
Dua minggu sebelum pertandingan, Shaka mendapat kabar buruk. Ia dikejutkan dengan meninggalnya Pak Bram secara mendadak karena serangan jantung. Shaka sangat shock karena baru kemarin sore, Shaka dan Pak Bram berlatih bersama. Ia teringat pesan terakhir Pak Bram sebelum mereka berpisah selesai latihan.
"Shak, bapak bangga dengan segala kemampuan dan mental pantang menyerahmu. Bapak merasa kamu adalah dupiklat bapak. Bapak yakin suatu saat kamu akan menjadi seorang pemenang. Ingat itu." Kata Pak Bram tersenyum.
"Tapi ingat Shaka, bila kamu sudah mengeluarkan segenap kemampuanmu, tapi Tuhan tidak menakdirkan kamu untuk menang, itu bukanlah sebuah kekalahan. Itu hanyalah persiapan dari sebuah kemenangan." Lanjutnya.
"Kekalahan adalah saat kita tidak bertanding dengan segenap kemampuan kita dan akhirnya kita kalah." Pungkasnya.
Selain berita menyedihkan atas meninggalnya Pak Bram tersebut, Shaka juga mendapat berita buruk lainnya yaitu adanya surat konfirmasi dari Panitia Kejuaraan Nasional bahwa untuk sementara Kejuaraan Nasional Tingkat Junior Taekwondo yang akan diselenggarakan di Jogjakarta tahun ini akan dicancel karena alasan teknis.
Hal itu secara otomatis membuat Shaka merasa lunglai dan tak kuasa menahan emosinya. Bagaimana tidak, ia sudah susah payah mempersiapkan dirinya sekeras mungkin, namun akhirnya ia gagal mengikuti kejuaraan nasional tersebut. Baginya Kejuaraan Nasional Tingkat Junior Taekwondo ini adalah kesempatan terakhir Shaka untuk bertanding di kelas Junior. Selain itu ia juga kehilangan sosok pelatih yang sudah berhasil mengembalikan kepercayaan dan kemampuan dirinya.
Orang tuanya dan Sherly mencoba menghiburnya. Mencoba menghilangkan kecewa dan sedih yang menumpuk di hatinya. Namun segala upaya mereka gagal. Shaka memilih menyindiri dan menutup dirinya. Ia merasa sudah kehilangan asa dan harapan untuk bisa berlaga di kejuaraan dunia yang ia impikan. Terlebih-lebih, ia sudah berjanji untuk mengkanvaskan Hendra di kejuaraan nasional yang akan datang tersebut.
Semua harapan dan semangatnya telah pudar. Ia banyak termenung sendiri. Ia bahkan mematahkan sim card ponselnya agar tidak ada siapapun yang menghubunginya. Ia memilih untuk tidak berbicara mengenai hal apapun mengenai dirinya kepada siapapun, termasuk kepada orang tuanya dan Sherly. Ia ingin sendirian sepenuhnya.
Ayah dan ibu Shaka mengerti perasaan Shaka. Mereka sangat paham betapa terpukulnya Shaka. Mereka membiarkannya dan mencoba memberikan waktu bagi Shaka untuk merenungi dan menenangkan dirinya sendiri.
Hingga suatu hari, Ibunya memberikan sepucuk surat dari Sherly kepada Shaka.
"Shak, ini ada titipan dari Sherly." Kata Ibunya yang menghampiri Shaka saat ia keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Titipan apa, Bu?" Jawab Shaka.
"Ini, bacalah sendiri." Kata ibunya sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna putih kepada Shaka.
"Ia tadi datang ke sini untuk pamitan kepada ayah dan ibu." Tutur ibunya.
Shaka kaget dan kemudian terdiam sambil melihat amplop surat yang berada di tangan ibunya tersebut.
"Ia mencoba pamitan sama kamu, Shak. Tapi kamu tidak memberinya kesempatan untuk melakukannya." Kata Ibunya.
"Terima kasih, Bu." Jawab Shaka sambil menerima surat tersebut.
