
Keesokan harinya, Shaka terlambat bangun. Dengan tergesa - gesa, ia berangkat ke sekolah setelah berpamitan dengan ayah dan ibunya.
" Shaka, jangan lupa sore ini ya?" kata ibunya.
"Iya,Bu." kata Shaka seraya pergi berangkat sekolah.
Ahhh...., semua pertanyaan itu tak bisa membuatku tidur tadi malam, gerutu Shaka. Ia pergi dengan perasaan yang tak menentu. Rasa penasaran tentang Besty dan kejadian yang mereka alami bersama kemarin masih bergelayutan di dalam hati dan pikirannya. Namun, ia tidak mengharap momen yang romantis akan terulang kembali. Rasa sakit dalam hatinya masih terbalut erat dan menutup dalam perasaannya tentang cinta.
Waktu menunjukkan pukul 06.55 pagi. Pintu gerbang sekolah akan ditutup 5 menit lagi. Dengan agak terburu - buru, Shaka turun dari angkot dan hendak menyeberangi jalan menuju ke sekolahnya. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Joni sedang berbicara dengan 3 orang temannya yang mengenakan pakaian bebas di depan gerbang sekolahnya. Tak lama kemudian, Joni memasuki gerbang sekolah dan ketiga temannya tersebut pergi, menghilang dari pandangan Shaka.
"Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu." gumam Shaka lirih.
Shaka kemudian teringat Besty dan kejadian yang mereka alami kemarin. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Besty.
"Aku harus melakukan sesuatu", kata Shaka dalam hati.
Shaka kemudian menyeberang jalan dengan cepat setelah melihat Pak Penjaga Sekolah berjalan ke arah pintu gerbang untuk menutupnya.
Di dalam kelas, Bobi tak berhenti menanyakan keadaan Shaka. Shaka sebenarnya enggan menanggapi pertanyaan Bobi. Namun dengan desakan yang terus menerus, akhirnya Shaka menjawab pertanyaan Bobi setelah Bobi berjanji untuk tidak melakukan apa - apa sesuai dengan permintaan Shaka.
"Kurang ajar dia!!! Akan aku beri pelajaran dia. Lihat saja nanti." Kata Bobi dengan marah.
"Udah, toh dia juga kalah. Ingat janjimu, Bob" kata Shaka meredam emosi Bobi.
"Ok dahhh, awas nanti dia. Sekali lagi dia berbuat kayak gitu. Aku engga akan kasih ampun dia." kata Bobi sambil berapi -api.
Shaka hanya tersenyum melihat tingkah Bobi. Ia tahu watak Bobi yang bersumbu pendek tersebut. Namun dibalik wataknya itu, Shaka tahu kalau Bobi merupakan teman yang baik dan setia.
Bel berbunyi, tanda waktu istirahat telah dimulai. Shaka kemudian bergegas pergi meninggalkan kelasnya. Bobi hanya bisa bengong melihat tingkah Shaka. Bobi heran, tumben Shaka langsung pergi meninggalkan kelas dengan cepat. Biasanya ia sangat ogah - ogahan untuk pergi ketika jam istirahat. Kalau tidak dipaksa Bobi, Shaka lebih memilih diam di kelas sambil membaca buku daripada pergi ke kantin.
__ADS_1
Dengan buru - buru, Shaka pergi ke kelas Besty. Namun sesampainya di kelas Besty, Shaka mengurungkan niatnya untuk masuk. Malu menyelimuti hatinya. Ia hanya bisa memandangi Besty dari luar jendela kelas Besty. Teman sebangku Besty menyadari hal itu dan kemudian berbisik ke telinga Besty. Dengan terkejut, Besty melihat keluar jendela dan kemudian ia beranjak dari kursi yang didudukinya untuk menemui Shaka.
"Hai Shaka, ada apa?" kata Besty.
"Mau engga kamu pulang denganku?" kata Shaka.
Besty tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.
"Aku akan mengantarkanmu pulang." kata Shaka.
"Mulai sekarang." lanjut Shaka.
"Ha.." ucap Besty dengan mulut terbuka.
Besty terkejut setengah mati dengan ucapan Shaka. Ia seakan - akan tidak percaya dengan kata - kata Shaka itu. Ia terus memandang Shaka tanpa berkata apa - apa.
"Tunggu aku nanti di depan kelasmu. Jangan kemana - mana. Aku akan datang untukmu." kata Shaka.
***
Sementara itu, ketika Shaka pergi keluar kelas di saat jam istirahat, Sherly datang ke kelas Shaka. Namun ia heran karena ia hanya melihat Bobi yang hendak pergi ke kantin. Ia menanyakan kemana perginya Shaka. Namun Bobi hanya menjawab tidak tahu seraya menggelengkan kepala.
