
Shaka memikirkan perkataan Besty semalaman. Ia mencoba mengerti isi hatinya. Ia juga berusaha mencari tahu tentang apa yang ia rasakan sekarang. Kemudian ia kembali ke kamarnya setelah ia menemukan setitik dan secercah petunjuk yang menerangi kabut hatinya.
Pada keesokan harinya di hari Minggu,
Shaka dikejutkan oleh suara dering ponselnya. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan dari Sherly. Ia kemudian menjawabnya :
"Hai Sher..."
"Hai Shaka, lagi ngapain sekarang?" kata Sherly.
" Engga ngapain, cuma diam aja di atas tempat tidur. Emang kenapa?" kata Shaka.
"Engga sih, aku cuma kangen aja sama kamu. Habis kamu engga pernah main ke rumah sekarang. Aku juga ingin ngomong sesuatu sama kamu. Bisa engga kamu ke rumah sekarang?" kata Sherly.
" iya, sebentar aku ke sana." sahut Shaka.
Kemudian Shaka bergegas mandi dan pergi ke rumah Sherly. Ia kemudian berpamitan kepada ayah dan ibunya yang sedang berada di teras rumah.
"Shaka, mau kemana?" kata ayah.
"Saya mau keluar, yah. Mau main ke rumah Sherly. Sudah lama tidak main ke rumah Sherly." kata Shaka.
"Ya udah, hati - hati di jalan. Salam sama papa dan mamanya ya." kata ibu.
"Iya, bu." kata Shaka.
"Shak, Shak, sebentar dulu. Apa kamu tidak mau ikut kejuaraan lagi, Shak. Ayah dengar akan ada Kejuaraan Nasional 6 bulan lagi. Kamu engga mau ikutan? Lumayan lho, bisa nambah pengalaman dan uang pembinaannya bisa kamu tabung nantinya." kata ayah.
"Belum Shaka pikirkan, yah. Mungkin nanti akan Shaka pertimbangkan." kata Shaka
" Kamu kan juara bertahan, apa kamu tidak mau mempertahankan gelar juaramu?" kata ayah.
"Shaka tidak punya pelatih lagi, yah. Pelatih di sekolah Shaka sudah tidak mau berhubungan dengan Shaka gara - gara Shaka mengundurkan diri dari kejuaraan antarsekolah tahun lalu." kata Shaka.
" Gampang itu, nanti ayah akan carikan pelatih privat untukmu. Yang penting kamu siapin mentalmu. Ayah bangga punya "champion" di rumah ini." kata ayah sambil tersenyum.
" Lha, yah. Ayah tidak bangga dengan Rama? Rama kan juga anak ayah?" rengek Rama yang tiba - tiba datang.
" Iya, ayah juga bangga sama kamu. Selamat ya, sudah naik sabuk kuning." kata ayah sambil tertawa yang diiringi oleh tertawa Shaka dan ibunya.
***
Dalam bela diri yang berasal dari Negeri Gingseng ini, terdapat 19 tingkatan yang digambarkan dalam warna sabuk. Tingkatan ini merupakan pertanda kemampuan seorang siswa dalam mempelajari Taewondo. Masing-masing memiliki tingkat kesulitannya sendiri. Durasi yang harus dijalani seseorang dalam satu tingkatan pun berbeda-beda, tergantung dari bakat dan ketekunannya dalam berlatih.
Untuk warna kuning sendiri, sabuk ini merupakan tingkatan kedua dalam Taekwondo. Sabuk warna kuning ini menggambarkan lapisan pertama dari sinar matahari yang akan menyinari Siswa Taekwondo Tingkat Pemula (Sabuk Putih). Sinar ini akan memberikan kekuatan baru sebagai awal kehidupan baru bagi siswa Taekwondo untuk mempelajari ilmu Taekwondo lebih dalam.
__ADS_1
***
" Iya yah, terima kasih banyak." cengir Rama.
" Ya sudah, Shaka. Kamu berangkat dulu sana. Nanti ditunggu sama Sherly, Engga enak sama dia." kata Ibu.
" Baik, bu. Yah, bu, Shaka berangkat dulu ya." kata Shaka sambil mencium tangan ayah dan ibunya.
"Kamu rajin - rajin berlatih biar cepat naik sabuk lagi." kata Shaka sambil mengacak - acak rambut adiknya itu hingga semrawut tak karuan.
"Salam untuk calon kakak ipar ya?" sahut Rama sambil berlari ke dalam rumah karena takut dikejar Shaka.
Dengan tertawa, akhirnya Shaka pergi ke rumah Sherly dengan mengendarai vespanya.
***
Setibanya di rumah Sherly, Shaka sudah ditunggu sama Sherly di bangku yang ada di teras depan rumahnya. Dengan bergegas, Sherly membukakan pintu gerbang rumahnya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Akhirnya nongol juga nih anak." kata Sherly sambil mengapit lengan Shaka.
"iya Sher, sorry ya." kata Shaka sambil malu - malu.
"Udah lepasin, nanti dilihat ma papa dan mamamu?" kata Shaka sambil berusaha melepaskan lengannya.
"Kalau disuruh kawin doang, mau. Kalau disuruh nikah, itu yang berat, Sher." gurau Shaka.
"Emang apa bedanya kawin sama nikah?" kata Sherly penuh selidik.
"Engga tahu, Sher. Aku masih polos." kata Shaka sambil tersenyum yang diikuti oleh tawa Sherly.
