
Besty memandang Shaka seraya mundur dua langkah ke belakang setelah mencium pipi Shaka. Shaka hanya terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Ia terkejut ketika Besty berani mencium pipinya di depan rumah. Ia juga tak kalah terkejutnya ketika Besty mengatakan bahwa mamanya ingin bertemu dengan dia. Ia tidak menyangka Mama Besty mau bertemu dengan pacar anaknya. Apa yang sudah Besty ceritakan kepada mamanya? Apa yang ada di dalam benak Mama Besty sekarang? Apa pikiran Mama Besty tentang dirinya? Banyak pertanyaan yang melintas di jalur pikirannya itu. Sehingga ia hanya bisa bengong dan diam mematung.
Besty hanya tersenyum geli melihat tingkah laku Shaka. Ia tidak menyangka Shaka akan sekaget ini. Besty kemudian membuyarkan lamunan Shak dengan kata-katanya.
"Udah, Shak. Tenang aja, engga ada apa-apa." kata Besty.
"Cuma ketemu aja, engga ngelamar." goda Besty sambil tersenyum.
Shaka tersenyum lebar mendengar kata-kata Besty. Ia menjadi salah tingkah dan kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehehe, iya." kata Shaka sambil malu-malu.
"Btw, kamu kog berani mencium pipiku di depan rumah? Apa kamu engga takut dilihat sama orang-orang di sini?" tanya Shaka.
"Engga, biasa aja." sahut Besty.
"Apa kamu engga malu ketahuan Bik Imah?" tanya Shaka lagi.
"Engga, aku udah cerita sama Bibik kalau kita ciuman." jawab Besty datar.
"Haaaaaaa..."kata Shaka sambil kaget.
"Aku deket sama Bik Imah. Bibik itu udah seperti ibu keduaku. Jadi biasa aja." kata Besty dengan entengnya.
"Kamu tahu engga, semakin aku kenal kamu, aku semakin banyak belajar." kata Shaka
"Emang belajar apa?" tanya Besty.
"Belajar ngemilikin kamu sepenuhnya." kata Shaka sambil tersenyum.
Besty tertawa mendengar kata-kata Shaka tersebut. Ia tersipu malu karena gombalan Shaka tersebut.
"Ya udah, aku pulang dulu ya." kata Shaka.
__ADS_1
"Beneran nih, engga mau masuk? Engga mau nemeni aku?" goda Besty.
Shaka tertawa, kemudian ia mengelus pipi Besty sambil berkata :
"Kamu tuh emang gemesin." kata Shaka.
"Aku tahu kita engga seumuran, tapi..." kata Shaka sambil menghentikan kata-katanya.
"Tapi apa?" tanya Besty dengan rasa penasaran.
"Tapi aku ingin seumur hidup dengan kamu." kata Shaka sambil mengerlingkan matanya ke arah Besty.
Besty kembali tertawa. Pipinya yang putih berubah kemerahan karena tersipu malu. Ia kemudian memukul tangan Shaka dengan manja dan menundukkan kepalanya. Shaka hanya tertawa melihat kelakuan Besty yang malu-malu.
"Ya udah, aku pulang dulu ya. Nanti aku akan hubungi kamu." kata Shaka.
Besty menganggukkan kepalanya. Ia kemudian memandangi wajah Shaka sambil tersenyum. Sebenarnya ia tidak ingin Shaka pergi. Ia merasa bahagia berada di sisi Shaka. Ia merasa nyaman bila bersama dengan Shaka. Namun ia harus menghormati privasi Shaka. Akhirnya ia merelakan Shaka untuk pulang.
"Iya, cantik. Aku engga akan kenapa-kenapa." kata Shaka sambil tersenyum.
"Masih ingat dua hal yang kujanjikan kan?" tanya Shaka.
"Engga, udah lupa." kata Besty pura-pura lupa sambil tersenyum.
Shaka pun tersenyum mendengar kata-kata Besty tadi. Ia tahu, sebenarnya Besty juga tahu maksudnya. Namun Shaka mengetahui karakter Besty yang kadang-kadang selalu mengatakan hal sebaliknya untuk menggoda Shaka. Shaka akhinya maju satu langkah untuk mengusap rambut Besty sambil berkata :
"Tuhan itu emang suka pamer. Kamu tahu kenapa?" tanya Shaka.
"Apaan emang?" sahut Besty.
" Tuhan suka pamerin kamu, ciptaannya yang sempurna, ke aku." kata Shaka sambil tersenyum.
Besty kembali tertawa malu dengan kata-kata Shaka. Ia tidak menyangka, dibalik sosoknya yang cool, Shaka juga seorang perayu ulung.
__ADS_1
"Udah pulang sana, aku engga kuat digombalin lama-lama, udah mau melting nih." kata Besty.
