PENJAGA HATI SANG BIDADARI

PENJAGA HATI SANG BIDADARI
Bab 16, Rahasia Hati (Bagian 2)


__ADS_3

Shaka membetulkan tempat duduknya. Ia menatap Besty lekat dan kemudian memegang tangan Besty seraya berkata :


"Engga ada yang perlu dimaafin, Besty."


"Kamu engga perlu minta maaf kepadaku."


"Kamu engga salah."


Shaka berusaha menenangkan hati Besty walaupun hatinya sendiri rasanya tidak karuan. Ia berusaha untuk tersenyum walaupun rasanya pahit sekali. Ia takut masa lalunya menghantuinya lagi. Ia takut rasa sakit akan menyelimuti dirinya lagi. Namun ia berusaha tegar agar Besty merasa senyaman mungkin berada di dekatnya.


"Semua orang punya masa lalu. Dan biarlah masa lalu itu sebagai contekan pelajaran untuk masa yang akan datang." kata Shaka.


"Dia akan selalu berada di dalam hati atau pikiranmu karena dia pernah berjalan denganmu di masa lalu." lanjut Shaka.


"Oleh karena itu, belajarlah untuk tidak melupakan dia, tapi belajarlah untuk menempatkan dia di satu ruang hatimu. Sehingga kamu mempunyai banyak ruang yang bisa kamu isi dengan hal lain yang indah." pungkasnya yang berusaha menenangkan hati Besty.


Besty terperanjat mendengar kata-kata Shaka tersebut. Ia tidak menyangka Shaka akan mengeluarkan kata-kata itu dalam mulutnya. Besty juga tidak percaya Shaka akan sedewasa itu dalam menyikapi masalahnya. Setiap kalimat yang meluncur dari bibir Shaka tersebut ibarat oase di tengah tandus dan keringnya hati Besty selama ini. Sangat menyenangkan dan menyejukkan hati.


"Shak....."kata Besty sambil meneteskan air matanya karena terharu.


"Aku engga nyangka kamu sebaik ini."


"Aku kira kamu akan marah dan kecewa, lalu pergi meninggalkan aku." kata Besty.


Shaka hanya tersenyum mendengar kata-kata Besty tersebut.


"Aku sudah punya janji yang harus aku tepati, Besty." kata Shaka.


" Ya udah, yukk kita pulang, udah jam 10.15 malam." lanjutnya.


"Tapi...., aku kan udah bilang sama Bik Imah kalau aku pulang telat." kata Besty.


"Aku juga belum tahu banyak tentang kamu." lanjutnya.


"Aku engga mau pulang sebelum kamu cerita tentang kamu." rengek Besty.


Shaka kemudian tertawa melihat tingkah manja Besty. Ia kemudian mengelus rambut Besty sambil berkata :


"Kapanpun kamu bertanya, aku pasti akan menjawabnya."


"Aku udah bilang bahwa aku ingin memulai hubungan ini dengan sebuah kejujuran." tukasnya.


"Tapi janji ya, kamu akan jujur kalau aku tanya?" kata Besty.


"Kalau engga, aku akan datang ke rumahmu."ancam Besty dengan tersenyum.


"Iya." kata Shaka sambil tersenyum.


Kemudian Shaka pergi ke kasir untuk membayar bill pesanannya. Setelah itu, Shaka menggandeng Besty keluar dan meninggalkan cafe tersebut.


Sesampainya di rumah Besty, Shaka mengantarkan Besty sampai di depan pintu.


"Masuklah." kata Shaka.

__ADS_1


Besty hanya terdiam mendengar kata Shaka tersebut. Ia hanya menatap Shaka tanpa berkata apa-apa. Seolah-olah ia enggan untuk masuk ke dalam rumah. Ia memandang Shaka cukup lama sampai Shaka merasa heran dengan sikap Besty tersebut.


"Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" kata Shaka.


"Apa kamu masih menyukaiku?" kata Besty.


Shaka tersenyum dengan pertanyaan Besty tersebut. Ia kemudian menganggukan kepalanya sambil mengusap pipinya.


"Masih." kata Shaka yang kemudian melepaskan tangannya dari pipi Besty.


"Apa kamu kecewa denganku, Shak?" tanya Besty lebih lanjut.


"Engga." kata Shaka yang berusaha menutupi perasaannya.


"Udah, besok lagi tanyanya. Masuk sana, udah malam." kata Shaka.


Besty menatap Shaka dan kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih atas first datenya ya." kata Besty.


Besty kemudian mencium pipi kiri Shaka, lalu ia membuka pintu rumahnya. Setelah Besty masuk ke dalam, Shaka menuju ke arah vespanya dan menstarter motornya tersebut. Sebelum pergi, Shaka menoleh ke arah pintu rumah Besty dan melihat Besty masih berdiri di belakang pintu sambil melambaikan tangannya. Shaka membalas lambaian tangan Besty tersebut dan kemudian pergi meninggalkan rumah Besty.


***


Setibanya di rumah, Shaka mendapati rumahnya telah gelap. Hanya lampu teras saja yang masih menyala dan menerangi gelapnya malam itu. Ia kemudian membuka pintu dengan menggunakan kunci cadangan yang tergantung menjadi satu dengan kunci motornya. Shaka teringat dengan jelas bagaimana ayahnya memberikan kunci tersebut kepada dirinya sebelum ia pergi.


"Ini kunci serep (cadangan) rumah, simpan saja. Siapa tahu kamu pulang malam." kata ayah tadi sore.