Setelah berada di bangku, Sherly kemudian masuk ke dalam untuk meminta tolong kepada Bik Wulan, assisten rumah tangganya untuk menyiapkan minuman dan snack untuk Shaka. Setelah itu, Sherly datang bersama dengan Bik Wulan yang membawa baki berisi es sirup dan kue tiramizzu untuk Shaka.
"Silahkan dinikmati, Mas Shaka. Non Sherly udah lama nunggu Mas Shaka" kata Bik Wulan, sambil tersenyum menggoda Sherly.
"Ahhh, bibik nih. Jangan bilang - bilang, nanti Shaka ke - GR - an (Gedhe Rasa)." sahut Sherly sambil melirik ke arah Shaka.
Shaka hanya tertawa mendengar kata Sherly dan kemudian berkata :
" Terima kasih banyak ya, Bik." kata Shaka sopan.
" Iya Mas Shaka, sama - sama." kata Bik Wulan seraya pergi ke dalam rumah, meninggalkan mereka berdua di teras.
"Aku engga pernah lihat kamu tertawa seperti sekarang, Shak. Aku senang lihat kamu kembali ceria." kata Sherly.
"Aku harap kamu bisa kembali seperti dulu lagi." lanjutnya.
__ADS_1
Shaka hanya tersenyum mendengar kata - kata Sherly. Ia kemudian berniat mengusap rambut Sherly. Namun hal itu diurungkannya. Ia tersadar bahwa yang berada di depannya adalah Sherly, bukan Besty.
Ya, memang Shaka terbiasa mengusap rambut Besty. Ia terbiasa membelai rambut hitam Besty seraya menatap bola matanya saat ia merasa gemas dengan tingkah Besty.
"Sor, sorry, Sher." kata Shaka
" Iya, engga apa - apa, Shak." kata Sherly sambil malu - malu.
"Mmmm, BTW, papa dan mamamu kemana?" kata Shaka.
"Pergi ke rumah nenek di Surabaya. Tadi aku mau diajak, tapi aku bilang bahwa aku sudah ada janji sama kamu. Makanya aku engga ikut." kata Sherly polos.
" Sorry, Sher." kata Shaka.
" Engga apa - apa, Shak. Aku justru senang karena kamu datang menemani aku." kata Sherly.
" Aku mau ngomong tentang sesuatu nih." kata Sherly.
"Apaan?" kata Shaka.
"Kamu tahu engga? Bobi nembak aku, Shak. Udah 3 kali dia nyatain perasaannya ke aku." kata Sherly.
" Terus, kamu gimana?" kata Shaka.
"Masalahnya aku bingung. Dia tuh termasuk laki - laki yang baik, tampan banget malahan dan gentle. Kalau aku jadian sama dia, kayaknya akan jadi the populer couple di sekolah. " tukas Sherly.
Sherly terus bercerita ke Shaka tentang curahan hatinya. Ia sedang bimbang dengan apa yang sedang ia alami dan ia rasakan. Ia terus bercerita sambil asyik makan kue tiramizu yang sebenarnya dihidangkannya untuk Shaka.
Seperti biasa, Shaka hanya tersenyum sambil mendengarkan setiap kalimat yang satu persatu meluncur dari lidah Sherly. Kadang - kadang Shaka tertawa melihat ekspresi Sherly yang sedang bercerita karena lucu. Namun tiba - tiba, entah kebetulan atau bukan, ada perkataan Sherly yang membuat Shaka terkejut dan termenung.
"Kamu tahu engga, Shak? Cinta itu tempatnya ada di hati dan hati itu engga bisa berbohong. Hati akan tahu mana yang namanya cinta atau hanya sekedar obsesi." kata Sherly.
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu, Shak. Kamu tahu kenapa?" kata Sherly yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Shaka.
"Karena cinta telah terbiasa hadir dan tumbuh bersama dengan orang yang terbiasa berada di dekat kita."lanjutnya.
" Cinta yang telah datang itu akan memberikan kedamaian dan kebahagiaan. Cinta juga akan memberikan ketenangan dan kenyamanan. Cinta akan selalu bersemayam di dalam hati. Menerangi hati dan mampu memberikan kekuatan untuk melakukan sesuatu, termasuk merubah sifat dan karakter seseorang. " kata Sherly.
"Terus bagaimana perasaan hatimu sekarang ke Bobi?" sahut Shaka.
" Aku memang senang bila dia menyukaiku. Aku merasa bangga bila cowok yang paling populer di sekolah kita ternyata menaruh hati padaku. Aku serasa menjadi cewek yang paling terkenal dan menjadi pusat perhatian bagi cewek - cewek di sekolah kita karena ternyata laki - laki yang mereka puja - puja itu akhirnya memberikan perhatian dan cintanya hanya untukku. Tapi aku engga merasa nyaman dan bahagia bila aku dekat dengan dia, Shak. Aku engga bisa menjadi diriku sendiri. Dan yang paling penting, aku engga merasa ia seolah - olah hadir dan dekat di sampingku, walaupun ia engga ada. " lanjut Sherly.
" Aku engga merasa ia ada dipikiranku dan bersemayam di hatiku." tambahnya.
Mendengar hal itu, Shaka langsung menyadari sesuatu. Jawaban yang selama ini dia cari ternyata datang dan menghampirinya. Ia merasa lega dan ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
__ADS_1