PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 39, Dear Shaka...(Part 1)


__ADS_3

Shaka kemudian pamit untuk membersihkan dirinya. Ia masuk ke dalam kamar dan kemudian mandi. Setelah itu, ia duduk di tepi ranjangnya dan mengambil ponselnya, lalu membukanya. Ia kecewa tidak ada satupun telpon atau pesan dari Besty. Ia kemudian mencoba menghubungi ponsel Besty. Namun sekali lagi, nomer handphone Besty tidak aktif seperti tadi malam. Ia diam sesaat untuk mencoba berpikir. Setelah itu, ia bangkit dari duduknya dan kemudian berkata, "Aku harus melakukan sesuatu", gumamnya.


Lalu setelah sarapan, ia pamit kepada orang tuanya untuk pergi. Ia melangkahkan kakinya menuju ke motornya yang terparkir di samping rumah. Setelah mengenakan helm, ia kemudian melajukan motornya ke rumah Besty. Sepanjang perjalanan, Shaka memikirkan Besty. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Besty. Ia takut Besty kenapa-napa. Ia takut terjadi sesuatu kepada Besty. Ia melajukan motornya lebih kencang agar cepat sampai di rumah Besty.


Setelah 30 menit kemudian ia tiba di komplek perumahan Besty. Ia segera menuju ke rumah Besty. Ia melihat rumah Besty tampak sepi dan tidak ada aktivitas apapun nampaknya. Ia segera melepaskan helm dan menstandarkan motornya. Lalu ia berjalan menuju pintu rumah Besty. Ia memencet bel, berharap ada Besty di dalam sana. Namun setelah tiga kali ia memencet bel dan tidak ada respon, ia lalu kembali menuju ke arah motornya. Baru beberapa langkah, ia mendengar kunci pintu rumahnya dibuka. Ia segera membalikkan badannya dan berharap itu adalah Besty. Setelah membalikkan badannya dan menuju ke arah pintu depan rumah Besty, ia sangat kecewa karena bukan Besty yang membukakan pintunya, melainkan Bik Imah. Ia kemudian segera menyapa Bik Imah dan menanyakan keadaan Besty.


"Selamat pagi, Bik. Apa ada Besty? Apa Besty baik-baik saja, Bik?" Tanya Shaka dengan nada penuh kekhawatiran.


Bik Imah diam sambil meneteskan air matanya. Ia kemudian mengajak Shaka untuk masuk ke dalam rumah.


"Ayuk masuk, Mas. Nanti bibi ceritakan." Jawab Bik Imah.


Setelah Shaka masuk dan duduk di dalam sofa, Bik Imah kemudian duduk di sebelah Shaka. Ia menghela nafas sambil mengusap air mata yang terus menetes di pipinya.


"Besty tidak ada, Mas Shaka. Ia dibawa mamanya ke Jakarta tadi malam." Kata Bik Imah sambil terus mengusap air matanya.


Shaka kaget setengah mati mendengar perkataan Bik Imah. Ia seakan-akan tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Terus, kapan dia balik,Bik? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Shaka dengan nada bergetar.


"Sejak Mas Shaka pergi dari acara tadi malam, Nyonya Belvina memaksa Non Besty untuk pergi dari Malang. Nyonya Belvina mengajak Non Besty untuk pergi ke Jakarta." Kata Bik Imah.


"Non Besty menolak dengan tegas dihadapan Hendra dan keluarganya. Akhirnya Nyonya Belvina mengajak Nona Besty pergi ke kamar untuk berbicara sesuatu." Lanjut Bik Imah.


Shaka hanya diam saja sambil menatap Bik Imah yang sedang bercerita kepadanya.

__ADS_1


"Selang satu jam kemudian Nyonya Belvina keluar kamar dan menemui Hendra dan keluarganya. Nyonya Belvina mengatakan bahwa ia tetap melanjutkan rencana perjodohan antara Besty dan Hendra, namun untuk sementara ia akan membawa Besty ke Jakarta." Lanjut Bik Imah.


"Terus apa yang terjadi selanjutnya, Bik?" Tanya Shaka dengan rasa penasaran.


Bik Imah menceritakan bagaimana Nyonya Belvina akan mengurus kepindahan sekolah Besty. Selain itu Bik Imah juga menceritakan bagaimana Besty mengepak baju dan barangnya di koper sambil menangis.