"Hati-hati di jalan, Ayah percaya padamu karena kamu sudah besar sekarang." begitu pesan ayahnya sebelum ia berangkat.


Setelah membuka pintu dan menguncinya kembali, Shaka masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya dan kemudian naik di atas ranjangnya. Penat dan lelah menghantui dirinya malam ini. Ia berusaha memejamkan mata, namun ia tidak bisa. Ia masih merekam dengan jelas perkataan Besty tadi di otaknya. Mewarnai hatinya dengan rasa galau dan perih.


Shaka mencoba merasakan isi hatinya. Berusaha menenangkan sendiri rasa yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia ingin menyerah dari keadaan ini, mencoba merelakan Besty untuk orang lain. Ia takut terluka dan hancur lagi. Ia tidak ingin kisah pahit hadir dan terulang untuk kedua kali dalam hidupnya. Namun di sudut hatinya yang lain masih menginginkan untuk terus bersama dengan Besty. Masih ingin selalu berada dekat dengannya. Masih ingin menemaninya untuk membantunya keluar dari masa lalu yang menderanya. Menemaninya keluar dari luka yang masih menghantuinya.


Shaka mencoba mencari cara bagaimana membantu Besty. Benaknya masih mencoba menerawang jauh tentang hal yang harus dilakukannya. Hingga disatu titik, Shaka tersadar akan janji yang telah ia ucapkan. Ia juga kemudian menyadari bahwa hanya rasa nyaman dan tenang yang akan bisa membantu Besty. Shaka meyakinkan dirinya bahwa ia mampu untuk melakukannya. Ia yakin ketulusan hati dan perasaannya akan bisa mengobati luka lama Besty selama ini.


"Ya, aku harus melakukannya. Dan aku percaya, aku bisa melakukannya." gumam Shaka lirih.


Pada saat itu juga, Shaka mendengar ponselnya berbunyi. Ia melihat ada satu pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Ia membuka pesan yang berasal dari Besty.


Besty : "Apa kamu sudah pulang?"


: " Apa kamu baik-baik saja?"


Shaka bangun dan duduk di tepi ranjangnya. Ia diam sesaat dan kemudian membalas pesan Besty.


Shaka : "Aku sudah pulang dan aku baik-baik saja. Cuma pipiku yang engga baik."


Besty : "Apa ada masalah tadi? Apa pipimu berdarah?"


Shaka : "Engga, pipi kananku marah karena kamu cuma cium pipi kiriku saja tadi."


: "Engga adil katanya."

__ADS_1


Shaka mencoba membuat lelucon seperti dulu lagi. Ia berusaha membuat Besty tertawa dan bahagia. Berusaha menghibur dia dengan apa yang ada di dalam dirinya. Dan berusaha membuatnya nyaman dan tenang saat selalu berada didekatnya.


Melihat lelucon Shaka tersebut kontan membuat Besty tertawa. Kemudian dia membalas pesan Shaka tersebut.


Besty : " Yang satunya kapan-kapan ya. Itupun kalau ingat."


Shaka hanya tersenyum melihat kata-kata Besty tersebut. Kemudian ia membaca lagi pesan selanjutnya yang dikirim oleh Besty.


Besty : "Btw, siapa ciuman pertamamu? jujur ya, engga boleh bohong."


Shaka : "Kamu."


Besty tersenyum lebar sambil tersipu malu.


Besty : " Tuh kan kamu bohong pakai gombal lagi."


Shaka : "Bener, kamu adalah pacar pertama sekaligus ciuman pertamaku."


Besty kembali tersenyum lebar karena hatinya berbunga-bunga membaca pesan Shaka tersebut. Lalu ia kembali membaca pesan selanjutnya yang Shaka kirimkan.


Shaka : "Kamu tahu engga, tadi aku mau ngirimin kamu sesuatu."


Besty : "Mau ngirim apa?"


Shaka : "Aku mau ngirim bidadari untuk jagain kamu. Tapi pas nyampe di rumahmu, dia kembali lagi. Kamu tahu engga apa katanya?"


Besty : " Emang apa katanya?"


Shaka : " Katanya, masa bidadari disuruh jagain bidadari."


Besty tertawa membaca pesan dari Shaka tersebut. Sebelum ia sempat membalasnya, Shaka sudah mengirimkan pesan selanjutnya.


Shaka : " Kamu tahu engga persamaanmu dengan soal ujian akhir semester?"


Besty : "Apaan lagi?"


Shaka : " Sama-sama membuat jantungku berdebar kencang sampai sulit tidur."


Besty kembali tertawa membaca isi pesan Shaka tersebut. Ia kemudian membalasnya.


Besty : " Udah cukup gombalanmu, udah malam. Nanti aku engga bisa tidur."


: " Ya udah, tidur sana."


: " Besok main ke rumah kalau sempat ya."


Shaka : " Iya, besok aku akan main ke rumahmu jika kerjaan rumahku sudah selesai.


: "Met tidur, cantik."


Besty : "Terima kasih untuk hari ini. Sangat menyenangkan sekali."


: "Met tidur, Shak."

__ADS_1


Akhirnya Besty menutup malam ini dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya. Ia merasa senang dan bahagia dengan segala perhatian Shaka kepadanya. Sementara itu, di sisi yang lain, Shaka menutup harinya dengan berusaha untuk tetap tersenyum dan meyakinkan dirinya berulang kali bahwa ia mampu untuk melakukannya untuk Besty.


__ADS_2