
Selepas dari latihan dengan Pak Bram, Shaka merasa badannya sangat capek. Ia merasa lunglai dan remuk seluruh tulang-tulang dan sendinya. Setibanya di rumah, ia langsung merendam doboknya dan membersihkan dirinya. Ia hanya minum segelas susu dan vitamin sebelum ia merebahkan dirinya di atas ranjang. Tak lupa ia mengirimkan beberapa pesan ke Besty agar ia tidak khawatir.
Tak terasa ia sudah tertidur selama beberapa jam lamanya. Ia terbangun dan kemudian mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Ia melihat jam menunjukkan pukul 4.30 pagi. Ia melihat ada satu pesan masuk dan ia kaget karena ada nama Sherly tertera di situ. Ia membaca pesan tersebut dan kaget bahwa Sherly sekarang di rawat di rumah sakit karena maag akut. Tapi ia tersenyum karena ternyata Mama Sherly yang mengirimkan pesan tersebut dengan catatan jangan sampai Sherly tahu bahwa mamanya yang mengirimkan pesan tersebut. Shaka kemudian berpikir ia harus mengunjungi Sherly selepas sekolah.
Ia lalu teringat doboknya yang masih ia rendam di tempat cucian. Ia lalu bergegas bangun dan pergi ke tempat cucian untuk mencuci doboknya. Shaka terbiasa mencuci semua pakaiannya seorang diri. Ia merasa punya tanggung jawab dan tidak mau merepotkan orang tuanya.
Setelah mencuci dan menjemur doboknya, Shaka lalu pergi ke halaman rumahnya. Langit masih gelap saat Shaka melakukan PR wajib paginya dari Pak Bram. Ia melakukan pemanasan dan kemudian melakukan Horyeo Chagi sebanyak 50 kali. Walaupun sebenarnya badannya masih merasa pegal dan capek, Shaka tetap bersemangat untuk melaksanakan instruksi dari Pak Bram. Ia bertekad untuk mengeksplorasi semua kemampuan dirinya dan mencoba keluar dari batasan diri yang ia punya. Setelah itu, Shaka pergi berangkat ke sekolah dengan menjemput Besty terlebih dahulu.
***
Tak terasa sudah 6 hari lamanya Shaka menjalani rutinitas yang melelahkan seperti itu. Sekolah kemudian mengunjungi Sherly di rumah sakit terus melakukan latihan dan latihan. Ia tetap bersemangat menjalani semua gemblengan dari Pak Bram. Ia bertekad untuk menyelesaikan semua program latihan dari Pak Bram. Karena ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada. Namun hal itu harus dibayar mahal oleh Shaka. Besty menganggap Shaka sudah tidak perhatian lagi dengannya. Ia menganggap Shaka sudah mengenyampingkan Besty dengan tidak pernah menemani Besty lagi. Besty menjadi salah paham dan sering kesal terhadap Shaka.
Shaka hanya diam dan tidak pernah berdebat dengan Besty. Ia hanya banyak tersenyum menanggapi sikap Besty tersebut. Ia ingin menyembunyikan kegiatannya itu sampai nanti di hari ulang tahunnya. Ia akan menyampaikan ke Besty apa yang sudah ia lakukan selama ini. Ini akan menjadi sebuah kejutan untuk Besty karena Shaka masih ingat dengan pesan Besty agar Shaka harus mengambil harga dirinya kembali.
Setelah mengantar Besty pulang di hari Sabtu, Shaka kemudian pamit pulang. Besty hanya diam dan langsung masuk ke dalam rumah. Shaka hanya tersenyum dengan perbuatan Besty tersebut.
"Tunggu nanti malam, Sweety. Aku akan membuat kejutan untukmu", gumam Shaka dalam hati.
Ia kemudian pergi meninggalkan komplek perumahan Besty. Ditengah perjalanan ia membeli beberapa buah di toko dan kemudian mampir ke sebuah rumah sakit swasta di kota Malang. Ia kemudian memarkirkan motornya dan masuk ke ruang perawatan Tulip. Dia kemudian membuka pintu kamar VIP Nomer 101 dan melihat Sherly sedang duduk menyandarkan dirinya di ranjang dengan ditemani oleh mamanya. Tangannya masih tertusuk jarum infus. Namun wajahnya kelihatan jauh lebih segar daripada hari-hari sebelumnya. Melihat kedatangan Shaka tersebut, Mama sherly bangkit dari tempat duduknya dan kemudian menyapa Shaka. Sherly pun ikut tersenyum melihat Shaka yang terus menjenguknya selama 5 hari ini.
