
Sherly pun bermaksud pergi ke dalam rumah. Namun langkahnya terhenti ketika Shaka memegang tangannya sambil berkata :
"Aku ingin ketemu kamu, Sher. Aku kangen sama kamu."
Sherly pun membalikkan badannya seraya menatap Shaka. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap jauh ke dalam bola mata Shaka. Untuk sesaat, Sherly merasakan rasa gembira dan senang singgah di dalam perasaannya, namun kemudian ia mulai sadar bahwa Shaka sudah seperti yang dulu lagi. Ia sekarang sudah mempunyai Besty yang kini ada di hatinya. Sherly kemudian melepaskan tangan Shaka yang memegang tangannya dan berpaling pergi tanpa berkata apapun.
Shaka hanya diam memandang Sherly yang berlalu dari hadapannya. Ia kemudian berkata sambil memandang punggung Sherly.
"Sher, aku tahu aku mengecewakanmu."
"Tapi Aku juga tahu kamu masih peduli padaku."
Sherly menghentikan langkahnya dan kemudian membalikkan badannya seraya berkata :
"Tapi kamu udah engga peduli padaku,Shak."
Setelah mendengar kata Sherly tersebut, Shaka berjalan menghampirinya. Ia memandang Sherly yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
Ia kemudian mengusap rambut Sherly sambil berkata :
"Jika kamu bukan sahabatku, aku pasti sudah memelukmu."
Sherly memandang Shaka sambil berkata :
"Apa cuma Besty aja yang bisa kamu peluk?"
"Apa cuma Besty aja yang bisa kamu pedulikan?"
Sherly membalikkan badannya lagi dan berniat untuk melangkah ke teras rumahnya. Namun sebelum ia melangkahkan kakinya, Shaka memegang tangan Sherly dan kemudian menariknya ke dalam pelukannya.
Shaka memeluk Sherly dengan kedua tangannya. Lalu ia mengusap rambut Sherly secara perlahan-lahan. Shaka sekarang yakin bahwa Sherly menyukainya. Ia tahu mungkin Sherly merasa tersisihkan dengan keberadaan Besty. Sehingga ia merasa cemburu dan menjauh darinya.
Namun Shaka tidak mau mengatakan atau menanyakan apapun yang ada dipikirannya itu. Ia tidak menyakiti mau Sherly lebih dalam lagi. Terlebih lagi, ia tidak mau kehilangan Sherly andaikata ia menolak perasaan Sherly. Shaka tidak mau kehilangan orang yang selama ini selalu menolongnya. Shaka juga tidak mau kehilangan orang yang selama ini selalu menemaninya. Sehingga Shaka hanya pendam sendiri apa yang dirasakannya itu tanpa menanyakan lebih lanjut kepada Sherly. Ia takut, ia tidak bisa berteman lagi dengan Sherly andai ia harus memilih antara Sherly dan Besty. Shaka paham bahwa dirinya tidak akan bisa berteman lagi dengan orang lain yang menjadi mantannya.
"Kalau kamu mau mengatakan sesuatu, katakan di dekat jantungku sekarang. Agar aku bisa lebih memahaminya." kata Shaka.
__ADS_1
"Kalau kamu mau menangis, menangislah sekarang. Dadaku masih cukup lebar untuk menampung beban hatimu." lanjutnya sambil terus mengusap rambut Sherly yang hitam.
Sherly merasakan hangatnya tubuh Shaka. Ingin rasanya ia menumpahkan perasaannya di dalam pelukan Shaka. Ingin rasanya ia menangis untuk mengurangi beban yang ada dihatinya. Andaikata Shaka masih single, ia akan mengutarakan isi hatinya sekarang. Namun ia menyadari bahwa Shaka sudah mempunyai Besty sebagai pacarnya. Ia hanya menyembunyikan wajahnya di pelukan Shaka sambil mengeluarkan air mata.
"Ngapain aku harus bilang sama kamu tentang perasaanku?" katanya sambil terisak.
"Ngapain juga aku harus nangis di pelukanmu?" kata lanjutnya.
"Kamu juga bukan pacarku?" tuturnya.
Shaka tersenyum mendengar kata-kata Sherly. Ia melepaskan pelukannya dan kemudian menatap mata Sherly yang sembab.
Ia semakin gemas dengan tingkah Sherly yang sebenarnya merupakan anak manja. Ia kemudian kembali mengusap rambutnya dan berkata :
"Sher, selama kamu masih belum punya pacar. Aku akan selalu ada untukmu."
"Terus kenapa kamu meninggalkanku dan engga pernah punya waktu untukku?" tanya Sherly sambil cemberut
Ingin rasanya Shaka tertawa melihat tingkah manja Sherly, namun ia tahan dengan cara menutup erat bibirnya dan menghela nafas yang panjang. Shaka berkata sambil memegang kedua pundak Sherly :
"Sher, Aku minta maaf kalau kamu merasa aku seperti itu."
"Gombal, aku engga percaya sama kamu." kata Sherly yang kini sudah tidak terisak lagi.