"Ketika Bibik membantu Non Besty mengepak baju di kamarnya, Bibik melihat Non Besty terus menangis. Non Besty langsung menangis dengan keras sambil memegang dadanya saat Non Besty melihat baju dan celana Mas Shaka." Kata Bik Imah sambil terus meneteskan air matanya


"Ia kemudian melipat dan menyimpan baju dan celana Mas Shaka di kopernya sambil terus menangis." Lanjutnya.


"Non Besty berkata bahwa baju dan celana Mas Shaka akan menjadi obat penawar saat Non Besty merindukan Mas Shaka nanti." Imbuh Bik Imah.


Shaka hanya diam sambil meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka Besty akan mengalami hal sesedih itu dalam kisah hidupnya. Ia juga tidak menyangka bahwa Besty menyimpan baju dan celananya untuk dijadikan sebagai pelipur lara hatinya saat ia merindukan Shaka di sini.


" Kenapa, Bik?" Tanya Shaka.


"Kata Non Besty, Nyonya Belvina yang memintanya, Mas. Agar ia bisa melupakan Mas Shaka dan bisa memulai hidup barunya lagi di Jakarta." Kata Bik Imah.


Shaka mengusap air mata yang terus membasahi matanya tersebut. Bik Imah juga menceritakan bagaimana saat Besty mengucapkan salam perpisahan kepada Bik Imah.


"Non Besty memeluk erat Bibik sambil terus menangis, Mas Shaka. Seakan-akan Non Besty tidak rela meninggalkan semua ini. Tidak rela meninggalkan Bibik, tidak rela meninggalkan Kota Malang dan tentu saja tidak rela meninggalkan Mas Shaka sendirian di sini." Kata Bik Imah dengan terisak-isak.


"Saat Non Besty memeluk Bibik, Ia menyelipkan sebuah surat di saku Bibik dan berbisik bahwa surat itu untuk Mas Shaka." Lanjutnya.


Shaka tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis sambil mendengarkan cerita Bik Imah.

__ADS_1


"Ini surat dari Non Besty." Ujar Bik Imah sambil mengambil surat dari kantong bajunya dan kemudian menyodorkannya ke Shaka.


"Non Besty juga berpesan agar Mas Shaka selalu menyimpan sweater dan celana pink milik Non Besty." Kata Bik Imah.


"Itu hadiah kenang-kenangan untuk Mas Shaka." Imbuhnya.


Shaka kemudian mengusap air matanya lalu mengambil surat dari tangan Bik Imah.


"Non Besty minta Mas Shaka untuk membacanya di tempat Mas Shaka pernah ngedate dengan Non Besty" Kata Bik Imah sambil terus menangis.


" Saat mau masuk ke dalam mobil tadi malam, Non Besty menoleh ke arah Bibik. Non Besty hanya tersenyum sambil menangis." Ucap Bibik sambil menangis tersedu-sedu.


Shaka kemudian mengusap air matanya yang deras mengalir. Ia kemudian menepuk bahu Bik Imah untuk berusaha menenangkannya.


"Bibik sudah menganggap Non Besty seperti anak bibik sendiri. Bibik sangat sedih dan merasa kehilangan sekali. Bibik berdoa semoga Non Besty selalu bahagia di manapun dia berada." Ujar Bik Imah sambil mengusap air matanya dengan lengan tangannya.


Shaka kemudian mengusap air matanya sambil terus berusaha menenangkan Bik Imah. Ia kemudian meminta secarik kertas kepada Bik Imah. Tak selang beberapa lama kemudian, Shaka pamit pulang seraya mengucapkan terima kasih kepada Bik Imah.


"Bik, ini nomer saya. Bibik bisa hubungi saya kapanpun bila ada yang saya bisa lakukan untuk bibik." Kata Shaka sambil menyerahkan secarik kertas.


"Saya pulang dulu, Bik. Saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan bibik selama ini." Lanjutnya.


Bik Imah menganggukkan kepalanya seraya berkata :


"Bibik juga mengucapkan terima kasih karena sudah membuat Non Besty bahagia dan kembali ceria seperti dulu, seperti yang bibik kenal selama ini."

__ADS_1


__ADS_2