"Terima kasih sudah datang, Shaka." Kata mama Sherly.
"Kamu engga perlu repot-repot datang setiap hari ke sini." Lanjut Mama Sherly.
__ADS_1
"Bawa oleh-oleh lagi." Imbuhnya.
Shaka tersenyum lebar mendengar kata-kata Mama Sherly tersebut.
"Tidak apa-apa, Tante. Saya senang bisa datang kemari." Kata Shaka seraya meletakkan bingkisan buah yang ia bawa tadi di meja.
"Tuh kan ma, kan udah Sherly bilang jangan kasih tahu dia. Akhirnya dia setiap hari datang ke sini. Sherly tahu banget sifatnya." Gerutu Sherly.
Shaka dan mamanya hanya bisa tersenyum mendengar gerutu Sherly.
"Sebenarnya dia malu, Shak. Karena kamu lihat Sherly pas dia sakit. Takut kelihatan jelek katanya." Goda mamanya sambil tersenyum.
Shaka tertawa mendengar candaan mamanya sementara Sherly berteriak manja kepada mamanya.
"Dalam keadaan bagaimanapun, Sherly tetap cantik, Tante." Puji Shaka sambil tersenyum.
Tak terasa sudah satu jam Shaka mengunjungi Sherly di rumah sakit. Mereka berbincang dan bercanda satu sama lainnya. Ia kemudian melihat ponselnya dan mengatakan permisi pulang.
"Hati-hati ya, Shaka. Terima kasih sudah datang setiap hari." Kata Mama Sherly.
"Kemungkinan besok Sherly sudah boleh pulang. Nanti tunggu hasil pemeriksaan dokter. Kalau lambungnya sudah baikan, ia akan diperbolehkan pulang." Kata mamanya.
"Iya tante, semoga Sherly cepat sembuh." Kata Shaka sambil mencium tangan Mama Sherly.
__ADS_1
Kemudian Shaka berpamitan kepada Sherly dan mamanya untuk pulang dan meninggalkan kamar perawatan Sherly.
"Sungguh cowok yang baik ya, Sher." Goda mamanya sambil melirik ke arah Sherly.
"Ahhh, mama nih ada aja. Dia kan udah punya pacar." Seloroh Sherly.
"Mama kan cuma bilang cowok yang baik, bukan nanya udah punya pacar atau belum." Kata mamanya sambil tertawa.
"Ahhh, mamaaa.." Sahut Sherly manja.
Mamanya kemudian tertawa mendengar ucapan putrinya tersebut.
***
" Bagus, Shak. Perkembanganmu sudah agak maju sekarang." Kata Pak Bram di akhir latihan sore hari ini.
"Latihan ini akan menambah massa ototmu tapi hanya mengurangi berat badanmu sepersekian persen saja."
"Kamu bisa bertanding di kelasmu semula seperti dulu, di under 63 Kg." Lanjut Pak Bram.
"Siap, Sabeum Nim." Kata Shaka dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Sekian latihan hari ini, kita ketemu hari senin lusa. Tapi jangan lupa kerjakan PRmu di hari minggu besok." Kata Pak Bram sambil menepuk bahu Shaka.
__ADS_1
Pak Bram kemudian tersenyum sambil berlalu dari hadapan Shaka. Ia senang Shaka menjalani semua program latihannya dengan sungguh-sungguh dan tidak pernah mengeluh. Ia amat bangga Shaka memiliki fisik yang kokoh dan mental yang kuat untuk menjalani semua latihannya tersebut. Ia teringat dengan dirinya ketika masih muda dulu. Sama persis dengan yang Shaka miliki sekarang. Hanya nasib saja yang membedakan mereka berdua, pikir Pak Bram.
Setibanya di rumah, ia melakukan rutinitas seperti biasa. Tak lupa ia membersihkan dirinya dan kemudian berganti pakaian. Walaupun badannya capek dan pegal, Shaka tetap memaksakan dirinya pergi keluar. Hari ini adalah hari yang istimewa karena Besty sedang merayakan ulang tahunnya di rumahnya. Pasti dia sangat cantik sekali malam ini, pikir Shaka sambil tersenyum.