"Ya udah, sekarang apa yang harus aku lakukan untukmu. Aku janji akan melakukannya selama itu engga menyakiti hati dan perasaanku." kata Shaka sambil memandang wajah Sherly.
Sherly diam dan mengernyitkan alisnya ke atas. Ia mencoba untuk berpikir sesuatu. Setelah itu, ia memandang Shaka sambil berkata :
"Untuk sekarang...., engga ada. Nanti aku pasti minta sesuatu. Kamu janji kan mau mengabulkannya kan?" tanya Sherly.
Shaka tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Iya, Nona Manis." kata Shaka
Sherly pun tersenyum mendengar kata Shaka. Kehadiran Shaka sore itu sedikit menghibur dan menghapus sakit di hati Sherly. Ia kemudian mengajak Shaka masuk ke dalam rumah. Namun seperti biasa, Shaka lebih nyaman berada di teras rumah.
__ADS_1
"Aku engga tahu kenapa, tapi aku lebih suka berada di teras rumah saat sama kamu, Sher." kata Shaka ketika menjawab pertanyaan Sherly yang penasaran kenapa Shaka lebih suka berada di teras rumahnya.
"Suasananya lain dan menenangkan hati." imbuhnya sambil tersenyum.
Di sore itu, Shaka lebih banyak mengobrol tentang hal lain. Ia tidak mau membicarakan masalah Tari dengan Sherly sekarang. Ia masih berusaha mengobati lara yang ada di hati Sherly atas sikapnya selama ini. Biarlah ia memendam sendiri masalah Tari untuk sekarang ini. Yang penting sekarang, ia merasa lebih tenang melihat Sherly kembali bercerita dengan tertawa kembali.
Di sore itu mereka lebih banyak bercerita mengenang masa-masa mereka dulu. Mereka menghabiskan waktu mereka dengan saling bercanda tawa mengingat masa pertemuan mereka dulu hingga sampai sekarang. Mereka juga menertawakan kejadian yang tadi terjadi. Shaka membiarkan dirinya larut dalam suasana itu. Ia senang perasaan Sherly sudah mencair dan kembali seperti dulu lagi sedikit demi sedikit.
Hingga akhir, jam dinding di ruang tamu Sherly berdentang 9 kali yang menunjukkan sudah pukul 21.00 WIB. Shaka akhirnya pamitan untuk pulang. Sherly mengantar Shaka sampai di pagar depan rumahnya.
"Makasih ya, Shak. Kamu udah mau main ke rumah." kata Sherly.
"Aku yang berterima kasih karena kamu udah mau menemui aku." jawab Shaka sambil tersenyum.
"Lain kali, kalau kamu engga peduli lagi sama aku, aku engga akan mau nemui kamu lagi." kata Sherly.
"Iya, udah sana masuk. Kunci pagarnya." kata Shaka sambil mengacak-acak rambut Sherly.
Shaka pun pergi meninggalkan rumah Sherly setelah Sherly masuk dan mengunci pintu pagar depan rumahnya. Shaka berjalan menuju motornya dan setelah itu kembali pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Shaka bertemu dengan ayah dan ibunya yang sedang bercengkrama di ruang tamu. Setelah memberikan salam dan mencium tangan kedua orang tuanya, Shaka berniat masuk ke dalam kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat ayah memanggilnya dan memberikan sebuah kartu nama kepadanya.
"Shak, teman ayah memberikan kartu nama ini." kata ayah sambil menyodorkan kartu nama ke Shaka.
Shaka mengambil kartu nama yang bertuliskan nama :
"Bramantya Bagaskara"
"Teman ayah bilang ke ayah bahwa ia dulu merupakan atlet taekwondo yang sangat berbakat di Malang." tutur ayah.
"Pada saat mengikuti seleksi untuk mengkuti kejuaraan di Korea, ia mengundurkan diri dan berhenti menjadi atlet saat ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian meneruskan usaha bengkel ayahnya untuk menghidupi adik dan ibunya pada saat itu." lanjutnya.
"Waktumu kurang dari 3 bulan untuk berlatih bila kamu ingin pergi ke Kejuaraan Nasional. Coba kamu pertimbangkan dulu nasihat ayah." kata ayah.
"Baik, yah. Shaka akan coba pertimbangkan nasihat ayah. Terima kasih banyak atas bantuan ayah." kata Shaka sambil berpamitan untuk pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Shaka masuk ke kamarnya. Ia meletakkan kartu nama itu di saku bajunya. Lalu ia membersihkan dirinya dan kemudian merebahkan badannya di atas ranjang. Ia mengambil kartu nama yang ada di bajunya, kemudian membolak-balikkan kartu nama tersebut sambil mengingat semua kejadian yang terjadi di hari ini.
Lalu ia mengambil ponselnya yang berbunyi di atas meja. Ia melihat satu pesan dari Besty. Ia hanya tersenyum melihat pesan Besty tersebut dan kemudian memutuskan untuk menelpon Besty. Mereka ngobrol dan tertawa berdua seperti biasa. Mereka menutup malam itu dengan ciuman kiss bye dari Besty yang semakin membuat Shaka ingin bertemu dengannya di keesokan harinya.