PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 36, Selimut Hati (Part 1)


__ADS_3

Dengan rasa amarah yang hampir meledak di dalam dadanya, Shaka pergi dari rumah Besty. Matanya merah membara. Otaknya panas mendidih. Hatinya sangat pedih sekali. Pikirannya berjalan tidak tentu arah. Ia sangat gundah dan gelisah. Ia tidak tahu harus kemana dan hanya berjalan menyusuri jalan yang tidak bertepi.


Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke daerah pegunungan yang terletak di Payung, Kota Batu. Sebuah daerah dataran tinggi yang berada di area Gunung Banyak, Batu. Daerah tersebut sebenarnya merupakan sisi tebing Gunung Banyak yang dapat melihat kota Malang di bawahnya. Sungguh daerah yang sangat indah dengan hawa dingin yang menemaninya.


Sesampainya di sana, ia menepikan motornya di pinggir jalan. Ia menstandarkan motornya lalu melepaskan helmnya. Kemudian ia duduk di tanah, samping motornya, sambil menyaksikan pemandangan Kota Malang yang disinari dengan gemerlapnya lampu-lampu yang menghiasinya. Sungguh indah dan romantis sebenarnya, namun haru biru hatinya membuat suasana malam ini tampak kelabu.


Ia tak kuasa menahan amarahnya lagi. Ia lalu menangis sambil memegang dadanya dengan kedua tangannya. Tangisannya deras mengucur membasahi wajahnya. Mengeluarkan segala emosi yang bertumpuk dan menggunung di dalam dirinya. Hanya langit pekat dan sinar bulan Purnama yang menemaninya. Seakan-akan mencoba menampung semua curahan rasa dalam hati Shaka.


Setelah menguras habis air matanya dan menumpahkan segala isi hati dan perasaannya, Shaka merasa agak tenang. Ia kemudian mencoba merenungi perjalanan cintanya sambil menatap indahnya Kota Malang dari atas tebing Gunung Banyak.


Selang tak beberapa lama kemudian, ponsel dalam kantong celananya bergetar. Ia berpikir bahwa Besty menghubunginya. Ia cepat-cepat mengambil ponsel dari kantongnya tersebut. Namun ia kecewa karena bukan Besty yang menghubunginya, melainkan Sherly yang mengirimkan sebuah pesan untuknya.


Ia sangat berharap Besty menghubunginya dan memberikan kabar serta keadaannya malam ini. Namun ia tidak ingin menghubunginya dulu karena ia tidak tahu situasi di rumah Besty sekarang. Ia tidak ingin menambah runyam dan rumit keadaan Besty dengan mamanya. Biarlah, mungkin nanti malam saja, aku akan menghubunginya, gumam Shaka dalam hati.


Ia kemudian membaca pesan yang ditulis Sherly kepadanya.


“Hai Shak, lagi ngapain? Aku cuma ingin info kalau aku besok sudah diperbolehkan pulang.” Kata Sherly.


“Jadi besok kamu engga perlu datang ke rumah sakit lagi.” Lanjut Sherly.


Dengan menghela nafas, Shaka membalas pesan Sherly tersebut.


“Syukurlah.’ Jawab Shaka singkat.


“Kamu sibuk engga?” Tanya Sherly selanjutnya.


“Engga.” Jawab Shaka dengan singkat lagi.


Sebenarnya ia ingin sekali mengobrol dengan Sherly. Namun ia mencoba menahan dirinya karena ia tidak ingin mengganggu Sherly dalam masa pemulihannya.


Sherly yang membaca pesan singkat Shaka tersebut menjadi heran. Tidak biasanya ia menulis pesan sesingkat ini. Sherly merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sherly tahu bahwa Shaka tidak akan menceritakannya lewat telepon.


Ia kemudian melihat ponselnya yang menunjukkan pukul 9.00 malam.

__ADS_1


“Tidak terlalu malam”, pikir Sherly.


Akhirnya ia mengirimkan pesan lagi kepada Shaka.


“Shak, kalau kamu engga sibuk, Tolong aku disini karena mamaku engga ada.” Ucap Sherly dalam pesannya.


“Kamu masih ingat janjimu untuk selalu ada untukku kan sebelum aku punya pacar?” imbuhnya.


“Aku sangat memerlukan bantuanmu.” Pungkasnya.


Shaka yang membaca pesan Sherly tersebut hanya bisa diam. Ia mencoba menimbang-nimbang permintaan Sherly sambil memutar-mutar ponsel di tangannya. Ia sebenarnya enggan untuk ke sana. Suasana hatinya sangat kacau malam ini.


