-jauh." Jawab Sherly.


"Mungkin nanti aku pikir-pikir lagi, lagian ada kamu juga disini. Aku engga mudah percaya dan berteman sama orang soalnya." Imbuhnya.

__ADS_1


Shaka hanya tersenyum lebar dengan kalimat yang keluar dari bibir Sherly tersebut.


"Oh ya, kapan kamu berangkat ke Jogja untuk kejuaraan?" Tanya Sherly.


"Dua minggu setelah kelulusan, Sher." Jawab Shaka.


"Emang kenapa?" Tanya Shaka balik.


"Aku ingin lihat kamu bertanding Shak. Tapi pasti engga dikasih sama mama." Tuturnya dengan kesal.


"Engga usah datang, Sher. Terlalu jauh." Jawab Shaka.


"Tapi aku ingin lihat kamu." Imbuh Sherly.


"Walaupun kamu engga datang, aku tahu kamu akan selalu mendukungku." Jawab Shaka.


"Tapi, Shak..." ucap Sherly.


"Udah engga apa-apa. Aku tahu kamu akan selalu ada untukku, Sher. Terima kasih." Kata Shaka sambil mengusap rambut Sherly.


****


Sementara itu, di tempat yang jauh, yang berada ratusan kilometer dari Kota Malang. Seorang gadis sedang menatap foto Shaka bersama dengan dirinya di tangannya. Foto itu merupakan satu-satunya foto yang ia simpan ketika ia pergi dari kota Malang. Air matanya jatuh menetes, membasahi pipinya yang putih. Disekitar gadis itu, terdapat 2 koper yang berwarna hitam dan pink serta siap untuk dibawa.


Tak lama kemudian, seorang wanita datang membuka pintu kamarnya. Ia memandang putrinya yang sedang duduk di tepi ranjangnya tersebut. Ia diam sesaat lalu berjalan menghampirinya. Ia lalu duduk di sampingnya dan kemudian mengusap rambutnya.


"Maafin mama, Besty. Mama terpaksa melakukan ini semua." Kata Tante Belvina.


Besty diam sesaat lalu ia berkata :


"Besty mengerti, ma. Mama melakukan ini semua demi menyelamatkan perusahaan dan keluarga kita." Jawab Besty sambil mengusap air matanya.


Tante Belvina menghela nafas yang panjang dan kemudian berkata :


"Keluarganya Hendra adalah satu-satunya partner perusahaan keluarga kita. Bila mereka memutuskan hubungan kerja samanya dengan perusahaan kita maka semua perusahaan yang terdapat dalam grup perusahaan keluarganya akan ikut menarik diri." Tutur Tante Belvina.


"Mama sudah jelaskan tempo lalu. Mama minta maaf sudah memintamu untuk meninggalkan Malang dan merusak hubunganmu dengan Shaka." Katanya sambil terus mengelus rambut Besty.


"Iya, ma. Besty paham." Jawab Besty.


"Mama sudah jelasin ke Besty waktu ultah waktu itu kalau Besty adalah satu-satunya harapan untuk menyelamatkan perusahaan kita dari ancaman kebangkrutan." Jawab Besty.

__ADS_1


"Terima kasih, Nak." Kata mama Besty sambil merangkul Besty. Sementara Besty hanya diam sambil mengusap air matanya dan kemudian menyimpan kembali foto dirinya bersama dengan Shaka di saku jaketnya.


"Ya sudah, yuk kita berangkat. Nanti kita terlambat untuk check in pesawat." Ucap mamanya sambil berdiri dan membawa satu koper besar yang berwarna hitam keluar kamar. Setelah itu, Besty beranjak dari ranjangnya dan kemudian membawa koper warna pink tersebut keluar kamar, mengikuti mamanya dari belakang.


__ADS_2