
Ponsel Shaka berdering. Membuyarkan lamunan Shaka tentang kejadian tadi malam. Ia menoleh dan melihat nama Bobi ada dalam panggilan masuk diponselnya. Shaka mengambil ponselnya dan menjawab panggilan Bobi.
"Halo, Bob. Gimana?" tanya Shaka.
"Shak, aku mau main ke rumah Sherly." Temenin aku yuk?" kata Bobi.
"Emang mau ngapain ditemenin?" tanya Shaka.
"Aku mau minta maaf soal yang kemarin sore" kata Bobi.
"Saranku, lebih baik kamu ke sana dulu." ucap Shaka.
"Aku engga enak, Shak. Malu sama Sherly." kata Bobi.
"Ayooo, Shak. Temenin bentar." kata Bobi.
"Ya udah, kamu berangkat dulu. Aku mandi.
"Tapi beneran kamu ke sana ya." sahut Bobi.
"Iya, Kamu duluan ke sana." kata Shaka
"Oke, Shak. Trims ya." kata Bobi.
Shaka menutup telponnya dan kemudian pergi membersihkan badannya. Saat ia mau berganti pakaian, ia tersenyum saat ia melihat sweater pink milik Besty tergantung di depan lemari pakaiannya. Lalu ia bergegas pergi ke rumah Sherly setelah berpamitan dengan orang tuanya.
Setengah jam kemudian, Shaka tiba di depan rumah Sherly. Ia melihat motor Bobi terparkir di depan pintu gerbang rumah Sherly. Shaka lalu mematikan mesin motornya. Dari atas motornya, Shaka melihat Sherly dan Bobi sedang duduk di teras rumah. Shaka melihat mereka sedang nampak serius. Mereka tidak tertawa seperti biasanya. Mereka lebih banyak diam dan kaku. Shaka lantas berpikir pasti sedang terjadi sesuatu antara mereka berdua. Shaka kemudian turun dari atas motornya. Menstandarkan motornya dan melepaskan helmnya. Lalu ia melangkah ke pintu pagar depan rumah Sherly.
Sherly dan Bobi menoleh saat mengetahui Shaka berada di depan pagar rumahnya. Sherly lalu beranjak dari kursinya dan kemudian pergi menghampiri Shaka. Saat ia membukakan pintu pagarnya, Shaka melihat wajah Sherly yang sembab. Shaka mencoba tersenyum dan menyapanya, namun Sherly hanya tersenyum dan tidak membalasnya. Ia kemudian kembali ke teras tempat ia duduk. Saat Shaka datang, Bobi berdiri dan menyapa Shaka. Ia kemudian pamit untuk pergi.
"Kamu mau kemana,Bob?" tanya Shaka dengan sedikit heran.
Ia melihat raut muka Bobi yang tampak sedih. Ada rasa bersalah yang tampak di dalam mata Bobi.
"Aku mau pulang dulu, Shak. Aku masih ada urusan." jawab Bobi.
"Sher aku pulang dulu ya."kata Bobi yang dibalas Sherly dengan anggukan kepala.
"Yukkk, Shak. Aku pulang dulu." ujar Bobi.
"Oke, Bob. Hati-hati dijalan." kata Shaka sambil menepuk bahu Bobi.
Shaka melihat Bobi yang pergi melangkah keluar ke pintu gerbang rumah Sherly. Setelah Bobi meninggalkan rumah Sherly, Shaka kemudian duduk dan memandangi Sherly.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Shaka.
Sherly diam dan tidak berkata-apa. Ia hanya memandang ke depan sambil mempermainkan jarinya.
"Aku engga tahu apa yang terjadi, tapi aku tahu kamu sedang menanggung sesuatu." kata Shaka.
"Aku tahu ada beban yang menggantung di hatimu, Sher." kata Shaka.
Sherly masih saja diam dan membisu. Shaka kemudian melanjutkan perkataannya.
"Bila kamu masih percaya sama aku, biarkan aku membantumu." kata Shaka.
"Tapi jika kamu ragu, engga apa-apa. Aku akan menunggumu untuk percaya padaku." kata Shaka.
Sherly diam sesaat kemudian tanpa menoleh ke arah Shaka, Sherly berkata :
"Bobi bilang bahwa ia cerita semuanya ke kamu."
"Sekarang kamu tahu perasaanku kan?"
Shaka kaget dengan perkataan Sherly tersebut. Ia diam dan terus memandangi Sherly.
Sherly menoleh dan menatap mata Shaka.
"Iya, Aku cinta kamu, Shak." kata Sherly.
"Hanya kamu satu-satunya alasan bagiku untuk menolak semua cowok, termasuk Bobi." pungkasnya.
