
Shaka membawa Besty ke sebuah Cafe dengan desain interior yang beraneka ragam dengan konsep yang unik. Cafe tersebut memanjakan mata dan imajinasi dengan menyajikan berbagai sederetan spot foto menarik dengan tema yang berbeda-beda seperti Box Telephone Decoration, Barber Decoration dan Street Decoration.
Besty terpukau dengan ambience cafe tersebut. Shaka hanya tersenyum melihat tingkah Besty yang terkesima dengan set dekorasi interior dalam cafe tersebut. Shaka kemudian menggandeng tangan Besty dan membawanya masuk ke area semi outdoor yang berada di sisi kanan cafe serta duduk di table yang menghadap ke arah jalan raya.
Selang satu menit kemudian, waitress datang untuk menyerahkan buku set menu kepada mereka berdua dan kemudian berdiri di samping mereka untuk mencatat makanan dan minuman yang akan mereka pesan.
"Kamu pesan apa, Besty?" kata Shaka.
"Apa aja, terserah kamu." kata Besty sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
"Kalau begitu, saya pesan 1 waffle dan Hot Chocolate Latte, terus Chilli Tofu dan Hot Green Tea Latte." kata Shaka.
"Baik, Mas. Saya konfirmasi pesanannya ya, 1 waffle, 1 Chilli Tofu, 1 Hot Chocolate Latte dan 1 Hot Green Tea Latte." kata waitress tersebut.
"Iya, Mbak. Makasih ya." kata Shaka.
"Baik, Mas. Tunggu sekitar 10 menit ya, Mas." kata waitress tersebut sambil tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah waitress tersebut pergi, Besty berkata kepada Shaka :
"Bagus banget tempatnya, Shak?"
"Kamu kog tahu ada tempat se-cozy ini?
"Apa kamu sering ke sini? lanjutnya.
"Engga, cuma 3 kali aja. Empat kali sekarang sama kamu." kata Shaka sambil melihat Besty.
"Terus yang pertama, kedua dan ketiga sama siapa?" tanya Besty penuh selidik.
Shaka tersenyum mendengar pertanyaan Besty tersebut dan kemudian menjawabnya :
"Engga sama siapa- siapa, sendiri aja." kata Shaka.
"Pasti Boong ya?Jujur aja engga apa-apa." goda Besty.
Shaka tersenyum dan kemudian diam sesaat sambil menatap Besty. Besty terlihat bingung dengan perbuatan Shaka. Kenapa Shaka malah diam dan tidak menjawab pertanyaanya. Apa ia telah menyinggung perasaan Shaka?
"Kenapa kamu diam, Shak? Apa kamu tersinggung?" tanya Besty dengan rasa khawatir.
Shaka kemudian tersenyum dan berkata :
__ADS_1
"Engga."
"Sama sekali engga." lanjutnya.
"Terus kenapa diam?" tanya Besty.
Shaka kemudian terdiam lagi, setelah menghela nafas, ia berkata :
"Aku selalu datang ke sini ketika aku mulai mempercayai sesuatu."
Sebelum melanjutkan kata-katanya, waitress datang dengan membawa makanan yang sudah dipesan oleh mereka. Setelah meletakkan pesanan mereka di atas meja, waitress itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Waffle dan hot chocolatenya untuk kamu." kata Shaka.
"Aku tahu kamu suka waffle dan hot chocolate. " sambungnya.
"Kog kamu tahu?" tanya Besty.
"Iya, aku tanya ke Bik Imah." tukas Shaka sambil tersenyum.
"Ihhh dasar. Pasti kamu sogok Bik Imah ya?" kata Sherly sambil meminum hot chocolatenya.
Shaka hanya tersenyum mendengar asumsi tak berdasar dari Besty tersebut dan kemudian ia meminum Hot Green Tea Lattenya.
"Apanya?" jawab Shaka polos.
"Iya..., itu..., yang tadi. Yang kamu bilang tadi. Yang kamu bilang selalu datang ke sini." kata Besty.
Shaka tersenyum melihat rasa penasaran yang timbul dalam pernyataan Besty tersebut. Kemudian ia meminum seteguk minumannya dan melanjutkan perkataannya.
"Aku selalu datang ke sini saat aku mulai mempercayai sesuatu." kata Shaka mengulang perkataannya.
"Aku membawamu ke sini karena aku percaya sama kamu, percaya sama perasaanku kepadamu, dan percaya pada hubungan kita." lanjutnya.
