
Setelah mendengar perkataan Bik Imah tersebut, Shaka menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ia menahan air matanya yang sudah berusaha keluar dari pelupuk matanya. Ia kemudian pamit dan pergi meninggalkan Bik Imah yang kini sendirian di rumah Besty. Ia menoleh ke arah Bik Imah dan melihat ke sekeliling rumah Besty yang selama ini memberikan kenangan yang indah untuk cinta antara dirinya dan Besty. Rumah tempat Shaka menghabiskan waktunya dengan Besty di kala berdua. Sekaligus tempat untuk memadu kasih dan melakukan ciuman pertama bagi mereka.
Ia berusaha menahan sesak di dadanya saat mengingat semua memori cinta mereka di rumah Besty. Ia lalu mengusap air matanya yang kini sudah tak bisa ia tahan lagi dan kemudian pergi meninggalkan rumah Besty tersebut.
Shaka kemudian mengarahkan kendaraannya ke sebuah kafe, tempat mereka melakukan first date dahulu. Mendung menaungi perjalanan Shaka menuju kafe tersebut. Selama perjalanan, Shaka terus memikirkan Besty dan mengingat bagaimana kisah cinta mereka berdua berjalan. Mengingat semua memori-memori indah yang tercipta dalam kisah percintaan mereka.
Setibanya ia di sana, langit sudah berwarna hitam. Tak lama kemudian, rintik hujan turun membasahi bumi. Shaka kemudian masuk dan memilih tempat duduk yang sama seperti dulu saat Shaka dan Besty datang ke tempat ini. Shaka pun memesan Hot Chocolate, minuman Besty dulu, saat waitress datang menghampirinya. Ia menghela nafas dan kemudian mengeluarkan surat dari kantong celananya. Ia menunggu minumannya datang sebelum ia membuka surat tersebut. 7 menit kemudian, sang waitress datang dengan membawakan hot chocolate pesanan Shaka.
Ia merasakan sedikit Hot Chocolate tersebut dan kemudian membaca surat dari Besty tersebut sambil diiringi hujan yang kian lama makin deras membasahi Kota Malang.
" Dear Shaka...
"Aku masih ingat hari pertama kita kali bertemu. Begitu aku melihatmu, aku langsung tahu, bahwa kamu akan menjadi orang yang mewarnai dan memberi arti dalam hidupku."
"Saat kita mulai berbicara, aku menemukan lebih banyak hal lagi yang menarik diriku untuk jatuh lebih dalam lagi dalam dirimu."
"Dan bagaimana kamu sangat baik hati, terutama padaku, tanpa menginginkan suatu balasan apapun."
"Dan saat aku sedang duduk disana, di sampingmu, dengan hati berdebar-debar, aku sudah tahu, bahwa aku ingin sekali kau menginginkanku, seperti aku menginginkanmu."
__ADS_1
"Kalau aku adalah lautan, aku harap kau tenggelam di dalamnya. Karena kamulah satu-satunya orang yang kuinginkan untuk terus bersamaku."
"Dan dengan sepenuh hati aku percaya, kalau kita memang diciptakan untuk bersama. Kaulah jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini terus kucari. Karena setiap kali aku melihatmu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa bahagia. Dan saat kita tidak bersama pun, kau masih tetap menghantuiku dalam mimpi."
"Tidak ada yang kusesali dari hubungan ini. Bertemu denganmu adalah sebuah anugerah, berpisah denganmu adalah takdir yang harus terjadi."
“Perpisahan ini berat, percayalah aku pun merasakannya. Aku menangis sepanjang waktu karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa kamu, Shak.."
"Terima kasih telah membuatku menjadi pribadi yang lebih baik."
"Terima kasih juga telah mengajariku banyak hal, terutama tentang arti cinta dan sebuah hubungan."
“Terima kasih telah menjagaku dan menjadi bagian dari hidupku selama ini. Kamu akan menjadi salah satu kenangan yang akan terus hidup dalam pikiran dan hatiku."
