
Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah 3 bulan lamanya Shaka dan Besty berpacaran. Mereka menghabiskan waktu pacaran mereka dengan pergi berdua ke tempat-tempat yang menyajikan view alam yang menyegarkan mata seperti taman bunga, kebun teh dan apel. Selain itu, mereka juga pergi tempat lain yang menenteramkan hati seperti area pemandangan daerah pegunungan Arjuno, Gunung Banyak dan juga Gunung Putri Tidur. Mereka menikmati masa‐masa pacaran mereka dengan saling mengisi hati mereka dengan rasa kasih sayang yang terjalin diantara mereka berdua. Tidak dengan hawa nafsu seperti layaknya pasangan-pasangan lain yang sedang kasmaran.
Shaka berusaha untuk memberikan segenap hatinya kepada Besty. Pengalaman masa lalunya menuntunnya untuk berusaha sebaik mungkin mengenalkan arti cinta kepadanya. Ia bertekad untuk membuat Besty selalu bahagia saat ia berada di sisinya. Ia mencoba membuat Besty merasa nyaman ketika dekat dengan dirinya. Ia juga berusaha untuk membuat Besty selalu tersenyum dan tertawa dengan kehadirannya. Ia yakin bahwa ketulusan hatinya akan mampu membawa Besty jauh dari lara dan nestapa akibat masa lalunya.
Sementara itu, disisi lain, Besty sangat menikmati waktunya bersama dengan Shaka. Ia sangat menyukai sifat Shaka yang perhatian dan dewasa. Ia juga sangat menyukai sifat Shaka yang terkesan cool, tapi sangat hangat dan penyayang. Sehingga tanpa ia sadari, ketulusan hati Shaka membuat luluh hati dan perasaan yang ada di dalam dirinya. Pelan-pelan menjadikan Shaka sebagai satu-satunya tempat bersandar. Yang akan selalu membuatnya kuat untuk menahan segala beban di hati dan juga membuatnya juga kuat untuk menanggung rasa sakit akibat luka di masa lalunya.
Shaka merasa ia mulai semakin dekat dan akrab dengan Besty. Namun ia tak bisa memungkiri bahwa ia semakin jauh dari Sherly. Ia senang dan bahagia mempunyai Besty yang berada disisinya. Tapi disisi lain ia merasa ada yang kosong semenjak Sherly memutuskan untuk menjauh darinya.
Sudah tiga bulan ini, Sherly terkesan dingin dan pendiam. Ia sekarang tidak pernah menghubungi Shaka. Ia juga berusaha menghindar bila Shaka berusaha menemuinya. Bahkan ia hanya sekedar menyapa Shaka bila berpapasan muka dengannya di sekolah dan berlalu meninggalkannya begitu saja. Shaka merasa ia tidak lagi ceria seperti yang dulu. Shaka merasa Sherly sudah berubah terhadap dirinya.
Saking penasarannya, Shaka kemudian mengajak Bobi berbicara saat waktu istirahat.
"Bob, kamu tahu kenapa dengan Sherly?" tanya Shaka.
"Apanya kenapa?" jawab Bobi.
"Dia sepertinya cuek kepadaku, Bob. Dia terkesan menghindariku." kata Shaka.
"Apa dia juga seperti itu ke kamu, Bob?" tanya Shaka.
"Engga, dia masih tetap tersenyum dan menyapaku seperti biasanya. Bahkan dia ngomong seperti biasanya juga." jawab Bobi.
"Engga ada yang aneh menurutku, Shak." lanjutnya.
"Kamu engga tanya dia langsung?" pungkasnya.
"Aku sudah berusaha untuk ketemu dengannya. Tapi ia sulit dihubungi." kata Shaka.
"Telponku tidak pernah ia jawab, pesanku pun hanya dijawab sekedarnya."
__ADS_1
"Aku mencoba untuk main ke rumahnya, tapi selalu Bik Wulan yang menemuiku." lanjutnya.
"Apa ia marah kepadaku,Bob?" tanya Shaka.
"Apa ia pernah cerita tentangku kepada kamu?" lanjutnya.
Bobi diam dan mengernyitkan alisnya, pertanda ia sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Kayaknya sih engga, Shak." sahut Bobi.
Shaka terhenyak dalam tempat duduknya saat mendengar jawaban Bobi tersebut. Ia kemudian diam dan mencoba untuk berpikir. Ia sedang berusaha mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan Sherly. Mengapa ia melakukan itu kepada Shaka? Apa yang sudah Shaka lakukan sehingga membuat Sherly terkesan membencinya.
"Apa kamu tidak menyadari sesuatu,Shak?" tanya Bobi.
"Apa, Bob?" jawab Shaka.
" Seperti yang aku katakan dahulu, kayaknya Sherly punya perasaan ke kamu." kata Bobi.
"Shak, bila Sherly engga punya perasaan sama kamu. Dia engga akan kayak gitu." kata Bobi.
"Cewek akan biasa aja kalau dia engga punya rasa. Tapi cewek akan berubah bila dia punya rasa." tambahnya.
"Coba kamu pikirin, Shak." lanjutnya sambil menepuk bahu Shaka.