Dengan cemberut, Sherly kembali ke kelasnya. Namun di tengah perjalanan Sherly melihat Shaka dari kejauhan. Sontak Sherly berlari kecil ke arah Shaka. Kemudian Sherly mendekat dan menarik tangannya. Shaka terkejut dan menghentikan langkahnya. Shaka membalikkan badan dan melihat Sherly yang tersenyum dengan cerianya.
Sherly terkejut ketika melihat wajah Shaka yang memar. Ia bertanya dengan mimik yang serius tentang kejadian yang dialaminya tersebut. Namun dengan entengnya, Shaka menjawab bahwa ia hanya terjatuh. Ia tidak ingin Sherly terlalu khawatir dengan keadaannya. Ia juga tidak ingin masalah yang menimpanya tersebut menjadi masalah yang besar. Sesaat Sherly nampak tidak percaya, namun kemudian Sherly mengalihkan topik pembicaraan dengan mengajak Shaka pergi. Sherly meminta Shaka menemaninya untuk pergi ke toko buku. Namun Shaka meminta maaf dan mengatakan bahwa ia masih punya urusan dengan orang lain.
"Mungkin lain kali ya, Sher." kata Shaka sambil tersenyum.
Akhirnya dengan wajah yang kembali cemberut, Sherly pergi meninggalkan Shaka dan kembali ke kelas.
__ADS_1
"Apa ia masih patah hati?" kata Sherly berbicara sendiri.
"Ihhhhh, gara - gara Tari, Shaka sudah banyak berubah". sambung Sherly dengan kesal sendiri seraya masuk ke kelasnya.
Ketika bel pulang sekolah telah berdering, Shaka segera mengemas buku pelajarannya dan pergi ke kelas Besty. Sesampainya di sana, ia melihat Besty sedang duduk di bangku teras depan kelasnya. Ia menunggu Shaka sambil menggoyangkan kakinya maju mundur.
Melihat tingkah Besty yang seperti anak kecil tersebut, Shaka tertawa kecil. Melihat Shaka tertawa, Besty terkejut dan langsung berdiri.
Ia menanyakan kenapa Shaka tertawa. Apa Shaka sedang mengejek atau menertawai dirinya? tanya Besty sambil mimik cemberut manja. Shaka hanya bilang bahwa ia tidak membayangkan bahwa gadis yang dianggap kejam oleh teman - temannya, ternyata mempunyai sisi lain yang lucu dan manis.
" Cantik juga kan?" kata Besty sambil tersenyum.
"Iya, kamu cantik."
"Tapi simpan kecantikanmu itu hanya untukku. Jangan orang lain, nanti aku enggak kebagian." kata Shaka sambil memandang Besty.
" Ayo, pulang." sambung Shaka.
Besty tertawa malu dan kemudian mengikuti langkah Shaka yang pergi meninggalkan kelas sekolah mereka.
Selama perjalanan pulang Besty banyak bertanya tentang Shaka. Tentang keluarga Shaka dan hal - hal yang disukai dan dibenci Shaka. Terkadang Besty juga bercerita tentang dirinya sendiri. Tentang makanan kesukaannya. Tentang hal - hal yang membuatnya tertawa dan hal - hal lain yang sebenarnya ingin ia lakukan.
Setibanya di rumahnya, Besty mengajaknya masuk ke dalam. Namun Shaka menolak dengan halus dan mengatakan bahwa ia akan mampir lain kali. Ia mengatakan bahwa ia sudah berjanji untuk menemani ibunya pergi ke rumah tantenya sore ini.
Namun sebelum Shaka pergi, Shaka meminjam handphone milik Besty dan kemudian menelpon sebuah nomor dari handphone milik Besty tersebut. Tak lama kemudian Handphone yang berada di saku celana Shaka berbunyi. Setelah itu, Shaka mematikan panggilan telepon dari handphone Besty dan menyerahkan kembali handphone tersebut seraya berkata :
"Simpan nomerku ini. Hubungi aku bila kamu butuh apa - apa. Aku pasti ada untukmu" kata Shaka.
" Terima kasih." kata Besty tersipu malu.
__ADS_1
Kemudian Shaka pamit pulang. Besty memandang Shaka sampai ia menghilang dari pandangan Besty. Dengan hati berbunga - bunga dan bibir yang terus tersenyum, Besty masuk ke dalam rumah. Bik Imah yang melihat senyum indah Besty tersebut ikut merasa senang. Bik Imah melihat secercah harapan telah kembali hadir di dalam diri Besty. Menghangatkan hati dan perasaan Besty yang selama ini beku akibat masalah keluarga yang dialaminya tersebut.