Namun ia juga tidak tega bila ia meninggalkan Sherly yang sedang membutuhkan pertolongannya. Ia juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan Sherly. Akhirnya ia memutuskan pergi ke rumah sakit tempat Sherly dirawat. Ia mengirimkan pesan kepada ayah dan ibunya bahwa ia terlambat pulang. Ia lalu mengenakan helm dan menghidupkan motornya. Mengendarai motornya dengan kencang untuk menemui Sherly secepatnya.


Sesampainya di rumah sakit yang dituju, Shaka memarkirkan motornya di Basement Parking Area. Ia melepaskan helmnya dan kemudian pergi menuju ke ruangan Sherly yang berada di lantai 3, melewati lift yang ada di pojok kanan Basement Parking Area tersebut.


Ia kemudian menuju kamar Besty dan membuka pintu serta melangkah masuk.


Sherly yang sedang duduk diranjang, menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka tersebut. Ia melihat Shaka yang berjalan menghampirinya.


Sherly tidak menjawab sapaan Shaka. Ia kaget karena ia melihat Shaka datang dengan mata yang sembab dan bengkak. Sherly tahu dengan pasti bahwa Shaka baru saja menangis. Ia hanya bisa diam sambil memandang wajah Shaka tersebut.


"Sher.., Sher..." Kata Shaka dengan suara yang serak memanggil Sherly yang sedang bengong melihatnya.


Sherly tersadar dan kemudian berkata kepada Shaka.


"Apa kamu baik-baik saja, Shak." Tanya Sherly sambil menarik tangan Shaka untuk duduk di tepi ranjangnya. Shaka hanya diam dan kemudian ia mencoba untuk tersenyum.


"Iya, Sher. Aku baik-baik saja." Jawab Shaka dengan nada serak.


"Apa ada yang bisa aku bantu, Sher?" Tanya Shaka.


Sherly diam sambil memandang Shaka. Ia lalu memegang tangan kanan Shaka sambil berkata.

__ADS_1


"Shak, aku mungkin engga punya hak untuk menanyakannya. Tapi aku tahu kamu sedang sedih." Kata Sherly sambil mengusap tangan Shaka.


"Ada apa, Shak?" Kata Sherly sambil menggoyang-goyangkan tangan Shaka.


Shaka hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Tak terasa air matanya keluar dari pelupuk matanya. Ia cepat-cepat mengusap dengan tangan kirinya. Ingin sekali ia menceritakan semuanya kepada Sherly. Tetapi ia khawatir akan menambah beban Sherly. Akhirnya ia pendam semuanya itu di dalam hatinya. Ia lalu menegakkan kepalanya dan berkata sambil mencoba untuk tersenyum.


"Aku engga apa-apa, Sher." Sahut Shaka.


"Oh ya, mana mamamu?" Tanya Shaka sambil mengalihkan pembicaraan.


"Mama pulang karena harus menemani papa." Kata Sherly datar sambil terus memandang Shaka. Ia tahu Shaka berusaha mengalihkan topik pembicaraannya.


"Oh ya, Sher. Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya Shaka.


Sherly diam sambil terus memandang ke arah Shaka. Ia agak kesal karena Shaka tidak menjawab pertanyaanya.


"Kamu katanya butuh bantuanku?" Tanya Shaka.


"Temani aku disini." Jawab Sherly asal yang membuat Shaka kaget.


"A..aaapppaa...?" Sahut Shaka terbata-bata sambil memandang Sherly dengan rasa tidak percaya. Ia terkejut karena Sherly memintanya menginap di rumah sakit untuk menemani Sherly.


"Iya, temani aku di kamar ini." ucap Sherly.


"Tapppiiii..., kita kan...." sahut Shaka dengan kata-kata yang menggantung.


"Justru karena kamu, aku mau. Kalau cowok lain aku engga bakal mau. Aku engga percaya sama cowok selain kamu. " ujar Sherly.


"Ayooo dong, Shak. Kamu kan udah janji untuk selalu menemaniku." Pinta Sherly.


"Tapi Sher..." Kata Shaka sambil menggaruk kepalanya.


"Kamu kan udah janji kepadaku, Shak. Please, aku takuttttt." Rengek Sherly.

__ADS_1


"Apa aku perlu menelpon ayah dan ibumu untuk minta ijin?" Kata Sherly sambil mencari kontak ayah dan ibunya Shaka.


__ADS_2