Shaka hanya terdiam mendengar kata-kata Bobi. Ia coba merenungi dan memahami kata-kata Bobi tersebut. Ia berusaha merangkai kata-kata Bobi itu dengan tingkah laku Sherly selama ini. Akhirnya Shaka sedikit paham dan mengerti tentang maksud Bobi. Hanya saja ia masih belum yakin tentang hal tersebut.
Hingga akhirnya setelah jam pelajaran usai, Shaka ingin melintas di depan kelas XII IPA -1 ketika hendak menuju ke kelas Besty. Ia sengaja melintas kelas tersebut hanya untuk melihat Sherly. Ia ingin tahu keadaan dan kondisi Sherly.
Saat ia melintasi kelas tersebut, ia melihat Sherly berdiri dan bersiap meninggalkan kelas. Shaka menghentikan langkahnya dan terus memadang wajah Sherly. Saat Sherly berjalan keluar kelas, langkahnya terhenti ketika ia melihat Shaka melalui jendela kelasnya. Ia diam sesaat, lalu ia meneruskan langkahnya menuju pintu keluar kelasnya itu.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu keluar, ia menyapa Shaka yang sedang berdiri di depannya.
"Hai, Shak." kata Sherly seraya berlalu dari hadapan Shaka.
Shaka kemudian memegang tangan Sherly sehingga langkah Sherly terhenti. Shaka kemudian membalikkan badannya dan memandang Sherly.
"Kamu kenapa, Sher?" tanya Shaka.
"Engga kenapa-napa." jawab Sherly sambil melepaskan tangan Shaka.
"Kenapa kamu terus menghindar, Sher? Apa aku ada salah sama kamu." tanya Shaka lagi.
"Engga ada." jawab Sherly datar.
"Aku pulang dulu, Shak." kata Sherly sambil meninggalkan Shaka.
Shaka hanya bisa memandangi kepergian Sherly dengan perasaan yang keheranan. Ia tidak mengerti dengan semua sikap Sherly. Ia tidak paham kenapa Sherly sudah banyak berubah serta tidak lagi hangat dan akrab seperti dulu lagi. Kemudian Shaka meneruskan langkahnya untuk pergi ke kelas Besty.
Seperti biasa, Besty menunggu Shaka di depan kelasnya. Setelah Shaka datang, Besty kemudian tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya. Ia kemudian menggandeng tangan Shaka untuk pergi bersama ke area parkir motor yang terletak di pojok halaman sekolah. Setelah memakaikan helm di kepala Besty, Shaka kemudian mengendarai motornya untuk mengantar Besty pulang ke rumah. Saat keluar dari pintu gerbang sekolah, Shaka melihat mobil BMW hitam sedang berhenti di seberang jalan. Shaka secara samar melihat seorang gadis sedang melihat ke arah mereka dari kaca pintu belakang mobil tersebut. Tapi Shaka tahu siapa pemilik mobil itu dan yakin secara pasti bahwa gadis itu adalah Sherly.
Sepanjang perjalanan, Shaka hanya terdiam. Sesekali ia menjawab tersenyum seraya menjawab pertanyaan Besty. Sesampainya di depan rumah Besty, Shaka turun dari motornya dan mengantarkan Besty sampai di depan rumah.
"Kamu kenapa harin, Shak?" Kog jadi pendiam?" tanya Besty.
Shaka hanya terdiam mendengar pertanyaan Besty. Ia berpikir apakah ia akan menceritakan apa yang ada dipikirannya atau tidak. Bila ia cerita, ia takut Besty akan salah paham kepadanya namun bila ia tidak cerita, ia sudah terlanjur berjanji untuk mengawali hubungan ini dengan rasa kejujuran. Akhirnya Shaka memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Besty.
Besty mengajak Shaka masuk ke dalam rumahnya. Setelah mereka duduk di sofabed yang berada di ruang tengah dan meneguk es sirup dari Bik Imah, Shaka menceritakan kisah pertemanannya dengan Sherly mulai dari A sampai Z. Ia juga menceritakan sikap Sherly yang ia rasa aneh terhadap dirinya akhir-akhir ini. Ia hanya berharap semoga Sherly kembali mau berteman dengannya seperti dulu lagi. Ia tidak ingin Sherly menghindar dan menjauhinya seperti sekarang ini karena ia tidak ingin kehilangan teman seperti Sherly. Besty hanya tersenyum dan diam mendengar cerita Shaka. Ia tidak menyela sedikitpun kalimat per kalimat yang meluncur dari bibir Shaka. Ia hanya mengatakan kepada Shaka bahwa Sherly pasti mempunyai alasan tertentu mengapa ia bersikap seperti itu. Besty juga mengatakan beberapa kemungkinan alasan yang mendasari sikap Sherly tersebut. Kemudian Besty memandang wajah Shaka dan memintanya untuk menemui Sherly secara langsung. Shaka hanya diam mendengar kata-kata Besty itu. Ia kemudian menatap Besty dan berkata :
"Apa kamu yakin aku harus menemuinya?"
__ADS_1
Besty hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Kamu nanti pasti akan tahu jawabannya,Shak." imbuhnya.