"Walau aku engga tahu sepenuhnya tentang kamu dan masa depan kita." imbuhnya.
"Namun aku ingin memulai hubungan ini dengan suatu kejujuran atas dasar kepercayaan." pungkasnya.
Besty hanya diam mendengar kata-kata Shaka. Lalu ia memandang mug Hot Chocolate yang ada di depannya seraya meletakkan kedua tangannya dimug. Ia kelihatannya sedang memikirkan sesuatu sambil mencoba melawan dinginnya udara Kota Malang yang menyelimuti mereka.
"Shak, aku ingin cerita sesuatu. Aku harap aku tidak membuatmu kecewa" kata Besty sambil menghela nafasnya.
__ADS_1
Shaka menatap mata Besty dan ia siap mendengarkan semua kata-kata yang akan keluar dari mulut Besty.
"Shak, selain masalah orang tuaku, aku juga punya masalah lain yang menjadi alasan aku pindah."
"Aku ingin melupakan Hendra, mantanku."
"Ia anak teman ibuku dan kami dijodohkan sejak kecil. Aku sangat dekat dengannya semenjak kecil sampai akhirnya kita harus pisah tahun kemarin."
"Ia setahun lebih tua dariku. Ia seorang anak orang kaya raya di Surabaya, yang tampan dan flamboyan. Namun sayang, ia sangat ambisius."
"Kami bertengkar saat ia kalah dalam pertandingan Final Kejuaraan Nasional Junior Taekwondo tahun kemarin di Jakarta."
Shaka kaget mendengar perkataan Besty tersebut. Tapi ia lebih memilih diam dan tidak menyela perkataan Besty.
"Ia menyalahkan aku yang tidak berada disisinya saat kalah. Katanya, aku egois dan mementingkan diriku sendiri."
Besty kemudian menundukkan kepalanya. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipinya. Ia merasa sangat sedih dengan perasaan yang dialaminya itu. Kemudian Ia kembali menegakkan wajahnya dan berusaha mengusap air matanya. Namun sebelum tangannya sempat mengusapnya, Shaka mendekatkan badannya ke arah Besty dan menghapus air mata yang jatuh membasahi pelupuk mata Besty.
Besty kaget dengan perlakuan Shaka. Ia hanya bisa diam dan merasakan tangan hangat Shaka mengusap air mata di wajahnya seraya melihat Shaka yang tersenyum kepadanya.
"Apa kamu kecewa, Shak?" kata Besty setelah Shaka berhenti menghapus air matanya.
Shaka menelan ludahnya dan kemudian berkata :
"Engga."
Walaupun rasa galau menguasai perasaannya, Shaka berusaha mengontrol keadaan dirinya. Ia mencoba meredam rasa kecewa yang ada dihatinya. Disatu sisi, ia berpikir jangan sampai ia hanya dijadikan pelampiasan oleh Besty. Namun disisi lain, Ia tidak ingin melihat cewek yang disukainya itu tambah sedih dan kehilangan harapan. Logikanya mengisyaratkan bahwa Besty menaruh kepercayaan dan harapan kepada Shaka dengan bercerita tentang masa lalunya. Nalurinya berkata bahwa Besty sedang mencoba membersihkan sedikit demi sedikit beban yang menempel di hati dan perasaannya tersebut. Oleh karena itu, Shaka berusaha untuk tidak menambah beban hatinya dengan cara memendam sendiri perasaannya sekarang.
"Terus gimana ceritanya?" kata Shaka.
"Apa kamu sudah menjelaskan alasanmu kenapa kamu tidak datang?" lanjutnya.
Besty meminum Hot Chocolatenya dan kemudian menjawab :
"Sudah, berkali-kali aku jelaskan bahwa aku sedang ada sesi pemotretan terakhir di Surabaya." kata Besty.
"Berkali-kali aku meminta maaf kepadanya. Namun ia tetap menyalahkan aku. Gara-gara aku tidak datang, ia akhirnya kalah."kata Besty.
"Akhirnya aku memutuskan berhenti dari dunia modelling dan setuju untuk pindah ke Malang." lanjutnya.
"Aku merasa bersalah ke Hendra, Shak." kata Besty.
__ADS_1
"Dan rasa bersalah ini yang membuatku kadang tidak bisa melupakan dia." sambungnya.
" Maafin aku, Shak." pungkas Besty.