
Selama "mengasingkan" dirinya tersebut, Shaka mencoba menahan sesak di dadanya. Pikirannya kalut tak karuan. Ia tidak siap harus kehilangan Besty, gadis yang dicintainya itu. Ia tidak rela harus berpisah dengan gadis yang menjadi pacar dan ciuman pertamanya tersebut. Ia berpikir, mengapa hal ini harus terjadi saat hubungan asmara mereka sedang merekah-merekahnya. Ia berharap semoga Tuhan memberikan kekuatan dan jalan bagi mereka berdua saat ini.
Selama di rumah Besty tersebut, Ia hanya melihat Besty dari kejauhan, yang sibuk sendiri selama acara berlangsung. Ia hanya fokus melihat Besty yang menebarkan senyum cantiknya ke semua orang.
Pikirannya melayang ke segala arah. Ia mencoba menahan rasa sedih dan sesak di hatinya dengan sekuat tenaga. Ia mencoba menutupinya dengan senyuman yang tersungging di bibirnya saat sekali-kali Besty melihat ke arahnya. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya sendiri yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.
Ia benar-benar mencintai Besty dan tidak ingin merusak pesta ulang tahunnya ini. Pesta ulang tahun yang konon katanya dirayakan secara spesial dan akan dikenang sepanjang umur hidup oleh orang tersebut.
Saat sedang terbawa oleh suasanya sendiri itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara yang selama ini sangat familiar baginya.
"Ngapain disini, Mas Shaka." Kata Bik Imah mengagetkan dirinya.
"Ehhhh, Bik Imah." Kata Shaka sambil terkejut.
"Tidak apa-apa, lagi pingin disini aja, Bik."Kata Shaka berbohong.
Bik Imah tersenyum melihat Shaka, lalu ia berkata kepada Shaka.
"Bibik tahu apa yang terjadi. Bibik juga paham perasaan Mas Shaka." Ucap Bik Imah yang membuat Shaka menghela nafasnya.
"Tapi percaya sama Bibik, tidak ada orang lain selain Mas Shaka di hati Non Besty." Tutur Bik Imah.
"Non Besty banyak cerita tentang bagaimana perasaan hatinya dan hubungannya dengan Mas Shaka." Lanjutnya.
"Non Besty sangat bersemangat bila bercerita tentang Mas Shaka. Namun dia juga cerita akhir-akhir ini Mas Shaka lain daripada sebelumnya." Kata Bik Imah.
Shaka hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan Bik Imah. Rasa sesaknya bertambah banyak mengerubungi dadanya.
"Tapi apapun yang terjadi, Bibik percaya bahwa Mas Shaka adalah lelaki yang tepat untuk Non Besty." Kata Bik Imah.
"Bibik juga percaya bahwa Non Besty sangat mencintai Mas Shaka." Pungkasnya.
"Terima kasih banyak, Bik." Kata Shaka sambil menatap Bik Imah dengan pandangan yang nanar.
"Tuh acaranya sudah mau selesai, sebaiknya Mas Shaka pergi ke sana." Kata Bik Imah sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak atas perhatian Bibik." Kata Shaka, lalu Bik Imah kembali ke dapur, meninggalkan Shaka yang hendak menuju ke tempat acara tersebut berlangsung.
Hingga akhirnya, saat acara pesta tersebut sudah usai dan semua teman-teman Besty sudah pulang, Shaka menghampiri Besty dan kemudian pamit pulang ke Besty dan Tante Belvina yang berada di samping Besty.
__ADS_1
"Terima kasih sudah datang, Shak." Kata Besty sambil tersenyum bahagia.
"Iya Besty." Kata Shaka singkat dengan nada parau, menahan sesak di dadanya dan sedih di hatinya.
"Kamu cantik sekali malam ini." Lanjutnya sambil tersenyum dan berlinang air mata. Ia tidak kuasa menahan perasaannya hingga bulir air matanya keluar membasahi pipinya.
Besty yang melihat hal tersebut sontak kaget dan menatap Shaka tanpa berkedip.
"Kenapa, Shak." Tanya Besty dengan khawatir.
"Apa ada sesuatu?" Tanyanya lagi.
"Tidak ada apa-apa, Besty." Kata Shaka sambil membalikkan badannya dan kemudian melangkah pergi menuju pintu keluar.
Sementara Besty diam sesaat dan kemudian berjalan untuk menyusul Shaka untuk menanyakan hal tersebut.