"Kalau gombal terus, lama-lama, aku engga akan ngasih kamu pulang." lanjut Besty sambil mendorong tangan Shaka.
Shaka hanya bisa tersenyum lebar melihat Besty. Ia merasa gemas dengan tingkah Besty. Akhirnya setelah mengusap rambut Besty, Shaka menuju motor yang diparkir di depan rumah Besty. Besty memandang Shaka, lalu ia melepas kepergian Shaka dengan lambaian tangan. Shaka tersenyum dan kemudian membalas lambaian tangan Besty tersebut. Setelah itu ia pergi meninggalkan rumah Besty untuk kembali pulang.
Sekembalinya dari rumah Besty, Shaka bertekad untuk menyelesaikan urusan masa lalunya. Ia memutar otak untuk menyelesaikan masalahnya hari ini juga dengan Tari. Tetapi ia juga tidak mau menimbulkan masalah baru dengan Besty bila ia bertemu dengan Tari. Ia tidak ingin Besty salah paham dan akhirnya menimbulkan masalah baru yang lebih runyam. Sepanjang jalan, Shaka berusaha menemukan jalan keluar yang terbaik menurut dia untuk menyelesaikan masalahnya dengan Tari tersebut.
Sesampainya di rumah, Shaka tidak melihat siapapun kecuali adiknya, Rama. Ia menyapa Rama dan menanyakan keberadaan ayah dan ibu. Rama menjawab bahwa ayah dan ibunya pergi berbelanja dengan cemberut. Shaka tersenyum mendengar jawaban adiknya itu. Ia mengusap rambut adiknya lalu masuk ke kamar.
Shaka kemudian mandi dan berganti pakaian. Setelah itu ia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia kemudian mencari beberapa nama yang ada dikotak pesannya tersebut. Ia mengutak-atik keyboard ponselnya dan mengirim pesan ke beberapa orang yang dikenalnya. Mudah-mudahan berhasil, gumamnya dalam hati.
***
Sekira pukul 5.00 sore, Shaka sudah berada di sebuah cafe. Cafe tersebut terkenal dengan berbagai olahan ice cream dengan cita rasa yang menarik dan bikin ketagihan. Shaka memilih duduk di ruangan indoor yang menyuguhkan konsep Eropa. Ruangan tersebut menyajikan kursi dan meja dari kayu olahan serta dinding-dinding yang dihiasi dengan ornamen dan tulisan-tulisan yang sastra banget. Cafe yang bernuansa homey banget ini merupakan cafe favorit Shaka bersama dengan Bobi dan Sherly. Mereka sering nongkrong di sini bila mereka sedang hang out bertiga.
Lima menit kemudian, Sherly datang dengan diantar oleh sopir ayahnya. Ia kemudian masuk dan menyapa Shaka. Shaka tersenyum menyambut kehadiran Sherly. Kemudian Sherly menarik kursi dan duduk di sebelah Shaka. Pada saat mereka berdua sedang sibuk memesan menu yang ada di cafe itu, Bobi datang menghampiri mereka. Bobi menyapa mereka berdua dah kemudian bergabung dengan mereka dengab duduk di sebelah Sherly. Setelah memesan makanan kepada waitress, mereka kemudian mengobrol dan bercanda tawa.
"Tumben, kamu ngajak ke sini?" tanya Bobi penasaran.
Shaka hanya tersenyum mendengar kata-kata Bobi tersebut. Kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka. Tak lama kemudian Waitress datang membawakan makanan pesanan mereka. Mereka makan sambil mengobrol tentang kegiatan mereka. Kadang-kadang Bobi mencoba menggoda dan merayu Sherly. Tapi Sherly malah banyak menggoda dan merayu Shaka yang otomatis membuat Bobi tambah keki. Bobi juga menggoda dengan sekali-kali mencoba menyuapi Sherly. Namun Sherly malah sekali-kali menyuapi Shaka dengan alasan harus mencoba mencicipi makanan yang dipesan oleh Sherly. Bobi menjadi cemberut dan kesal dengan kelakuan Sherly tersebut. Shaka dan Sherly mentertawakan sikap Bobi yang ngambek karena cemburu.
Kemudian Bobi mengeluarkan gambar poster ukuran 4A yang dilipat disakunya dan kemudian menyerahkannya ke Shaka. Shaka mengambil Poster tersebut dan kemudian membacanya.
"Apa itu?" tanya Sherly.
"Invitasi Kejuaraan Nasional Junior Taekwondo." kata Shaka.
"Kamu harus ikut, Shak. Aku engga mau kamu dicibir terus sama team sekolah kita, terutama oleh Kepala Pelatih." kata Bobi.
"Aku engga mau kamu dibilang Pengecut." kata Bobi.
Sherly geram dengan perbuatan mereka. Sementara Shaka hanya diam sambil memandang Poster Invitasi Kejuaraan Nasional tersebut dengan mata yang datar.
__ADS_1