Kasihmu,
Besty "
Shaka kemudian mencium surat itu sambil terisak. Langit gelap dan hujan deras menemani hati Shaka yang hancur. Ia lalu menatap hujan melalui jendela yang ada di depannya, sambil mengingat semua kenangan indah bersama Besty.
__ADS_1
Cukup lama, Shaka merenung sendiri di kafe itu. Surat tersebut dibacanya berulang-ulang. Sesak hatinya merasakan apa yang terjadi. Perasaannya hancur untuk yang kedua kali. Ia kemudian meletakkan surat tersebut di atas meja. Ia memegang mug Hot Chocolatenya dengan kedua tangannya sambil menatap hujan yang mengguyur di langit siang ini. Ia melamun, membayangkan semua kisah perjalanan cintanya. Mulai dari pertemuan pertamanya di kantin, perkenalannya di angkot, sampai ketika Besty mengobati luka-luka Shaka di rumahnya sewaktu Shaka membelanya dari Joni dan kawan-kawannya pas pulang sekolah.
Ia juga masih terbayang jelas saat mereka berboncengan ke sekolah bersama, dimana Besty memeluk erat perut Shaka dan tersenyum bahagia di balik punggung Shaka. Ia juga masih ingat bagaimana ia menyatakan cintanya kepada Besty dan melakukan first datenya di kafe ini. Semuanya terekam jelas di ingatan Shaka. Ia tambah menangis dan sedih saat ia mengingat bagaimana Shaka dan Besty melakukan ciuman pertamanya dan saat terakhir mereka bertemu di pesta ulang tahun Besty tadi malam. Sungguh suatu perjalanan cinta yang indah untuk dikenang dan tak mudah untuk dilupakan.
Hingga akhirnya, ia teringat kata-kata Sherly saat ia bersama dengan Sherly di rumah sakit.
"Jika engkau menginginkan pelangi, engkau harus menerima hujan, Shak."
"Jangan menyerah karena hanya satu bab buruk terjadi padamu. Teruslah melangkah, karena kisahmu tidak berakhir disini".
Kata-kata tersebut serasa menguatkan dirinya. Ia diam sejenak dan akhirnya meneguk hot chocolatenya. Ia kemudian melipat surat Besty tersebut dan menyimpannya di dalam dompetnya. Tiba-tiba ia teringat satu kalimat lain yang hadir karena sebuah ketulusan hati Sherly.
"Aku percaya, cinta sejati selalu datang di saat yang tepat, waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Ia tidak akan tersesat, Shak."
Kata-kata itu terngiang selalu di telinga dan pikiran Shaka berulang-ulang. Begitu meresap dan menguatkan dirinya secara perlahan. Menyelimuti dan menenangkan hati dan perasaannya dari luka-luka yang menusuk hatinya.
Kini ia berusaha menguatkan dirinya. Berusaha menegakkan kepala dan menegarkan hatinya. Mencoba merelakan dan melepaskan kepergian Besty dengan suatu keyakinan bila Besty adalah cinta sejatinya maka ia akan kembali lagi bersatu dengannya suatu hari nanti.
"Terima kasih sudah datang ke hidupku dan membuatku bahagia, terima kasih sudah mencintaiku dan menerima cintaku. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku selalu ini. Aku percaya, bila engkau cinta sejatiku maka Tuhan akan membawamu kembali untuk bersatu dengan suatu hari nanti." Kata Shaka lirih sambil menatap air hujan yang turun di depannya.
__ADS_1
"Walaupun aku harus kehilangan satu hati lagi, tapi aku tidak akan kehilangan diriku lagi. Aku akan terus melangkah dan mewujudkan semua janji-janji yang pernah kuucapkan sebelumnya." Tekad Shaka sambil berdiri dari mejanya dan kemudian pergi ke kasir untuk membayar minumannya.
Ia kemudian melangkah keluar dari kafe tersebut dan pergi bersama dengan hujan yang menyambutnya dengan desiran hawa dingin yang mengiringinya.