PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 38, Selimut Hati (End)


__ADS_3

Setelah menyelimuti Sherly, Shaka kemudian berdiri di samping Sherly. Ia memandang Sherly seraya berkata :


“Sekali lagi terima kasih sudah menenangkan dan membuatku jauh lebih baik.” Katanya sambil mengusap rambut Sherly.


Sherly memandang Shaka, lalu ia mengangguk dan tersenyum kepadanya. Shaka kemudian melangkah keluar dari ruangan Sherly. Sementara itu, Sherly hanya bisa memandangi punggung cowok yang dicintainya itu. Ia tidak tahu kenapa dengan hatinya. Yang ia tahu, hanya Shaka yang mampu mencuri hatinya dan ia tidak mampu untuk melepasnya. Ia hanya yakin suatu saat nanti Tuhan akan memberikan mereka jalan untuk bisa bersama dan bersatu. Semoga Tuhan mengijinkannya, gumamnya dalam hati.


Shaka berjalan menuju Basement Parking Area. Setelah mengenakan helm dan menghidupkan motornya, ia menjalankan motornya dan kemudian pergi keluar dari rumah sakit. Gelapnya langit malam dan udara dingin menemaninya. Berjalan sendiri menyusuri jalanan yang sepi seorang diri. Ia merasa sudah agak baik dan tenang sekarang. Ia bersyukur Sherly selalu ada disisinya. Menemani dan menguatkannya. Tanpa harus meminta balasan apapun darinya.


Sesampainya di rumahnya, ia melihat rumahnya sudah sepi. Hanya lampu teras saja yang menerangi rumah Shaka. Ia kemudian mematikan motornya dan membuka pintu rumah dengan kunci cadangannya secara pelan-pelan. Ia tidak mau membuat orang tua dan adiknya terbangun karena kehadirannya.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia lalu duduk di tepi ranjangnya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 11.30 malam, tapi tidak ada tanda-tanda Besty menghubunginya. Lalu ia tampak ragu-ragu untuk menghubungi Besty apa tidak. Ia diam sesaat lalu memberanikan diri untuk menelpon Besty. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia menekan call button pada nama Besty. Namun betapa kecewanya dia saat mengetahui bahwa ponsel Besty tidak aktif. Ia mencoba berkali-kali, tapi tetap saja, ponsel Besty tidak aktif. Akhirnya ia mengirim pesan ke Besty.


"Apa kamu baik-baik saja, Cantik?"


"Tolong hubungi aku, aku sangat khawatir pada keadaanmu."


"Aku sangat merindukanmu."


Begitu isi pesan yang mewakili hati dan pikiran Shaka malam ini.


Shaka kemudian merebahkan dirinya di ranjang. Ia melihat foto-foto dirinya dengan Besty di ponselnya. Ia merasa sedih dengan apa yang terjadi malam ini. Namun pelukan dan kata-kata Sherly menguatkan hatinya. Ia terus memandangi foto-foto itu sampai akhirnya ia tertidur dengan ponsel di sampingnya.


Kejadian malam ini sampai terbawa dalam mimpi Shaka. Ia bermimpi bahwa ia melihat Besty di depannya. Tapi ia terpisahkan oleh jurang curam yang berada di depan mereka. Shaka berusaha mencari jalan untuk bisa bersama dengan Besty. Namun sayangnya, tidak ada satupun jalan yang bisa membantunya. Besty hanya bisa menangis sambil memanggil nama Shaka. Sementara Shaka terus memanggil Besty sambil terus mencari jalan yang bisa menghubungkan mereka.


Udara malam itu sangat dingin, namun peluh sebesar jagung bercucuran dari wajah Shaka. Ia sangat gelisah dalam tidurnya. Hingga akhirnya ia terbangun dan langsung duduk atas kasurnya. Ia menghela nafas berkali-kali. Mencoba menenangkan dirinya dari mimpi buruk yang hadir dalam tidurnya. Ia kemudian meneteskan air matanya saat teringat mimpi buruk tersebut. Ia menangis saat membayangkan bahwa ia harus terpisah dengan Besty. Lalu Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan mengingat semua kata-kata Sherly.


"Jika engkau menginginkan pelangi, engkau harus menerima hujan, Shak."

__ADS_1


"Jangan menyerah karena hanya satu bab buruk terjadi padamu. Teruslah melangkah, karena kisahmu tidak berakhir disini".


Shaka merasa pesan Sherly tersebut sangat meresap dalam dirinya. Ia merasa kuat karena kata-kata Sherly tersebut. Ia menghela nafas berkali-kali sambil berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Aku harus kuat dan tegar apapun yang terjadi esok hari, Aku akan mengalahkanmu, Hendra." kata Shaka lirih sambil mengulangi kata-kata tersebut berkali-kali. Hingga akhirnya ia merasa lebih baik dan kemudian kembali tidur untuk menantang hari esok yang akan menemuinya.