Ia kemudian kembali ke kamarnya dan membaca surat tersebut sambil duduk di tepi ranjangnya. Shaka melihat kalimat demi kalimat yang Sherly tuliskan untuknya. Sherly memberitahukan kepada Shaka bahwa ia berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang akan digelar dua minggu lagi di Universitas Indonesia. Disana ia akan mengambil Jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Akhirnya dipenghujung suratnya, ia berpesan kepada Shaka agar ia bisa hidup dengan baik walau segala badai menghantam dirinya. Ia juga berharap suatu hari nanti mereka berdua akan bertemu lagi dengan keadaan yang jauh lebih baik lagi.
"Jika engkau mau melihat pelangi, engkau harus mau menerima hujan."
Begitu kalimat terakhir surat Sherly yang membuat Shaka terdiam dan menghela nafasnya berkali-kali. Ia mencoba merenungi setiap kalimat dalam surat Sherly tersebut sambil membayangkan segala perjalanan hidupnya bersama dengan Sherly yang selama ini selalu setia menemaninya.
Ia juga kemudian teringat segala perjalanan hidupnya, segala pengorbanan orang tuanya dan juga pengorbanan Sherly untuk dirinya selama ini. Selama tiga hari penuh, ia merenungi segalanya. Ia menangis sendiri, menyadari betapa berartinya pengorbanan orang-orang yang selama ini selalu menyayanginya. Ia juga menyadari betapa berartinya kasih sayang orang tua dan Sherly yang selama ini tulus diberikan kepadanya. Ia merasa orang paling bodoh sedunia dengan mengabaikan ketulusan mereka karena egonya. Ia sekarang merasakan betapa berartinya mereka bagi dirinya.
__ADS_1
Hingga akhirnya ia membuka pintu kamarnya. Ia memberanikan dirinya untuk menemui kedua orang tuanya untuk membicarakan keinginan hatinya. Ibunya menangis mendengar keinginan anak sulungnya itu. Karena ibunya tahu bahwa Shaka akan pergi jauh dari rumah. Sedangkan ayahnya hanya bisa mangut-mangut untuk mencoba mengerti keinginan anaknya tersebut. Akhirnya ayah dan ibu Shaka mengijinkan dan merestui Shaka untuk mewujudkan keinginannya tersebut.
Selang beberapa hari kemudian, ayah, ibu dan Rama, adiknya mengantar kepergian Shaka di Stasiun Kereta Api Malang Kota Baru. Mereka saling berpelukan erat dan menangis. Ayah dan ibunya berpesan agar Shaka bisa menjaga dirinya baik-baik dan pulang bila ada kesempatan. Shaka mengusap air matanya seraya menganggukkan kepalanya. Ia berterima kasih banyak atas segala perhatian dan pengorbanan orang tuanya kepadanya. Ia juga meminta maaf karena belum bisa mewujudkan keinginan ayahnya untuk bisa menjuarai kejuaraan nasional dan membawa pulang piala untuk dipajang di rumahnya.
Ayahnya hanya tersenyum dan mengusap kepala anaknya tersebut. Dengan bijaksana, ayahnya berkata kepadanya.
"Kita tidak bisa memprediksi jalan kehidupan, Nak. Yang bisa kita lakukan hanya bisa menjalaninya." Kata ayahnya.
"Jalanilah hidupmu, raihlah keinginanmu, kejarlah cita-cita dan wujudkan mimpimu.
Doa restu ayah dan ibu selalu menyertaimu." Lanjutnya sambil terus mengusap kepala anak sulungnya tersebut.
Shaka kemudian memeluk ayah dan ibunya. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada adiknya.
"Jaga ayah dan ibu ya, kakak akan hubungi Rama ketika sampai di sana." Ujar Shaka sambil mengusap kepala adiknya.
Adiknya menganggukkan kepalanya sambil mengusap air matanya.
"Sering-sering kirim kabar ya, Shak. Ibu pasti akan merindukanmu setiap hari." Kata ibunya sambil meneteskan air mata.
"Iya, Bu. Shaka akan menelpon ayah dan ibu begitu Shaka sampai di sana." Jawab Shaka.
__ADS_1
Ia kemudian masuk ke dalam ruang tunggu kereta seraya membalas lambaian tangan keluarganya. Meninggalkan mereka untuk sementara waktu demi mewujudkan kebahagian orang-orang yang selalu mencintainya dengan tulus.