Sherly kemudian mengarahkan pandangannya ke depan lagi. Tak terasa bulir air matanya membasahi pipinya yang kemerah-merahan. Shaka merasa sedih melihat hal tersebut. Ia berpikir apa inikah saatnya ia harus memilih antara Sherly atau Besty. Apakah ini saatnya ia harus kehilangan Sherly. Jujur, ia tidak ingin kehilangan Sherly. Karena selama dia terluka, hanya Sherly yang terus menyemangatinya. Hanya Sherly yang terus menemaninya tanpa mengharapkan pamrih apapun. Ketulusan Sherly selama ini telah membekas dan menjadi satu dalam hatinya. Membuat hatinya menjadi gundah gulana harus berada di situasi seperti ini. Ia hanya berharap, semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk dia dan Sherly.
"Tapi aku tahu, Shak. Aku tidak mungkin merebutmu dari Besty." kata Sherly.
"Aku tahu bahwa kamu mencintainya." imbuhnya.
"Sher...." kata Shaka lirih.
Sherly lalu menatap ke arah Shaka. Ia mengusap air matanya sambil berkata :
"Aku engga apa-apa engga bisa sama kamu sekarang."
"Aku cukup bahagia melihat orang yang aku cintai bahagia dengan orang lain."
"Tapi aku engga mau, orang yang aku cintai direndahkan oleh orang lain."
__ADS_1
"Aku engga terima kalau orang yang aku cintai dianggap pengecut oleh orang lain yang engga kenal siapa dia."
"Aku hanya ingin kamu bisa hidup dengan baik seperti dulu lagi."
"Aku hanya ingin kamu seperti Shaka yang dulu aku kenal."
"Aku ingin kamu mendapatkan harga dirimu lagi, Shak."
"Itu yang aku inginkan."
"Tapi kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu."
"Itu pilihan hidupmu, seperti pilihan hidupku untuk mencintaimu."
"Walaupun aku tidak memintamu untuk membalasnya."
Shaka terdiam mendengar ucapan Sherly. Hatinya sangat tersentak mendengar kata-kata Sherly tersebut. Ia tahu bahwa Sherly menyukainya. Tapi ia tidak menyangka bahwa Sherly lebih sekedar menyukainya. Ia bahkan mencintainya sejak dulu.
Kini ia mengerti mengapa selama ini Sherly selalu menutup hatinya untuk laki-laki lain. Kini ia paham kenapa Sherly selalu menemani dan menyemangatinya walau ia tidak pernah memintanya. Kini ia paham mengapa Sherly begitu peduli dan cerewet kepadanya. Sungguh bodoh dan tidak peka, gerutu Shaka pada dirinya sendiri.
Shaka terbayang semua perhatian Sherly kepadanya. Ia teringat semua bentuk cinta yang telah Sherly berikan kepadanya. Memang ia tidak pernah mengutarakannya, tapi semua jejak ketulusannya selama ini lebih menggambarkan perasaan cinta yang sesungguhnya.
Kini Shaka menyadari betapa besarnya pengorbanan Sherly untuk Shaka. Ia sangat tersentuh dengan semua yang telah Sherly lakukan untuknya selama ini. Ia menyadari bahwa ia tidak akan bisa membalas semua ketulusan Sherly. Ia juga menyadari bahwa ia tidak bisa menggantikan semua pengorbanan Sherly dengan apapun. Shaka merasa ada sebuah dorongan besar yang menghantam dirinya. Menghancurkan dinding penyekat ketidakpedulian dalam dirinya. Meluluhlantakkan penutup semangat dirinya selama ini. Hingga akhirnya, Shaka mengepalkan tangannya dan memandang ke arah Sherly.
"Sheerr..."kata Shaka lirih.
Sherly mendengar panggilan Shaka dan kemudian menoleh ke arahnya.
"Sher, aku mengucapkan terima kasih atas semua ketulusanmu. Aku minta maaf atas semua kebodohanku." kata Shaka sambil memandang wajah Sherly.
"Aku yakin aku tidak akan bisa menggantikan semua yang telah kamu lakukan untukku selama ini."
"Tapi, setidaknya aku ingin sedikit menebusnya, Sher."
"Aku akan melakukannya untukmu, Sher."
"Aku janji, aku akan memenuhi keinginanmu."
Sherly kaget mendengar kata-kata Shaka tersebut. Ia tidak menyangka Shaka akan menuruti keinginannya. Sherly kemudian meneteskan air matanya karena bahagia.
"Terima kasih, Shak." kata Sherly sambil tersenyum.
"Engga Sher, aku yang terima kasih." kata Shaka sambil tersenyum juga.
__ADS_1
"Jangan menangis, aku sedih bila lihat kamu menangis." tambahnya sambil mengusap air mata di pipi Sherly.
Lalu keduanya tersenyum. Shaka bersyukur karena Tuhan memberikan jalan untuknya. Sehingga ia tidak harus memilih antara Besty dan Sherly. Dan yang terpenting, ia tidak harus kehilangan Sherly dalam hidupnya. Tidak untuk saat ini.