Keesokan harinya Shaka bangun lebih awal. Ia melihat ponsel yang menunjukkan pukul 4.30 pagi. Ia kemudian pergi ke kamar mandi dan lalu melangkahkan kakinya ke halaman depan rumahnya. Ia melihat ayah, ibu dan adiknya masih belum bangun. Ia melakukan stretching, lalu melakukan Moknyeom (meditasi). Shaka teringat pesan Pak Bram agar Shaka selalu melakukan Moknyeom mulai hari ini.


Pak Bram menjelaskan bahwa meditasi adalah suatu media untuk menyelaraskan pikiran, jiwa dan raga. Sehingga Pak Bram berharap Shaka dapat menjadikan meditasi sebagai penyatu jiwa dan pikirannya, sehingga Shaka mempunyai ketenangan hati dan mampu untuk menyelaraskan pikiran dan gerakannya agar mempunyai timing yang tepat saat menyerang maupun bertahan.


****


Di beladiri taekwondo sendiri dikenal ada 2 macam jenis meditasi, yaitu :




Meditasi Aktif, yaitu meditasi yang dilakukan pada saat posisi aktif / tubuh bergerak misal: pada saat melakukan poomsae, pada waktu melakukan sparring, pada saat latihan.






Meditasi di taekwondo digunakan untuk menyatukan pikiran, tubuh dan perasaannya dalam satu kesatuan utuh dengan tujuan mencapai kontrol kesadaran dan kewaspadaan tertinggi.

__ADS_1


Langkah 2 dengan mencoba untuk menyelaraskan pikiran, tubuh dan perasaan seorang Taekwondo dengan melakukan latihan pernafasan dalam posisi meditasi pasif (berdiri atau duduk/An Jo)


Langkah 3 yaitu selalu mencoba untuk menyelaraskan pikiran, tubuh dan perasaan dalam tiap teknik-teknik yang dilakukan seorang taekwondoin pada saat berlatih, baik itu pada saat melakukan senam, sesi latihan fisik, maupun latihan teknik. Sehingga sebenarnya dalam sesi latihan Taekwondo dari awal hingga akhir latihan, Taekwondoin itu melakukan latihan sambil bermeditasi.


****


Setelah merasa tenang, Shaka kemudian melakukan PR rutin yang diberikan Pak Bram kepadanya. Namun Shaka tidak mengikuti jumlah hitungan sesuai instruksi Pak Bram sebanyak 50 kali, tetapi ia melakukannya sebanyak 150 kali. Ia bertekad ia akan mengkanvaskan Hendra sesuai dengan janjinya tersebut.


Tak terasa, sudah 3 jam lamanya Shaka berlatih. Langit yang tadinya gelap telah berubah menjadi terang benderang. Ia tidak sadar bahwa orang tuanya mengawasi tindakannya tersebut. Mereka kaget dengan latihan yang Shaka lakukan. Mereka tidak menduga Shaka akan berlatih sekeras itu. Ia lalu dikejutkan suara ibunya yang memanggilnya.


"Shaka, ayo sarapan dulu." Kata ibunya.


Shaka menghentikan latihannya. Peluh mengucur deras dan membasahi kaos dan celananya. Ia menoleh ke arah ayah dan ibunya yang sedang melihatnya sambil duduk di kursi teras rumah mereka. Shaka kemudian berjalan menghampiri ayah dan ibunya.


"Shak, perasaan waktu kejuaraan tahun lalu, latihanmu tidak sekeras ini. Apa memang harus ya?" Kata ibunya heran.


Shaka hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya, Bu. Shaka harus mengejar ketinggalan dalam sebulan ini." Jawab Shaka.


"Jangan terlalu diforsir, Shak. Nanti kamu sakit." Kata ayahnya.


"Ayah cukup bangga kamu sudah ikut kejuaraan lagi. Ayah tidak perduli kamu menang atau kalah. " Kata ayahnya yang sedikit ngeri dengan latihan Shaka.


"Ayah tidak ingin kamu sakit, Shak." Ucap ayahnya.


"Tidak apa-apa, yah. Shaka baik-baik saja." Sahut Shaka.

__ADS_1


Shaka kemudian pamit untuk membersihkan dirinya ke kamar dan sarapan. Ayah dan ibunya saling memandang satu sama lain. Tidak biasanya Shaka latihan sekeras ini


"Pasti ada sesuatu." gumam ayahnya lirih.


__ADS_2