Namun baru beberapa langkah berjalan dan belum sempat menyusul langkah Shaka, Besty dikejutkan oleh suara seseorang yang berada di belakangnya.
"Pulanglah kau, pengecut..! Kembalilah ke asalmu." Kata Hendra.
"Kamu sudah kalah." Lanjutnya.
Besty yang mendengar kata-kata itu sontak kaget dan secara otomatis menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Ia terkejut saat mengetahui bahwa pemilik suara itu adalah Hendra yang sedang berdiri di depan orang tuanya.
Dengan nafas yang naik-turun di dadanya, ia mengepalkan tangannya erat-erat. Lalu ia membalikkan badannya dan menatap Hendra yang tersenyum sinis.
Besty yang tadi kaget, langsung berkata :
"Hendra, apa maksudmu?!
"Jaga ucapanmu..!
"Kenapa kamu bilang dia kalah?! imbuhnya dengan nada marah ke Hendra.
"Seorang pengecut tidak layak bersamamu, Besty." Kata Hendra dengan pongahnya.
"Apa kamu tidak tahu bahwa orang tua kita setuju, kita akan menikah setelah kamu lulus kuliah nanti?" Sambungnya.
"He is completely as a looser now." Pungkas Hendra yang diiringi dengan tawanya yang sinis.
__ADS_1
"Hendra, kamu jangan asal bicara !!" Kata Besty dengan marah.
"Jaga mulutmu..!! ucap Besty dengan nada penuh kekesalan.
"Aku tidak asal bicara. Coba tanyakan saja sama Tante Belvina." Jawab Hendra tak mau kalah.
Besty kemudian melihat ke arah mamanya. Matanya menyiratkan rasa ketidakpercayaannya dengan ucapan Hendra tersebut. Namun mamanya hanya bisa melihat putrinya itu dengan mata yang nanar.
"Ma, apa benar yang Hendra katakan?" Tanya Besty tidak percaya.
Mamanya hanya diam sambil memandang putrinya tersebut.
"Apa benar, ma?" Tanyanya lagi.
"Ma, jawab Besty, ma..!" Kata Besty.
Mama Besty yang tadi diam kini angkat bicara
"Itu untuk kebaikanmu, Besty. Nanti mama jelaskan." Jawab mamanya singkat.
Besty yang mendengar jawaban mamanya tadi bagaikan mendengar petir di siang hari. Ia sangat kaget sekaligus tidak percaya dan tidak menduga sama sekali atas kejadian ini. Ia kemudian melangkahkan tubuhnya dengan gontai dan duduk di sofa dengan lemas. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kemudian ia pun menangis.
"Sekarang pulanglah, Looser." Kata Hendra lebih lanjut. Sementara orang tua Hendra hanya diam dan memilih tidak berbuat apa-apa. Mereka lebih memilih mendukung perbuatan anaknya daripada harus menenangkan situasi ribut yang ada.
Shaka sangat marah kepada Hendra, terlebih-lebih ia melihat dengan matanya sendiri Besty menangis dan sedih akibat ulah Hendra. Dengan menggeretakkan giginya dan menatap Hendra dengan sorot mata yang berapi-api, ia berkata :
"Aku tantang kamu di Kejuaraan Nasional." Sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah Hendra.
"Kita akan buktikan, siapa yang jadi pecundang sebenarnya."
"Aku berjanji akan mengkanvaskan kepala besarmu. Pegang kata-kataku..!" kata Shaka dengan nada yang tegas dan penuh dengan keyakinan.
Hendra langsung terdiam. Ia merasa ciut dengan kata-kata Shaka tersebut karena ia tahu kekuatan Shaka yang pernah meng-KO dia di atas arena tahun lalu.
Shaka kemudian melihat Besty yang masih menutup wajahnya sambil menangis.
Ia melihat ke arah Tante Belvina dan kemudian berkata :
"Tante, saya sudah menepati janji saya untuk tidak membuat keributan di acara ini."
__ADS_1
"Saya permisi pulang, Tante. Terima kasih untuk semuanya." ucap Shaka dengan berusaha santun sambil menahan amarahnya yang siap meledak di dadanya itu.
Lalu ia membalikkan badannya dan keluar meninggalkan rumah Besty. Ia memakai helmnya dan kemudian mengendarai motornya untuk pergi meninggalkan rumah Besty dengan rasa amarah yang menggunung di dadanya dan sebuah janji yang harus ia tepati sebelumnya.