
Setibanya dia di rumah, ia langsung mandi dan membersihkan dirinya. Bajunya basah kuyub terkena air hujan. Ia lalu masuk dan merebahkan dirinya di kamar tidur. Ia membuka ponselnya dan terlihat satu pesan dari Sherly yang mengatakan bahwa ia sudah ada di rumah. Ia sangat berterima kasih atas perhatian Shaka yang mengunjunginya setiap hari. Sherly juga memberikan kata-kata semangat untuk Shaka.
Shaka hanya tersenyum melihat pesan tersebut. Setelah mengirim pesan balasan, Shaka meletakkan ponselnya di atas meja dan kemudian menarik selimut yang ada di kakinya untuk mengusir udara dingin yang menyerangnya.
Ia lalu melamun, teringat semua kenangan saat bersama dengan Besty. Tak terasa air matanya mengalir dan akhirnya ia tertidur terlelap sambil memimpikan Besty di alam bawah sadarnya.
****
Hari demi hari berlalu, Shaka kini sendiri dalam melalui hari-harinya. Sekolah, Bimbingan Ujian Akhir Semester dan latihan. Begitu rutinitas yang ia geluti setiap harinya. Berita kepindahan mendadak Besty menjadi berita yang mengagetkan bagi teman-temannya di sekolah. Berita tersebut terdengar oleh Bobi yang langsung menghampiri Shaka untuk menanyakan kebenarannya. Shaka hanya bisa tersenyum dan menjawab tidak tahu saat Bobi menghujaninya dengan beribu-ribu pertanyaan. Begitupun juga dengan Sherly yang juga kaget setengah mati. Ia tidak percaya dengan kepindahan Besty yang mendadak. Ia juga menghampiri Shaka di kelasnya saat jam istirahat di keesokan harinya. Shaka hanya bisa tersenyum sambil berkata :
" Hidup adalah suatu pilihan. Terkadang, hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk seseorang yang kamu cintai adalah melepaskannya serta mendoakan untuk kebahagiaan dirinya."
Lalu ia juga mengutip kata-kata Sherly sendiri yang selalu terngiang-ngiang di benaknya sambil tersenyum ke arah Sherly.
"Jika kita menginginkan pelangi, kita harus mau menerima hujan."
"Jangan menyerah karena hanya satu bab buruk terjadi pada kita. Teruslah melangkah, karena kisah kita tidak berakhir disini."
Sherly hanya terdiam bengong sambil menatap ke arah Shaka. Ia merasa kasihan sekali dengan Shaka. Walau bagaimanapun, ia tidak rela orang yang dicintainya menjadi sedih dan terluka. Ia lalu menghampiri Shaka dan kemudian duduk di sampingnya. Ia memegang tangan Shaka sambil berkata :
"Aku selalu di sini, Shak. Selalu ada untukmu." Sambil mengusap tangan Shaka.
Shaka tersenyum dan kemudian mengusap rambutnya sambil berkata :
"Aku tahu kamu selalu ada untukku dan tidak pernah meninggalkanku."
Tiba-tiba Bobi masuk ke dalam kelas dan melihat kejadian itu. Shaka dan Sherly menoleh ke arah Bobi yang diam terbengong-bengong. Seketika juga Shaka melepaskan tangannya dari rambut Sherly. Ia tahu bahwa Bobi menyukai Sherly dan ia tidak mau salah paham tentang hal ini. Bobi kemudian tertawa. Ia tertawa melihat tingkah Shaka yang absurd tersebut. Ia lalu menghampiri mereka dan duduk di depan mereka.
"Udah, biasa aja, Shak. Engga usah absurd begitu." Kata Bobi sambil tertawa.
Shaka dan Sherly kemudian juga tertawa. Lalu mereka mengisi waktu istirahatnya dengan ngobrol satu sama lain.
"Siapkan dirimu, Bob. Siapa tahu Shaka akan melawanmu nanti di pertandingan." Kata Sherly.
Bobi kaget dan tidak percaya. Ia lalu melihat ke arah Shaka sambil berkata :
"Apa kamu jadi ikut kejuaraan nasional di Jogjakarta bulan depan, Shak?" Tanya Bobi sambil tidak percaya.
__ADS_1
Shaka tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Hebat..., Shak.!" Kata Bobi sambil menyalami Shaka.
"Ayo buktikan ke semua orang kalau kamu adalah Sang Juara." ucap Bobi dengan penuh semangat.
"Yahhhh, kalau kita ketemu nanti gimana,Shak?" Tanya Bobi dengan mimik cemberut.
Shaka hanya tersenyum mendengar omongan Bobi.
"Ya engga apa-apa, terus mau gimana?" Sahut Shaka.
"Awas nanti kalau kamu membuat Shaka cidera." Ancam Sherly sambil tersenyum.
Shaka dan Bobi tertawa mendengar kata-kata Sherly tersebut.
"Tenang saja, Tuan Putri. Aku engga akan membuat Pangeranmu cidera. Paling, cuma tergores sedikit." Kata Bobi sambil tertawa.
Mereka pun tertawa sampai akhirnya bel istirahat berakhir memaksa mereka untuk bubar.
****
"Bagus, Shak. Bapak tidak menyangka kamu berhasil melalui semua tahapan yang bapak berikan dengan sangat baik." Kata Pak Bram.
"Kini saatnya memberikan sedikit polesan terakhir hingga akhirnya kamu siap bertarung di kejuaraan nasional." Lanjutnya di sela-sela waktu istirahat.
"Baik, Sabeum Nim." Kata Shaka dengan nafas yang tersengal-sengal.
Saat selesai menjalani latihan sore itu, Pak Bram berkata kepada Shaka.
"Shak, kalau bapak perhatikan, gadis itu selalu memperhatikanmu. Siapa dia?" Tanya Pak Bram sambil menunjuk seorang gadis yang sedang duduk sambil melihat ke arah mereka dari kejauhan.
"Bapak perhatikan dia selalu datang setiap kamu latihan. Apa kamu kenal dia?" Tanya Pak Bram.
Shaka melihat ke arah gadis itu dan kemudian berkata :
"Saya tidak tahu, Sabeum Nim." Kata Shaka.
__ADS_1
"Tapi kalau dilihat samar-samar, tampaknya saya kenal, Sabeum Nim." Jawabnya sambil tersenyum.
"Kelihatannya itu teman saya, Sabeum Nim." Jawab Shaka.
"Teman apa teman?" Goda Pak Bram.
"Kelihatannya sih, teman saya, Sabeum Nim."Jawab Shaka sambil tersenyum.
"Siapapun dia, sebaiknya kamu jaga dia baik-baik. Jarang ada perempuan seperti itu." Ujar Pak Bram.
"Memang kenapa, Sabeum Nim." Tanya Shaka dengan rasa penasaran.
"Kalau saya perhatikan, sepertinya dia selalu support kamu tanpa harus memperlihatkan dukungannya." Jawab Pak Bram.
"Selain itu, kalau engga salah, sudah 5 hari ini, dia terus datang ke sini hanya untuk memperhatikan kamu saja." Lanjutnya.
"Oleh karena itu, Pertahankan dia, Shak..!" Kata Pak Bram sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya.
Shaka hanya tertawa mendengar kata-kata Pak Bram tersebut. Akhirnya Shaka pamit pulang setelah latihan sore tersebut telah usai.
Ia langsung berlari menuju ke arah gadis itu, yang sudah beranjak pergi dari tempat duduknya. Shaka kemudian berlari sekencang-kencangnya untuk menyusulnya dan setelah dekat, Shaka berteriak.
"Sher, tunggu." Teriak Shaka.
Sherly terkejut mendengar teriakan Shaka tersebut. Ia langsung berhenti dan membalikkan badannya. Shaka berhenti berlari dan kini berdiri di hadapan Sherly dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Tunggu, Sher." Kata Shaka sambil memegang lututnya dan nafas yang tersengal-sengal.
" Kog kamu tahu aku disini?" Tanya Sherly.
Shaka kemudian mengatur nafasnya secara perlahan-lahan. Setelah merasa tenang, ia berkata kepada Sherly.
"Iya, Pak Bram yang memberitahuku." Jawab Shaka.
"Pak Bram?" Tanya Sherly.
"Iya, katanya sudah lima hari ini kamu kesini." ujar Shaka sambil menatap Sherly.
__ADS_1